Imperferct Partner

Imperferct Partner
kembar??


__ADS_3

"Mas beneran gapapa??". Tanya Kirei memastikan kondisi suaminya stelah tadi melindungi tubuhnya dari pukulan Inneke.


" Gapapa sayang..mas baik-baik saja". Tama mengelus wajah cantik istrinya.


"Kamu istirahat ya..mas masih ada kerjaan. Gapapa kan mas tinggal?". Tanya Tama. Kirei mengangguk dengan senyumnya.


"istirahat yang benar Ki. Jangan mengerjakan hal yang tidak perlu. Mengerti?". Tama menangkup wajah istrinya yang kembali mengangguk dan tersenyum. Senyum yang membuatnya betah menatap wajah ayu itu.


Tama mengecup lembut kening istrinya yang memejamkan mata menikmati kehangatan yang menjalar dari keningnya. Kehangatan yang selalu ia dapat saat berdekatan dengan Tama.


" Mas hati-hati ya". Kirei mencium punggung tangan Tama saat mengantarkannya sampai depan pintu apartemen.


"Iya sayang. Mas bakal pulang cepet kalo kerjaannya selesai". Tama kembali mendaratkan ciuman lembut dikening istrinya serta mencuri sebuah kecupan dibibir tipis istri cantiknya itu.


" Maaas..." Peringat Kirei yang mendapat serangan kecil dari Tama.


"Mas pergi..Assalamualaikum sayang".


" Wa'alaikumsalam mas". Kirei melambaikan tangannya pada Tama sebelum akhirnya menghilang dari pandangannya.


"Oke..sekarang kita siapin kejutan buat daddy kamu ya sayang". Kirei brrbicara sambil mengelus perut ratanya. Seolah bayi didalam kandungannya sudah bisa menjawab ucapannya.


Kirei masuk kedalam apartemennya dan segera membuka kulkas, ia akan memasak makan malam untuk sang suami.


Sore itu Kirei habiskan waktunya untuk memasak dan menyiapkan kejutan untuk Tama. Selepas magrib Kirei sudah tampil cantik dengan dress lengan pendek brrwarna biru muda yang membuat kulitnya semakin nampak bersinar. Ia sudah menyiapkan sebuah hadiah didalam kotak kecil untuk Tama.


Sementara Tama sudah sampai di apartemen dan tengah memarkirkan mobilnya. Beberapa saat lalu istrinya menghubungi dan menanyakan dimana dirinya saat ini.


Tama mengernyitkan dahinya ketika memasuki apartemennya. Gelap dan sepi..Kemana istrinya yang baru saja menelponnya dan bilang tengah menunggunya.


" Assalamualaikum.." Tama mengucap salam.


"Sayang..kamu dimana?". Tama mencari saklar lampu dan menghidupkannya.


Tama mematung melihat meja yang sudah ditata sedemikian rapi. Tama sedikit berjengit kala merasakan pelukan dari belakang tubuhnya. Ia tersenyum kemudian mengelus tangan halus dari orang yang selalu ia rindukan itu.


" Kamu ngagetin mas, Ki". Tama berbalik. Senyumnya semakin lebar melihat tampilan cantik istrinya. Dalam pikirannya, ia sedang bertanya-tanya. Ada apa dengan istrinya malam ini.


"Mas mau langsung makan atau mau mandi dulu?". Tanya Kirei memecahkan lamunan Tama.


" Ehmm..mandi dulu aja deh ya. Biar wangi". Kirei kembali bersuara sebelum Tama menjawab, hingga membuat Tama tersenyum dan mengacak gemas rambut istrinya.


"Aku udah siapin air hangat sama baju gantinya. Sekarang mas Tama mandi dulu". Kirei mendorong tubuh Tama memasuki kamar mandi. Tama hanya menggeleng melihat kelakuan istrinya.


" Aku tunggu dimeja makan ya mas.." Teriak Kirei dari kamarnya. Sebelum Tama menjawab, Kirei sudah berlalu meninggalkan kamarnya.


Berkali-kali Kirei memegang kotak yang berisikan foto hasil usg siang tadi. Kemudian ia akan tersenyum sendiri membayangkan akan seperti apa reaksi suaminya mengetahui kehamilannya.


