
Tak sampai satu jam, makanan yang dipesan Al untuk Naya sudah sampai. Bahkan sambungan telponnya dengan Al pun belum terputus.
"Sudah sampai makanannya?". Tanya Al dijawab anggukan kepala oleh Naya.
" Aku bangunin temen dulu ya kak..aku ajak makan bareng. Lagian kakak beliin makan satu orang udah kaya beli buat satu rt. Kakak kira aku kuli bangunan". Naya mencebik kesal, Namun Al justru tergelak diujung sana.
"Kamu kurus Kay..harus banyak makan".
" Kakak pengen aku gendut?". Tanya Naya memelototkan matanya, dan Al semakin terpingkal melihat reaksi galak Naya yang justru terlihat menggemaskan.
"Ketawa aja terus.." Cibir Naya menatap dalam wajah tampan yang terlihat memenuhi layar ponselnya itu.
"Hahahaha..kenapa kamu galak banget sih Kay. Oke deh, aku nggak ketawa lagi". Meski berucap demikian, Al tetap tidak bisa menghentikan tawanya.
" Hishh..dasar ngeselin. Batu es ngeselin". Sengit Naya dan itu berhasil membuat Al terbahak.
"Iya..iya deh..ampun. Jangan ngambek dong Kay".
" Nama aku tuh Kanaya kak, bukan Kaya. Kenapa panggilnya Kay mulu sih". Naya kembali menggerutu, sudah sering ia protes dengan panggilan Al pada dirinya. Namun Al tak pernah berminat mengubah panggilannya pada Naya.
"Itu tuh panggilan kesayangan aku buat kamu..nggak boleh diubah-ubah". Tiba-tiba jantung Naya berdetak dengan tak semestinya.
"Udah ah aku mau ngajak temen baru aku makan, syuh..syuh kakak kerja aja sana". Usir Naya dengan wajah ditekuk. Berpura-pura menyembunyikan deguban jantungnya yang mulai tak normal.
" Abisin ya Kay.." Naya kembali melotot mendengar Al memintanya menghabiskan makanan yang kini sudah memenuhi meja makan itu.
"Aku lanjut kerja dulu Kay..Assalamualaikum".
" Wa'alaikumsalam kak.." Naya menatap layar ponsel yang menghitam setelah Al mematikan sambungan teleponnya.
"Eh..Di. Kaget aku.." Naya mengelus dadanya ketika melihat Diandra sudah ada didapur. Gadis itu tengah menuang air putih kedalam gelas.
"Iya..kamu asyik banget telponan. Makanya aku jadi kaya mahkluk astral aja..hehe" Naya tersenyum, sepertinya teman satu apartemen nya ini cukup menyenangkan.
"Banyak banget Nay makanannya. Kamu pesen semua ini?? emang bisa habis??". Tanya Diandra syok.
" Ada yang ngirim..kakak aku yang ngirim. Kita makan yuk.." Ajak Naya disambut semangat 45 oleh Diandra.
"Kapan lagi Nay makan segini banyak..gratis pula". Naya senang dengan sikap Diandra. Meski baru bertemu sebentar, namun ia merasa cocok dengan Diandra.
Mereka makan sambil bercengkrama, menceritakan kisah mereka hingga sampai ke tempat ini. Rupanya Diandra memang seusia dengan Naya, hanya berbeda beberapa bulan lebih tua dengan Naya.
" Sebentar lagi aku yakin mommy akan meneror ku dengan telepon nya. Mommy benar-benar tidak membiarkan aku menganggur". Ucap Naya melihat bom pesan dari sang ibu yang berjumlah puluhan.
"Apa ibumu juga seperti ini Di??". Dan Naya menyesali pertanyaan yang keluar dari mulutnya. Ia melihat wajah sumringah Diandra pudar ketika ia menanyakan perihal ibunya.
" Aku..aku sebatang kara Nay". Tentu saja Naya begitu terkejut mendengarnya. Ia merasa tak enak pada Diandra.
"Ma-maafkan aku Di. Aku melukaimu..harusnya aku tidak lancang bertanya hal pribadimu". Ucap Naya penuh penyesalan.
Diandra tersenyum tipis..ia menggelengkan kepalanya sambil mengibaskan tangannya.
