
Kabar kehamilan Kirei membuat orang tua dan orang terdekatnya begitu bahagia. Bahkan Ara dan Dev, kedua orang tua Kirei langsung terbang ke kota gudeg untuk menemui putri kesayangan mereka yang tengah mengandung cucu yang sudah lama mereka nantikan.
"Sayang jangan capek-capek". Suara Riana dan Ara terdengar dengan isi kalimat yang sama.
Ya, saat ini para orang tua sedang berada dikediaman Akmal dan Riana, orang tua Tama. Sejak kemarin Kirei terus dilarang melakukan segala hal oleh ibu dan ibu mertuanya.
Tama hanya tersenyum melihat Kirei yang mengerucutkan bibirnya karena segala pergerakannya selalu diatur oleh kedua calon nenek yang sepertinya sudah tak sabar menantikan kelahiran cucunya.
" Aku cuma mau bikin jus aja bu, bun.." Ucap Kirei dengan wajah cemberut.
"Sabar mbak. Yang mbak kandung itu cucu sultan. Jadi ya terimain aja kalo sultannya banyak maunya". Juan yang berada didapur menepuk pelan pundak kakak iparnya hingga membuat Kirei berdecak kesal dengan godaan sang adik ipar.
" Assalamualaikum.." Suara dari pintu membuat perhatian Kirei beralih kesana.
Wajah cantiknya semakin terlihat cantik kala senyumnya mengembang sempurna melihat siapa yang baru saja datang.
"Daddy..!!" Teriak Kirei kegirangan melihat Sam yang datang bersama sang istri, Raisya. Kirei bahkan berlari menghampiri sahabat sang ayah yang sudah ia anggap sebagai ayahnya sendiri. Ia bahkan tak menghiraukan teriakan ibu dan ibu mertuanya. Ia terlampau bahagia melihat kedatangan lelaki yang besar kasih sayangnya sama dengan ayah kandungnya sendiri.
"KIREIIII!!". Teriak Ara dan Riana bersamaan kala melihat Kirei.berlari menyongsong kedatangan Sam.
" Sayang.." Peringat Raisya yang saat ini menatap Kirei yang sudah berada dalam pelukan suaminya.
"Maaf mom..aku kangen banget sama daddy. Sama mommy juga". Kirei mengeratkan pelukannya pada Sam.
" Kamu nggak sendiri sayang. Cucu mommy ada disini..lain kali jangan lakukan seperti itu apapun alasannya. Mengerti?". Raisya mengelus sayang kepala perempuan yang sejak gadis begitu manja pada dirinya dan suaminya.
"Udah lepas..itu mata suami kamu bisa loncat beneran lama-lama ngeliatin kamu peluk-peluk daddy". Kelakar Sam yang melihat tatapan tajam Tama pada keduanya yang masih berpelukan.
" Kamu ini..ngeyel banget sih. Kaya siapa sih ih.." Ara menghampiri Kirei yang masih dalam pelukan Sam dengan bersungut-sungut.
"Ya kaya kamu Ra. Ngeyelnya sama persis". Ucap Sam membuat Kirei terkikik dalam pelukannya.
" Sudahlah Ra..kamu kalo ketemu sama Sam ribut terus". Lerai Raisya yang sudah melihat Ara hendak membalas ucapan Sam.
"Ayo masuk kak. Anak aku mah kalo udah ketemu sama daddy jadi-jadiannya suka lupa kalo punya emak bapak". Ara menarik Raisya kedalam. Disambut hangat oleh keluarga Tama, terutama Riana yang memang juga sudah mengenal mommy sang menantu.
" Buna mu sirik aja ya Ki". Bisik Sam yang masih terdengar oleh Ara yang memelototinya hingga membuat Kirei dan Sam.tergelak.
"Serem ya dad". Kirei balas berbisik.
" Kalian memang menyebalkan kalau sudah bersama". Cibir Ara melenggang masuk meninggalkan Kirei dan Sam yang semakin tergelak.
"Sabar ya Tam. Kirei memang akan melupakan semua orang kalau sudah bersama daddy nya. Bahkan ayah seperti makhluk tak kasat mata". Dev menepuk pelan pundak menantunya yang masih setia menatap anak semata wayangnya yang masih asik sendiri dengan Sam.
