Imperferct Partner

Imperferct Partner
terlalu buta


__ADS_3

"Dan..kita perlu bicara". Arin mengejar Daniel yang sudah lebih dulu menuruni tangga.


"Tidak ada yang perlu dibicarakan". Jawab Daniel tanpa menoleh ataupun menghentikan langkahnya.


"Kita nggak bisa gini terus Dan!". Arin berhasil mencekal tangan lelaki yang sudah 1bulan menjadi suaminya itu.


"Apa lagi yang kamu inginkan?". Tanya Daniel tanpa perasaan.


"Kenapa kamu gini Dan. Aku istri kamu!". Pekik Arin kehilangan kesabaran.


"Nggak cukup kah selama 6tahun lebih kamu acuhin aku?? Apa salah aku Dan??". Suara Arin melemah dengan derai air mata.


"Kamu tahu persis apa kesalahan kamu, Arin". Jawab Daniel dingin.


"Kesalahan apa Dan? Kesalahan karena aku menerima perjodohan kita? Aku cinta sama kamu Dan". Arin kian berderai air mata menatap Daniel yang juga tengah menatapnya dengan tatapan dingin.


"Tapi saya masih sangat mencintai Kirei". Ucap Daniel tanpa perasaan.


"Karena kamu menerima perjodohan konyol ini, saya harus merelakan dia menikah dengan lelaki lain da--".


"Cukup Dan!!". Potong Arin cepat.


"Kirei..Kirei..Kirei.!! Kenapa selalu Kirei Dan? Kenapa?!!". Teriak Arin


"Ada atau nggak ada aku, kamu dan Kirei memang tidak berjodoh, Dan. Mengertilah Kirei sudah bahagia bersama suaminya. Kenapa kamu tidak pernah mau mencoba membuka hati kamu untuk aku???". Tanya Arin frustasi. 6tahun lebih dirinya menunggu cinta dari Daniel dan tak kunjung ia dapatkan.


"Karena sampai kapanpun cinta saya hanya untuk satu wanita. Dan itu bukan kamu". Daniel menghempaskan tangan Arin dan meninggalkan tubuh Arin merosot hingga terduduk ditengah tangga. Arin menangis, meratapi nasibnya yang sungguh tak seberuntung Kirei yang dicintai oleh dua lelaki.


"Kenapa kamu menyalahkan aku atas perjodohan ini Daniel?!!". Arin kembali beteriak membuat langkah Daniel terhenti.


"Kenapa kamu tidak menolaknya dulu!! Kenapa sekarang kamu menimpakan segala kesalahan ke aku?! Kalau dulu kamu tolak perjodohan gila ini, mungkin aku juga tidak akan se menderita ini mencintai kamu!!". Daniel membeku, sedikit banyaknya ia menyadari bahwa ketidak mampuannya menolak perjodohan dengan Arin adalah awal penderitaannya dan juga Arin.


"Kenapa Dan??? Kenapa? Kenapa nggak kamu tolak dulu, kenapa kamu siksa aku dengan sikap kamu yang seperti ini?". Arin menutup wajah dengan kedua tangannya.


Tak pernah terbayangkan olehnya, mencintai suaminya sendiri akan membuatnya merasakan sakit yang teramat seperti saat ini ia rasakan. Daniel memilih bungkam dan pergi meninggalkan Arin seorang diri menangis. Benar-benar laki-laki breng s*k.


####


"Hari ini kamu mau ikut mas lagi enggak?". Tanya Tama sambil memasukkan makanannya kedalam mulut.


"Enggak ah mas..dirumah sakit lagi banyak pasien". Sahut Kirei cepat membuat Tama mengangguk.


"Awas jangan deket-deket ama ulet bulu". Peringat Kirei membuat Tama menghentikan aktivitas mengunyahnya.


"Ulet bulu?". Kedua alis Tama menukik, menandakan dirinya tidak mengerti apa yang dimaksud sang istri.


