
Sudah satu bulan sejak pertunangan Kirei dan Tama, sejak saat itu pula Daniel sering mengunjungi Kirei diam-diam. Berulang kali Kirei menolak menemui Daniel, namun Daniel tidak sedikitpun menyerah. Semakin banyak kasak-kusuk tidak mengenakkan yang membicarakan tentang Kirei.
"Aku nggak akan pernah berhenti datang sampai kamu mau bicara sama aku, Ki". Ucap Daniel yang kini berdiri dihadapan Kirei.
Kirei menghela nafasnya panjang, bingung harus bagaimana lagi mengusir lelaki keras kepala yang terus mengganggu hidupnya.
"Berhenti menggangguku". Suara Kirei sudah terdengar tak sabar. Ingin rasanya Kirei memukul wajah Daniel.
"Aku mohon Ki..kita harus bicara". Pinta Daniel memohon membuat Kirei benar-benar muak.
"Sayang?". Suara panggilan yang biasanya terdengar menyebalkan ditelinga Kirei, kini terdengar seperti datangnya malaikat penolong baginya.
Ia dan Daniel menoleh, senyum manis terbit dibibir mungil Kirei melihat Tama berdiri diujung lorong. Keduanya sudah sepakat berlakon didepan banyak orang layaknya pasangan yang saling mencintai.
"Mas.." Kirei berjalan mendekat pada calon suaminya. Meninggalkan Daniel yang mematung mendengar panggilan mesra Kirei pada Tama. Karena baru kali ini Daniel mendengar Kirei memanggil kakak sepupunya itu setelah lama tak saling bertemu.
"Udah selesai prakteknya?". Tama memerankan lakonnya sebagai calon suami idaman yang selalu perhatian pada calon istrinya.
Kirei mengangguk dengan senyum terus terpatri diwajahnya, Tama bahkan menyelipkan helaian rambut Kirei ke belakang telinga. Benar-benar akting yang sangat sempurna dari keduanya.
"Lo ada urusan apa Dan disini?? Nyari Arin?". Tanya Tama berpura-pura tak tahu maksud kedatangan Daniel.
"Aku ada urusan dengan Kirei kak. Kakak tahu sendiri apa urusanku dengannya". Jawab Daniel lantang tanpa sedikitpun keraguan.
"Kamu ada urusan dengannya sayang?". Tama merengkuh pundak Kirei yang langsung menggeleng kuat mendengar pertanyaan Tama. Tama adalah alasan kuatnya untuk bisa melarikan diri dari Daniel yang terus mengganggunya saat ini.
"Nggak ada. Kita pulang sekarang ya mas..aku capek". Kirei bergelayut manja dilengan kekar Tama yang langsung mengelus kepala Kirei dengan lembut.
Tama manatap Daniel tajam, yang dibalas tak kalah tajam oleh Daniel yang merasa terbakar melihat kemesraan yang dipamerkan Kirei dan Tama.
"Stop ganggu calon istri gue Dan. Kirei udah jadi calon kakak ipar elo secara nggak langsung. Jangan ganggu dia lagi". Peringat Tama yang dibalas kekehan oleh Daniel.
"Aku tau kalian hanya sedang berakting, kalian saling menguntungkan kak. Kalian cuma kerjasama tanpa ngelibatin perasaan". Kekeh Daniel menatap remeh pada Tama yang masih memeluk pundak Kirei.
Tama tersenyum miring, tak sedikitpun menunjukkan wajah terkejut atau apapun sekalipun semua tebakan Daniel tepat sasaran. Berbeda dengan Kirei yang terlihat terkejut, namun dengan cepat gadis itu mengembalikan ekspresi wajahnya tanpa menimbulkan kecurigaan.
"Apapun alesan gue sama Kirei bareng, itu semua buat kebahagiaan kami. Jadi berhenti ganggu calon istri gue selagi gue masih berbaik hati ama lo". Ancam Tama dengan sorot mata tajam.
