Imperferct Partner

Imperferct Partner
Perginya Akbar


__ADS_3

Apa yang Al khawatir kan terjadi juga. Pagi ini ia mendapat telepon dari Ken yang mengabarkan kondisi Akbar yang tiba-tiba menurun drastis dan kembali dipindahkan ke ICU. Al bergegas bersiap dan meluncur ke rumah sakit.


langkah kakinya semakin pelan saat mendekati ruang ICU. Hatinya tak sanggup melihat pemandangan menyedihkan didepan matanya. Ia melihat Kanaya nya menangis histeris didalam pelukan ibunya, sementara Ken dan sang ayah mencoba menenangkan nya. Sementara Al melihat wanita paruh baya yang dikenalnya adalah ibu Akbar sudah jatuh pingsan dan dibaringkan dikursi tunggu ruang ICU.


Al segera menggelengkan kepalanya, mengusir pikiran-pikiran buruk yang tiba-tiba berseliweran didalam benaknya. Hatinya tak henti merapalkan doa untuk kebaikan dan kesembuhan sahabatnya.


"Ken.." Merasa namanya dipanggil. Ken yang masih sibuk ikut menenangkan adiknya menoleh. Ia melihat Al yang tampak bingung dan juga khawatir.


Naya yang mendengar suara yang tak asing ditelinga nya segera mendongak. Ia langsung berdiri dan menghampiri Al yang masih terlihat bingung.


"Kak Al, bilang sama aku kalo kak Biru lagi becanda..bilang kak. Marahin kak Biru karna bikin aku nangis lagi. Kakak janji bakal marahin kak Biru kalo berani bikin aku nangis kan". Al terlihat semakin bingung saja ditodong pertanyaan yang tak ia mengerti oleh Naya.


" Kay---"


"Suruh dia bangun kak!!!" Naya menangis meraung didepan Al yang tak kuasa melihatnya. Ia menarik tubuh Naya kedalam pelukannya dan menepuk pelan punggung gadis itu beberapa kali.


"Tenang Kay.." Ucap Al yang masih belum tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Suruh dia bangun kak!". Suara Naya semakin terdengar lirih. Beberapa kali ia memukul dada bidang Al untuk menyalurkan perasaan hatinya yang sedang kalut.


" Bilang sama dia aku nggak akan bahagia kalo nggak sama dia kak.." Tubuh Naya semakin bergetar hebat. Namun sesaat kemudian Al sudah tak merasakan pukulan didadanya dan merasa tubuh Naya akan merosot.


"KAY..!!" Pekiknya menahan tubuh Naya yang sudah pingsan dalam pelukannya.


"Kanaya!! Ya Allah..." Kirei yang juga sudah berderai air mata meminta Al untuk merebahkan tubuh Naya dikursi ruang tunggu.


"Ada apa ini Ken? Kenapa kaya gini?". Tanya Al yang masih panik melihat Naya pingsan.


" Akbar.."


Belum sempat Ken menjelaskan apapun pada Al, suara derap langkah yang seperti berlari membuat keduanya menoleh. Mereka melihat Kai, Rendra beserta Satria datang dengan berlari. Mata mereka memncarkan kesedihan mendalam, sama seperti Ken yang berdiri dihadapannya.


"Gimana bisa Ken?". Tanya Kai dijawab gelengan kepala oleh Ken.


Ketiga menoleh pada Naya yang sedang terbaring dikursi dengan Kirei yang menangis disampingnya, sementara Tama berusaha menguatkan istrinya.


" Kita nggak boleh kaya gini sayang. Gimana Naya kalo kita sedih terus". Tama berkali-kali mengusap pundak istrinya yang justru semakin keras tangisannya.


"Ada apa sih ini? Jelasin ke gue Ken!". Al sudah tak bisa bersabar lagi melihat situasi yang masih belum ia mengerti. Ada apa?? Ada apa dengan Akbar? Kenapa semua orang menangis seperti ini?? Kemarin Akbar baik-baik saja saat dirinya berpamitan pulang, bahkan sahabatnya itu sudah bisa tertawa dan makan makanan yang ia bawakan. Lalu kenapa sekarang semua orang menangis seperti ini??!! Al benar-benar hampir gila menebak-nebak apa yang terjadi.


Ken menatap ketiga orang yang baru saja datang bergantian, seolah meminta bantuan menjelaskan pada Al. Namun ketiganya justru menggeleng.