" Enggak..gapapa Nay. Kamu kan nggak tahu, dari tadi juga aku nanya kehidupan kamu kan". Naya tersenyum tipis, ia benar-benar tak bermaksud menyinggung perasaan teman barunya itu.
"Apa yang menelponmu tadi kekasihmu?". Pertanyaan Diandra membuat Naya diam sesaat sebelum tersenyum dan menjawabnya.
" Bukan..dia sudah seperti kakak untukku Di". Pandangan mata Naya menerawang membayangkan wajah tampan Al yang selalu bersikap hangat dan selalu tersenyum padanya. Benar-benar membuatnya nyaman dan bahagia sekaligus takut. Takut jika ia jatuh pada pesona Al yang memang tak bisa ia tampik.
"Ahh..aku kira dia kekasihmu. Dia sangat perhatian, dan tatapan matanya benar-benar teduh menatapmu.." Ucap Diandra sendu. Naya dapat melihat kesedihan dari setiap kata yang meluncur mulus dari mulut gadis itu.
"Kekasih ku sudah berada disurga Di.." Naya menatap hampa langit-langit hingga membuat Diandra terhenyak
"A-aku nggak bermaksud Nay.." Kini Diandra yang dilanda perasaan bersalah.
__ADS_1
"Tidak apa..aku sedang mencoba bangkit saat ini Di. Aku rasa menceritakannya padamu akan membuatku lebih lega". Naya tersenyum tulus, membuat Diandra juga tersenyum.
" Kami akan menikah waktu itu. Tapi rupanya yang diatas merencanakan hal besar lain dengan mengambilnya dari sisiku saat kami sedang sangat berbahagia.." Naya mulai menceritakan kisahnya dengan Akbar. Meski harus kembali mengorek lukanya, namun entah mengapa ia begitu nyaman bercerita pada orang asing seperti Diandra. Ia dapat merasakan gadis itu tulus, dan sepertinya Diandra juga menyimpan luka yang tak ada orang lain mengetahui.
"Calon suamiku kecelakaan.." Suara Naya seolah tercekat ditenggorokannya. Diandra menggenggam tangan Naya yang terasa dingin.
"Jangan dilanjutkan jika membuat luka itu kembali menganga Nay.." Diandra tahu bagaimana sakitnya ditinggalkan orang yang teramat dicintai.
"Aku baik-baik aja..makasih". Naya balas menggenggam tangan Diandra dan tersenyum meyakinkan.
" Aku bahagia Di..sangat bahagia saat lelaki itu datang dan melamarku. Aku menyerahkan seluruh cintaku padanya..cinta yang akhirnya ia bawa hingga kedalam tanah, tenpat peristirahatan terakhirnya". Naya kembali menghela nafas panjang, mengisi setiap rongga parunya dengan udara.
"Aku merangkai berjuta mimpiku...dan dari jutaan mimpi itu ada dia didalam semua mimpiku". Dadanya seolah terhimpit batu besar setiap kali mengingat semua mimpi yang telah ia rangkai bersama Akbar.
" Kehilangan dirinya benar-benar pukulan berat bagiku..hidupku seolah terombang-ambing. Takdir seolah mempermainkan perasaan dan hatiku". Diandra diam dan mendengarkan kisah cinta Naya. Hatinya sedikit merasa iri dengan kisah yang begitu mengharu biru itu.
"Langit seolah menjadi gelap karena kepergian Biru ku Di..aku kehilangan arah dan tujuan". Naya menampilkan semyum getir, Diandra tahu sesakit apa itu.
"Aku sempat berpikir, apa mungkin aku pernah melakukan dosa besar hingga dihukum sedemikian menyakitkan dengan kehilangan separuh hidupku". Tanpa Naya dan Diandra sadari, keduanya sudah berderai air mata. Diandra dapat merasakan betapa besar Naya mencintai calon suaminya.
" Aku hampir menyerah Di..aku enggan melanjutkan hidupku. Rasanya nggak ada gunanya kalaupun aku melanjutkan hidup tanpa Biru Ku". Naya tersenyum getir ketika sekelebat bayangan Akbar yang tersenyum melintas diotaknya.
