
Untunglah kejadian duel antara Naya dan Monika tidak diketahui oleh guru lain selain pak Joko yang saat itu tengah mengajar dikelas Naya. Dengan bujuk rayu Ken dan Kai serta dibantu Al dan Rendra, akhirnya kedua gadis itu terhindar dari hukuman.
Naya terpaksa menginap dirumah nenek tersayangnya untuk menghindari amukan bapak presiden dan ibu presidennya. Ia akan pulang jika wajahnya sudah kembali pulih. Beruntung kakek neneknya tengah berkunjung ketempat oma dan Opa nya ke ibukota. Hingga ia aman disana karena hanya ada onty Nisa kesayangannya.
"Lagian kamu ini gimana sih. Kok bisa kena cakar! Harusnya kamu cakar-cakar sampe habis itu bocah". Annisa tampak bersungut-sungut sambil mengobati luka keponakannya.
" Iya lo Nay. Gimana sih..tendang aja padahal mah". Timpal Mayra ikut menjadi kompor.
Ikbal yang melihat kakak dan ibunya memanasi kakak sepupunya hanya bisa menggeleng sambil mendengus.
"Mama sama kakak tuh gimana. Kak Nay malah dikomporin. Kalo kakek sama nenek tau auto dihukum kalian bertiga". Ucap Ikbal membuat ketiganya menoleh.
" Jangan kasih tau kakek apa nenek ya Bal. Gue gorok lo". Ancam Naya namun Ikbal cuek dan berjalan masuk kedalam kamarnya.
"Kak Monika kenapa sih sensi banget ama elo Nay?". Tanya Mayra bingung.
" Gara-gara gue deket ama abang". Jawab Naya cepat membuat Annisa melongo.
"HAH??!!!". Teriak ibu dan anak bersamaan.
" Hah heh hoh..onty ama Mayra hah heh hoh mulu". Sungut Naya.
"Kan mereka abang kamu Nay. Terus apa masalahnya???". Tanya Nisa bingung.
Naya menghela nafasnya panjang sebelum menjawab pertanyaan tante nya.
" Nggak ada yang tau kalo aku adeknya bang Kai ama bang Ken, onty". Ucap Naya pelan
"Hah???".
" Onty mah hah heh hah heh mulu". Cebik Naya mulai kesal.
"Ya maksud onty tu kenapa nggak dikasih tau aja, KANAYA???". Tanya Nisa gemas.
" Naya nggak mau kaya pas SD lagi onty". Wajah yang kesal itu berubah sendu.
"Apalagi kaya dua tahun lalu". Imbuhnya makin sendu.
" Aku tidur dulu ya onty. Makasih udah diobatin". Tanpa menunggu jawaban tante nya, Naya langsung bergegas ke kamar milik Mayra.
Mayra dan Nisa hanya bisa menghela nafas panjang melihat punggung Naya menjauh.
####
Sudah dua hari Naya berada dirumah Nisa, wajahnya pun sudah mulai pulih. Hanya menyisakan sedikit luka bekas cakaran.
Jangan kalian pikir kalau Naya dan Monika sudah baik-baik saja. Setiap tidak sengaja bertemu, mata keduanya berperang. Seolah mengeluarkan api yang saling membakar satu sama lain.
Beruntung ada Aisha dan Mayra juga Ibra yang selalu berusaha menjauhkan Naya dari Monika. Mereka akan langsung menjauhkan Naya ketika melihat Monika disekitarnya.
Siang itu tidak seperti biasa, Aisha tidak membawa bekal. Jadi ia memutuskan untuk ikut ajakan Naya makan bersama Mayra dan Ibra dikantin saja.
Sampai dikantin Naya mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kantin untuk mencari meja yang kosong.
"Disana. Lo kesana ya..gue yang pesenin". Memahami Aisha yang belum pernah makan dikantin membuat Naya berinisiatif untuk membelikan makanan untuk temannya itu.
Sedangkan Ibra dan Mayra sudah lebih dulu mengantre makanan yang mereka inginkan.
