
"Ini anak gadis kok kaya gini sih tidurnya". Ara mengelus d***nya melihat cara Kirei tidur. Benar-benar mengerikan, bahkan lebih parah dari caranya tidur saat masih muda.
Ara membuka tirai jendela kamar Kirei, membiarkan cahaya masuk kedalam kamar putrinya. Kirei menggeliat, namun gadis itu tidak bangun. Justru ia mengeratkan selimut yang membungkus tubuhnya.
"Astagfirullah..Kirei bangun". Ara mengguncang tubuh Kirei.
"Sebentar bun..masih ngantuk". Gumam Kirei dengan mata tertutup rapat.
"Bangun..langsung mandi". Ara menarik selimut yang menutup tubuh Kirei.
"Bunaaa...dingin". Rengek Kirei. Matanya masih berat untuk terbuka. Gadis cantik itu berusaha meraih selimut dari tangan ibundanya. Namun nihil. Ara menjauhkan selimut itu dari jangkauan Kirei.
"Bunaaaa...." Rengek Kirei namun tak digubris oleh Ara.
"Kirei...bangun sayang. Segera bersihkan dirimu, ayah tunggu dibawah". Suara Dev membuat Kirei membuka matanya dengan sempurna.
"Iya yah..sebentar lagi Ki turun". Jawab Kirei cepat kemudian melompat turun dari ranjang dan masuk kedalam kamar mandi.
Ara mendecih sebal melihat Kirei yang langsung menurut jika suaminya yang memerintahkan gadis itu.
"Yang ngelahirin siapa, nurutnya sama siapa. Nyebelin". Sungut Ara sambil merapikan selimut Kirei.
"Ki juga sayang banget kok sama buna". Teriak Kirei dari dalam kamar mandi. Ia menyembulkan kepalanya dan berkata 'I Love You buna ku'. Ara menggeleng melihat kelakuan putri semata wayangnya itu.
Saat Kirei keluar dari kamar mandi, sang ibu sudah tidak ada. Yang ada hanya seorang wanita asing yang tidak Kirei kenali sama sekali.
"Maaf..anda siapa?". Tanya Kirei hati-hati takut menyinggung wanita itu.
Tidak lama muncul dua wanita lagi, kening Kirei semakin berkerut mendapati banyak orang asing dikamarnya.
"Silahkan duduk mbak..kami akan mulai pekerjaan kami". Seorang wanita yang trrlihat paling senior meminta Kirei untuk duduk.
"Eh?". Kirei menelengkan kepalanya bingung.
"Kenapa kamu masih berdiri Ki, cepat duduk". Ara datang membawa nampan berisi makanan dan jus jeruk untuk sarapan Kirei.
"Buat apa bun? Ini ada apaan sih bun?". Tanya Kirei bingung.
Ara meletakkan nampan berisi sarapan Kirei diatas nakas samping tempat tidur Kirei. Ia mendekati putrinya yang masih mematung didepan pintu kamar mandi dengan menggunakan jubah mandi.
"Kamu duduk dulu. Nanti juga ngerti..nanti keburu kesiangan". Ara menuntun Kirei untuk duduk dimeja rias.
"Tapi ini ada apaan sih bun?". Kirei yang masih penasaran terus mencecar Ara dengan pertanyaan.
"Silahkan dimulai mbak". Tanpa mempedulikan Kirei yang terus bertanya, Ara meminta MUA yang sengaja didatangkan olehnya untuk segera memulai pekerjaannya memoles wajah Kirei.
"Aaa..." Ara meminta Kirei membuka mulutnya, dan gadis itu hanya menuruti tanpa menanyakan hal apapun lagi pada ibunya.
Ara terus menyuapi Kirei hingga makanan yang ada didalam piring habis tak tersisa. Ara memberikan gelas berisi jus pada Kirei dan segera ia minum hingga tersisa setengahnya saja.
"Ini kita mau kemana sih bun??". Akhirnya Kirei tidak bisa menahan rasa penasarannya ketika salah satu MUA memintanya mengganti pakaiannya dengan kebaya cantik berwarna coral yang membuat kulitnya terlihat semakin bersinar.
"Ke acara tunangan". Jawab Ara singkat membuat alis Kirei berkerut.
"Dirga tunangan masih 3hari lagi bun. Emang mau dimajuin ya? Tapi kenapa aku harus dandan gini sih?". Tanya Kirei panjang lebar membuat Ara tersenyum.
__ADS_1
"Kamu cerewet banget sih.." Ara mencubit gemas hidung mancung putrinya.
"Aaaaaa...yaampun anak mami cantik banget sih ini". Pekik Putri, ibunda Arka dengan heboh.
"Istighfar mi.." Ucap Kirei memancing Putri mengomel.
"Eh anak ini ya, dipuji bukannya makasih malah nyuruh emaknya istighfar". Putri bersungut-sungut membuat Kirei tertawa. Terlalu menyenangkan mengganggu ibu dari sepupu somplaknya itu.
"Dasar bocah nakal". Putri menyentil pelan kening Kirei membuat gadis cantik itu mencebikkan bibirnya.