"Aku nggak akan pernah lepasin dia lagi kak. Aku pernah jadi orang bodoh karena ngelepasin Kirei, sekarang dia ada didepan mata aku. Aku akan kejar sampai kapanpun". Ucapan Daniel membuat rahang Tama mengeras. Sementara Kirei merasa hatinya disayat. Mengapa baru kini Daniel memiliki tekad seperti itu, mengapa dulu Daniel meninggalkannya tanpa kejelasan? Mungkin jika Daniel menceritakan segalanya dulu. Jika dulu Daniel jujur dengan keadaannya, mungkin sekarang Kirei bisa mengerti dirinya.
Perlahan Tama melepaskan pelukannya dari bahu Kirei, membuat Kirei menoleh pada Tama yang tersenyum.
"Gue nggak akan pernah paksain cinta gue Dan. Kalo Kirei emang masih mau sama elo, kalo dia bahagia sama elo..gue akan dengan sukarela ngelepasin dia". Tama mundur selangkah, memberikan ruang pada Kirei untuk menentukan pilihannya. Percayalah, saat ini d**a Tama terasa dihimpit benda berat, sulit untuknya melakukan semua ini. Namun dirinya tidak ingin egois dengan memaksa Kirei bersamanya. Ia akan membiarkan Kirei memilih.
"Semua pilihan ada ditangan kamu, Ki". Tama memaksakan senyumnya. Meski hubungan mereka hanya sebuah sandiwara untuk menyenangkan kedua orang tua mereka, namun Tama berharap Kirei akan tetap memilih dirinya dibandingkan Daniel yang memang jelas pernah Kirei cintai.
"Mas.." Lirih Kirei menatap Tama tak percaya.
__ADS_1
"Kak Tama sudah merelakanmu Ki..kembalilah padaku. Aku akan meninggalkan Arin dan hidup bahagia bersamamu". Daniel mengulurkan tangannya pada Kirei yang masih mematung menatap kecewa pada Tama yang tersenyum lembut padanya.
"Semua keputusan ada pada dirimu Ki. Mas tidak akan memaksa kamu untuk denganku". Ucap Tama lembut namun berhasil membuat hati Kirei terasa nyeri.
Kirei masih diam mematung, dirinya tidak bisa berbohong jika masih ada sedikit rasa untuk Daniel. Namun menyakiti gadis lain untuk kebahagiaannya tidaklah benar.
Daniel sedikit menyunggingkan senyumnya melihat Kirei masih diam. Ia yakin bahwa Kirei masih memiliki perasaan yang sama dengan dirinya walaupun sudah 6tahun terpisah.
Namun senyuman itu hilang seketika kala melihat Kirei berjalan cepat dan langsung mengalungkan tangannya pada leher Tama. Mata Daniel semakin melebar melihat apa yang selanjutnya dilakukan Kirei. Kirei berjinjit dan langsung mengecup bibir Tama lama membuat Tama membulatkan matanya merasakan kecupan lembut dari bibir yang entah sejak kapan seperti menjadi candu baginya.
Tama melingkarkan tangannya dipinggang ramping Kirei, membelit pinggang Kirei dan tanpa menyianyiakan kesempatan, Tama langsung menyambar bibir Kirei. M*****t lembut bibir mungil Kirei tanpa menghiraukan suara pekikan dari orang-orang disekelilingnya.
Perlahan Tama melepaskan ciumannya, mengusap bibir Kirei dengan ibu jarinya. Menatap wajah yang kini dipenuhi semburat merah yang semakin membuatnya terlihat manis dan menggemaskan.
"Ki..." Lirih Daniel membuat tatapan Kirei dan Tama putus. Mereka menatap Daniel yang juga tengah menatap tak percaya pada apa yang baru saja dilihatnya.
"Lo udah dapet jawabannya Dan. Jadi..jauhi calon istri gue. Ini peringatan terakhir dari gue. Gue nggak akan kasih toleransi apapun lagi kalo sampe elo masih berani ganggu Kirei". Ancam Tama menekankan setiap katanya pada Daniel yang masih mematung.