" Kai?!".


"Sat?".


" Ren???". Al memanggil satu persatu nama temannya. Berharap mendapat kejelasan tentang apa yang sedang terjadi saat ini.


"Jelasin ke gue jangan diem aja!!". Al berusaha menahan suaranya agar tidak berteriak.


" Ken!!! Jelasin ke gue!!!" Al mengguncang kedua bahu Ken dengan kencang. Meminta kejelasan dari Ken agar dirinya tak berpikir yang macam-macam tentang kondisi Akbar.


"Dia udah pergi Al.." Lirih Ken yang tak berani menatap Al.


"Dia? Dia siapa yang pergi??!". Al masih mencoba menyangkal meskipun ia memahami apa maksud perkataan Ken. Ia tak mau menerima kenyataan yang mungkin akan membuatnya sedih.

__ADS_1


" Akbar---"


"Dia---".


" Dia udah pergi ninggalin kita Al". Kai yang melihat Ken kesulitan menyampaikan berita menyakitkan ini membantu saudara kembarnya untuk menjelaskan.


Al mundur beberapa langkah hingga tubuhnya membentur tembok, kepalanya menggeleng kuat seolah tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.


"Nggak..nggak mungkin". Al terus menggelengkan kepalanya. Bibirnya menyunggingkan senyum tak percaya.


" Becanda lo semua nggak banget". Al tersenyum sinis menatap keempat temannya itu. Namun keempatnya hanya diam seribu bahasa.


"Kemaren dia baik-baik aja. Ini pasti nggak bener". Tubuh Al bahkan sudah merosot kelantai. Keduanya tangannya ia gunakan untuk mencengkeram kuat rambutnya. Bagaimana bisa?? Ia masih tak bisa mempercayai berita ini.


Tak lama tubuhnya bergetar hebat, air matanya mengalir deras membasahi wajah tampannya yang tampak kacau. Ia mendaratkan tinju nya berkali-kali ke tembok untuk menyalurkan sakit didalam hatinya saat ini.


" Al...kita harus ikhlas". Ken menahan tangan Al yang hendak menghantam tembok lagi.


"Bilang kalo ini kaga bener Ken". Pinta Al penuh permohonan. Namun ia hanya mendapat jawaban berupa gelengan kepala dari Ken.


Al segera bangkit dan menerobos masuk kedalam ruang ICU. Ruang dimana tubuh kaku seorang yang sangat ia kenal dibaringkan.


" Bangun ba jingan!!!". Ucap Al dengan suara serak karena menahan tangis.


"Lo udah janji bakal bikin Kanaya bahagia!!! Kenapa lo bikin dia nangis!!! Bangun breng sek!!!!".


" Lo nggak mau kan gue dateng dan ambil Naya dari lo karna lo bikin dia nangis!!! Bangun Bar!!!! BANGUN!!! CEGAH GUE!!!". Al mengguncang tubuh kaku sahabatnya. Berharap sahabatnya itu mendengar dan segera membuka matanya kembali.


Ken segera menarik tubuh Al yang terus mengguncang tubuh Akbar yang sudah terbujur kaku itu.


" Al!!! Sadar Al!!!". Teriak Ken mencoba membuat Al tersadar dengan apa yang ia lakukan. Ken tak menyangka jika reaksi Al akan sampai seperti ini karena kepergian Akbar.


"AAAARRRRGGGHHHH...!!!!!" Teriakan Al lebih terdengar menyayat hati bagi siapa saja yang mendengarnya. Ken dan yang lain yang sejak tadi berusaha menahan tangisannya akhirnya tak mampu lagi menahannya. Melihat Al yang begitu terluka oleh kepergian Akbar membuat mereka menangis bersama. Persahabatan yang mereka bangun bertahun-tahun itu menyisakan kepedihan mendalam akibat ditinggalkan oleh salah satunya.


Kelimanya berpelukan disamping jenazah Akbar, menyalurkan kesedihan dan saling menguatkan satu sama lain. Mereka seolah lupa jika ada seorang lagi yang akan lebih histeris dibandingkan mereka saat matanya terbuka nanti.


Rendra dan Satria yang jauh lebih tenang dibandingkan yang lain berinisiatif membantu menyelesaikan administrasi dan mengurus kepulangan jenazah Akbar. Sementara Naya serta ibunda Akbar masih dalam kondisi pingsan saat kedua pria itu mengurus segala hal dirumah sakit.


