Imperferct Partner

Imperferct Partner
Dirut


__ADS_3

Mendengar panggilan itu, Naya membeku untuk beberapa saat. Hanya ada satu orang yang memanggilnya 'Kay', dan orang itu sedang berada di LN. Mungkinkah Naya kini mulai berhalusinasi?? Terlalu rindu kah ia pada lelaki yang sudah hampir 3bulan itu tak ia jumpai??


"Kay.."


Lagi..Naya kembali mendengar suara lembut itu. Ia ingin berbalik, namun ia takut jika suara itu hanya halusinasinya saja. Ia takut kecewa jika tak ada sosok yang ia harapkan ada dihadapannya.


Diandra yang duduk disamping Naya segera menoleh, melihat tatapan mata tajam itu mengarah pada temannya, Diandra menepuk pundak Naya yang terlihat membeku.


"Nay.." Naya tersentak, ia menoleh pada Diandra dan mengangkat alisnya untuk bertanya ada apa.


"Itu ada yang panggil deh kayanya, aku nggak yakin sih. Tapi yang diliatin kamu". Bisik Diandra. Mereka berdua tak melihat wajah syok Dimas ketika melihat siapa yang berdiri dibelakang kedua gadis itu. Dan apa ini, berani-beraninya kedua gadis itu mengacuhkan lelaki itu.


Perlahan Naya memutar kepalanya, matanya melebar saat matanya menatap wajah itu. Bagaimana bisa? Kenapa ada disini?? Sedang apa berada disini?? Otak Naya dipenuhi dengan sejuta pertanyaan.


" K-kak Al??". Gumam Naya


"Kamu dipanggilin dari tadi ya, pura-pura nggak denger". Al sudah berdiri tepat dihadapannya. Lelaki itu bahkan mengulurkan tangannya untuk mengacak rambut Naya.


" Hey..kamu kenapa sih? Kok malah bengong". Naya mengerjapkan matanya beberapa kali seolah meyakinkan dirinya jika orang yang sedang tersenyum dihadapannya itu bukan sekedar ilusi yang akan hilang ketika ia berkedip.


"Kakak ngapain disini??". Tanya Naya setelah berhasil menguasai diri.


" Kamu ya..orang baru ketemu, bukannya ditawarin makan malah ditanya ngapain disini". Al menggelengkan kepalanya, tanpa ragu ia menyendok makanan yang ada dipiring Naya dan memakan nya.


Sontak saja suasana dikantin menjadi semakin riuh. Kedatangan Dirut perusahaan itu ke kantin saja sudah menghebohkan, ditambah sikap manisnya pada salah seorang karyawannya benar-benar membuat semua orang memekik heboh.


"Ish..makan aku". Sungut Naya hendak meraih piringnya yang sudah bergeser ke hadapan Al.


" Jangan pelit-pelit Kay, gaji kamu disini nggak kecil kan. Makanan segini mah gapapa lah.." Al memainkan alisnya naik turun untuk menggoda Naya.


"Ish..batu es ngeselin". Dan Al tak bisa menahan tawanya melihat kekesalan Naya.


Sementara Dimas masih terbengong melihat dirut tempatnya bekerja bisa begitu dekat dengan gadis yang menjadi teman barunya beberapa bulan ini. Jika Diandra, gadis itu sedang diam menatap Al. Ia sedang mengingat dimana ia pernah melihat lelaki itu, rasanya tak asing.


Tanpa Naya sadari, banyak mata menatap tajam padanya yang sedang duduk bersebelahan dengan Al yang tanpa ragu memakan makanan yang sudah dimakan Naya sebelumnya.


" Kakak pesen sendiri deh..itu makan aku". Naya masih mencoba meraih piring yang Al kuasai.


"Aaaa.." Al menyodorkan satu sendok nasi beserta lauk kedepan mulut Naya.


Dengan kesal Naya menerima suapan Al dan mengunyahnya dengan cepat. Dimas semakin melongo saja melihat perlakuan manis Al pada Naya.


"Apa saya mengganggu kalian??". Tanya Al ketika menyadari Dimas yang terus menatap dirinya.


" T-tidak pak. S-saya sudah selesai, silahkan dilanjutkan". Dimas memaksa Diandra ikut dengannya. Meskipun awalnya protes, namun Diandra akhirnya mengikuti Dimas.


"Loh Dim..mau kemana?? Tungguin lah..aku benyar lagi selesai". Naya mencoba mencegah Dimas pergi, apalagi Diandra dibawa olehnya.


