Imperferct Partner

Imperferct Partner
hampir ternoda


__ADS_3

Sudah satu minggu lamanya, Naya merasa seluruh pekerjaan di divisinya dilemparkan pada dirinya. Badannya sudah terasa remuk, tulangnya seolah kehilangan fungsi. Dina benar-benar berniat membuatnya tak betah dan keluar dengan sukarela.


Sudah seminggu pula Naya selalu menjadi orang terakhir yang keluar dari ruangannya. Ia selalu lembur untuk bisa menyelesaikan pekerjaan agar Dina tak mengomel lagi padanya. Bukan karna takut, Naya hanya malas meladeni sikap menyebalkan Dina. Diandra dan Dimas selalu menemaninya, namun seolah paham..Dina selalu memberi pekerjaan diluar kantor pada kedua temannya itu. Selama seminggu ini, keduanya hanya menemani Naya dua kali, itupun setelah mereka pulang dari tugas luar yang diberikan Dina pada mereka.


"Kamu lembur lagi nak??". Suara lembut itu selalu berhasil membuat Naya kembali bersemangat.


" Iya mom.."


"Kenapa setiap hari lembur?? Apa nggak bisa dikerjain besok?".


" Memang nggak ada karyawan selain kamu??! Kenapa selalu kamu yang lembur?!". Semprot Kirei diujung sana.


" Biar cepet selesai mom.."


"Kamu pasti lelah sayang..jika tidak sanggup nggak apa-apa Nay, pulang aja..disini..dekat mommy sama daddy". Naya hampir menangis mendengar ucapan Kirei. Namun ia menahan laju air matanya dengan tersenyum.


" Nay gapapa mommy..Nay baik-baik aja". Naya memberikan senyum terbaiknya pada sang ibu agar tak terlalu mengkhawatirkan nya.


"Kalo gitu Nay lanjut kerja dulu ya mom..da mommy. Love u..Assalamualaikum.."


Naya memutuskan sambungan telepon setelah Kirei membalas salamnya. Gadis yang baru saja tersenyum itu menelungkupkan wajahnya diatas meja. Pundaknya naik turun menandakan dirinya sedang menangis.


Tak lama ponselnya kembali berdering, ia melihat id si pemanggil dan itu adalah lelaki yang sudah satu minggu ini tak bisa ia lihat. Ia kesal, marah, kenapa dirinya begitu rindu. Rindu dengan segala perhatiannya, rindu dengan suara lembutnya, rindu dengan sikap menyebalkan nya dan sangat merindukan senyum menawan pria itu. Kenapa hanya telepon biasa, kenapa tidak video call agar dirinya bisa melihat wajah tampan itu.


Naya menghela nafas panjang sebelum mengangkat telepon yang berasal dari Al. Ia tak mau lelaki itu tahu bahwa dirinya begitu rapuh dan cengeng.


"Assalamualaikum kak.."


"Wa'alaikumsalam.. lagi apa Kay?". Pertanyaan Al hampir membuat gadis itu kembali menangis.


" Masih di kantor kak.." Jawab Naya lirih.


"Kamu lembur lagi? Kamu nggak capek?". Matanya kembali berair. Tetes demi tetes membasahi pipinya. Namun ia berusaha meredam suaranya agar tak terisak.


" Eng-gak ka-k.." Suara Naya terbata akibat menahan tangisnya.


"Kay..kamu nangis??"


Naya tergugu, ia membekap mulutnya agar tak mengeluarkan suara. Terlalu dekat dengan Al membuatnya selalu tak bisa menutupi kesedihan dan kerapuhannya.


"Kay.. kamu masih disana??".


Naya menjauhkan ponselnya dari telinganya. Ia menghirup sebanyak mungkin udara untuk mengisi paru-parunya yang terasa sesak seolah kehabisan oksigen.


" A-aku baik-baik aja kak. Aku lanjut kerja ya kak..Assalamualaikum ". Tanpa menunggu jawaban Al, Naya mematikan sambungan telepon nya. Ia kembali menelungkupkan wajahnya diantara tangan yang ia lipat diatas meja.


" Huhu..Nay capek mom..huhuhu.." Naya tergugu, menangis seorang diri diruangan yang terasa sangat sepi karena memang hanya menyisakan dirinya seorang.


"Kena-pa mbak Di-na benci Nay, mom.."


"Nay..Nay nggak ngerasa bikin masalah..."


"K-kenapa..huhu. Kenapa semua kerjaan dikasih ke Nay.."


Nay terus menangis sambil mengadukan apa yang dialaminya, meski entah pada siapa karena disana tak ada siapapun selain dirinya.


