
"Kay.." Naya yang sedang memasang sabuk pengamannya menoleh pada Al yang sedang menatapnya. Ia mengangkat alisnya seolah bertanya apa?.
"Nanti malem mau temenin kakak??". Tanya Al penuh harap.
" Ke??". Naya balas bertanya.
"Undangan pak Brata. Kakak malas kalau sendiri.."
Naya terdiam sesaat sebelum menganggukkan kepalanya hingga Al tersenyum lega sambil mengusap kepala Naya karna Naya mau menemaninya. Tanpa Al sadari wajah Naya sudah dipenuhi semburat merah.
"Jam?". Tanya Naya lagi berusaha tenang dan menormalkan deguban jantung nya yang semakin lepas kendali setiap menatap wajah tampan Al.
" Jam?? Kakak lupa..nanti kakak telpon saja". Al benar-benar lupa tidak menanyakan jam berapa acara pesta itu pada pak Brata.
"Mau jalan-jalan??". Tawar Al setelah melihat pergelangan tangannya. Hari ini dirinya tidak terlalu sibuk, ia ingin menghabiskan waktunya bersama Naya.
" Mauu.." Binar bahagia jelas nampak dimata indah gadis itu.
"Tapi kan belum jam pulang.." Tubuhnya mendadak lesu.
"Kamu lupa?? Kakak bos nya.." Ucap Al membusungkan dadanya, sombong.
Naya mencebik lalu menatap Al sinis, namun kemudian ia tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Kapan lagi bisa menghabiskan waktu berdua, pikirnya.
"Kita mau kemana kak??". Tanya Naya membuat Al berpikir.
" Kita nonton aja ya..udahnya makan". Naya mengangguk antusias mendengar ajakan Al. Sudah lama dirinya tidak menonton.
Al melajukan mobilnya membelah jalanan kota yang nampak lengang karena memang masih jam kantor. Ia melajukan mobilnya menuju sebuah pusat perbelanjaan besar yang berada dipusat kota.
"Kakak mau pake jas??". Tanya Naya saat Al selesai memarkirkan mobilnya.
Al menatap penampilannya yang terlihat seperti pegawai kantoran yang sedang bolos kerja. Ia segera melepas jas dan dasi yang terasa mencekik lehernya. Al kemudian membuka dua kancing teratas kemejanya dan menggulung lengan bajunya hingga siku.
Naya memalingkan wajahnya kala Al membuka dua kancing kemejanya. Apalagi ketika ia melirik, Al tengah menggulung lengan kemejanya hingga menampakkan otot-otot lengannya. Ahh..Naya ingin mengumpati Al yang kembali membuatnya terpana. Kenapa Naya mudah sekali mengagumi Al, benar-benar menyebalkan.
" Oke..let's go sayang.." Naya membeku mendengar Al memanggilnya dengan sebutan 'sayang' yang terdengar begitu merdu hingga menggelitik hatinya. Naya merasa ada ribuan kupu-kupu tengah berterbangan didalam dadanya. Terasa geli dan entahlah Naya tak bisa mendeskripsikannya.
"Ayo.." Al mengulurkan tangannya pada Naya yang masih setia dengan lamunannya hingga tak menyadari Al sudah membukakan pintu untuknya.
"hah? Oh..iya..ayo kak". Naya tergagap dan segera menerima uluran tangan Al. Dan seperti yang sudah-sudah, Al selalu menggenggam tangan Naya dengan lembut.
" Ehm..mau nonton apa Kay??". Tanya Al yang bingung melihat deretan film.
"Yang itu aja kak..kayanya lucu". Naya menunjuk sebuah poster film komedi romantis yang sedang booming.
" Oke..tunggu ya.." Naya duduk menunggu Al yang sedang membeli tiket. Tidak terlalu banyak yang mengantre karena memang saat ini masih jam kantor.
"Ganteng banget sih.."
"Ya ampun otot tangannya menggoda banget ya.."
"Mukanya itu. Astaga aku mau pingsan liatnya. Gantengnya nggak ada obat.."
Naya melirik sekumpulan gadis yang duduk di sebelah nya. Penasaran dengan apa yang membuat ketiga gadis disampingnya heboh, Naya mengikuti arah pandang ketiga gadis itu. Dan matanya melebar saat menyadari bahwa yang mereka bicarakan adalah Al.
Naya merasa sangat kesal, entah mengapa ia begitu tak suka dan tak terima jika para gadis itu terus menatap kagum pada Al. Ia tak suka, dan tak rela.