" Bahkan ayah dulu pernah marah karena Kirei lebih memilih bersama daddy nya dibanding ayah. Tapi ya begitulah, Kirei sangat menyayangi Sam. Begitupun sebaliknya". Imbuhnya dengan senyum tipis. Ia tahu betul bagaimana kesalnya Tama saat ini, karena dirinya pernah merasakan bagaimana kesalnya melihat Kirei yang hanya terfokus pada Sam saja.
"Tama mengerti yah". Jawab Tama yakin. Meski dalam hatinya ia masih belum rela diabaikan istrinya karena kehadiran Sam.
" Wa'alaikum salam". Teriakan dari suara yang begitu Kirei kenal dan cukup ia rindukan.
"Assalamualaikum nduk! Kebiasaan kamu!". Annisa mendapat hadiah cubitan dari Darmi yang berjalan disisinya.
" Nisa..!" Pekik Kirei girang.
"Mbak Kirei!! Aku kangen". Tanpa basa basi, Annisa langsung menggeser Sam dan memeluk Kirei, membuat Ara tersenyum puas melihat Annisa dengan seenak jidat menyingkirkan Sam yang hanya menggeleng menatap Kirei dan Nisa.
" Simbok udah masakin makanan kesukaan mbak Kirei tau". Annisa menunjuk rantang yang masih ada ditangan ibunya.
"Maaf bu, pak. Anak saya memang suka kebablasan kalo ketemu sama mbak Kirei. Lupa liat sekeliling". Ucap Darmi tak enak. Ingin rasanya ia mengikat bibir mungil putrinya yang selalu seenaknya itu.
" Tidak masalah mbok. Tidak perlu sungkan". Ucap Riana menenangkan.
"Kita keluarga mbok..bukan orang asing". Akmal yang sejak tadi diam ikut menimpali.
__ADS_1
" Aku mau sop ayamnya mbok". Ucap Kirei menatap penuh minat pada rantang susun yang ada ditangan wanita paruh baya yang menatapnya penuh kasih.
"Mbok siapin dulu ya, nduk. Nanti biar bisa makan semua". Darmi berlalu kedapur dan menyiapkan sup yang ia masak khusus untuk ibu hamil yang sudah ia anggap seperti anak kandungnya sendiri.
" Daddy..daddy harus coba sup ayam buatan mbok Darmi. Enak banget". Kirei sudah kembali menempel pada Sam yang tersenyum sambil mengelus sayang rambut Kirei.
"Kamu ini..daddy ditawarin. Ayah sendiri kaya nggak ada". Sindir Dev membuat Kirei nyengir. Entahlah, dekat dengan Sam begitu terasa nyaman. Sama nyamannya dengan berada dekat ayah kandungnya.
" Dia tau Dev, siapa yang pontang panting nurutin ngidam si Ara. Ampe mau lahiran aja gue yang diunyeng-unyeng". Sam kembali mengelus kepala Kirei.
Dev memutar bola matanya, malas jika sudah membahas tentang kehamilan Ara. Karena memang Sam lah yang dibuat paling pusing dengan ngidam nya Ara kala itu.
"Mas..Saga sama Gery mana sih? Aku udah pengen makan belimbingnya". Wajah Kirei berubah murung menatap suaminya yang menghela nafas berat.
" Sabar ya sayang..permintaan kamu itu susah sayang". Tama bergeser dan duduk disamping istrinya.
"Ish..aku cuma mau belimbing aja dibilang susah". Bibir Kirei semakin mengerucut mendengar ucapan Tama.
" Kalo cuma belimbing biasa, gue beliin ama yang jualan sekalian Kirei. Lah ini..Lo minta belimbing wuluh yang manis. Mau nyari ke belahan bumi mana???." Tama memijit pangkal hidungnya. Pusing dengan kelakuan ajaib istrinya.
"Malah diem sih mas..telpon dong". Kirei menggoyangkan tangan Tama yang sedang melamun.
" Iya sayang..sebentar". Tama merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya. Belum sempat ia mengusap layar ponselnya, suara dua sahabatnya sudah terdengar membuatnya menghela nafas lega.
"Assalamualaikum.. widih rame bener nih. Roman-romannya ada makan besar nih". Belum sempat ada yang menjawab salam dari Saga, lelaki tampan itu sudah nyerocos.
" Mana belimbingnya?". Kirei langsung menyodorkan tangannya. Meminta hal yang ia minta dari dua sableng sahabat suaminya.