Beberapa saat setelah puas menangis, Naya duduk tegap kemudian menghapus sisa-sisa air mata yang masih membekas dipipinya.


"Nggak boleh. Kamu nggak boleh cengeng Nay!! Ini nggak ada apa-apa nya. Kamu pasti bisa!!". Naya mengepalkan tangannya. Mengumpulkan kembali semangat yang sempat tercerai berai akibat rasa lelahnya.


Saking asyiknya dengan semua keluh kesahnya, gadis itu tak menyadari jika sejak tadi ada sepasang mata yang terus mengawasinya. Bahkan mata tajam itu tampak berembun melihat gadis yang baru mulai ceria itu kembali menangis.

__ADS_1


Ia ingin mendekat dan memeluk erat gadis itu. Namun ia mengurungkannya karena tak ingin Naya merasa terganggu oleh kehadirannya.


" Kakak yakin kamu kuat Kay..kamu gadis kuat". Al menatap dalam pada gadis yang sudah kembali tenggelam dalam pekerjaan yang sepertinya sangat menguras tenaga dan pikiran gadis manis itu.


Al terus disana, mengawasi dan menjaga Naya dari jarak yang aman hingga tak disadari oleh Naya. Al segera bangkit saat menyadari gelagat mencurigakan dari seorang pegawai yang sepeertinya juga tengah lembur. Meski tak hafal satu persatu karyawannya, namun ia yakin jika lelaki itu bukan berasal dari divisi yang sama dengan Naya.


"Hai..lembur juga?". Naya tersentak kaget mendengar suara lelaki yang asing ditelinga nya. Ia segera berbalik dan mendapati seorang pria berdiri dengan seringai aneh diwajahnya.


" I-iya pak. Tapi sudah selesai.." Naya buru-buru membereskan dokumen-dokumen yang masih berserakan dimejanya. Ia sudah tak mempunyai niatan untuk melanjutkan pekerjaannya yang hanya tinggal sedikit lagi. Kedatangan lelaki yang tak ia kenal membuatnya sedikit takut. Apalagi kondisi kantor sudah sangat sepi.


"Saya permisi pak". Naya menyampirkan tas selempangnya dipundak dan hendak berlalu. Namun lelaki yang Naya perkirakan berusia 40tahunan yang sejak tadi memperhatikan nya itu sudah mencekal tangannya.


Naya berontak, berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman lelaki itu. Namun tak berhasil karena cengkeraman yang begitu kuat.


" Le-lepaskan saya pak. Saya harus pulang". Pinta Naya mengiba.


"Apa tidak sebaiknya kita bersenang-senang dulu?". Tanya lelaki itu dengan seringai mesumnya. Tubuh Naya bergetar hebat, ia merasa sangat takut namun berusaha menyembunyikan ketakutannya.


" Jangan kurangajar ya pak. Disini ada cctv..jadi jangan macam-macam dan segera lepaskan saya!!!". Gertak Naya yang justru membuat lelaki itu terkekeh.


Si lelaki merebut tas Naya dan melemparkannya asal ketika melihat tangan Naya menyelinap masuk kedalam tas. Seperti nya gadis itu hendak menghubungi seseorang.


"Apa yang anda lakukan!!!". Bentak Naya


" Kita akan bersenang-senang gadis manis". Si pria mesum hendak mendekatkan wajahnya setelah berhasil memegang kedua tangan Naya. Namun belum sempat wajahnya mendekat, tubuhnya sudah terhempas dan terpelanting membentur tembok. Suara teriakan penuh amarah menggema memenuhi seluruh ruangan itu.


"JANGAN PERNAH SENTUH DIA BA JINGAN!!!!". Naya yang semula memejamkan mata segera membukanya ketika mendengar suara yang teramat ia rindui.


" K-kak Al??". Lirih Naya yang sudah terduduk sambil memeluk lututnya. Ia menatap tak percaya apa yang ia lihat didepan matanya.


Al tak mendengar suara Naya, ia sudah dibutakan dengan amarah dan menghajar lelaki breng sek yang berniat melecehkan gadisnya dengan membabi buta.


"BA JINGAN!!!! BERANI-BERANINYA KAMU MENYENTUH DIA DENGAN TANGAN KOTORMU!!". Tangan Al tak berhenti menghajar dengan mulut yang terus mengumpat.


Naya berdiri cepat, melangkahkan kakinya secepat mungkin untuk mendekat pada Al yang masih terus memukul dan menendang tubuh pria itu.


"Kak.." Panggilan Naya bagaikan angin berhembus tak didengar oleh Al.