"Astaga senyumnyaaa..." Ucap salah seorangnya semakin heboh.
Naya kembali mengalihkan perhatiannya pada Al yang rupanya tengah menatapnya dengan senyumnya yang seperti biasa selalu menawan. Dan untuk kali ini Naya tak suka Al tersenyum padanya.
"Ayo.." Al sudah berdiri didepannya dengan dua buah tiket dan pop corn serta dua cup minuman.
"Kenapa sih lama". Omel Naya yang masih kesal karena setelah Naya perhatikan, hampir seluruh pengunjung yang akan menonton menatap Al dengan tatapan lapar. Naya benar-benar tidak menyukainya.
" Iya..maaf ya". Al kembali tersenyum.
"Nggak usah senyum-senyum". Omel Naya lagi dan itu mampu membuat Al kebingungan.
" Kenapa sih? Aku salah apa?". Gumam Al segera menyusul Naya yang sudah lebih dulu berjalan.
Selama film diputar, Naya tidak terlalu fokus pada filmnya. Ia berkali-kali melirik sekelilingnya dengan waspada. Dan benar saja, rupa-rupanya wajah rupawan Al masih menjadi perhatian banyak penonton. Apalagi saat Al beberapa kali tertawa karena dilayar sedang menunjukkan scene humor.
"Hei..kamu kenapa sih?? Nggak tenang banget". Rupanya Al menyadari tingkah Naya yang sejak tadi celingukan.
__ADS_1
" Nggak suka". Sungutnya membuat alis Al bertaut.
"Nggak suka filmnya?? Mau keluar aja??". Tanya Al lembut, ia bahkan mengelus tangan Naya. Meski menurut Al apa yang mereka tonton lumayan menghibur, tapi jika Naya tak menyukainya, maka Al lebih memilih menyenangkan gadisnya itu.
" Bukan!". Al semakin kebingungan dengan jawaban Naya. Lalu kenapa gadis itu terlihat kesal.
"Terus???". Tanya Al begitu sabar.
" Nggak suka..dari tadi pada liatin kakak!! Dasar ganjen". Al masih belum mengerti apa yang dimaksud Naya.
"Liat tuh..pada liatin kakak mulu. Bukannya liat film malah liatin kakak!!". Al menarik sudut bibirnya ketika matanya menyapu seluruh sisi gelap didalam bioskop. Bolehkah Al berharap lebih dengan kekesalan Naya? Bolehkah ia berharap gadisnya merasakan cemburu atas tatapan memuja para wanita disana?? Sungguh Al ingin Naya benar-benar cemburu karena hal itu.
" Biarin aja.." Jawab Al acuh dan itu berhasil membuat Naya melotot kesal.
"Kenapa?? Seneng ya?!! Ngeselin". Meskipun hanya berbisik, namun Al dapat mendengar jelas kekesalan disetiap kata yang keluar dari mulut gadis itu. Bahkan diminimnya penerangan, Al dapat melihat wajah kesal gadis nya itu.
" Kakak cuma liat kamu Kay..apa kamu nggak ngerasa?? Kakak nggak peduli sama mereka semua". Al menggenggam tangan Naya hingga membuat gadis itu menatap padanya yang juga tengah menatap dirinya.
Al kembali tersenyum lembut dengan tangan masih menggenggam tangan Naya. Naya merutuki sikapnya yang mungkin menurut Al sangat berlebihan. Naya sangat malu atas sikap spontanitasnya. Entah lah..ia merasa miliknya terancam hingga tanpa sadar bersikap berlebihan.
"Kita bisa keluar kalo kamu nggak nyaman Kay.." Naya semakin terhanyut dengan suara lembut Al.
"Kita keluar ya..kakak nggak akan nikmatin filmnya kalo kamu juga nggak nikmatin". Al segera menggandeng tangan Naya dan membawanya keluar gedung bioskop. Al tidak ingin mood Naya semakin buruk.
" Mau beli sesuatu?". Tanya Al dijawab gelengan kepala oleh Naya. Mood nya sudah rusak sejak mendengar banyak gadis memuji dan mengagumi Al.
"Kita balik kantor aja.." Ucap Naya berjalan mendahului Al yang menghela nafas, namun sedetik kemudian sudut bibirnya terangkat sempurna. Jika benar Naya merasa cemburu pada gadis-gadis itu, maka Al adalah lelaki paling bahagia saat ini. Karna jika Naya cemburu, itu artinya Naya mulai memiliki perasaan terhadap dirinya.