" Aku ikut kamu aja ya..aku malu sendiri". Ucap Aisha membuat Naya menghela nafasnya.
"Ntar tempat duduknya dipake orang. Gapapa, lo duduk aja dulu". Ucap Naya meyakinkan hingga akhirnya Aisha menurut.
" KANAYAAA!!".
Belum sempat Naya beranjak, seseorang meneriakkan namanya hingga membuatnya menoleh. Melihat siapa yang memanggilnya membuatnya tersenyum sumringah dan balas berteriak memanggilnya.
"BANG SAAAAAAT". Teriakan Naya membuat seisi kantin menatapnya bingung. Siapa yang tengah ia maki? Mungkin itu yang sedang dipikirkan penghuni kantin.
" Haishhh..matiin pasaran gue aja tu bocah!". Gerutu lelaki yang dipanggil Naya dengan sebutan bang Sat itu.
__ADS_1
Lelaki itu berjalan cepat mendekati Naya kemudian tanpa aba-aba langsung memiting kepala gadis itu kencang hingga membuat Naya mengaduh. Tangannya tak henti-henti mengacak rambut Naya.
"Aduh bang..sakit bang. Bang Sat ih rambut gue berantakan!!". Teriak Naya heboh membuat lelaki itu semakin mengencangkan pitingannya.
" Panggilan lo diganti kenapa sih Nay?! Gue ganteng gini lo panggilnya bang Sat". Ucap lelaki itu membuat Ken dan Kai tersenyum geli.
"Lah nama abang siapa???".
" Satria Nay..SA-TRI-A". Lelaki itu sampai mengeja namanya.
"Yaudah berarti bang Sat kan?? Kan Sat-ria". Ucap Naya membuatnya mendapat sentilan dikeningnya.
" Aauuww.."
"Ganti kaga namanya? Hah?". Tanya Satria gemas namun Naya menggeleng.
Sementara semua yang melihat terlihat bingung. Bahkan lelaki yang baru tadi pagi membuat heboh para kaum hawa itu sudah terlihat akrab dengan Naya? Apa hubungan keduanya??
" Eh..si bocah udah kenal aja ama Satria". Ucap Rendra yang berdiri dibelakang Ken.
"Dari mana kenalannya tu bocah?". Imbuhnya yang masih terlihat kebingungan. Sementara Al dan Akbar yang sebenarnya juga penasaran hanya bisa mendengar dan melihat apapun yang tengah terjadi kini.
" Lepas Bang SAT!!!!". Teriak Naya makin kencang hingga membuat Ken tak tega melihat adik kesayangannya diganggu oleh sahabat masa kecilnya dan membantu Naya melepaskan diri.
"Udah..kaga malu lo berdua diliatin seisi kantin". Ken menarik tangan Satria dari leher Naya dan membantu Naya merapikan rambutnya.
" Tau nih temen abang. Minta disentil ginjalnya". Ledek Naya yang sudah bersembunyi dibelakang Ken sambil menjulurkan lidahnya.
"Eh berani-beraninya lo ya". Kai segera memiting leher Satria ketika melihat lelaki itu hendak membalas kelakuan adiknya.
" Lepas Kai..anj*r lo berdua mah keroyokan". Mendengar suara Satria membuat Naya semakin getol meledeknya.
"Dek.." Peringat Ken ketika melihat Naya terus menjulurkan lidahnya pada Satria.
"Heh ketek..ntar gue maen kerumah ya". Ucap Satria pada Naya.
"Bawain cemilan plus minumnya. Ama jangan lupa martabak kesukaan calon mertua gue. Lo mau ngomong gitu kan?". Satria yang sudah hafal dengan segala perilaku Naya langsung memotong ucapan Naya.
" Pinter banget abang gue yang ini. Kaga jadi gue sentil dah ginjalnya".
"Tapi sekarang bang Sat beliin makan". Imbuh Naya sambil memainkan alisnya naik turun.
" Dengan senang hati calon makmum ku. Duduk dulu gih. Abang ganteng pesenin". Satria menyuruh Naya untuk duduk.