"Kita puterin satu kota buat nyariin permintaan nyeleneh elo Ki. Kalo ampe anak lu kaga nurut ama gue ntarnya, bener-bener keterlaluan". Ucap Saga mendramatisir.
Sam tersenyum simpul mendengar ucapan Saga. Dirinya seolah mengingat dirinya yang dahulu ketika istri sahabatnya tengah hamil dan dirinya lah yang dibuat kalang kabut.
" Saga yang ambil kan? Kalo bukan dia yang ambil, aku nggak mau". Gery mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan video Saga yang tengah memetik belimbing kecil berwarna hijau.
"Kalo nggak manis awas ya". Ancam Kirei membawa kresek hitam berisi belimbing dan kembali duduk diantara Sam dan Tama.
" Yaelah Ki..lo cekek aja gue Ki. Cekek aja nih". Sengit Saga menatap Kirei.
"Gelut aja yuk Ki, yuk. Gelud aja gimana?". Tanya Gery tak kalah pusing.
" Kamu minta apa sayang?". Tanya Sam penasaran. Pasalnya ia yakin, permintaan Kirei tak akan jauh dari hal aneh yang Ara inginkan dulu.
"Belimbing". Ucap Kirei dengan senyum mengembang memperlihatkan belimbing berwarna hijau pada Sam.
Sam menatap Tama. Mempertanyakan dimana letak kesulitan ngidamnya Kirei. Lah wong cuma minta belimbing wuluh aja, pikir Sam.
" Dia minta belimbing wuluh yang hijau tapi manis, dad". Jelas Tama membuat Sam hampir meledakkan tawanya.
Rupanya ngidam Kirei tak kalah aneh dari ngidam Ara saat hamil dirinya dulu. Benar-benar memusingkan jika mengingat bagaimana pusingnya ia dulu memenuhi keinginan Ara yang tak pernah normal.
" Gue udah cari yang paling mateng Ki. Udah muterin kota Jogja yang istimewa ini. Seistimewa permintaan gendheng elo". Saga mendudukkan dirinya dihadapan Kirei yang bersiap-siap akan memakan belimbingnya.
"Iya lo..kita udah kaya punya istri lagi ngidam. Gila aja, bini belom ada. Lah ini..udah ngubek-ubek kota buat menuhin kepengenan orang ngidam". Timpal Gery yang duduk disebelah Saga.
"Jadi nggak ikhlas nih?". Tanya Kirei kesal membuat Tama melotot sambil menggelengkan kepalanya. Bisa bahaya urusannya jika si ibu hamil ngadat dan kesal.
" Ikhlas Ki..ikhlas". Jawab keduanya kompak.
"Yaudah kalo gitu sekarang kalian makan". Kirei memberikan kresek berisi belimbing wuluh pada Gery dan Saga yang langsung melotot tak percaya.
" HAH??!!". Seru keduanya.
" Kok kita?". Kembali keduanya bersuara.
__ADS_1
"Ya soalnya gue pengen liat kalian makan". Kirei menangkup pipinya dengan kedua tangannya.
Tawa Sam hampir meledak melihat wajah frustasi dan tertekan Saga dan Gery. Benar-benar mirip dirinya saat istri sahabatnya hamil dulu.
" Anak elo Dev..persis kaya emaknya. Yang hamilin sapa yang dibuat edan siapa". Bisik Sam pada Dev yang duduk tak jauh darinya.
Dev tersenyum simpul mendengar ucapan Sam. Ia mengingat kehamilan Ara dulu, persis seperti istrinya dulu..kini anaknya juga membuat sahabat-sahabat suaminya pusing memikirkan dan memenuhi acara ngidamnya.
"Ayo cepetan makan. Kan gue tadi udah minta yang manis". Kirei sudah tak sabar melihat Saga dan Gery memakan buah belimbing itu.
" Dari mbah moyang lo juga kaga ada belimbing beginian manis, Ki. Astaga". Wajah Saga terlihat frustasi, sama dengan Gery yang tak kalah stresnya menghadapi ngidam Kirei.
"Nggak mau tau. Cepet makan". Kirei mengambil dua buah belimbing dan memberikannya secara paksa pada dua orang yang mengaku uncle terbaik itu.
" Nggak boleh merem ya abis makan". Ancam Kirei sebelum keduanya memasukkan belimbing kedalam mulutnya.