"Kamu kenapa hm?? Mas liat dari tadi senyum-senyum terus". Tama yang baru saja datang mengelus kepala istrinya dan mengecup pucuk kepala Kirei.


" Gapapa..kita makan ya mas".


Dengan cekatan, Kirei mengisi piring Tama dengan nasi dan lauk pauk yang ia masak sore tadi.


"Mas kan udah nyuruh kamu istirahat. Kok malah masak sih". Ucap Tama.


" Gapapa mas..aku pengen masak aja". Sahut Kirei tersenyum membuat Tama ikut tersenyum.


Keduanya makan dengan diselingi tawa. Tama membantu membereskan meja makan. Setelahnya keduanya duduk bersebelahan diruang tamu.


"Aku punya hadiah buat mas.." Tama menoleh, menatap istrinya yang juga tengah menatapnya dengan senyuman yang tak pernah pudar. Tama bahagia melihat wajah itu selalu tersenyum.


"Oh ya? Apa?". Tanya Tama antusias.


" Mas Tama tutup mata dulu". Pinta Kirei


Tama menuruti permintaan istrinya dan segera menutup matanya. Sejujurnya ia sangat penasaran dengan apa hadiah dari istrinya. Apakah itu ada hubungannya dengan wajah Kirei yang selalu memberikan senyuman.


"Okeee..boleh buka mata". Ucap Kirei bersemangat.

__ADS_1


" Apa ini sayang?". Tama memperhatikan kotak yang Kirei letakkan ditelapak tangannya. Ia menoleh menatap dalam netra indah milik sang istri.


"Mas buka dong".


Perlahan Tama membuka kotak itu. Disana nampak selembar foto yang Tama tidak tahu foto apa itu. Ia mengambilnya perlahan seraya memperhatikannya dengan seksama.


Ia kembali menatap Kirei yang masih tersenyum padanya. Dibawahnya ada sebuah benda pipih kecil dengan dua garis merah yang membuat Tama langsung menatap istrinya. Benda itu tidak asing baginya. Ia sudah beberapa kali melihatnya.


Tulisan yang ada dikertas dibawah testpack membuat tangan Tama gemetar untuk mengambilnya.


'congratulations daddy'


Tama kembali menatap Kirei. Istrinya itu masih setia tersenyum padanya, namun matanya mulai berkaca-kaca.


" Sayang..ini----" Melihat anggukan kepala dari istrinya membuat Tama tak bisa menahan kebahagiaannya. Ia memeluk istrinya erat seolah enggan melepaskannya.


"Terimakasih sayang..terimakasih". Ucap Tama parau menahan tangis.


" Terimakasih--" Suara Tama semakin parau. Air matanya sudah menetes membasahi pundak Kirei. Tak ada kata lain yang terucap selain ucapan terimakasih.


Tama melepaskan pelukannya, menatap dalam mata istrinya. Perlahan ia mengecup kening Kirei lama..sangat lama. Ia ingin menyampaikan rasa bahagianya tentang berita ini.


"Hai jagoan daddy..baik-baik disana ya. Daddy akan jaga kamu dan mommy mu sebaik yang daddy mampu". Tama berjongkok didepan Kirei, mengelus lembut perut Kirei dan mengajaknya berkomunikasi.


" Terimakasih daddy". Kirei menirukan suara anak kecil untuk menjawab ucapan Tama.


Tama mendongak, menatap wajah Kirei yang ternyata juga sudah basah oleh air mata. Ia bangkit dan kembali memeluk Kirei.


"Terimakasih buat semua kebahagiaan ini sayang. Mas ngerasa jadi laki-laki paling sempurna sekarang". Bisik Tama.


" Besok kita ke rumah sakit ya. Kita periksain kandungan kamu. Mas mau tau perkembangan baby kita disini". Tama terus mengelus perut Kirei dengan lembut. Sepertinya Tama memiliki hobi baru untuk terus mengelus perut istrinya.


"Kamu sudah memberitahu ibu? Ayah? Buna?". Tanya Tama beruntun. Kirei menggeleng dengan senyuman dibibirnya.


" Mas orang pertama yang paling berhak tahu. Makanya aku belum kasih tau siapapun". Kirei kembali membenamkan wajahnya ke dada ternyaman.


Tama membawa Kirei kedalam kamar. Memintanya mengganti pakaian dan menggosok giginya sebelum tidur.