"Kita pergi sayang". Tama menarik tangan Kirei yang memilih bungkam setelah tindakan berani yang baru saja ia lakukan. Kini gadis itu berperang dengan hati dan pikirannya. Malu..hanya itu yang kini Kirei rasakan. Bagaimana dia akan menjelaskan pada Tama tentang apa yang baru saja ia lakukan.
Daniel masih mematung, menatap nanar punggung Kirei yang semakin menjauh dari pandangannya. Tanpa sadar air matanya menetes, hatinya terasa sakit..bahkan lebih dari sekedar sakit.
"Kenapa Ki..kenapa sakit banget. Apa kamu bener-bener nggak lagi punya rasa buat aku? Apa aku bener-bener nggak bisa milikin kamu lagi?". Gumam Daniel memegang dadanya yang terasa sesak. Air matanya terus menetes tanpa bisa ia cegah. Kehilangan Kirei lagi untuk kedua kalinya membuat dia menjadi lelaki yang sangat rapuh saat ini.
Tidak berbeda dengan Daniel, seorang gadis yang sejak tadi mendengarkan segala yang Daniel ucapkan hanya bisa membekap mulutnya untuk meredam tangisnya agar tidak terdengar oleh Daniel.
Mendengar suara lembut Daniel membuat hatinya perih. Daniel tidak pernah berkata lembut padanya, sangat berbeda saat Daniel berbicara pada Kirei. Terlihat jelas jika Daniel begitu memuja gadis cantik yang menjadi rekan kerjanya itu.
"Apa yang harus aku lakuin Dan..kenapa sesakit ini mencintai kamu". Lirih Arin yang terus meneteskan air matanya. Arin menatap sedih Daniel yang perlahan melangkahkan kakinya meninggalkan tempatnya berdiri. Arin hanya bisa menatap tak berdaya punggung yang biasanya ia lihat tegap itu kini terlihat rapuh. Dan alasan Daniel rapuh bukanlah dirinya, namun gadis lain yang masih begitu Daniel cintai. Arin kembali meremat d***nya kuat, berharap dengan begitu bisa mengurangi rasa sesak didalam d***nya.
#####
Sementara didalam mobil suasana terasa begitu canggung. Kirei dan Tama sama-sama bungkam, tidak ada yang membuka suaranya sejak mereka memasuki mobil.
"Tam...Ki". Keduanya memanggil bersamaan. Membuat suasana semakin terasa canggung.
"Lo dulu aja.." Ucap Tama memecah keheningan yang kembali terjadi.
"Soal..soal yang tadi.."
"Gue paham..anggep aja tadi nggak terjadi apa-apa. Lo lakuin itu cuma buat Daniel jauhin elo kan..Itu yang mau lo omongin kan? Gue paham Ki..lo tenang aja". Potong Tama cepat sebelum Kirei selesai dengan ucapannya.
Kirei menghela nafas panjang. Kenapa Tama menyebalkan sekali. Dirinya hanya ingin minta maaf karena lancang mencium Tama lebih dulu. Tapi lihatlah..Tama sangat menyebalkan dan sok tau.
"Ck.." Kirei berdecak kesal membuat kening Tama berkerut dalam. Apa yang salah? Bukankah memang itu yang Kirei ingin ucapkan.
"Kenapa?". Tanya Tama melirik Kirei.
__ADS_1
"Nggak ada. Laper..mau makan". Jawab Kirei asal.
"Okeee..." Tama memutar arah mobilnya untuk menuju restoran seafood kesukaan Kirei. Beberapa bulan dekat dengan Kirei membuat Tama sedikit banyak mengerti tentang apa yang Kirei sukai dan tidak sukai.
"Kenapa puter balik?". Tanya Kirei heran.
"Lah katanya mau makan. Ke restoran tempat biasa lo makan aja". Jawab Tama masih fokus dengan kemudinya.
Diam-diam Kirei tersenyum, walaupun menyebalkan, terkadang Tama selalu mengerti tentang apa yang sedang ia inginkan.
######
Kirei masih bergelung dengan selimut tebalnya saat bel apartemennya terus berbunyi. Mengganggu mimpi indahnya dipagi yang begitu cerah ini.
