
"Kenapa aku masih belum hamil ya mas??". Tanya Kirei yang kini tengah bersandar did*** bidang suaminya. Keduanya baru saja selesai bermain smackdown yang jelas dimenangkan oleh Tama.
"Memang belum waktunya aja sayang. Sabar.. nanti ada waktunya sendiri". Ucap Tama menenangkan sang istri yang belakangan ini sering menanyakan perihal kehamilan.
Bahkan beberapa hari lalu Kirei memaksa untuk melakukan cek pada kesuburan keduanya. Dan hasilnya keduanya sehat dan baik-baik saja. Hanya soal waktu saja untuk menunggu kehadiran malaikat kecil yang kelak akan menyempurnakan kebahagiaan keduanya.
"Tapi kita nikah udah hampir 5bulan mas.. Tapi masih belum ada tanda apapun". Jelas terlihat kesedihan dimata istri Tama itu.
"Sayang..." Tama menghela nafas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya.
"Setiap orang itu berbeda.. ada yang baru nikah langsung dikasih kepercayaan. Ada juga yang harus lebih bersabar.. anggap kita sedang disuruh lebih bersabar sama Allah". Tama mendekap tubuh istrinya yang hanya terbalik selimut.
"Aku takut bukan perempuan sempurna mas". Kursi semakin membenamkan wajahnya did*** bidang Tama. Sedangkan Tama dapat merasakan cairan hangat yang mengalir did***nya.
"Hey.. kamu kenapa hm?? ". Tama menangkup wajah ayu Kirei yang sudah basah dengan air mata.
"Aku taku---" Sebelum Kirei menyelesaikan ucapannya, Tama sudah membungkam bibirnya dengan ciuman lembut.
"Kita jalani apa yang ada sekarang Ki. Nggak perlu memikirkan yang enggak perlu". Tama kembali membawa tubuh Kirei kedalam pelukannya.
"Sekarang kita tidur. Besok mas apa pemotretan". Tama memejamkan matanya, sementara Kirei masih terus berperang dengan pikirannya tentang mengapa hingga kini dirinya tak kunjung hamil.
Sementara dilain tempat, hubungan Arin dan Daniel semakin lama semakin terasa dingin. Arin yang mulai lelah memperoleh cinta Daniel, dan Samuel yang hingga kini masih saja terobsesi memiliki Kirei membuat hubungan keduanya bagaikan orang asing yang tinggal dalam satu atap.
Meski begitu, Arin masih menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri. Menyiapkan segala keperluan Samuel dari pakaian hingga makannya.
Pagi itu seperti biasa, Arin akan sibuk dengan peralatan dapur untuk menyiapkan sarapan untuknya dan juga Daniel. Hingga terjangan rasa mual membuatnya mematikan api dan segera berlari ke kamar mandi yang ada didekati dapur.
Daniel yang melihatnya hanya mengangkat bahunya acuh tanpa berniat membantu istrinya yang sepertinya tengah berjuang mengeluarkan semua isi perutnya.
Arin yang baru saja mengeluarkan seluruh isi perutnya menatap wajahnya yang nampak lebih pucat dari biasanya.
"nggak mungkin. Daniel cuma melakukannya sekali. Aku nggak mungkin hamil". Arin menggeleng kuat. Air mata Arin mengalir begitu saja. Ia menghapus kasar air matanya dan mencuci wajahnya. Arin bergegas keluar untuk menyelesaikan masakannya.
"Kenapa? ". Arin menghentikan sejenak gerakan tangannya yang tengah menuangkan nasi kenalan piring Daniel. Apakah kepala suaminya itu baru saja terbentur benda keras hingga menanyakan perihal dirinya.
__ADS_1
"Tidak ada". Jawab Arin pendek, kemudian melanjutkan apa yang ia kerjakan.
"Sakit?". Suara Daniel membuat Arin berjengkit sekaligus heran.
"Tidak". Sahut Arin pendek.
Daniel mendengus kesal melihat sikap dingin Arin. Mengapa kini Arin seperti tak melihatnya dan selalu mengabaikan dirinya.
"Aku selesai. Assalamualaikum". Arin bangkit dan menyambar tasnya.
"Saya antar". Ucapan Daniel hampir saja membuat Arin berteriak. Ada apa sebenarnya dengan manusia kutub itu.
"Tidak perlu. Terimakasih atas tawarannya". Tanpa menatap lagi wajah Daniel, Arin bergegas keluar rumah. Terlalu terbiasa dengan sikap dingin Daniel membuat Arin justru bingung dengan sikap Daniel yang sedikit peduli dengan keberadaan nya.
"Ada apa sebenarnya sama Dan. Apa kepalanya kepentok sesuatu? ". Arin bermonolog dengan dirinya sendiri sambil terus mempercepat langkahnya.
"Aku harus ke apotek". Gumam Arin ketika mengingat jika dirinya memang sudah terlambat datang bulan hampir 2minggu.
"Sampai kapan kamu harus kerjasama ama ondel-ondel itu mas? ". Tanya Kirei ketika keduanya tengah menikmati sarapannya.
