Imperferct Partner

Imperferct Partner
bisik-bisik tetangga


__ADS_3

Setelah 1minggu penuh berada di kota kelahirannya dengan berbagai kejutan yang ia terima dari kedua orang tua dan keluarganya, hari ini Kirei harus kembali pada tugas mulianya dikota yang jauh dari kedua orang tuanya.


Tama masih setia berada disisi gadis itu, entah bagaimana lelaki itu bekerja. Tapi selama berada di ibukota, Tama nampak biasa saja tanpa terbebani pekerjaan.


Sementara Kirei sudah berulang kali dihubungi pihak rumah sakit yang menanyakan kapan dirinya akan kembali bertugas disana. Karena sudah banyak pasien yang menanyakan keberadaannya saat ini.


"Ki pamit dulu yah, bun. Jaga kesehatan kalian". Kirei menyalami kedua orang tuanya dan mencium punggung tangan keduanya. Saat ini mereka sedang berada dibandara, mengantarkan Kirei dan Tama yang akan kembali terbang ke kota gudeg.


Awalnya Kirei ingin kembali menaiki kereta, namun kali ini Tama menang dengan menaiki perdebatan sengit antara keduanya.


"Kamu juga harus menjaga diri baik-baik disana. Segera hubungi ayah dan buna jika kamu membutuhkan sesuatu. Atau Tama..dia yang paling mudah menjangkau dirimu. Secepatnya ayah dan buna akan menyusul kesana untuk membahas pernikahan kalian. Akan lebih baik jika kalian secepatnya menikah". Jelas Dev panjang lebar membuat Kirei menghela nafas panjang.


"Dirga yang lebih dulu bertunangan saja belum memikirkan pernikahan ayah..kenapa aku seperti dikejar target untuk segera menikah. Berikan aku dan Tama waktu untuk bisa saling mengenal. Pernikahan tidak semudah itu". Desah Kirei menatap kedua orang tuanya.


"Cinta akan datang seiring kalian sering bersama Ki. Percayalah". Ara mencoba meyakinkan putri cantiknya.


"Kalian bicara seperti itu karena kalian menikah atas dasar cinta. Bukan seperti aku yang kalian jodohkan". Cebik Kirei membuat ayah dan ibunya tersenyum gemas.


"Sudahlah..terima aja sih nasib. Anak perempuan harus nurut kalo dikasih tau orang tua". Arka ikut menimpali obrolan.


"Bahaya kalo elo lama-lama dikencarin kaya sekarang. Takut lupa jalan pulang Ki". Imbuh Dirga membuat Kirei semakin mencebik.


"Dasar kompor lo berdua!". Kirei menatap kesal dua sepupunya yang tersenyum penuh kemenangan.


"Sudah cepat sana, kalian bisa ketinggalan pesawat". Dev mendorong pelan tubuh putrinya pada Tama.


"Kalian yang membuatku lama". Sungut Kirei dengan bibir mengerucut.


Tama menyalami tangan kedua orang tua Kirei bergantian dan memeluk Dirga dan Tama cepat kemudian berjalan didepan Kirei.


Lambaian tangan dari orang tua dan saudara-saudaranya mengiringi langkah kaki Kirei dan Tama. Keduanya diam, tak seorangpun yang memulai obrolan. Suasana terasa canggung dan..ah..entahlah Kirei dan Tama pun bingung harus bagaimana sekarang.


Kenapa mereka seperti seorang penjahat yang diburu. Menikah saja mereka harus diburu-buru seperti ini. Padahal menurut mereka, umur mereka masih bisa dibilang muda.


Tama duduk disamping Kirei yang terlelap, memandangi mahakarya tuhan yang menciptakan gadis yang begitu sempurna. Hidung mancung, bibir tipis dan wajah putih.


Sangat cantik, apalagi jika sedang tertidur seperti saat ini. Namun jika bangun, galaknya bisa melebihi macan. Tama tersenyum jika teringat segala yang pernah ia lewati bersama Kirei.


Sudut bibir lelaki itu terangkat saat dirinya terus menatap gadis yang masih asyik dengan dunia mimpinya. Perlahan tangannya terulur untuk merapikan surai yang menutupi wajah cantik Kirei. Tama masih belum mengerti tentang perasaannya saat ini, dirinya hanya merasa nyaman dan damai saat berada dekat dengan Kirei. Walaupun dia tidak bisa menyangkal bahwa kadang Kirei menyebalkan dan terlalu..galak.


Lelah memandangi wajah damai Kirei, Tama ikut terlelap. Perjalanan yang tidak terlalu lama itu mereka habiskan untuk mengumpulkan sisa-sisa kewarasan mereka dengan tidur. Bersiap menghadapi hal tak terduga yang akan mereka hadapi esok hari.

__ADS_1


#####


"Selamat dokter..kami ikut bahagia mendengar kabarnya". Seorang perawat menghampiri Kirei yang tengah duduk diruang IGD. Hari ini dirinya mendapat jatah jaga IGD.


"Terimakasih". Jawab Kirei dengan senyum tipis. Entah dari mana kabar pertunangannya dengan Tama sampai ditelinga rekanan kerjanya.


"Widiiiiiiih..calon nganten udah masuk aja". Suara Juna dihadiahi lemparan sebuah pulpen oleh Kirei.


"Weitsss..kaga kena. Kurang akurat lo ngelemparnya". Ledek Juna yang berhasil menghindar dari lemparan Kirei.


"Mulut..mulut". Sengit Kirei yang dibalas cengiran oleh Juna. Pasalnya kini mereka berdua diperhatikan oleh beberapa pasien dan juga teman-teman seprofesinya.


