
"Dia temanmu?". Tanya Daniel berusaha setenang mungkin. Sejujurnya hatinya bergejolak, ia tidak bisa membohongi hatinya yang hingga kini terus berdebar setelah bertemu kembali dengan Kirei.
"Maksudku mereka". Daniel meralat pertanyaannya, sadar jika pertanyaannya membuat Arin mengernyit bingung. Saat ini Daniel dan Arin sedang dalam perjalanan pulang. Dan sejak melihat wajah yang ia rindukan itu, Daniel menjadi tidak fokus.
"Iya..mereka teman-teman baikku". Jawab Arin dengan seulas senyum lembut. Dalam hati ia bertanya, apa yang menyebabkan calon suami yang selama ini selalu mendiamkannya tiba-tiba mau berbicara padanya.
"Dan..mama menyuruh kita ke toko perhiasan untuk mengambil cincin pertunangan kita". Ucap Arin pelan.
Daniel hanya mengangguk, pikirannya tak pernah lepas dari sosok yang selalu membuat hatinya tersiksa 6tahun belakangan.
Sementara Arin hanya bisa menghela nafasnya panjang mendapati calon suaminya sudah kembali dalam mode dinginnya.
Arin menyadari bahwa hubungan keduanya memang tidak didasari cinta, atau mungkin lebih tepatnya cinta yang bertepuk sebelah tangan. Karena sejak pertemuan pertamanya dengan Daniel 6 tahun silam, Arin sudah jatuh hati pada lelaki itu. Lelaki yang telah dipersiapkan kedua orang tuanya untuk menjadi pendamping hidupnya.
Namun sungguh disayangkan, selama itu pula Daniel selalu bersikap acuh dan dingin pada Arin, gadis itu harus benar-benar bersabar menghadapi sikap Daniel yang tak pernah mau melirik dirinya. Bahkan butuh waktu 6 tahun pula untuk meyakinkan Daniel bertunangan dengannya 2 minggu lagi, sebelum mereka menikah 3 bulan lagi.
****
"Ki..."
"Hmm"
"Kiiiiii..iiish". Desis Tania mulai kesal tidak ditanggapi oleh Kirei.
"Apa sih ketan. Lo kaga ada kerjaan apa dari tadi nungguin ama gangguin gue". Kesal Kirei membuat Tania nyengir.
"Jawab jujur pertanyaan gue". Wajah Tania berubah serius membuat sebelah alis Kirei terangkat.
"Lo kaga ada main kan ama calon lakinya si Arin?". Pertanyaan Tania membuat Kirei menghentikan kegiatannya membaca laporan kesehatan pasiennya.
"Maksud lo?". Tanya Kirei bingung, jantungnya berdetak cepat..takut jika Tania mengetahui keanehan dirinya ketika bertemu Daniel.
"Lo ama calon laki si Arin tu aneh tau. Pas liat pertama tu kaya lo udah kenal ama dia..terus dia nya juga ngeliat lo tu kaya orang yang udah lamaaaa banget kaga..."
"Ssstttt. Berisik tau lo. Perasaan lo aja..gue cuma kaget tau-tau Arin bilang punya calon laki. Padahal selama ini tu bocah adem ayem aja". Kirei segera memotong ucapan Tania sebelum semakin melebar kemana-mana.
"Ada yang lo umpetin dari gue ya??". Tanya Tania menyelidik.
"Astaga ketan..lo kenapa sih. Bawel banget ni hari". Ucap Kirei kesal.
"Gue nggak ada apa-apa ama calon laki si Arin, kenal juga baru". Ketus Kirei melanjutkan pekerjaannya.
"Kalo lo ngerasa ada yang perlu lo ceritain, lo bisa bilang ama gue. Kuping gue selalu siap dengerin apapun dari lo". Akhirnya Tania mengalah dan keluar dari ruangan Kirei setelah menepuk bahu teman baiknya itu.
Dari ketiga temannya, memang hanya Tania yang paling mengerti dirinya. Sejak kuliah pun hanya Tania yang paling dekat dengan dirinya.
Kirei menghempaskan punggungnya ke sandaran kursinya. Kepalanya terasa berdenyut tatkala mengingat wajah yang sudah susah payah ia lupakan selama 6 tahun ini.
