Imperferct Partner

Imperferct Partner
Nyonya muda Mahendra


__ADS_3

Sudah 1minggu Kirei dan Tama tidak bertemu. Seluruh persiapan pernikahan keduanya juga sudah rampung sempurna. Hanya tinggal menunggu hari dimana kedua terikat oleh ikatan suci pernikahan. Tepatnya dua hari lagi. Hingga kini Daniel masih terus mencoba membujuk Kirei untuk membatalkan pernikahannya dengan Tama. Daniel benar-benar dibutakan oleh cintanya pada Kirei hingga melupakan Arin yang masih setia menanti cinta Daniel untuknya.


Sejak kejadian Saga dan Gery memergoki keduanya sedang berciuman, Kirei akan terus menghindar dari duo sableng yang senang sekali menggodanya hingga wajahnya memerah menahan malu. Pun saat ini ketika kedua manusia sableng itu dikirimkan khusus oleh calon ibu mertuanya untuk menjemput dirinya dirumah sakit. Ya, Kirei masih bekerja hingga hari ini. Setelahnya ia akan mengambil cuti untuk pernikahannya dan 'bulan madunya' bersama Tama.


"Selamat siang dokter Kirei". Jelas sapaan Saga mengandung sejuta makna yang membuat Kirei menghela nafasnya panjang. Benar-benar hari yang kurang beruntung bertemu dengan dua makhluk minim akhlak itu lagi.


"Lo dijemput mereka Ki?? Kok kaga dijemput pak Tama?". Tania yang sedang bersama Kirei langsung menanyakan tanpa sungkan.


"Calon manten mereka, kudu dipingit. Takut terjadi sesuatu yang iya-iya". Sahut Gery cepat yang langsung disetujui oleh Saga.


"Yang iya-iya gimana?". Tanya Tania bingung dan langsung mendapat sikutan dari Juna yang juga berada disampingnya.


"G*blok dipelihara. Yang di apartemen waktu itu iya-iya nya". Bisik Juna namun masih terdengar oleh Kirei dan duo semprul yang sudah tertawa-tertawa menatap Kirei dengan senyum meledek.


"ooooh.." Tania hanya ber oh ria ketika ingatannya berputar pada kejadian saat dirinya dan Juna memergoki Kirei dan Tama dalam posisi yang cukup 'panas'.


"Wiiiih..lo berdua kayanya juga dapet nonton siaran langsung ya?". Tanya Saga memancing.


"Beeuuhh..bukan cuma siaran langsung pak Saga, duh pokoknya ma-----" Mulut Tania sudah dibekap kuat oleh Kirei. Kirei memberikan tatapan tajam pada Tania dan Juna yang langsung nyengir menampakkan deretan giginya.


Sejak kejadian Daniel mendatangi Kirei dirumah sakit, Arin lebih sering menghindar dari Kirei. Membuat Kirei dan dua teman lainnya merasa heran dengan tingkah Arin yang terkesan menghindari mereka.


"Berisik lo semua!". Ketus Kirei berjalan lebih dulu meninggalkan empat orang yang tengah menertawakannya.


"Kita tinggal dulu ya. Nyonya besar udah keluar tanduknya". Gery berjalan meninggalkan Juna dan Tania setelah berpamitan, diikuti Saga dibelakangnya. Kirei sudah duduk manis dikursi belakang sambil memainkan hpnya. Ia tidak ingin sepanjang perjalanan dirinya diledek oleh kedua manusia menyebalkan yang sudah bertugas menjadi supirnya hari ini.


"Mau kemana dulu nyonya??". Tanya Saga menyindir membuat Kirei mencebik.


"Balik lah. Lo berdua mau digorok ama emak gue kalo ngajak gue mampir-mampir". Jawab Kirei ketus membuat kedua orang yang duduk dibangku depan tertawa.


Mereka sudah tahu bahwa harus segera pulang. Namun menggoda Kirei menjadi kesenangan baru untuk keduanya.


Ara dan Dev beserta keluarga besar Kirei sudah berada di kota itu sejak sepuluh hari lalu. Namun karena hari ini Arka dan Dirga sedang sibuk, jadilah duo sableng itu yang menjemput Kirei atas perintah Riana.


"Kaga mau makan dulu bu Tama?". Tanya Saga menyindir membuat Kirei mengangkat wajahnya dan menatap jengah pada dua orang menyebalkan yang masih setia dengan senyum mengejeknya.


"Pulang". Sahut Kirei singkat. Tubuhnya terlalu lelah untuk menanggapi si sableng itu.


Akhirnya kedua manusia minim akhlak itu memilih diam ketika melirik Kirei dibangku belakang sudah memejamkan mata.