Sebaik dan seramah apapun Kirei, pasti ada saja orang yang tidak menyukainya. Apalagi berita pertunangannya dengan putra sulung direktur rumah sakit sudah menyebar, hingga beberapa orang menganggap Kirei bisa berada diposisinya saat ini karena koneksi orang dalam.


Ada beberapa perawat dan dokter yang menatap Kirei dengan tatapan tak suka karena mereka merasa Kirei menggoda Tama.


"Mukanya aja cantik, tapi ternyata penggoda juga".


"Memang wajah bisa menipu".


"Siapa yang tidak akan tergoda menjadi menantu direktur rumah sakit besar seperti ini?".


"Aku kira dia berbeda, ternyata sama saja memandang segala hal dari harta dan tahta".


"Iishh..itu mulut emang pada minta disobekin semua ya". Geram Tania yang sudah tidak bisa bersabar mendengar gunjingan-gunjingan dari beberapa rekan mereka dirumah sakit itu.


"Udah sih biarin aja". Kirei menahan tangan Tania yang hendak melangkah mendekati orang-orang yang berbisik membicarakan Kirei.


"Nggak bisa dong. Orang-orang kaya mereka mulutnya harus dikasih pelajaran!". Tania sengaja mengeraskan suaranya agar orang-orang yang membicarakan Kirei mendengarnya.


"Buang-buang tenaga". Kirei menarik tangan Tania menjauh dari kerumunan orang yang kini menatap kepergian keduanya.


"Lo kenapa sih diem aja. Mulut mereka harus dikasih pelajaran Ki. Seenaknya aja mereka ngomongin yang enggak-enggak tentang elo". Tania masih terus mengoceh lantaran tak terima sahabat baiknya dibicarakan yang tidak-tidak.


"Biarin aja". Jawab Kirei pendek.


"Ih lo tu gimana sih Ki..gue aja yang denger udah gedeg banget pengen nabok itu mulut yang pada lemes". Tania bersungut-sungut membuat Kirei tersenyum.


"Lo aja udah cukup". Sahut Kirei yang membuat Tania langsung diam. Menatap lama wajah Kirei yang masih tersenyum padanya.


"Aaaaaah...aku terhuraaaaa". Tania memeluk Kirei dengan erat membuat Kirei melotot kehabisan udara.

__ADS_1


Kirei menepuk keras punggung Tania beberapa kali hingga akhirnya Tania melepaskan pelukannya pada tubuh Kirei.


"Gila!!! Lo mau bunuh gue?". Kirei melotot kesal pada Tania yang terkekeh melihat wajah merah Kirei akibat ulahnya.


"Dokter Kirei". Panggilan dari seseorang membuat Tania dan Kirei menoleh bersamaan.


Seorang gadis dengan pakaian perawat menghampiri Kirei dan Tania yang sedang berjalan menuju kantin rumah sakit.


"Huh..hah..huh.." Perawat bername tag Fitri berusaha mengatur nafasnya setelah berlari mengejar Kirei.


Kirei mengangkat sebelah alisnya, menatap heran pada perawat yang sering membantunya menangani pasien di IGD.


"Ada apa?". Tanya Kirei penasaran.


"Anda..huh. Anda sudah ditunggu pak Tama diruangan anda dok". Jelas Fitri membuat Kirei melotot. Mau apa lagi lelaki itu datang. Pikir Kirei.


"Eciiieeeee..yang didatengin calon laki mah beda". Goda Tania. Fitri yang mendengar godaan Tania jadi tersipu sendiri, seolah dirinya yang tengah didatangi oleh calon suaminya.


"Napa elo yang malu-malu markonah". Tania mendorong kening Fitri membuat gadis itu terkekeh. Malu sendiri menyadari kelakuannya.


"Mau ngapain lagi sih tu orang". Gerutu Kirei masih tak bergerak ditempatnya berdiri.


"Udah gih sana samperin. Kasian pak Tama kelamaan nunggu". Tania mendorong Kirei agar kembali keruangannya menemui Tama.


Dengan gontai Kirei membalik tubuhnya, berjalan kembali menuju ruangannya untuk menemui lelaki yang digadang-gadang akan menjadi suaminya dalam waktu dekat ini.


'kreeekk'


Pintu ruangan yang terbuka membuat Tama mengalihkan pandangannya. Terlihat wajah masam tunangannya.


"Lama banget sih". Keluh Tama membuat Kirei mendelik. Memang siapa yang menyuruh lelaki itu menunggunya.


"Emang siapa yang nyuruh elo nunggu". Ketus Kirei membuat Tama tersenyum.


"Yuk". Tama melepaskan snelli yang dikenakan Kirei. Kemudian menggandeng tangan Kirei dan membawanya keluar sebelum Kirei sempat memprotesnya.


"Kita mau kemana sih? Jam praktek gue belom kelar". Kirei bertanya sambil terus mengikuti langkah lebar Tama.


"Makan". Jawab Tama pendek. Kirei memilih diam dan tidak bertanya lagi setelah mendengar jawaban Tama.


Sepanjang koridor rumah sakit keduanya menjadi pusat perhatian semua orang yang mereka lewati. Apalagi Tama menggandeng erat tangan lentik Kirei.

__ADS_1


Bisik-bisik kembali terdengar, bahkan berhembus seperti angin yang cepat sampai ditelinga banyak orang.


Kirei hanya bisa menulikan telinganya dan berpura-pura tidak melihat tatapan tak suka dari banyak gadis yang ia lewati sepanjang koridor rumah sakit.


__ADS_2