"Tapi aku dibangunkan dari mimpi buruk oleh keluargaku..mereka membuatku sadar bahwa kehancuranku akan lebih menghancurkan mereka. Aku beruntung memiliki mereka.." Naya tersenyum membayangkan wajah kedua orang tuanya dan kakak-kakaknya. Namun tiba-tiba wajah dingin Al hadir diantara bayangan keluarganya.
Ya..Naya pun menyadari betapa besar andil pria es itu hingga membuatnya bisa bangkit seperti ini..
"Kamu beruntung Nay.." Diandra tersenyum kecut
"Kamu beruntung memiliki keluarga yang mendukungmu Nay..Sementara aku?? Orang yang menyebut dirinya keluarga lah yang menghancurkanku hingga tak bersisa seperti ini" Batin Diandra meringis pilu setiap mengingat kisahnya.
"Ya..aku sangat beruntung". Naya kembali tersenyum meski pipinya basah oleh air mata.
" Dan lelaki yang menelponku tadi..dia salah satu orang yang sangat berjasa yang membuatku bisa bangkit seperti sekarang". Senyumnya semakin lebar kala membayangkan wajah Al.
"Karena dia aku menyadari..nggak seharusnya aku mencintai seseorang melebihi cintaku pada penciptanya, Di". Naya menutup kisahnya dengan senyuman. Membuat Diandra yang sempat kalut ikut tersenyum.
"Maafkan aku Di..aku jadi curhat ke kamu.." Naya merasa tak enak. Tapi hatinya terasa lega setelah bercerita pada Diandra.
"Aku senang mendengarnya..mungkin suatu saat kamu yang harus mendengar ceritaku". kelakar Diandra.
" Dengan senang hati.."
#######
Sudah tiga bulan berjalan, Naya menjalani hidup barunya dengan semangat baru. Seperti hari-hari sebelumnya, Al dan sang ibu tak pernah absen menelpon dirinya.
Selama tiga bulan itu pula, hubungan Naya dan Diandra semakin dekat. Mereka menjadi sahabat baik, ditambah seorang pria yang sepertinya sudah lebih dulu mengenal Diandra, namanya Dimas. Entah hanya perasaan Naya atau memang Diandra menyimpan rahasia dari dirinya dan Dimas.
Saat ini ketiganya tengah menikmati makan siang dikantin. Mereka memang lebih sering makan di kantin perusahaan daripada harus keluar bermacet-macetan hanya untuk mengisi perut. Mereka bukan tipe orang rewel soal makanan.
"Udah pada denger belom.." Seperti biasanya, meski Dimas lelaki satu-satunya, namun dialah biang gosip diantara mereka bertiga. Ya hanya bertiga, karena memang ketiganya tak pernah suka bergabung dengan yang lain.
"Berita apalagi kang gosip?". Sinis Diandra membuat Dimas mencebik. Sementara Naya hanya terkekeh melihat interaksi keduanya.
" Ish..dasar galak". Cibir Dimas namun Diandra acuh.
"Denger-denger dirut ini perusahaan mau dateng lagi.." Ucap Dimas heboh. Namun tanggapan Naya dan Diandra hanya biasanya saja dan ber oh ria.
"Kalian berdua masih normal kan??". Tanya Dimas membuatnya mendapat tatapan tajam dari dua gadis yang duduk dihadapannya.
" Denger-denger, dirutnya masih muda. Ganteng pula..pada nggak pengen tau??".
Ya, Naya dan Diandra sudah berulang kali memdengar desas desus tentang pemilik perusahaan tempat mereka bekerja. Namun hingga tiga bulan ini, belum pernah sekalipun mereka melihat rupa tampan yang digilai kaum hawa dikantor mereka itu, dan mereka tidak terlalu penasaran hingga mengharuskan mereka melihat rupa yang katanya tampan itu.
__ADS_1
"Nggak tertarik". Ucap keduanya serempak.
" Jangan-jangan kalian berdua.." Mata Dimas memicing, menatap Naya dan Diandra penuh kecurigaan. Senyum jahil tersungging dibibir Naya dan Diandra. Mereka saling lirik dan memberi kode untuk mengerjai Dimas.
"Ya..kaya yang lo bayangin Dim. Iya kan sayang.." Diandra menggenggam tangan Naya yang juga tersenyum manis dan menganggukkan kepalanya disertai senyum semanis madu.