"Inneke mas...Inneke". Ucap Kirei menjelaskan maksudnya yang langsung ditanggapi kekehan kecil oleh Tama.


"Emangnya mas pernah deketin dia?". Tanya Tama terkekeh.


"Mas engga..dia yang iya". Kesal Kirei membuat Tama tergelak.


"Ayolah Ki..mas nggak cuma sama Inneke. Ada Saga sama Gery". Tama mengelus pucuk kepala istri terkasihnya untuk meredam amarah Kirei yang tiba-tiba naik setiap kali membahas tentang mantan kekasihnya itu.


"Huft.." Kirei menghembuskan nafasnya dengan kasar. Entah kenapa, mendengar nama Inneke membuat Kirei sulit mengatur amarahnya.


"Atau mas batalin aja kontrak kerjasama itu?". Tanya Tama membuat Kirei menoleh dan langsung menggeleng kuat.


"Nggak perlu mas..maafin aku. Aku terlalu kekanakan". Kirei balas menggenggam tangan hangat sang suami. Ia tidak.ingin karena keegoisannya, nama baik yang selama ini sang suami jaga hancur begitu saja.


"Nanti malem kita nginep dirumah ayah sama ibu ya. Juan pulang.." Ucap Tama membuat senyuman diwajah Kirei terbit. Memang Juan, adik Tama satu-satunya tidak bisa pulang ketika acara pertunangan dan pernikahannya karena masih menempuh pendidikan dokternya. Kini lelaki berusia 1tahun lebih muda dari Kirei itu sudah menyelesaikan pendidikannya dan sudah bisa memegang kendali rumah sakit milik orang tuanya.


Kirei mengangguk penuh antusias dan itu berhasil membuat Tama ikut tersenyum melihat Kirei.

__ADS_1


Keduanya melanjutkan makannya diselingi canda dan tawa yang semakin menghangatkan suasana dan semakin membuat keduanya dekat.


"Mau mas anter aja?". Tama menawarkan diri mengantar Kirei ke rumah sakit.


"Nggak perlu mas..nanti kita ketemu dirumah ibu aja. Mas hati-hati dijalan". Jawab Kirei dengan senyum tak pernah pudar dari wajahnya.


"Hm..kamu juga hati-hati. Kabarin mas kalo ada apa-apa". Tama mencium lembut kening istrinya dan mencuri sebuah kecupan dibibir mungil istrinya itu.


"Ish..maaaas---" Rengek Kirei memukul pelan d*** suaminya.


"Kenapa? Sama istri sendiri ini". Sahut Tama tanpa beban membuat Kirei menggeleng gemas melihat kelakuan m*sum suaminya yang tak tahu tempat.


Tama membukakan pintu mobil istrinya dan membantu memasangkan sabuk pengaman milik Kirei. Sementara Kirei hanya tersenyum melihat setiap perhatian Tama yang semakin hari semakin besar saja padanya.


"Makasih mas Tama ganteng". Kirei memberi hadiah sebuah kecupan lembut di pipi Tama sebagai ungkapan terimakasihnya karena perhatian dan cinta yang Tama curahkan padanya.


"Nanti malem aja makasihnya". Tama menoel lembut hidung mancung Kirei dan mengedipkan sebelah matanya membuat Kirei terkekeh.


"Dasar genit". Kekeh Kirei disambut gelak tawa Tama.


"Hati-hati". Tama menutup pintu mobil sang istri dan mundur satu langkah untuk memberi ruang pada mobil Kirei melaju.


"Love u mas". Ucap Kirei dan melajukan mobilnya perlahan meninggalkan Tama yang tersenyum dan terus menatap mobil sang istri hingga menghilang.


"Mas juga cinta sama kamu Ki..cinta banget". Gumam Tama dengan senyuman manis menghiasi wajah tampannya.


"hemmh..oke Tam, balik kerja". Tama melirik arloji yang melingkar dipergelangan tangannya. Sudah saatnya ia kembali bertemu dengan orang yang sebenarnya enggan ia temui lagi.