########


Naya mengerjapkan matanya beberapa kali. Matanya terasa berat dan sakit saat dirinya memaksa membukanya. Baru saja ia mengalami mimpi buruk yang sangat menakutkan. Ia bermimpi prianya pergi meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya.


Ia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Kamar ini tidak asing bagi dirinya. Ia sudah berkali-kali datang ke kamar ini. Tapi bagaimana ceritanya ia bisa sampai dikamar ini.


Naya memaksa tubuhnya untuk duduk, dahinya kembali berkerut saat menyadari dirinya sudah berganti pakaian.


"Sayang..kamu sudah sadar?". Suara itu, suara mommy nya. Kenapa mommy nya juga ada disini. Naya hanya mengangguk lemah.


Kirei berjalan semakin mendekat, lamat-lamat Naya mendengar suara orang yang sedang mengaji. Sedang ada acara apa dirumah calon suaminya itu. Tiba-tiba pikirannya tertuju pada mimpi mengerikan yang baru saja ia alami.


" Mom.."


"Apa sayang..."


"Nay mimpi buruk. Nay---Nay mimpi kak Biru kecelakaan..dan--Dan kak Biru---kak Biru ninggalin Nay". Air mata Naya menetes dengan sendirinya tanpa dikomando.

__ADS_1


Tanpa menjawab pertanyaan anaknya, Kirei membawa anak gadisnya itu kedalam pelukannya. Mendekapnya erat seolah memberi gadis itu kekuatan untuk menghadapi kenyataan.


" Akbaaaar...aaaahh, naaak....."


Teriakan menyayat hati itu terdengar jelas ditelinga Naya. Makin deras saja air matanya mengalir. Ia melepaskan pelukannya dari sang ibu, menatap mata ibunya seolah meminta penjelasan.


"Kamu harus kuat sayang.."


Tanpa berkata lagi, Naya berjalan cepat meninggalkan Kirei didalam kamar. Tubuhnya membeku diujung tangga, pikirannya sudah melayang entah kemana.


'Apa apa ini? Kenapa sangat ramai? Kenapa banyak orang mengaji? Kenapa mama menangis?' Banyak pertanyaan didalam benaknya. Hingga matanya terhenti pada sosok pucat yang ada didepan calon mertuanya tengah menangis meraung saat ini.


Pandangannya kabur karena air mata yang bertumpuk dipelupuk matanya. Kakinya seolah tak mampu lagi menahan beban tubuhnya. Ia seperti mayat hidup yang berjalan sempoyongan mendekati sosok pucat yang ada ditengah ruangan itu. Sementara Kirei mengikuti Naya dari belakang, ia hanya bisa mengikutinya. Karna Naya menolak bantuannya yang ingin memapah tubuh lemah anaknya itu.


Sesampainya disamping jenazah Akbar, Tubuh Naya ambruk disamping jenazah, Naya menatapnya hampa seolah mencari kebenaran dari apa yang ada dihadapannya kini. Menatap sosok lelaki yang selalu menjadi pelindungnya itu kini tampak pucat tak berdaya.


"K-kak..." Panggil Naya dengan suara gemetar.


"Ma..ke-kenapa kakak tidur di-sini?". Tanya Naya pada wnaita yang masih menangis disampingnya.


" Aaahh..Kanaya, sayang anak mama". Ibunda Akbar memeluk Naya dengan erat masih dengan air mata yang membasahi wajah nya yang mulai menua itu.


" Maaa...suruh kakak bangun ma". Lirih Naya yang menangis didalam pelukan ibunda Akbar.


"Sayaaaang----" Ibunda Akbar semakin mengeratkan pelukannya.


"Ssst...ssst..tenang sayang". Ibunda Akbar mengelus punggung Naya yang masih dalam pelukannya. Ia pun masih sangat bersedih ditinggal anaknya, namun entah mengapa, melihat Naya hancur membuatnya semakin merasakan perih hati. Ia menyayangi Naya seperti anaknya sendiri, ia sangat bahagia mendengar kabar jika Akbar akan meminang gadis manis itu dan menjadikannya menantu di keluarganya. Namun harapan tinggallah harapan, keinginan hanya tersisa didalam hati dan pikiran saja. Putranya sudah lebih dulu menghadap pencipta sebelum berhasil mewujudkan impiannya meminang gadis pujaannya.