__ADS_1


#####


Tubuh indahnya sudah dibalut dengan kebaya berwarna putih yang sangat cantik. Begitu pas menempel di tubuh indahnya. Membuat siapapun yang melihatnya akan terpukau karena kecantikannya.


"Kamu cantik banget Ki.." Puji Alma tulus. Perut gadis itu sudah membuncit. Mungkin hanya beberapa minggu lagi menunggu kelahiran keponakan pertama Kirei itu.


Kirei tersenyum menanggapi ucapan Alma. Ia menatap dalam netra kakak iparnya itu. Selama ini hanya Alma yang tahu bagaimana perasaan Kirei yang sesungguhnya. Hanya Alma tempat Kirei membagi keluh kesahnya. Tentang keraguannya menikah dengan Tama. Dirinya terlalu takut menikah, jika akhirnya hanya akan mengecewakan kedua orang tuanya dan menyakiti perasaannya sendiri.


Alma mendekat, memeluk lembut tubuh Kirei yang sudah dibalut dengan kebaya yang menambah kecantikan Kirei.


"Kamu harus yakin Ki..Allah tidak akan memberikan ujian yang tidak sanggup kita lalui. Mungkin ini cara Allah memberikan kebahagiaan sama kamu setelah 6tahun tersiksa dengan perasaan kamu sendiri" Alma mengelus punggung Kirei. Sekuat tenaga Kirei menahan laju air matanya agar tidak merusak riasannya. Rasanya tidak lucu jika ia keluar dengan makeup seperti zombie.


"Tapi gue takut Al..gue takut ngecewain ayah sama buna. Gue takut nggak bisa jalanin ini dengan baik". Ucap Kirei balas memeluk Alma.


"Percaya sama Allah Ki..aku lihat kak Tama juga lelaki baik dan bertanggung jawab. Tidak ada salahnya mencoba mencintai laki-laki lain Ki". Nasehat Alma dengan senyum lembut.


"Lelaki baik dari mananya. Pacarnya aja udah kaya warung. Tiap belokan ada". Cibir Kirei dalam hati. Namun semua itu hanya bisa ia ungkapkan dalam hatinya saja. Karena selama ini Kirei tidak pernah menceritakan bahwa Tama adalah seorang cassanova dengan segudang prestasinya dibidang menakhlukkan hati wanita.


Tidak lama, pintu kamar hotel kembali terbuka. Menampakkan dua wanita yang begitu Kirei cintai. Siapa lagi jika bukan sang ibu beserta sang nenek yang meski sudah berumur tetap terlihat cantik.


"Aaah..cucu oma cantik sekali". Oma Anika merentangkan tangannya, meminta Kirei masuk kedalam pelukannya. Dengan senyum mengembang, Kirei berjalan menghampiri wanita tua yang sudah melimpahinya dengan banyak kasih sayang sepanjang hidupnya.


"Oma tidak menyangka..Allah memberikan oma umur panjang untuk melihat cucu-cucu oma menikah. Bahkan sebentar lagi oma akan memiliki cicit". Ucap oma Anika melirik Alma yang berdiri tidak jauh darinya. Wanita tua itu merasa sangat bersyukur dengan segala yang diberikan Allah padanya.


"Oma akan selalu sehat. Melihat anak cucu oma serta cicit oma yang akan segera launching". Ucapan Kirei memancing tawa dari penghuni kamar yang semalam ia tempati itu.


Sedangkan saat ini Tama sedang merasakan jantungnya berdetak tak normal. Didepannya sudah duduk Dev dan penghulu yang akan membantunya mengucapkan ijab qabul.


Tangannya terasa berkeringat dingin, padahal ballroom hotel itu sudah memakai banyak pendingin udara.


"Tenang..biasanya kamu santai". Ayah Tama menepuk pelan pundak anaknya. Terlihat jelas ketegangan di wajah anak tampannya itu. Membuat Akmal dan Riana terkekeh geli melihat raut wajah tegang Tama.


"Kamu ini..main-main sama.perempuan saja jagoan. Giliran dihadapin ama penghulu keringat dingin begitu". Ledek Riana membuat dua teman sablengnya tergelak. Mereka tidak tahan melihat Tama yang terus menyeka keringatnya dengan tisu yang terus disodorkan oleh Riana.


"Ini bukan main-main yah. Ini nikahin anak orang. Ya kali Tama bisa santai". Jawab Tama bersungut-sungut membuat mereka semakin senang menggoda.


Dev mengulurkan tangannya yang langsung digenggam Tama dengan erat. Dev dapat merasakan kegugupan calon menantunya, sudut bibirnya sedikit terangkat merasakan tangan Dev berkeringat dan terasa sangat dingin.