####


"Mana buntut elo?". Tanya Saga melirik belakang tubuh Tama dimana biasanya Kirei berdiri.


"Kaga ikut". Jawab Tama pendek.


"Dasar kembar siam lo berdua. Apa-apanya sama". Sindir Tama pada duo sableng yang tampak acuh.


"Banyak kerjaan dia". Jelas Tama membuat Saga dan Gery ber oh ria menjawabnya.


"Ah oh ah oh mulu lo berdua". Tama menggelengkan kepalanya, heran dengan kelakuan dua sahabatnya juga istrinya. Mereka selalu berdebat jika bertemu, namun jika salah satu diantaranya absen, sudah pasti yang lain akan langsung menanyakan kabar dan keberadaan yang lainnya.


"Ulet bulu bebas dong nempel-nempel elo hari ini". Celetuk Gery membuat Tama menoleh padanya.


"Ulet bulu?". Beo Tama membuat Gery dan Saga mengangguk mantap.


"Gatel". Sahut keduanya cepat membuat Tama tergelak. Rupanya dua sahabatnya memberi julukan yang sama pada Inneke, sama persis seperti Kirei memanggil Inneke.


"Hai.." Suara lembut Inneke membuat ketiga lelaki itu menoleh. Ketiganya bergidik melihat tampilan Inneke yang sudah mirip seperti lontong. Tubuhnya dibalut ketat dengan pakaian seksi.


"Lemper". Gumam ketiganya bersamaan yang membuat mereka saling menatap dan akhirnya tertawa menyadari kekonyolan mereka.


"Hai Ak--maksud aku Tama". Inneke menyapa dengan lembut Tama yang nampak acuh.


"Nge..inget kata-kata aku ya". Asisten Inneke menarik pelan lengan bos nya untuk mengingatkan Inneke agar tidak terlalu mengganggu Tama.


"Apa sih..aku cuma nyapa aja". Dengus Inneke tak suka mendengar peringatan asistennya.


"Bisa langsung kita mulai?". Tanya Tama formal dan langsung dijawab anggukan kepala oleh Inneke.


"Istri kamu nggak ikut?". Tanya Inneke penuh binar kebahagiaan.


"Bisa kita mulai?". Tama kembali bertanya tanpa berniat menjawab pertanyaan Inneke yang sesungguhnya tak perlu dijawab.


Inneke memilih mengalah, setidaknya hari ini dia tidak perlu melihat Kirei yang akan membuat matanya sakit melihat kemesraan yang ditunjukkan Tama dan Kirei.

__ADS_1


Berkali-kali Inneke mencoba mengambil kesempatan untuk bisa menempel pada Tama. Namun sepertinya Saga dan Gery sudah seperti pengganti Kirei untuk menjauhkannya dari Inneke.


Inneke mendengus kesal karena setiap usahanya selalu gagal akibat ulah Saga dan Gery yang sepertinya sengaja membuatnya tak bisa menyentuh Tama. Padahal ia berpikir hari ini adalah hari baik karena Kirei tidak mengikuti Tama.


Sementara di rumah sakit, Kirei tengah menyandarkan punggungnya dikursi kerja nya. Ia baru saja menyelesaikan tugasnya memeriksa pasien yang datang tiada henti.


Ia baru saja akan memejamkan matanya saat telinganya mendengar suara ribut dari luar ruangan kerjanya. Dengan terpaksa ia bangkit untuk melihat apa yang terjadi di luar.


"Maaf pak, anda tidak bisa masuk". Terdengar suara perawat yang biasa membantu Kirei menangani pasiennya.


"Saya harus bertemu dokter Kirei". Kirei memejamkan matanya sesaat ketika mendengar suara lelaki yang tengah diusir oleh perawat itu.


"Tapi dokter Kirei tidak bisa diganggu pak". Kembali perawat yang sedang bertugas membantu Kirei mencoba menghalangi.