Dengan malas Kirei bangkit, menyibak selimut yang menutupi tubuh indahnya. Dengan muka bantalnya, Kirei berjalan gontai membuka pintu kamarnya dan perlahan mendekat ke pintu apartemennya.
Tanpa melihat siapa tamu yang pagi-pagi mengganggu tidurnya, Kirei membuka pintu dengan mata setengah terpejam. Kirei sudah menduga siapa orang yang mengganggu paginya yang indah ini.
"Lo ngapain sih gangguin gue pagi-pagi. Gue ngantuk banget in---". Tubuh Kirei terdorong kebelakang kemudian terdengar bunyi pintu tertutup kencang.
"Heh cewe sableng..lo yang bener aja buka pintu pake baju beginian!!". Suara keras Tama membuat Kirei memaksa membuka matanya.
"Kenapa sih? Ini masih pagi tamia". Tanya Kirei sambil mengucek matanya yang masih terasa berat.
"Lo pengen gue khilaf hah?!". Bentakan Tama membuat Kirei tersadar sepenuhnya. Kirei menatap tubuhnya saat ini. Kirei lupa jika semalam dirinya hanya mengenakan kaos longgar dengan hotpants untuk tidur. Bahkan tanpa mengenakan dalaman.
"Aaaaaaaaa!!!!!". Suara teriakan Kirei memenuhi seluruh ruangan apartemen itu. Tama bahkan sampai menutup telinganya mendengar teriakan Kirei.
Secepat kilat, Kirei berlari kedalam kamarnya dan menguncinya. Kini dirinya benar-benar tak punya muka dihadapan Tama.
"Aaaa...b*go..b*go..b*go!!!". Kirei terus merutuki kecerobohannya. Ia memukul kepalanya beberapa kali mengutuk dirinya sendiri.
Tama membuka pintu, membiarkan Saga dan Gery masuk kedalam apartemen Kirei. Beruntung Tama bergerak cepat hingga kedua teman sablengnya tidak sempat melihat tampilan Kirei yang bisa saja menggoda iman mereka yang minim itu.
"Posesip amat sih lu nyuk. Bagi liat dikit kaga napa-napa kali". Saga membuka suara membuatnya mendapat tatapan tajam dari Tama.
"Ini kunyuk buka pintunya lama juga kayanya barusan nyicil dikit". Gery menimpali ucapan Saga.
"Lo berdua lagian ngapain sih ngintilin gue mulu?!". Sengit Tama membuat kedua temannya terkekeh.
"Kita cuma ngejalanin tugas. Kata emak bapak lo, kita berdua kudu liat kalo kalian berdua emang beneran..." Saga menggantung ucapannya. Namun Tama sudah paham maksud dari kedua sahabat baiknya itu. Tentu saja duo sableng itu adalah kiriman sang ibu yang hingga kini masih belum percaya bahwa dirinya dan Kirei tidak akan melakukan sesuatu hal untuk membuat keduanya batal menikah.
Tama menghela nafasnya sebelum kemudian bangkit dan berjalan pelan menuju kamar Kirei. Tama mengetuk pintu kamar Kirei. Tak berselang lama pintu terbuka, menampilkan Kirei yang sudah memakai pakaian yang lebih layak untuk dilihat orang luar.
"Kalo udah kelar buruan cabut lo berdua!". Perintah Tama pada duo sableng yang tersenyum senang. Ini bukan pertama kalinya Saga dan Gery mengikuti Tama ke apartemen Kirei. Kirei pun sudah biasa mendapat kunjungan dadakan dari dua detektif sableng suruhan calon mertuanya.
Mereka berdua hanya perlu berpura-pura mesra, kemudian Saga dan Gery akan mengambil foto dan video dan diserahkan pada Riana dan Akmal. Dan setelah mereka mendapatkan apa yang mereka butuhkan, keduanya akan pergi dengan sukarela.
__ADS_1
Kirei menghela nafasnya, meski bukan yang pertama. Tetap saja dia kesal karena mendapat serangan fajar yang menyebalkan dan mengganggu tidur nyenyaknya.