" Kakaaaaaaakkkkk...." Tangis pilu Naya membuat semua pelayat tak bisa membendung air matanya. Mereka seolah ikut merasakan sakit dan hancurnya gadis manis yang ditinggal pergi calon suaminya itu.


Berkali-kali Naya jatuh pingsan, otak dan hati serta tubuhnya benar-benar tak kuasa menerima kenyataan ditinggalkan oleh orang terkasihnya. Jangan tanyakan bagaimana Al, ia bagaikan lelaki cengeng yang terus menangis apalagi ketika melihat Naya berkali-kali jatuh pingsan.


Jika ia bisa menukarkan nyawanya, maka dengan senang hati ia akan menukar nyawanya dengan Akbar agar Naya kembali tersenyum dan bahagia. Namun yang saat ini bisa ia lakukan hanya diam dan menangis melihat wajah cantik yang biasa berhiaskan senyum itu kini tampak pucat dengan mata memerah yang terlihat bengkak karena terus menangis.


Meski sudah dilarang, Naya tetap bersikukuh untuk ikut mengantarkan lelakinya ke peristirahatan terakhirnya. Kedua kakaknya ikut mendampingi Naya, pun dengan Al dan dua teman lainnya. Mereka ikut mengantarkan jenazah sahabatnya ke peristirahatan terakhirnya.


Dan disini lah Naya saat ini, menatap tubuh kaku lelaki yang ia cintai perlahan diturunkan ke dalam rumah terakhirnya. Naya hampir kehilangan kesadarannya untuk kesekian kalinya kala melihat langsung tubuh Akbar semakin masuk kedalam liang lahat.


Al, Rendra dan Ken berada dalam liang lahat untuk menyambut jenazah teman baiknya itu. Mereka turun langsung dibantu seorang petugas masjid.


Al mengumandangkan adzan untuk jenazah sahabatnya dengan suara gemetar, air mata yang tak mampu ia bendung terus mengalir. Rasa kehilangannya begitu besar atas kepergian Akbar. Ia masih tak percaya jika sahabatnya itu telah benar-benar pergi meninggalkan mereka semua untuk selamanya.


Dengan dibantu Satria, Ketiganya naik bergantian ke atas. Sementara Kai tak melepaskan tangannya dari bahu Naya yang terus naik turun karena menangis.


Perlahan tanah diturunkan, tangis Naya pun semakin lama semakin keras dan pilu menyayat hati. Al dan yang lain membantu menimbun tubuh Akbar dengan tanah, air mata mereka pun tak henti menetes menatap tanah yang semakin memenuhi liang lahat. Hingga akhirnya tubuh kaku itu benar-benar tertimbun sempurna dibawah gundukan tanah basah yang sudah dipenuhi bunga.


Para pelayat mulai meninggalkan pemakamanan setelah seorang ustadz selesai membacakan doa untuk almarhum. Banyak ungkapan bela sungkawa dari para pelayat sebelum meninggalkan area pemakaman.


"Kita pulang ya.." Bujuk Ken pada Naya yang masih bersimpuh disamping gundukan tanah yang masih nasah itu.


Naya menggeleng, tangannya mengelus foto lelaki tampan yang ada diatas gundukan tanah yang dipenuhi bunga itu. Air matanya seolah tak habis meski sudah menangis sejak pagi. Jangan tanyakan seperti apa wajahnya. Wajah cantiknya terlihat sangat pucat dengan mata merah yang bengkak parah.


Al berjongkok disamping Naya yang masih meratapi kepergian Akbar. Ia ikut mengelus nisan sahabat baiknya itu. Mengapa harus seperti ini, pikirnya.


"Kenapa lo pergi Bar. Kenapa lo bikin Kanaya kita nangis sampe kaya gini. Gue takut Bar..gue takut nggak bisa balikin senyum dan kebahagiaan Naya, Bar. Gue takut.."

__ADS_1


"Kenapa lo ninggalin pesan itu, kenapa lo meminta sesuatu yang bakal sulit gue lakuin tanpa lo". Al terus mengelus nisan Akbar. Hatinya gamang, kini apa yang harus ia lakukan dengan semua pesan terakhir Akbar untuknya.


Mampukah ia untuk mengambalikan senyum itu? Kebahagiaan itu? Mampukah ia membuat gadis itu kembali hidup dan berbahagia tanpa Akbar.


__ADS_2