Tama menelan ludahnya dengan susah payah melihat pakaian kurang bahan yang dikenakan istrinya saat keluar dari kamar mandi.


Sebuah gaun malam tipis dengan warna hitam yang membuat Kirei terlihat sangat seksi. Kirei tersenyum melihat wajah suaminya. Ia memang sengaja memakai pakaian kurang bahan itu untuk menyempurnakan kebahagiaan suaminya.


" Sayang..jangan macem-macem ya. Mas ngga akan tanggung jawab nanti kalo mas nggak bisa nahan diri". Tama sudah menahan nafasnya kala Kirei menjatuhkan tubuhnya diatas pangkuan Tama. Kirei bahkan mengalungkan kedua tangannya dileher Tama.


"Aku bakal tanggung sendiri resikonya mas". Kirei mengecup bibir Tama. Kemudian menciumnya lembut, semakin lama semakin memperdalam ciumannya hingga membuat Tama memejamkan matanya menikmati semua yang Kirei lakukan.


Malam itu keduanya habiskan dengan acara smackdown yang dipimpin oleh Kirei yang bergerak lincah diatas tubuh Tama yang hanya bisa menggeram nikmat. Hingga akhirnya Kirei ambruk diatas tubuh Tama dengan bercucuran keringat dan nafas tersengal.


" Terimakasih Ki..terimakasih buat semua kebahagiaan ini". Ucap Tama mengelus pipi istrinya yang sudah lebih dulu terlelap. Ia menarik Kirei kedalam pelukannya hingga akhirnya ia ikut terlelap dengan perasaan bahagia memenuhi rongga dadanya.


Keduanya terlelap dengan posisi saling berpelukan, masih dengan tubuh polos yang hanya dibalut selimut tebal saja.


*****


Kirei mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang mengenai kornea matanya. Ia meraba kasur disampingnya, dan kosong. Ia melirik jam diatas nakas. Masih jam 6 pagi, kemana suaminya pergi sepagi ini.


Perlahan Kirei bangkit dan berjalan ke kamar mandi dengan menarik selimutnya untuk menutupi tubuhnya yang masih polos.


Keluar dari kamar mandi, Kirei masih belum melihat suaminya.


"Mas?? Maaaas.." Panggil Kirei sedikit berteriak.


"Mas Tama kemana sih. Pagi-pagi udah ilang". Gerutu Kirei yang tengah sibuk mengeringkan rambutnya.


Selesai mengeringkan rambutnya, Kirei bergegas keluar saat hidungnya mencium bau harum masakan yang membuat cacing diperutnya berdemo meminta jatah makannya.


" Anak mommy juga laper ya.." Kirei mengelus perutnya dengan senyum mengembang. Ia bergegas keluar dari kamar. Namun dirinya mematung melihat siapa yang tengah berdiri didepan kompor.


"Mas?". Panggil Kirei membuat lelaki yang tengah sibuk dengan spatulanya menoleh.

__ADS_1


" Mas baru aja mau bangunin kamu sayang. Sini.." Tama menarik kursi untuk sang istri duduk.


"Mas ngapain didapur pagi-pagi?". Tanya Kirei


" Mas bikinin kamu sarapan sayang. Mudah-mudahan enak". Tama meletakkan dua piring nasi goreng dengan telor ceplok diatasnya. Kirei menelan ludahnya melihat nasi goreng buatan sang suami yang terlihat menggoda.


Kirei tersenyum bahagia melihat bagaimana perhatian dan kasih sayang suaminya yang semakin hari semakin besar untuknya. Ia tak menyangka jika Tama akan memperlakukan dirinya sebegitu spesialnya seperti ini.


"Makasih mas.." Ucap Kirei tulus dan dihadiahi sebuah kecupan mesra dipucuk kepalanya oleh Tama.


"Makan yang banyak ya jagoan daddy". Ucap Tama mengelus perut rata Kirei dan menciumnya.


" Makasih daddy". Sahut Kirei menirukan suara anak kecil.


Selesai dengan sarapan mereka. Kirei dan Tama bergegas menuju rumah sakit untuk memeriksakan kandungan Kirei.


Ia dan Tama sedang duduk didepan poli kandungan, menunggu dengan sabar hingga namanya dipanggil oleh seorang perawat yang tersenyum ramah padanya.