"Kenapa gue musti ketemu lo lagi Dan, 6 tahun gue berusaha lupain lo. Bahkan gue rela jauh dari keluarga gue, kenapa gue harus ketemu lo lagi setelah gue bisa ngehapus lo dari otak gue..dan kenapa harus Arin". Ucap Kirei memejamkan matanya.
"Gue tau lo boongin gue Ki..gue yakin ada masalalu antara lo sama tu laki. Gue bakal tunggu ampe lo siap cerita ke gue". Rupanya Tania masih setia berdiri dibalik pintu ruang kerja Kirei. Hingga samar-samar ia mendengar ucapan Kirei.
*****
Siang ini suasana kantin terasa lebih ramai dari biasanya. Diantara puluhan orang yang ada disana, terlihat seorang pria yang memakai baju perawat terlihat bahagia. Bahkan ia mentraktir beberapa rekan sesama perawat.
"Lo kasih apaan tu bocah nyampe seseneng itu?". Tanya Juna pada Tania. Karena lelaki yang sedang mereka bicarakan adalah kekasih baru Tania.
"Lo ajakin ngamar ya?". Kini Kirei yang bertanya.
"Kaga". Tania masih asyik memakan soto yang dipesannya. Sementara dua temannya sudah penasaran setengah mati. Bukan rahasia lagi jika Tania adalah seorang player. Sudah banyak lelaki yang bekerja dirumah sakit itu menjadi korban keisengannya.
"Terus??". Tanya keduanya kompak.
"Gue kasih ny*su doang". Jawab Tania santai.
__ADS_1
"Si g*blok!!". Seru keduanya menghadiahkan sebuah sambitan dikepala gadis itu.
"Masih bocah itu Tan..gila lo". Juna sampai geleng-geleng kepala mendengar kegilaan teman sejawatnya itu.
Pasalnya perawat yang sedang mereka bicarakan memiliki umur 3tahun lebih muda dari Tania.
"Bisa overdosis tu bocah anj*r!". Kirei berdecak.
"Biar sehat dia..makanya gue kasih s**u". Terang Tania santai.
"Gemblung!!!". Seru keduanya kemudian meninggalkan Tania yang terbahak melihat wajah kesal kedua temannya.
___
"Dokter..ada pasien yang menunggu". Seorang perawat menginterupsi langkah Kirei.
"Pasien? Bukankah sudah habis sus? Lagipula setelah ini jadwal dokter Juna". Tanya Kirei bingung.
"Maaf dok..pasiennya cuma mau sama dokter". Jelas si perawat.
"Ya sudah..rekam medisnya sudah ada didalam?".
"Sudah dok.." Kirei mengangguk kemudian berlalu meninggalkan perawat itu dan masuk kedalam ruangannya. Disana sudah ada dua orang, seorang wanita dan laki-laki.
"Selamat siang". Sapa Kirei ramah dengan senyuman sempurna.
"Selamat siang dokter". Senyum yang sejak tadi terpatri diwajah cantiknya perlahan memudar kala melihat sosok lelaki yang ada diruangannya.
"Ah..maaf dokter. Saya mengganggu waktu istirahat anda". Kirei mengalihkan pandangannya pada si wanita, ia kembali tersenyum.
"Tidak masalah nyonya Riana..ada yang bisa saya bantu?". Tanya Kirei pada wanita yang ternyata adalah Riana Mahendra, istri direktur rumah sakit tempatnya bekerja.
"Ini..saya mengantarkan Tama untuk check up, katanya bekas jahitannya terasa nyeri". Ucap Riana menjelaskan maksud kedatangannya.
Kirei dengan cermat memeriksa bekas jahitan dilengan kanan Tama, tidak ada yang aneh. Bahkan lukanya sudah kering sempurna.
Sudut bibir Tama terangkat kala melihat wajah serius Kirei yang tengah memeriksa lengannya. Kirei benar, dirinya baik-baik saja..bahkan sangat baik. Ia hanya mengikuti keinginan ibunya yang meminta dirinya melakukan drama ini.
"Semuanya baik-baik aja". Gumam Kirei masih fokus pada bekas luka Tama.
"Yang nggak baik jantung gue kalo terus deket elo". Bisik Tama membuat Kirei berjingkat kaget.