"Jangan lupa buat temen aku bang". Teriak Naya dijawab acungan jempol dari Satria.
" Bentar ya Sha..ada gangguan tadi. Jadi makanannya telat dikit". Ucap Naya yang sudah duduk disamping Aisha.
"Kita makan dikelas aja yuk, Nay. Perasaan semua pada perhatiin meja kita deh". Aisha melirik sekelilingnya, dan benar saja, seluruh pasang mata menatap mereka dengan tatapan sulit diartikan.
" Emang susah kalo orang cantik. Dimana-mana jadi pusat perhatian". Ucap Naya penuh percaya diri. Ia bukan gadis bodoh, interaksinya dengan Satria dan kedua kakaknya lah pemicu semua mata itu menatap dirinya saat ini. Namun Naya tetaplah Naya, ia tak ingin ambil pusing dengan apa yang orang lain pikirkan tentangnya.
"Mau yang lain?". Tanya Ken ketika meletakkan nampan berisi dua mangkok bakso didepan Naya.
" Minum?". Tanya Naya
"Disini". Kini Kai yang membawakan dua gelas jus jeruk untuk adik manisnya dan teman barunya.
Tak lama Ibra dan Mayra datang membawa berbagai macam makanan membuat Aisha melongo tak percaya.
" Nggak usah kaget gitu Sha. Ni orang dua ususnya bukan duabelas jari, tapi seratus duapuluh jari". Celetuk Naya membuat Aisha tersenyum.
"Tu mulut emang bener-bener ye.." Ucap Ibra sambil memperagakan meremas sebuah benda didepan wajah Naya. Begitu gemasnya dengan mulut sahabatnya.
"Tu jantung belom pernah gue gigit sih ya". Ucap Mayra
" Lah..lewat dong gue kalo jantungnya lo gigit. Dasar koplak". Sahut Naya kemudian memasukkan potongan baso yang lumayan besar kedalam mulutnya.
"Berhenti ngomong pas lagi makan Nay". Peringat Ken.
__ADS_1
Belum sempat Ken menutup mulutnya, Ia sudah mendengar Naya tersedak dan batuk. Dengan sigap ia memberikan air putih pada adiknya, sementara Kai menepuk halus punggung adiknya.
Akbar dan Al yang sudah memegang air mineral mengurungkan niatnya membantu Naya karena kesigapan kedua sahabat mereka ini. Rendra yang melihatnya hanya mesem dan menepuk pundak kedua temannya sambil berbisik.
" Saingan lo berdua banyak nyuk". Hasilnya kepalanya mendapat dua geplakan sekaligus.
Semua itu tak luput dari berpuluh pasang mata yang saat ini menghuni kantin. Pikiran mereka penuh dengan teka-teki tentang apa sebenarnya hubungan Naya dengan si kembar most wanted SMA Garuda itu. Mengapa kedua pria tampan itu begitu peduli dan sepertinya sangat dekat dengan Naya.
" Makanya bibir tu diem. Ngomong mulu sih lo. Gue cium juga lo lama-lama". Satria yang baru datang membawakan es krim coklat kesukaan Naya.
"Diomelin wae sih perasaan". Gerutu Naya. Namun tak urung tangannya menerima es krim yang disodorkan Satria untuknya.
" Ati-ati makannya. Abang nggak akan minta". Satria menepuk pelan pucuk kepala Naya.
Percayalah, Akbar yang sedari tadi melihat tiga pria itu memperlakukan Naya dengan sangat istimewa sangat ingin berteriak dan mengatakan untuk menyingkirkan tangan mereka dari Naya. Namun bibirnya terkatup rapat, hanya batinnya saja yang terus mengumpat.
"Abang bertiga awas deh ah!! Ini temen gue jadi takut". Naya menggeser tubuhnya mendekat pada Aisha yang tampak menundukkan kepalanya.
Ken menoleh, sekilas ia melihat wajah teduh gadis berhijab yang ia tahu sebagai teman baru adiknya itu.