"KAKAK HENTIKAN!!! Kakak bisa membunuhnya?!!!". Teriak Naya histeris karena melihat wajah pria yang berniat melecehkannya sudah penuh darah.


" KAKAKKK!!!!". Naya menghambur memeluk punggung Al dengan erat, dan itu cukup efisien untuk menghentikan kegilaannya. Nafas Al masih terengah, terdengar jelas masih penuh amarah.


"Cukup kak..jangan.." Lirih Naya semakin mengeratkan belitan tangannya diperut Al.


Asisten Al yang baru saja datang syok melihat seorang lelaki bersimbah darah dengan keadaan memprihatinkan terkapar dilantai. Sedangkan atasan yang sekaligus sahabatnya sedang dipeluk oleh seorang gadis yang belum ia lihat wajahnya.


Al berbalik, merengkuh tubuh Naya dan menciumi pucuk kepala gadis itu bertubi-tubi. Al tidak dapat membayangkan, akan seperti apa jika dirinya tidak berdiam diri dikantor dan mengawasi Naya. Membayangkannya saja sudah mampu memporak porandakan hati Al. Ia semakin mengeratkan pelukannya pada Naya yang membalas pelukannya dan menyembunyikan wajahnya didada bidang Al.


Kejadian yang baru saja menimpanya benar-benar membuatnya ketakutan. Apa jadinya dirinya jika Al nya tak datang tepat waktu. Mungkin ia akan habis ditangan lelaki breng sek itu.


"A-ada apa ini Han??". Tanya Rian, asisten Al.


" Dia?? Dia kepala divisi pemasaran? Kenapa ada disini?". Tanya Rian karna tak mendapat jawaban dari pertanyaan pertamanya.


"Bawa dia kerumah sakit. Setelah sadar, jebloskan ke penjara!! Jangan biarkan ia bisa keluar bahkan dengan jaminan apapun!". Rian melongo mendengar perintah Al yang belum sepenuhnya ia pahami.


" Bawa rekaman cctv ruangan ini untuk bukti". Belum sempat Rian mencerna perintah Al, Lelaki itu sudah kembali memerintahkan dirinya dengan tugas lain.


"Tapi---"


"Lakukan sekarang, Yan!!". Nada suara Al terdengar tak ingin dibantah. Rian hanya bisa menghela nafas panjang dan melaksanakan perintah atasan yang sekaligus sahabatnya itu.

__ADS_1


Rian dibantu petugas keamanan kantor membawa lelaki yang berniat melecehkan Naya keluar dari ruangan itu, menyisakan dua orang yang masih berpelukan seolah enggan melepaskannya.


" A-ku takut kak.." Jebol sudah pertahanan Naya. Gadis itu akhirnya tak bisa lagi menahan air matanya ketika Al terus mendekapnya erat.


"Ada aku disini Kay..kamu akan baik-baik aja". Al mengelus rambut Naya yang sudah memanjang. Naya hanya menganggukkan kepalanya didalam pelukan Al. Naya percaya dengan semua ucapan Al, karena selama ini lelaki itu tak pernah mengingkari janjinya untuk menjaga dirinya.


" Kita pulang ya.." Naya kembali mengangguk didalam pelukan Al. Naya enggan melepas pelukannya, ia takut Al akan pergi saat dirinya melepaskan pelukannya.


Tiba-tiba Naya merasa tubuhnya melayang. Reflek Naya mengalungkan tangannya dileher Al, ia menatap dalam mata tajam yang masih menyisakan amarah itu. Mata keduanya saling bertaut, menyalurkan perasaan hangat dihati keduanya.


Naya menyusupkan kepalanya didada Al yang terasa sangat nyaman. Ia merasa aman berada didekat pria ini. Sementara Al mengecup puncak kepala Naya dan mengeratkan pelukannya pada Naya.


Dengan langkah lebar, Al membawa Naya keluar dari gedung kantornya itu. Sopir yang melihat Al keluar dari kantor segera mendekat dan membungkuk hormat. Dia adalah lelaki yang sama yang menjemput Naya ketika pertama kali menginjakkan kakinya dikota ini.


"Tolong siapkan mobilnya pak.."


"Baik den..mohon tunggu sebentar". Pak Man kembali berlari ke mobil yang terparkir tak jauh dari tempat Al berdiri menggendong Naya.


Al segera membawa tubuh Naya masuk kedalam mobil tanpa menurunkannya. Al semakin mengeratkan pelukannya ketika merasakan Naya juga semakin erat memeluk lehernya dan dan semakin dalam menyusupkan kepalanya diceruk lehernya.