Dapat Kirei lihat senyuman menyebalkan yang tersungging dibibir Tama saat ini, membuatnya semakin tampan. Bahkan sangat tampan. Kirei segera mengenyahkan pikiran yang menurutnya g*la itu.
Kirei segera menegakkan tubuhnya, berjalan meninggalkan Tama yang masih berbaring. Wajahnya terasa panas akibat ulah kurangajar Tama.
"Maaf nyonya, dari pemeriksaan saya, luka dilengan tuan Tama tidak kenapa-kenapa. Bahkan sudah kering sempurna". Jelas Kirei setelah mendaratkan pa*t*t dikursinya.
"Begitu? Lalu kenapa dia bilang sakit". Gumam Riana yang masih terdengar oleh Kirei.
"Baiklah kalau memang dia sudah baik-baik saja. Maaf mengganggu waktunya dokter". Ucap Riana merasa tak enak, padahal ini semua sudah termasuk dalam rencananya.
"Tidak masalah nyonya, sudah kewajiban saya". Jawab Kirei ramah.
"Ehmm..dokter, bolehkah saya minta tolong?". Tanya Riana seolah ragu.
"Tentu, jika saya bisa pasti saya akan menolong anda". Sahut Kirei cepat. Sedangkan Tama sedang mengamati apa yang dilakukan oleh ibunya. Ia yakin bahwa ibunya merencanakan sesuatu untuk dirinya dan dokter cantik itu.
Riana mengeluarkan sebuah undangan, meletakkannya diatas meja Kirei dan kemudian didorongnya agar lebih dekat dengan gadis itu.
"Lusa adalah ulang tahun pernikahan saya dan suami, dan juga ulang tahun rumah sakit ini, dokter Kirei. Maukah dokter hadir dalam acara kami?". Tanya Riana penuh harap.
"Kami juga mengundang seluruh pegawai disini dokter, jika dokter berkenan, saya akan merasa sangat bahagia". Ucap Riana dengan seulas senyum penuh arti.
"Sebuah kehormatan untuk saya nyonya, dengan senang hati saya akan datang". Kirei membalas senyuman wanita paruh baya yang mungkin umurnya tidak jauh berbeda dengan ibundanya.
__ADS_1
"Apakah aku juga boleh meminta kadoku lebih awal?". Tanya Riana penuh harap, ia pun sudah tak berbicara formal lagi pada Kirei.
"Tentu saja..jika saya bisa, akan saya kabulkan". Meski heran, Kirei tetap akan berusaha memenuhi keinginan Riana.
"Bisakah kamu panggil aku ibu? Atau setidaknya tante, aku tidak nyaman dipanggil nyonya oleh dirimu". Ucap Riana semangat.
Kening Kirei berkerut dalam, permintaan macam apa ini? Bukankah memang sudah seharusnya dirinya memanggil wanita ini dengan sebutan nyonya? Kirei menoleh, menatap Tama yang ternyata sejak tadi tidak melepas tatapannya dari wajah ayunya.
"Baik nyo..maksud saya tante. Saya akan berusaha untuk membiasakan diri memanggil anda tante". Kirei mengulas senyum lembut yang entah mengapa membuat dada Tama bergemuruh.
"Baiklah kalo begitu, aku akan pergi sekarang. Maaf mengganggu waktumu nak". Riana memeluk Kirei sekilas dan berjalan keluar. Meninggalkan Tama yang masih ada didalam ruangan gadis itu.
"Anda tidak keluar tuan Wi-RATA-ma??".
"Nama gue Tama, bukan rata kalo-kalo elo lupa". Dengus Tama membuat Kirei tersenyum miring.
Tama berjalan mendekati Kirei membuat Kirei waspada, dapat Kirei pastikan bahwa putra sulung pemilik rumah sakit ini adalah seorang playboy, dari caranya menghadapi perempuan.
Keduanya hanya berjarak beberapa langkah, Tama semakin maju mengikis jarak diantara mereka.
"Berhenti tuan". Seru Kirei yang justru membuat Tama tersenyum.
"Saya bilang berhenti atau saya akan berteriak". Ancaman Kirei seolah dianggap angin lalu oleh Tama yang semakin maju mengikis jarak antara keduanya.
"Coba saja". Tantangnya.