Baru saja memasuki ruangan periksa, sahabat yang merangkap menjadi dokter kandungan nya sudah memekik kegirangan melihat Kirei berjalan mendekatinya.


"Selamat ya calon mommy". Tania yang menjadi dokter kandungan segera memeluk sahabat baiknya.


" Selamat pak Tama". Tania langsung bersikap formal kala berhadapan dengan Tama.


"Terimakasih". Jawab Tama tersenyum.


" Okeee..kita liatin baby nya dulu ya" Ucap Tania semangat membuat Kirei tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Kenapa jadi elo yang semangat banget sih". Kekeh Kirei membuat Tania nyengir.


"Ini keponakan pertama gue tau..gimana gue ngga semangat". Jawab Tania nyengir. Keduanya benar-benar melupakan profesionalitas kerja jika sedang berdua seperti sekarang. Tama hanya menggeleng melihat bagaimana kedua wanita itu begitu bersemangat hingga sepertinya tak ingat jika ada dirinya disana.


" Eh tunggu-tunggu---". Tania terus menggerakkan alat usg nya diatas perut Kirei.


Kirei dan Tama yang sejak tadi tersenyum langsung tegang melihat Tania yang berubah serius menatap layar monitor didepannya yang menunjukkan lingkaran hitam kecil.


"Kenapa Tan? Anak gue baik-baik aja kan? Nggak ada yang salah kan?". Tanya Kirei beruntun. Ia benar-benar takut terjadi sesuatu pada anak dalam kandungannya.


" Aaaaaa----Ya ampun ya ampun Ki. Anak lo kembar!!". Pekik Tania kegirangan.


Kirei dan Tama menghela nafas lega mendengar ucapan Tania. Mereka belum menyadari apa arti kalimat yang meluncur dari mulutnya.


"Oooh---kembar". Tama dan Kirei berucap berbarengan. Namun tiba-tiba keduanya saling pandang dan memekik bersamaan.


" Hah? KEMBAR??!!". Teriak keduanya membuat Tania terkejut.


"Lo berdua mau bikin gue serangan jantung". Sungut Tania mengelus da da nya lantaran terkejut.


" Ni liat..ada dua Ki". Setelah menguasai dirinya, Tania menunjuk dua titik hitam dilayar.


"Alhamdulillah..dua ponakan gue sehat. Perkembangannya juga bagus. Lo kaga ada keluhan lagi kan? Udah kaga mual lagi? Atau ada keluhan lain?". Tanya Tania beruntun. Namun yang ditanyai malah melamun. Pun dengan suami yang mendampinginya.


" Lah..malah pada bengong. Kaga kesambet kan ya ni orang dua". Gumam Tania membuat Kirei menoleh dengan mata melotot.


"Sembarangan! Gue kaget!". Sengit Kirei membuat Tania tergelak.


" Mas---" Kirei memegang tangan Tama yang ada disampingnya. Sang suami langsung memeluknya. Menghadiahi seluruh wajahnya dengan ciuman yang membuat jiwa jomblo Tania meronta. Tak terima melihat pemandangan indah didepannya.


"Makasih sayang..makasih buat semua ini. Mas bahagia banget". Tama kembali menciumi wajah Kirei. Wajah tampan itu tampak bercucuran air mata kebahagiaan.


" Woi lah..kasihani gue yang kaga ada pasangan". Ucap Tania pelan membuat Kirei dan Tama tertawa.


Tania meresepkan vitamin untuk sahabat baiknya itu. Ia meminta Kirei kembali 1bulan lagi. Atau jika dirinya merasakan ketidaknyamanan atau merasa mual, ia bisa datang kapan saja.


"Lagian ini rumah sakit kan punya bapak mertua lo. Mau tiap hari lo periksa juga kaga ngapa-ngapa". Kekeh Tania membuat Kirei mencebik.


" Makasih ya sahabat. Lo emang dokter ter the best". Kirei memeluk Tania dan mencium pipi sahabatnya itu.


Selesai memeriksakan kandungannya. Keduanya berencana akan langsung ke kediaman kedua orang tua Tama untuk memberitahu berita bahagia ini pada calon kakek dan nenek yang pasti akan sangat senang.

__ADS_1


__ADS_2