" Maaf sayang..maafin kakak yang membiarkan hal buruk terjadi sama kamu". Al berkali-kali mengecupi pucuk kepala Naya. Lagi-lagi Naya hanya mengangguk, tubuhnya sudah sangat lelah. Pekerjaannya saja belum seratus persen selesai, dan ia hampir mengalaminpelecehan seksual oleh pria yang tak ia kenal.


"Kakak janji akan selalu didekat kamu sekarang. Kakak nggak akan biarin orang lain sakiti kamu seujung rambutpun". Al mendekap tubuh Naya yang ada dipangkuannya.


" Ma-maaf den. Kemana?". Setelah diam cukup lama, pak Man memberanikan diri bertanya pada atasannya.


"Apartemen saya saja pak.." Setelah beberapa saat diam, Al memutuskan untuk membawa Naya ke apartemennya saja. Ia tak mungkin memulangkan Naya ke apartemannya dengan kondisi seperti ini.


Dengan sangat perlahan, Al merebahkan tubuh Naya yang sudah terlelap keatas kasur king size nya. Ia menyibak anak rambut yang menutupi wajah cantik yang terlihat masih ketakutan itu.


Al mengelus pipi Naya dengan lembut, mencium kening gadis itu begitu lama untuk menyalurkan perasaan yang entah seperti apa sekarang. Marah, rindu, khawatir sekaligus perasaan lega bercampur jadi satu.


"Maafin kakak, Kay..maaf". Al mengucapkan maaf berulang kali. Ia masih terbayang bagaimana lelaki ba jingan itu menyentuh Naya nya.


Berkali-kali Al mengucap syukur karna bisa menyelamatkan Naya dari ba Jingan yang berniat melecehkan nya. Ia benar-benar tak akan pernah bisa memaafkan dirinya jika terjadi sesuatu yang buruk pada Naya nya.


"Istirahat ya sayang.. kakak akan jaga kamu". Al kembali mendaratkan kecupan hangat didahi Naya. Ia berdiri dan berbalik hendak meninggalkan kamarnya. Namun cekalan tangan Naya membuatnya mengurungkan niat.


" Ja-jangan tinggalin aku kak..ak-aku takut". Mata yang sejak tadi terpejam itu perlahan terbuka. Mata sayu penuh permohonan itu begitu menyayat hati Al. Sebegitu membekas kah kejadian yang baru saja gadis itu alami?? Akankah kejadian itu menjadi trauma yang mendalam bagi gadis itu.


"Sssttt...kakak disini sayang. Kakak nggak akan kemana-mana". Al menggenggam tangan Naya, menciuminya bertubi-tubi. Ia kemudian mengelus rambut Naya yang perlahan memejamkan kembali matanya. Kejadian hari ini sudah sangat menguras energinya.


Al kembali memastikan gadis itu sudah terlelap sebelum ia bangkit dan merogoh ponsel yang ada disaku celananya. Ia berniat menghubungi asistennya untuk menanyakan perkembangan kasus si breng sek tadi.


" Ya bos??".


"Bagaimana?". Tanya Al tanpa basa-basi.


" Ckk..Kau tidak mempercayaiku?? Bahkan jika ada pengacara terhebat sekalipun, tua bangka itu tidak akan bisa menghirup udara segar".


"Bagus. Aku tutup". Al langsung mematikan ponselnya tanpa menunggu jawaban asistennya. Ia yakin saat ini asistennya itu tengah mengumpati dan meneriaki dirinya diam-diam.


Al beralih menatap Naya yang sudah terlelap. Al kembali menatap ponselnya kala dering ponsel kembali terdengar. Namun rupanya itu bukan berasal dari ponselnya.


Al mengambil ponsel Naya yang ada ditas gadis itu. Ada banyak pesan dan panggilan dari seorang yang bernama Diandra dan Dimas.


Belum sempat Al membuka pesan dari Diandra, ponsel Naya kembali berdering dengan nama Diandra memenuhi layar ponsel Naya. Al menggeser icon telepon berwarna hijau dan menempelkan ponsel itu ditelinganya. Mulutnya baru terbuka untuk menyapa sang penelpon. Namun suara khawatir diseberang sana membuat Al mengurungkan niatnya.


" *Nay.. kamu dimana?!! Kenapa belum pulang??"


"Aku dan Dimas sampai menyusulmu ke kantor. Tapi tidak ada.."

__ADS_1


"Dan kenapa ruangan kerja kita berantakan begini Nay. Kamu baik-baik aja kan Nay???".


" Nay jawab aku. Jangan membuat aku khawatir*.. "


__ADS_2