Dimas mati kutu saat mata tajam Al menatapnya penuh intimidasi. Tak ingin karir bekerjanya yang baru ia mulai hancur, Dimas memilih kabur.

__ADS_1


" Eh itu..aku ada perlu sama Diandra". Yang merasa namanya disebut pun langsung beralih menatap Dimas dengan kening berkerut.


"Kenapa nggak nunggu aku aja sih?". Keluh Naya yang memang belum kenyang.


" Kita tunggu diruangan aja deh ya.."


"Duluan ya Nay.." Aku masih pengen kerja disini Nay Tapi tentu saja itu hanya Dimas ucapkan dalam hati saja.


"Ish..kenapa sih Dim. Kasian itu Naya". Dimas segera mencekal tangan Diandra yang hendak berbalik.


" Jangan diganggu kalo kamu masih pengen kerja disini Di". Peringat Dimas menambah gurat kebingungan diwajah ayu Diandra.


"Apa hubungannya sih?? Jangan bertele-tele deh.." Sungut Diandra menatap temannya kesal.


"Itu dirut perusahaan ini Di.." Bisik Dimas penuh penekanan.


"Hah?!!! Kenapa kaga ngomong". Diandra nenabok lengan Dimas cukup keras.


" Aku syok Di..otak aku langsung blank". Dimas cengengesan.


"Tapi aku sering liat Laki-laki itu, Dim". Diandra tampak berpikir keras.


" Aaah iya..dia lelaki yang tiap hari menelpon Naya. Kata Naya dia kakaknya". Akhirnya Diandra ingat setelah mencoba mengingatnya cukup lama. Panggilan Al terasa tak asing bagi gadis itu, hingga akhirnya Diandra ingat siapa Al.


"Kakaknya???". Tanya Dimas memastikan dan dijawab anggukan kepala oleh Diandra.


" Kita temenan sama adiknya dirut???? Keberuntungan apa ini Di". Wajah Dimas berubah sumringah.


" Ah..ya. Harusnya aku tahu". Ucap Dimas lesu


"Menurutku, pak Yohan menaruh hati pada Naya".. Ucap Dimas setelah menyadari sikap Al yang tidak seperti kakak biasa.


" Namanya siapa?? Yohan?? Bukan Al?? Naya pernah bilang namanya Al". Tanya Diandra bingung.


"Makanya kerja tu harus tau nama atasan. Gimana sih kamu". Diandra mencebik mendengar ceramah Dimas.


" Namanya Yohan Alexander. Kalo dikantor dipanggilnya pak Yohan, mungkin spesial Naya dipanggil pak Al". Tebak Dimas yang cukup masuk akal menurut Diandra.


"Sudahlah..aku mau kembali bekerja". Diandra meninggalkan Dimas yang berteriak memanggil namanya. Namun ia hanya melambaikan tangannya pada Dimas.


Kembali ke kantin, saat ini Al sedang menikmati masa berdekatan dengan pujaan hatinya. Mungkin setelah ini ia akan lebih sering menghabiskan waktunya dengan Naya. Ahh..membayangkannya saja sudah bisa membuat Al tersenyum bahagia.


" Kakak ngapain sih..senyum-senyum mulu. Abis kesambet??". Tanya Naya bingung. Sejujurnya ia merasa jantungnya berdetak tak normal berada dekat dengan Al, terlalu lama dengan posisi begini tak akan baik untuk kesehatannya.


"Seneng aja liat kamu..kaya udah lama banget nggak ketemu kamu". Naya berusaha sebisa mungkin untuk bersikap biasa didepan Al. Ia tak mau Al tahu jika dirinya, terlebih jantungnya tak baik-baik saja terlalu dekat dengan Al.


Naya sudah bukan gadis berusia 17tahun yang tak mengerti tentang kinerja jantungnya. Ia hanya takut jatuh hati pada Al, ia akan merasa mengkhianati Akbar jika sampai ia berpaling.


" A-aku mau balik kerja kak. Kerjaan aku banyak". Naya bangkit dan hendak meninggalkan Al. Namun Al sudah lebih dulu mencekal pergelangan tangannya. Naya menahan nafas sesaat merasakan cekalan lembut dipergelangan tangannya.

__ADS_1


"Aku anter ya.." Tanpa menunggu jawaban Naya, Al menautkan jemarinya pada jemari Naya dan membawanya masuk kedalam perusahaan. Sepanjang jalan, banyak pasang mata yang menatap mereka. Ada yang menatap kagum, namun lebih banyak yang menatap sinis, terutama kaum hawa.