"Wiratama Aksa Mahendra"

__ADS_1


"Saya"


"Aku nikahkan dan aku kawinkan engkau dengan putri kandungku, Kirei Gayatri Natakusuma dengan maskawin seperangkat alat shalat dan satu set perhiasan dibayar tunai".


"Saya terima nikah dan kawinnya Kirei Gayatri Natakusuma dengan maskawin tersebut diatas dibayar TUNAI!". Suara lantang Tama menggema di ballroom hotel tempat diadakannya acara.


"Bagaimana saksi? Sah?". Tanya penghulu pada saksi


"SAAAAAH". Terdengar seruan serentak dari saksi dan tamu yang menghadiri acara akad nikah Tama dan Kirei.


Didalam kamarnya, Kirei menatap wajah Tama dan sang ayah yang terpampang jelas dilayar televisi yang ada didalam kamarnya. Kini statusnya sudah berubah, menjadi istri seorang Wiratama Aksa Mahendra. Itu artinya, dirinya harus mengabdikan diri pada sang suami. Terlepas dari semua alasan yang membuat mereka bersatu.


Alunan doa dari penghulu membuat suasana begitu khidmat. Semua orang menundukkan kepala dengan tangan menengadah pada sang pencipta.


Dev bangkit, begitupun Tama. Dev memeluk Tama, kini putrinya sudah menjadi milik lelaki yang ada dalam pelukannya ini. Ada rasa sedih, bahagia menjadi satu.


"Ayah titipkan putri ayah padamu. Jaga dan cintai dia seperti kami menjaga dan mencintainya. Tegur dia jika melakukan kesahalahan. Jangan pernah membentak dan memakinya, karena kami tidak pernah melakukannya. Jika suatu saat kamu merasa bosan dan tidak ingin dia ada disampingmu, kembalikan dia pada kami baik-baik. Kami akan menerimanya kembali dengan tangan terbuka". Dev berkata panjang lebar pada lelaki yang baru beberapa menit lalu menjadi menantunya.


"Tama tidak bisa menjanjikan apapun pada ayah..tapi Tama akan melakukan apapun untuk membahagiakan Kirei..apapun. Tama tidak akan membiarkan Kirei mengeluhkan apapun tentang Tama. Ayah bisa mempercayakan Kirei pada Tama". Tama berkata dengan mantap tanpa sedikitpun keraguan.


"Aku memang tidak mencintai Kirei yah, atau mungkin belum. Tapi aku berjanji akan membuatnya bahagia. Aku tidak akan membuatnya menderita hidup bersama denganku". Batin Tama penuh tekad.


Kirei digandeng oleh Ara dan Tania menuju ballroom tempat diadakan akad nikah. Ia tampil cantik hingga membuat mata para tamu terus terfokus padanya. Pun dengan Tama yang bahkan lupa berkedip menatap Kirei. Benarkah itu gadis galak yang selama ini terus bersamanya??


"Cantik". Gumam Tama dengan senyum merekah.


"Cih..baru sadar kalo Kirei cantik". Cibir Riana yang tidak sengaja mendengar gumaman Tama.


Saat ini Kirei dan Tama saling berhadapan, memuji pesona pasangannya dalam diam. Hanya senyum keduanya yang menjelaskan betapa mereka saling mengagumi satu sama lain.


Kirei mencium punggung tangan Tama dengan takzim, kemudian Tama mencium kening istrinya lama. Berusaha menyalurkan perasaan yang hingga saat ini masih belum dimengerti oleh keduanya. Jepretan kamera tidak membuat keduanya terganggu.


Acara akan dilanjutkan dengan resepsi setelah Kirei dan Tama beristirahat terlebih dahulu.


Saat ini Kirei sedang berada dikamarnya, sementara Tama masih berada di ballroom untuk menerima beberapa tamu yang datang. Resepsi keduanya akan dilakukan siang nanti. Masih ada beberapa jam untuk beristirahat. Kirei memutuskan melepas hiasan rambut dan menghapus makeup nya terlebih dahulu.


Badannya sudah terasa lengket dan tidak nyaman. Ia memutuskan untuk mandi sebelum nanti kembali dirias dan berganti dengan gaun pesta nya.


Kirei mengguyur tubuhnya dibawah shower, merasakan air dingin yang menyapu seluruh tubuhnya. Terasa segar dan menenangkan. Tak pernah ada dalam rencananya menikah di usia semuda ini. Bahkan tidak sedikitpun terbayang. Namun semua sudah terjadi, kini dirinya sudah resmi menjadi nyonya muda Mahendra.

__ADS_1


__ADS_2