" Makan Sha..jangan diliatin doang. Anggep aja mereka bertiga makhluk tak kasat mata penghuni kantin". Naya mendekatkan mangkok baso kepada Aisha.
"Mulut si Naya emang dol banget dari dulu. Rem ama saringannya ketinggalan pas pembagiannya".Ucap Satria smabil menggeleng.
"Makasih Nay". Suara lembut itu mampu membuat hati Ken berdesir. Bahkan menatap sekilas wajah teduh itu saja mampu membuat sudut bibirnya terangkat.
" Jangan macem-macem lo bang. Gue colok". Ancam Naya mengacungkan garpunya karena melihat Ken terus menatap Naya.
Jika maksud Naya adalah melindungi sahabatnya dari pesona sang kakak dan tak ingin teman barunya terluka hatinya, lain lagi dengan apa yang dipikirkan Al dan Akbar. Keduanya pikir mungkin Naya cemburu karena Ken memperhatikan gadis lain.
Sementara Mayra dan Ibra terlihat anteng memakan semua makanan yang mereka pesan. Melihat perdebatan Naya dan kedua kakaknya ditambah Satria bukan lah hal yang baru untuk keduanya. Mereka tak akan terpengaruh.
"Siomay nya kakak enak deh kayanya. Nay mau dong". Naya yang melihat Akbar memakan siomay tiba-tiba ingin mencicipinya.
" Kamu mau? Mau kakak pesenin?". Tanya Akbar lembut.
"Mau nyobain yang kakak aja boleh?". Tanya Naya begitu manis hingga membuat Satria mual.
" Kaga usah sok manis. Gue karungin juga lo". Satria menoyor pelan kepala adik sahabat lamanya itu.
"Ish..diem deh bang". Galak Naya sambil melotot.
" Yakin mau nyicip yang ini?". Tanya Akbar ragu. Namun Naya justru mengangguk yakin hingga akhirnya Akbar mengangguk mengiyakan.
Tangan Naya yang memegang garpu hendak menusuk potongan siomay itu langsung dicekal Ken dan Kai secara bersamaan hingga membuat Akbar menatap keduanya.
"Apalagi abaaaang?". Tanya Naya.
" Bumbunya ada kacang tanahnya Nayaaaaa". Seru keduanya bersamaan hingga membuat Naya langsung menjatuhkan garpunya dan menjauhkan tangannya dari piring Akbar.
"Bosen idup lo?". Tanya Satria yang langsung mendapat pelototan tajam dari Naya.
" Emang kenapa kalo ada kacang tanahnya?". Tanya Akbar bingung.
"Dia alergi kacang". Lagi, ketiganya menjawab dengan kompak hingga membuat Akbar dan Al semakin terkejut. Sebenarnya ada hubungan apa mereka dengan Naya hingga mengetahui segala hal tentang Naya. Bahkan makanan pantangan yang tak boleh Naya sentuh sekalipun.
" Tapi pengen bang". Lirih Naya menatap penuh harapan pada potongan siomay diatas piring Akbar.
"Abang beliin..tanpa bumbu kacangnya ya". Tawar Satria membuat Naya menggeleng.
" Nggak enak". Naya mengerucutkan bibirnya dengan wajah sedih hingga membuat ketiga abangnya menatapnya kasian.
"Yang lain mau?". Satria kembali menawari dengan penuh perhatian. Meski setiap bertemu selalu ribut, namun ia menyayangi Naya sama seperti Ken dan Kai menyayangi gadis itu. Ia menganggapnya seperti adik kandungnya sendiri.
" Mau cilor, mau cilok, mau es cendol juga deh kalo dipaksa gitu mah". Ucap Naya beruntun membuat ketiganya gemas.
"Heeeeuuu!! Kaga bisa ditawarin ni bocah". Kai dan Satria mengacak gemas rambut Naya hingga membuat gadis itu tertawa hingga menampakkan deretan giginya yang rapi. Menambah kecantikannya berkali-kali lipat hingga membuat dua pria yang duduk dihadapan Naya terpaku untuk sesaat.
" Cantik". Gumam Akbar dan Al bersamaan.
__ADS_1