"Mau ikut mas kerja aja?? Di rumah sakit udah ada Juan". Ajak Tama melihat wajah masam istrinya.
"Ya emang aku mau ikut. Nanti ada yang nyari kesempatan lagi kalo aku diem". Ketus Kirei dengan wajah cemberut yang terlihat menggemaskan dimata Tama.
Keduanya melanjutkan makannya dan kemudian bersama pergi menuju studio foto milik Tama. Keduanya tampak serasi dengan outfit senada yang mereka kenakan. Dari kejauhan Kirei bisa melihat wajah kesal Inneke. Dengan sengaja ia semakin mengeratkan pelukannya dilengan kekar Tama sambil melirik dan mengangkat kedua alisnya. Sontak apa yang dilakukan Kirei semakin membuat Inneke meradang.
"Nikmati aja sekarang Kiri. Aku bersumpah akan mengambil Tama darimu! ". Gumam Inneke penuh tekad, menatap penuh kebencian pada Kirei yang terus tersenyum bahagia.
"Ayo Nge.. Pak Tama sudah datang. Kamu masih ada pemotretan ditempat lain abis ini". Suara sang asisten membuatnya tersadar dari lamunannya. Ia segera bergegas menyusul Tama kenalan studio dirinya.
#####
"Apa anda sudah menyerah mendapatkan cinta pertama anda tuan Samuel? ". Pertanyaan Inneke membuat Daniel menatapnya.
"Tidak, saya hanya ingin memberinya waktu sesaat". Jawaban Daniel membuat senyum Inneke merekah. Ia pikir Daniel sudah menyerah dan dirinya harus berjuang sendiri untuk menyingkirkan Kirei.
__ADS_1
"Saya kira anda sudah menyerah dalam pertempuran ini". Ucapan Inneke hanya mendapat senyuman miring dari Daniel. Sejujurnya Daniel sudah mulai ragu dengan hatinya. Namun ego nya membuat lelaki itu tetap ingin memiliki Kirei.
"Daniel.. " Suara yang Daniel kenal membuatnya menoleh dan mendapati wanita yang sudah ia anggap ibu sendiri ada dibelakangnya.
"Tante Riana? Tante disini? ". Daniel bangkit dan segera mencium punggung tangan ibunda dari Tama itu.
"Ya.. kamu sedang apa? ". Tanya Riana melirik Inneke yang terlihat terkejut melihat ibu dari mantan kekasihnya itu.
"Kamu kenal dengan perempuan ini?". Riana kembali bertanya saat matanya melihat keberadaan Inneke.
"Oh.. dia adalah model diperusahaan Dan tante". Jawab Daniel dengan senyuman.
"Ouh.. seperti itu". Alis Daniel berkerut melihat sikap Riana yang tidak seperti biasanya.
"Mau bergabung tante?". Tawar Daniel dengan ramah.
"Tidak. Tante sudah selesai dan akan pulang". Tatapan Riana benar-benar membuat Inneke sedikit takut. Tatapan tajam yang terlihat jelas ketidaksukaan dalam tatapan itu.
"Hati-hati dijalan tante". Daniel memeluk Riana.
"Tante peringatkan Dan.. jangan ganggu anak dan menantu tante. Kamu tahu tante menyayangimu sama seperti tante menyayangi anak-anak tante. Tapi tante akan menjadi sangat tidak baik jika kamu terus mengganggu mereka". Daniel terhenyak mendengar kalimat demi kalimat yang meluncur dari mulut tante nya.
"Ap-apa maksud tante?". Tanya Daniel terbatas.
"Tante tahu semuanya Dan. Kamu nggak perlu pura-pura didepan tante". Sahut Riana.
"Aku benar-benar nggak ngerti maksud tante". Elak Daniel. Sementara Riana hanya tersenyum lirih menatap keponakan yang begitu ia sayangi.
"Tante tau siapa Kirei untuk kamu. Tapi tante mohon jangan kamu usik keluarga baru mereka Dan. Jangan sampai kamu menyesal saat semua yang kamu miliki hilang karena keegoisan dan keserakahan kamu. Tante pergi, pikirkan baik-baik semua sebelum terlambat." Riana menepuk pelan pundak Daniel dan berlalu. Namun sebelum benar-benar meninggalkan meja Daniel, Riana berhenti sejenak untuk mengatakan hal penting pada Inneke.
"Dan untuk anda nona Inneke. Berhenti mencoba kembali masuk kedalam kehidupan putra saya. Anda yang meninggalkannya untuk semua obsesi anda. Jadi jangan pernah kembali. Dia sudah bahagia! Paham?". Ucap Riana dan segera pergi meninggalkan kedua orang yang tiba-tiba mematung.
---****---
Haiii readers.. maaf baru bisa up sekarang. HP rusak jadi beberapa waktu nggak bisa up. Semoga masih setia menunggu untuk kelanjutan cerita Kirei dan Tama yang sama-sama somplak dan sableng ya.. Maupun juga cuma bisa up dikit. Buat obat dulu...πππ hihihi
__ADS_1