Diperusahaan itu, Naya dan Diandra termasuk gadis yang menjadi incaran kaum adam yang bekerja disana. Selain parasnya yang cantik, sikap cuek dan judes keduanya seolah menjadi tantangan tersendiri bagi kaum adam untuk menakhlukkannya.


"Kita kemana kak!? Aku harus balik kerja.." Protes Naya ketika menyadari Al membawanya berlawanan arah dengan ruang kerjanya.


"Aku kangen banget sama gadis cerewet ini..kita bolos kerja aja hari ini". Al mengerling jahil melihat ekspresi terkejut Naya. Terlebih saat gadis itu mendaratkan pukulan cukup kencang dipundaknya.


" Kakak mau bikin aku dipecat??!". Tanya Naya melotot membuat Al semakin gemas saja.


"Awas..aku mau balik kerja". Naya berontak, namun Al memegangnya erat.


" Yaudah deh kalo gitu..aku ijin ke atasan kamu langsung". Al berucap tanpa beban. Semakin melongo saja Naya mendengarnya.


"Nggak usah ngawur ya kak.." Al terus menariknya ke ruangan yang sudah menjadi tempatnya bekerja selama 3bulan ini.


Dibalik kubikel-kubikel itu, Naya bisa merasakan jika saat ini dirinya menjadi fokus dari rekanan kerjanya. Tak terkecuali Dimas dan Diandra yang mencuri pandang pada dirinya yang ditarik oleh Al memasuki ruangan kepala bagian keuangan.


"Kak.." Belum sempat Naya selesai berbicara, ia dibuat jantungan dengan kelakuan Al yang langsung menerobos masuk kedalam ruangan atasannya tanpa permisi atau mengetuk pintu terlebih dulu.


"Mati aku..siap-siap aja kamu dipecat Nay". Batin Naya berteriak.


" Selamat siang.."


"Se-selamat siang pak.." Naya memejamkan matanya ketika atasannya bangkit dari duduknya.


"A-ada yang bisa saya bantu pak?". Tanya atasan Naya tergagap. Sementara Naya tak berani membuka matanya dan menghadapi atasan killernya itu.


" Maaf pak Heru, bisa saya pinjam anak buah anda untuk setengah hari ini". Nada bicara Al terdengar biasa menurut Naya, masih dibilang sopan. Namun itu tak mengurangi rasa takut Naya akan amukan pak Heru, atasannya.


Naya benar-benar merutuki kelakuan Al yang sangat menyebalkan menurutnya. Bagaimana bisa Al meminta atasannya memberi ijin untuk dirinya menemani Al yang jelas bukan karyawan diperusahaan itu. Satu kata untuk Al, GIlLa.


"Ah..oh, i-iya tentu saja pak. Silahkan". Naya membuka matanya ketika pak Heru memberinya ijin. Ia menatap pak Heru dan Al bergantian. Al tersenyum menatap Naya sambil menaik turunkan alisnya. Sementara pak Heru terlihat tersenyum kaku menatap ke arahnya.


Apa-apaan ini??? Kenapa Naya justru melihat raut wajah ketakutan dan segan dari wajah menyebalkan pak Heru yang biasanya menyiksa anak buahnya dengan segudang pekerjaan.


" Terimakasih atas izinnya. Kami permisi".


"S-silahkan pak.." Naya masih menatap Al penuh tanya.


"Mana kubikel kamu??".


" Hey..kubikel kamu dimana Kay??". Tanya Al lagi karna pertanyaan pertama nya tak mendapat jawaban.


"Itu.." Jawab Naya polos sambil menunjuk kubikelnya.


Al melepaskan tautan tangannya dengan Naya dan berjalan menuju kubikel gadisnya itu. Ia meraih tas Naya dan membawanya, lalu menghampiri Naya yang terlihat mematung sambil terus mengawasi pergerakannya.


"Oke let's go.." Al kembali menarik tangan Naya dan membawanya keluar dari ruangannya. Meninggalkan manusia-manusia yang masih berusaha mencerna apa yang baru saja mereka lihat.

__ADS_1


Senyum tak pernah pudar menghiasi wajah tampan Al siang itu. Ia tak dapat menyembunyikan kebahagiaannya bisa berada didekat Naya seperti saat ini. Ah..sungguh ia ingin menghentikan waktu. Ia ingin terus berada disamping gadis yang sudah lama mendiami hati dan pikirannya itu.


Entah akan seperti apa reaksi gadis itu jika tahu siapa dirinya yang saat ini. Akankah Kay nya marah karena ia belum bercerita. Seharusnya tidak..karna memang selepas ini dirinya akan bercerita pada gadis itu tentang siapa dan apa statusnya.


__ADS_2