"Ehm..sayang. Gimana kalo kita makan dulu, kayanya mbok Darmi udah selesai nyiapin sup kesukaan kamu". Tak tega melihat wajah tertekan kedua sahabatnya, Tama mencoba mengalihkan perhatian Kirei. Namun nihil, Kirei tetap keukeuh ingin melihat Saga dan Gery makan belimbing terlebih dahulu sebelum makan.
" Dosa apa kita dulu Ga. Yang hamil bininya sapa, yang disiksa sapa". Ucap Gery membuat Saga mengangguk.
"Kayanya dulu kita orang yang suka ngejajah negara deh, makanya sekarang pas kita dilahirin lagi jadi dijajah gini". Sahut Saga lesu. Membayangkan buah kecil berwarna hijau yang ada ditangannya masuk kedalam mulut saja sudah bisa membuatnya bergidik membayangkan asaamnya buah itu.
" Cepet dong..kalian mau ponakan kalian ileran?". Ucapan Kirei sukses membuat keduanya pasrah. Perlahan keduanya memasukkan buah itu dengan mata tertutup.
"Jangan tutup mata". Dengan antusias tinggi, Kirei terus memperhatikan wajah duo sableng didepannya.
Keduanya terus merapalkan doa, berharap jika belimbing itu tidak akan seasam bayangan mereka.
Sekuat tenaga, Saga dan Gery menahan matanya agar tidak terpejam. Asam yang teramat sangat asam langsung memenuhi mulut mereka. Tama yang melihatnya saja bergidik ngeri membayangkan bagaimana asamnya buah kecil itu.
Senyum Kirei mengembang melihat Saga dan Gery yang menuruti keinginannya dan tidak merem saat memakan buah itu.
" Jangan merem ya.." Peringat Kirei ketika melihat Gery hendak memejamkan matanya karena keasaman.
"Sayang..sore nanti daddy pulang". Kirei langsung mengalihkan perhatiannya pada Sam. Kesempatan itu tak disia-siakan oleh Gery dan Saga yang langsung melepeh dan membuang belimbing yang sudah ada didalam mulutnya. Secepat kilat mereka meminum air yang ada didepannya.
Sam melirik sebentar pada Saga dan Gery yang bergerak cepat ketika perhatian Kirei teralihkan. Ucapannya tidaklah benar, ia tidak benar-benar akan pulang sore ini. Ia hanya merasa tidak tega pada dua pemuda yang setengah mati menahan matanya agar tak tertutup.
" Kenapa pulang?". Tanya Kirei sedih.
"Kan daddy harus kerja". Sam tersenyum melihat wajah sedih Kirei.
" Kan biasanya daddy sama mommy seminggu. Kenapa cuma sehari". Rengek Kirei, ia sudah tak memperdulikan duo sableng yang sibuk mencari penawar untuk rasa asam dimulutnya.
"Daddy hanya bercanda sayang. Mommy sama daddy kamu disini seperti biasanya". Raisya yang baru datang langsung membelai kepala Kirei hingga membuat nya kembali tersenyum senang.
" Beneran mom?". Tanya Kirei memastikan dan dijawab anggukan kepala oleh Raisya. Ia menoleh pada Sam yang juga mengangguk.
"Yes". Pekiknya kegirangan.
" Kita makan dulu ya..daddy udah laper". Kirei segera mengangguk dan menggandeng lengan Sam menuju meja makan.
"Ya Allah..nasib". Ucap Saga dan Gery berbarengan.
"Aduh lupa.." Ucap Kirei menepuk keningnya pelan.
"Kenapa sayang?" Tanya Raisya
"Daddy sama mommy duluan deh ya. Bentar lagi Kirei kesana..Kirei kelupaan sesuatu". Kirei berbalik dan kembali keruang tamu. Ia mendapati kedua sahabat suaminya masih disana.
" Terimakasih, calon uncle yang paling baik". Ucap Kirei membuat duo sableng itu menoleh dan mendapati Kirei yang tengah tersenyum tulus.
Keduanya ikut tersenyum dan mengangguk. Meski sering berdebat dan mengeluh setiap Kirei memiliki keinginan, namun Saga dan Gery melakukannya dengan ikhlas demi calon keponakan yang mereka gadang-gadang akan selalu menurut pada mereka.
__ADS_1