Bukan Kirei tidak mampu menghajar Tama, namun akan jadi seperti apa jika dirinya yang seorang dokter justru menghajar pasiennya, ditambah lagi status Tama yang adalah putra pemilik rumah sakit itu.
"Lo nggak tertarik sama gue? Bahkan banyak cewe yang rela ngantri cuma buat jadi pacar gue". Tama menyeringai membuat Kirei ingin sekali menghantam wajah tengil itu.
"Sama sekali tidak tuan, bahkan dalam mimpi sekalipun tidak". Ketus Kirei membuat Tama gemas.
"Lo bakal jadi milik gue. Gue pastiin itu".
"Jangan terlalu percaya diri tuan Wiratama". Desis Kirei.
Tubuh Kirei menegang kala tangan kokoh Tama memeluk pinggangnya erat, memangkas jarak antara keduanya. Bahkan Kirei dapat merasakan hangat hembusan nafas lelaki cassanova itu diwajahnya.
"Jangan panggil gue Tama, kalo takhlukin perempuan kaya elo aja gue nggak bisa". Bisik Tama tepat ditelinga Kirei.
Menyadari posisinya yang terpojok dengan Tama yang lebih mendominasi, Kirei sadar kekerasan tidak akan bisa membuat dirinya terlepas dari pria sinting yang masih memeluk pinggangnya dengan begitu erat.
"Kalau begitu..kenapa tidak anda coba saja tuan Tama. Kita lihat, siapa yang akan lebih dulu bertekuk lutut. Saya...atau anda". Suara lembut Kirei membuat Tama menegang, apalagi sebelah tangan gadis itu tengah memegang kerah kemeja yang ia pakai saat ini, sedang sebelahnya sedang menekan d**aya agar tidak menempel pada tubuh Kirei. Untuk menelan ludahnya saja terasa sulit untuk lelaki itu, apalagi melihat bibir pink alami Kirei yang terlihat begitu menggoda imannya yang minim itu.
Mata keduanya bertemu dan dengan sengaja Kirei mengedipkan sebelah matanya dengan cara yang sangat menggoda, membuat Tama justru salah tingkah sendiri. Dalam hati Kirei bersorak melihat wajah Tama yang bersemu.
Meski tak bisa Kirei pungkiri, bahwa saat ini jantungnya seperti hendak melompat keluar. Entah s*tan apa yang membuatnya berani menggoda balik Tama seperti ini.
"Ki...." Sontak keduanya melihat kearah pintu. Disana Tania sedang berdiri dengan mulut menganga lebar melihat posisi Kirei dan Tama yang seperti orang hendak berciuman. Posisi keduanya yang rapat tanpa celah, dan wajah mereka yang hanya berjarak beberapa centi itu jelas membuat siapa saja yang melihatnya akan salah sangka.
"Oooppss..sorry". Setelah bisa menguasai rasa keterkejutannya, Tania segera menutup pintu ruangan Kirei dan berlari kembali keruangannya.
Sedangkan kedua orang yang seperti kepergok melakukan perbuatan mes*m itu segera saling melepaskan diri. Tanpa berpamitan, Tama segera bergegas meninggalkan ruangan Kirei yang terasa begitu panas untuknya. Dirinya terus mengumpat dan merutuki kebodohannya menggoda Kirei yang justru berakhir dengan dirinya yang digoda gadis itu.
"S*al! Gimana visa tu cewe secantik itu. Ini juga jantung kenapa!". Hatinya terus mengumpat sepanjang lorong rumah sakit yang ia lewati.
"Haaiisshh!! S*al banget..kenapa Tania harus liat sih. Abis gue". Gerutu Kirei kemudian mengacak rambutnya frustasi.
Kedua anak manusia itu tidak tahu jika ada dua pasang mata paruh baya yang berbinar melihat interaksi keduanya beberapa saat lalu lewat kamera cctv yang ada diruang kerja Kirei.
"Kita udah ketemu pawangnya mas". Orang yang tak lain adalah Riana dan suaminya Akmal tertawa bahagia melihat keberanian Kirei terhadap Tama.
"Kamu benar..semoga dia berhenti bermain-main dengan wanita-wanita tak jelasnya itu". Akmal ikut menimpali suara istrinya.
Keduanya merasa sudah menemukan gadis yang akan bisa menjadi pawang untuk putra sulungnya itu.
__ADS_1