"Suster Mira". Panggilan Kirei membuat kedua orang yang sedang bersitegang terdiam.


"Maaf dokter..saya sudah berusaha menahan bapak ini. Tapi beliau berkeras ingin bertemu dokter". Ucap suster Mira merasa tak enak pada Kirei.


"Tidak masalah..biar saya tangani sendiri. Kamu bisa istirahat". Kirei menepuk pelan pundak Mira yang langsung membungkuk dan mengundurkan diri.


"Ki---".


"Mau apa lagi kamu?". Tanya Kirei dingin pada lelaki yang tak lain adalah Daniel.


"Aku kangen Ki". Daniel mendekat pada Kirei.


"Kamu gila? Kita sudah memiliki keluarga masing-masing. Berhenti menggangguku tuan Daniel". Peringat Kirei tegas.


"Aku nggak cinta sama Arin, dan aku yakin kamu juga nggak cinta sama kak Tama". Ucap Daniel ngotot membuat Kirei menggeleng tak percaya.


"Kamu bener-bener gila. Pergi Dan, aku nggak mau berususan sama kamu". Usir Kirei, namun Daniel masih diam tak bergerak. Kirei menggeleng melihat kelakuan Daniel. Ia berbalik, hendak masuk kedalam ruangannya.


"Aku nggak akan lepasin kamu Ki. Nggak akan". Tiba-tiba Daniel memeluk Kirei dari belakang.


"Jangan kurang*jar kamu!!". Kirei langsung memelintir tangan Daniel agar melepas pelukannya.


"Jangan anda kira saya diam karena ssya tidak berani tuan Daniel. Saya bisa saja mematahkan tangan anda jika anda melakukan hal kurang*jar seperti itu lagi". Kirei menunjuk wajah Daniel dengan telunjuknya. Ia benar-benar tidak terima dengan perlakuan Daniel padanya.


"Kamu semakin cantik saat marah seperti ini Ki". Puji Daniel dengan senyuman tulus yang membuat Kirei semakin menggeleng tak percaya.


"Pergi sebelum saya panggilkan petugas keamanan". Ancam Kirei serius.


"Besok aku akan kesini lagi Ki. Aku mencintaimu". Daniel berlalu meninggalkan Kirei yang mengepalkan tangannya kuat.


"Dasar gila!!". Umpat Kirei ketika Daniel semakin menjauh.


Tepat saat Kirei membalikkan tubuhnya, ia membeku ditempatnya melihat Arin berdiri tak jauh dari ruangannya.


"Arin..." Lirih Kirei.


Arin tersenyum tipis dan berjalan mendekat pada Kirei yang terlihat tidak enak pada teman sejawatnya itu.


"Rin..semua nggak kaya yang elo liat. Gue---" Ucapan Kirei terhenti kala Arin mengangkat telapak tangannya dan tersenyum.


"Aku tahu Ki..aku lihat semuanya. Daniel memang nggak pernah mencintai aku. Cinta Daniel hanya untuk kamu". Ucap Arin sarat akan kesedihan.


Kirei menggeleng, menggenggam kedua tangan Arin demi menyalurkan tenaga dan kekuatan untuk Arin yang nampak rapuh kini.


"Suatu saat Daniel akan sadar kalo cinta lo buat dia jauh lebih besar daripada cinta dia buat siapapun didunia ini". Ucap Kirei mencoba meyakinkan Arin


"Saat itu tiba, mungkin aku udah nggak sanggup ada disamping dia lagi Ki". Lirih Arin yang akhirnya tak kuasa menahan air mata.


Kirei membawa Arin kedalam pelukannya. Kini dirinya merasa bersalah karena kehadirannya pasti membuat Arin merasa semakin tersingkir. Tapi ini bukan inginnya, Kirei pun ingin melihat Arin bahagia. Tapi Daniel terlalu buta untuk menyadari dan melihat besar cinta Arin untuknya.

__ADS_1


__ADS_2