"HAH!!!! YANG BENER KALIAN?!!'. Tanya Dimas tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
" Gila kalian!! Kalo perusahaan tau auto didepak kalian". Dimas memelankan suaranya, seolah apa yang baru saja ia lihat adalah aib besar yang harus ditutup rapat.
" Hahahahahhahahahaha..." Tawa yang sejak tadi coba ditahan oleh dua gadis itu akhirnya pecah melihat wajah pucat Dimas.
"Kurangasem..ngerjain aku ternyata!". Umpat Dimas ketika menyadari dirinya menjadi korban kejahilan dua temannya.
" Makanya otaknya disapuin..kalo perlu dipel biar nggak kotor.." Ucap Naya masih mencoba meredam tawanya.
"Dim..Dim..dasar sableng". Ucap Diandra membuat Dimas semakin merengut.
" Pak Yohan mau datang lagi..duh nggak sabar".
"Iya..gantengnya itu loh.."
"Ganteng sih..tapi dingin banget"
"Bener..kaya nggak tersentuh banget".
" Kira-kira udah ada yang punya belum ya.."
"Jadi yang kedua juga mau aku sih.."
Lagi, Naya dan Diandra mendengar nama Yohan menggema dimana-mana. Ini bukan kali pertama, beberapa minggu setelah mereka bekerja, para karyawati disana sudah membicarakan nama itu.
Naya dan Diandra memang memilih menepi dari hebohnya para wanita dikantor itu, mereka berusaha sebisa mungkin untuk tak terlihat oleh karyawan lain. Walaupun sulit mengingat visual mereka yang bisa dibilang diatas rata-rata, namun kedua gadis itu terus berusaha menghindari masalah yang mungkin akan menyulitkan mereka nantinya. Karena itu pula lah, keduanya tak pernah mau tahu seperti apa rupa lelaki yang begitu digilai teman-teman sekantornya itu.
Entahlah, jika Naya..mungkin gadis itu masih sedikit takut untuk kembali jatuh cinta. Namun disisi lain, ia merasa jika Al selalu mengawasinya. Dan entah mengapa, ia takut jika Al berpikiran yang tidak-tidak tentang dirinya.
Tapi untuk Diandra, Naya sendiri tak tahu mengapa gadis itu memilih menjadi seperti dirinya juga. Naya tidak tahu luka apa yang diemban oleh Diandra hingga membuat gadis itu memiliki sifat dan karakter yang hampir sama seperti dirinya.
"Nanti kan gajian..kalian mau aku traktir??". Ucapan Dimas menarik Naya keluar dari lamunan sesaatnya.
Ia saling menatap dengan Diandra, beberapa detik kemudian keduanya mengangguk penuh semangat.
" Makan gratis jangan ditolak..iya kan Di??". Tanya Naya yang dijawab anggukan kepala oleh Diandra.
"Oke..nanti aku jemput ya malam". Kedua gadis itu kembali mengangguk. Mereka tak tahu jika saat ini di lobby perusahaan sedang terjadi huru-hara lantaran kedatangan dirut perusahaan.
" Dimana dia?".
"Sedang makan dikantin pak bersama dua temannya"
"Saya akan kesana. Kamu bisa keruangan kamu"
"Baik pak.."
"Masuk keruangan saya setelah jam istirahat selesai".
" Baik, mengerti pak"
Tatapan mata kagum dari kaum hawa mengiringi langkahnya menuju kantin perusahaan. Entahlah, dia sudah tidak bisa lagi menahan diri untuk tidak menemui gadis itu. Ia semakin mempercepat langkahnya saat sudah mendekati kantin.
Matanya menyapu seluruh isi kantin, sudut bibirnya terangkat ketika matanya menemukan sosok yang ia cari sejak tadi. Tanpa pikir panjang, kaki panjangnya melangkah lebar, ia tak sabar untuk cepat sampai disana.
Ia tidak peduli dengan kehebohan yang tercipta akibat kedatangan nya yang mendadak ke kantin itu. Ia semakin mempercepat langkahnya kala melihat gadisnya tersenyum dan tertawa bersama seorang pria yang tak ia kenali.
__ADS_1
Hatinya terbakar, terasa panas didadanya melihat senyum itu dinikmati lelaki lain. Ia menghentikan langkahnya saat dirinya sudah ada beberapa langkah dibelakang gadisnya itu.
"Kay.."