Sepanjang perjalanan, Naya hanya diam. Tak ada yang bersuara karna Al juga memilih diam dan menikmati wajah kesal Naya.
"Kok ke apartemen??". Tanya Naya yang baru menyadari mobil yang Al kendarai tidak kembali ke kantornya.
" Istirahat aja. Dikantor juga nggak banyak kerjaan kan?". Al membukakan pintu untuk Naya dan kembali mengulurkan tangannya. Naya hanya menurut dan menerima uluran tangan Al.
" Kamu istirahat aja ya...nanti malam kakak jemput. Dandan yang cantik ya.." Al mengusap pucuk kepala Naya ketika sampai diapartemen gadis itu. Sementara Naya hanya mengangguk. Mood nya benar-benar anjlok hanya karna gadis-gadis menyebalkan tadi.
cup..
Naya mematung merasakan kehangatan dikeningnya. Al menciumnya?? Al mencium keningnya??
"Hah!!!". Naya menampar pipinya sendiri untuk menyadarkan dirinya.
" Sadar Nay... sadar!!!!".
Naya segera menutup pintu apartemen dan masuk. Belum sempat ia merebahkan tubuhnya, ponsel didalam tasnya sudah berdering
"Kak Al?". Gumam Naya
" Assalamualaikum.. "
"Wa'alaikumsalam salam Kay..nanti malam kakak jemput jam 7 ya.."
"Hah?? Oh..iya kak.."
"Kakak tutup. Inget ya..istirahat. Assalamualaikum.."
"Wa'alaikumsalam.." Naya menatap layar ponselnya yang menggelap.
"Gimana bisa istirahat kalo kebayang terus.." Gumam Naya menghempaskan tubuhnya keatas kasurnya.
Naya terus berperang dengan hati dan pikirannya. Meyakinkan dirinya sendiri jika rasa tak sukanya saat banyak gadis mengagumi Al hanya karena ia merasa Al adalah kakaknya.
"Auk ah!!! Capek!!". Naya menutup wajahnya dengan bantal.
Lelah dengan pikirannya sendiri, Naya akhirnya tertidur masih dengan perasaan gamang lantaran ia mulai meragukan perasaan sayangnya terhadap Al. Apakah dirinya benar-benar sudah jatuh hati atau hanya sekedar nyaman dengan lelaki itu.
" Nay..Nay...Bangun woiii". Naya merasakan tubuhnya berguncang. Dengan malas, ia membuka matanya dan melihat Diandra sudah ada disampingnya.
"Eeuunngh.." Naya mele nguh meregangkan otot-ototnya. Sudah berapa jam ia tertidur.
"Jam berapa Di??". Tanya Naya dengan suara seraknya.
" Udah mau magrib.." Sahut Diandra.
"Ooh.." Naya kembali memejamkan matanya. Namun sedetik kemudian matanya terbuka lebar mengingat sesuatu.
__ADS_1
"HAAAAHHH!!!". Diandra berjingkat saking terkejutnya mendengar Naya berteriak kemudian melompat dari atas tempat tidur.
" Astaga Kanaya!!! Kamu kenapa sih bikin aku kaget!". Omel Diandra mengelus dadanya.
"Aduh kenapa bisa kebablasan sih tidurnya.." Tanpa menghiraukan Diandra yang mengomel. Naya memilih masuk kedalam kamar mandi. Ia harus cepat membersihkan dirinya, ia harus segera bersiap.
"Di..bantu pilihin gaun dong". Naya berteriak dari dalam kamar mandi. Sementara Diandra yang sedang bermain ponsel mengernyitkan dahinya.
" Gaun buat apaan?? Gaun tidur??". Diandra balas berteriak.
"Bukaaaaan!!!!".
" Terus????". Tanya Diandra lagi.
"Gaun buat ke pesta..cepetan. Kak Al bentar lagi pasti jemput.."
"Hah?? Pak Yohan???" Pekik Diandra yang ikut panik mendengar bos nya akan datang menjemput temannya.
"Kok bisa-bisanya kamu tidur kaya orang mati sih Nay udah tau mau pergi ama bos. Ya tuhan..punya temen kok gini amat". Diandra melompat dari kasur dan membuka lemari pakaian Naya. Ia mengeluarkan semua gaun yang dimiliki Naya dan juga miliknya karena memang badan keduanya sama langsingnya. Tinggi mereka pun hampir sama.
" Udah bantuin aja..jangan ngomel mulu". Entah mandi dengan cara apa hingga belum sempat Diandra memilih gaun untuk Naya, gadis itu sudah keluar dari kamar mandi.