"Mubadzir dong aku didandanin cantik gini tapi tangan ibu-ibu sekalian tidak bisa dikondisikan". Cebik Kirei yang melihat ada bekas tangan Ara dan Putri diwajahnya.
"Eh iya..maafin ya mbak. Silahkan dilanjutkan dulu". Ucap Ara merasa tak enak pada MUA yang mendandani Kirei. Sang MUA hanya bisa tersenyum kemudian kembali memoles wajah Kirei dengan cekatan.
*****
"Emang acaranya Dirga disini yah? Kok aku baru tau sih". Ucap Kirei ketika memasuki lobby hotel mewah dipusat kota.
Tak ada yang menjawab pertanyaan Kirei. Semua yang berada didalam mobil memilih diam seolah tidak mendengar suara apapun.
"Ish..serasa semobil ama patung". Sungut Kirei.
"Ini boleh ganti engga sih yah, panas ini aku tu". Keluh Kirei namun masih juga tak ada yang menggubrisnya.
"Astagfirullah.." Kirei beristighfar sambil mengelus dadanya.
"Kita turun sekarang". Suara tegas Dev membuat Kirei menurut meski mulutnya tak henti menggerutu.
Meski bingung, Kirei tetap melangkah disamping sang ayah yang nampak gagah dengan balutan jas berwarna hitam yang menambah kesan gagah pada cinta pertamanya itu. Hingga mereka sampai disebuah kamar hotel, Kirei mematung melihat orang-orang yang berada didalamnya.
"Ta..tante?". Ucap Kirei tak percaya pada apa yang ia lihat.
"Selamat pagi sayang..kamu cantik sekali". Wanita yang tak lain adalah Riana tersenyum ramah menatap kagum pada sosok Kirei yang terlihat begitu anggun dalam balutan kebaya.
Kirei semakin bingung melihat Riana dan Akmal juga berada disana. Dapat Kirei lihat bahwa kedua orang tuanya sangat-sangat ramah dan menyambut hangat kedua orang tua Tama. Ada apa sebenarnya? Benarkah mereka sudsh sedekat ini? Atau ini memang bukan pertemuan mereka yang pertama?
"Tante sama om juga diundang ke acara pertunangan Dirga?". Tanya Kirei pada Riana yang tengah duduk disampingnya.
Riana hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan Kirei.
"Om sama tante tinggal dulu ya..nanti kita ketemu lagi". Riana mengelus pucuk kepala Kirei sebelum berlalu meninggalkan Kirei seorang diri dengan banyak pertanyaan didalam otaknya.
"Ini sebenernya ada apaan sih. Ini juga kenapa gue ditinggal sendiri. Buna sama ayah mana lagi". Gumam Kirei yang bingung harus berbuat apa.
Tak lama pintu kamar terbuka, menampakkan orang yang tidak sama sekali Kirei bayangkan akan ada disana.
"Tania?!!". Pekik Kirei tak percaya. Sementara Tania hanya nyengir menampakkan deretan gigi putihnya dan segera masuk kedalam kamar tempat Kirei berada.
"Lo kenapa bisa nyasar kesini?? Ama siapa lo? Juna mana?". Tanya Kirei tak sabar.
"Ish..banyak nanya kali kau". Cebik Tania dengan senyum jahil.
"Kaga usah bingung..udah hayu keluar. Gue disuruh emak lo buat bawa elo keluar". Tania menarik Kirei, memaksa gadis itu untuk berdiri dan mengikuti langkah kakinya.
"Ini sebenernya ada apaan sih". Tanya Kirei namun Tania hanya tersenyum.
__ADS_1
Setibanya di ballroom hotel, Kirei menatap takjub pada dekorasi pesta. Terlihat sangat mewah..bahkan sangat mengagumkan.
"Gila..pesta si Dirga mewah gini. Mamah sama papah emang the best". Kirei masih mengagumi dekorasi ballroom hotel yang sudah disulap bak negeri dongeng. Bahkan gadis itu tidak menyadari nama siapa yang terpampang disebuah papan berisi foto seorang gadis cantik dan pria tampan.
Sementara Tania hanya bisa geleng-geleng kepala menahan tawanya yang siap meledak, temannya itu cerdas pada saat tertentu, namun mendadak b***h disaat yang lain.
Langkah kaki Kirei terhenti kala melihat lelaki yang begitu ia kenal berdiri diujung karpet yang tengah ia tapaki saat ini. Ia mengedarkan pandangannya, matanya melebar kala melihat Dirga dan calon istrinya duduk dimeja yang ditata rapi disisi karpet.
"Ini dia yang kita tunggu...silahkan mbak Kirei, ini mas Tama nya sudah nggak sabar nungguin tunangannya. Eh maksudnya masih calon, sebentar lagi baru jadi tunangan beneran". Suara keras MC membuat mata Kirei semakin melebar.
Kirei menatap Tania, meminta penjelasan. Namun yang ditatap hanya tersenyum dan terus menuntun Kirei mendekat pada Tama yang sudah menawan dengan setelan jas yang membalut tubuh tegapnya.