"Kamu mandi apa cuci muka doang??!!". Tanya Diandra dengan mata memicing.
" Udah lah..yang penting wangi". Jawab Naya asal hingga membuat Diandra mendengus.
"Pake yang ini aja". Setelah lama memilih, Diandra menjatuhkan pilihannyapada gaun berwarna hitam sederhana namun tetap terlihat elegan.
" Oke siniin.." Naya langsung mengambil gaun yang dipilihkan Diandra dan berlalu ke kamar mandi untuk memakainya.
Diandra dengan sigap menyiapkan peralatan make up untuk mendandani Naya.
"Oke lah ya pake ini??". Naya meminta pendapat Diandra. Sementara Diandra mematung sejenak sebelum mengangguk semangat.
" Sini cepet duduk.." Diandra menarik lengan Naya dan mendudukannya didepan meja rias. Dengan cekatan dan terampil, Diandra memoles wajah Naya dengan make up sederhana namun terlihat sangat menawan. Memang dasarnya wajah Naya sudah cantik, jadi Diandra tidak perlu bekerja keras untuk mempercantik wajah Naya.
"Jam berapa pak Yohan kesini??". Tanya Diandra disela kesibukannya menata rambut Naya yang disesuaikan dengan gaun yang dikenakan gadis itu.
" Jam 7.." Cicit Naya
"WHAAAAT???!!! ASTAGA KANAYAAAAA!!!". Ingin sekali Diandra menjambak rambut temannya itu.
Jam 7..itu berarti tidak kurang dari 10menit lagi atasannya akan datang menjemput teman somplaknya itu.
" Kalo bukan pak Yohan yang mau jemput..udah aku acak-acak lagi rambut kamu Nay". Geram Diandra dijawab cengiran Naya.
"Aku lupa.." Ucap Naya tanpa beban.
"Ah sudahlah..cepat pasang anting dan kalung ini. Aku akan menyelesaikan rambutmu. Jangan lupa lipstiknya..tidak lucu sekali datang ke acara penting kaya orang tipes". Omel Diandra yang tangannya tak berhenti merapikan rambut Naya. Naya hanya tersenyum simpul mendengar ocehan teman baiknya itu.
ting..tong..ting..tong..
Bunyi bel apartemen membuat kedua saling menatap lewat pantulan cermin. Tinggal sedikit lagi Diandra menyelesaikan tatanan rambut Naya.
" Itu pasti pak Yohan.."
"Astaga Nay..bisa-bisanya kamu membuat bos besar menunggu karyawan seperti kita ini". Diandra memasang jepit terakhir dirambut Naya. Kemudian ia meneliti kembali penampilan Naya. Setelah dirasa cukup, Diandra tersenyum puas melihat hasil karyanya.
" Aku akan bukakan pintu dulu..cepat pakai lipstikmu". Titah Diandra langsung dilaksanakan oleh Naya. Ia tak mau sahabatnya kembali mengomel.
ceklek..
Diandra terpaku sejenak melihat penampilan Al yang sangat memukau. Kemeja putih berbalut jas hitam menambah kesan mempesona Al dimata kaum hawa. Diandra segera menarik dirinya dari keterpesonaan, ini bukan waktunya mengagumi atasannya itu.
"Silahkan masuk pak..Naya sedang bersiap". Diandra mempersilahkan Al masuk.
" Terimakasih.." Al tersenyum tipis
Al duduk dikursi ruang tamu, menunggu Naya dengan perasaan yang tak bisa ia jelaskan. Hatinya senang bisa pergi bersama pujaan hatinya.
Suara hentakan heels membuat Al mencari sumber suara. Matanya terpaku pada satu titik, Kanaya. Gadisnya benar-benar terlihat anggun malam ini. Kecantikan alaminya benar-benar membuat Al terpukau. Bahkan untuk berkedip pun Al seperti tak rela. Tiba-tiba rasa takut melingkupi hati Al, ia takut akan banyak lelaki yang menatap pada gadisnya. Ia tak akan rela jika banyak mata pria menatap kagum pada Naya. Apakah dirinya harus membatalkan acara malam ini dan menikmati kecantikan Naya seorang diri?
Diandra yang melihat wajah terpukau Al dan wajah malu-malu Naya hanya bisa tersenyum. Dan Diandra baru menyadari jika gaun yang dipilihkannya untuk Naya senada ddengan jas yang dikenakan oleh Al.
Benar-benar couple goal. Batin Diandra tersenyum puas.
__ADS_1