Tepat dihadapan Tama, Tania menyerahkan tangan Kirei untuk digenggam Tama. Dengan gagah Tama menerima tangan Kirei dan menggenggamnya erat.
Kirei dibuat semakin bingung dengan keadaan saat ini. Bukankah ini pesta pertunangan Dirga dan Nabilla kekasihnya. Namun mengapa justru ia dan Tama yang berada diatas panggung kecil menjadi pusat perhatian dari semua orang.
Kedua orang tua Tama dan Kirei berdiri disebelah kedua anak yang terlihat sangat serasi itu. Perlahan Ara mengeluarkan kotak beludru berwarna biru yang berisi dua cincin serupa dengan ukuran berbeda.
"Yaa..sekarang berhubung sudah ada mbak Kireinya, mas Tama silahkan memasangkan cincin dijari manisnya mbak Kirei, nanti gantian. Awas jangan grogi, kan nggak lucu ya kalo kaya di sinetron..baru mau pasangin cincin terus cincinnya ngegelinding". Suara MC membuat suara menjadi riuh dengan sorakan para tamu undangan.
Kirei yang masih dalam mode bingung diam dan hanya mengikuti setiap arahan MC dan kedua orang tuanya. Kirei dapat melihat binar kebahagiaan dimata kedua orang tuanyadan juga orang tua Tama. Meski masih bingung, Kirei tetap memasangkan cincin pada jari manis Tama.
Kini Kirei paham, dirinya benar-benar sudah ditipu oleh semua orang. Semua orang sudah bersekongkol untuk melaksanakan acara ini, dan hanya dirinya seorang yang tidak tahu apapun soal rencana pertunangan ini.
"Selamat ya sayang..kamu sudah bertunangan dengan Tama. Dan kamu Tama, ibu peringatkan jangan pernah berani-berani bikin calon menantu ibu sedih". Ancam Riana pada putra sulungnya.
Tidak lama Ara mendekat dan memeluk Kirei, meminta maaf atas kejadian hari ini yang membuat putrinya bingung.
"Maafin buna sama ayah ya sayang, ini buna dan ayah lakuin untuk kebahagiaan kamu". Ucap Ara memeluk Kirei.
"Buna sama ayah boongin Ki, tapi apapun itu selama bisa bikin buna dan ayah bahagia, Ki akan lakuin". Sahut Kirei balas memeluk ibundanya.
"Meskipun Ki nggak cinta sama Tama". Lanjutnya membatin. Mana berani ia mengungkapkannya langsung. Bisa-bisa bubar semua rencana indah kedua orang tuanya dan Tama jika dirinya berani mengatakannya langsung.
Pesta dilanjutkan dengan sangat meriah. Meski masih terkejut, Kirei berusaha menikmati pesta ini. Banyak ucapan selamat yang ia dapatkan, mulai dari kerabat hingga teman-teman dekatnya.
"Lo tau semua rencana ini?". Tanya Kirei ketika duduk berdampingan dengan Tama.
Tama menggeleng cepat, menyangkal tuduhan Kirei jika dirinya ikut terlibat dalam rencana besar tentang pertunangan mereka yang diadakan secara mendadak ini.
"Gue cuma dikasih tiket ama temen elo, terus dipesenin buna buat jagain elo. Sisanya gue cuma ikutin semua arahan emak gue. Bahkan gue nggak tau kalo hari ini kita tunangan". Sahut Tama cepat membuat Kirei menoleh. Menatap dalam mata tajam milik Tama, mencari kebohongan dari setiap kata yang meluncur dari mulut lelaki tampan itu. Namun hanya sebuah kejujuran yang ada dimata tajam itu.
Kirei menghembuskan nafas berat, ternyata semua ini benar-benar sudah terencana dengan matang. Direncanakan dengan sangat baik oleh kedua orang tuanya dan orang tua Tama serta saudara-saudara dan teman baiknya.
"Akhirnyaaaaa...sepupu perempuan gue atu-atunya laku juga". Mulut menyebalkan Arka menyapa indera pendengaran Kirei.
"Berisik!". Sungut Kirei kesal.
"Ecieeeee..yang baru kelar tunangan galak banget siiiiih". Kini Dirga ikut menimpali.
"Pergi kaga lo berdua!". Kirei melepas sebelah heellsnya dan siap melayangkan pada dua sepupu somplaknya.
"Ebuseeet..galak banget lo". Arka dan Dirga memilih berlalu dengan tawanya dan membiarkan Kirei berdua dengan Tama.
Sementara Tama hanya tersenyum melihat Kirei yang kesal dan marah dengan kelakuan dua sepupu sablengnya itu. Ia menyodorkan sebuah gelas berisi minuman dingin untuk Kirei yang langsung diterima dan langsung ditandaskan oleh Kirei.
__ADS_1
"Lo tetep cantik walaupun lagi ngamuk sekalipun..cuma sayang galaknya nggak ketulungan". Batin Tama sambil menatap wajah Kirei yang masih terlihat kesal.