
Kirei dan Tama kembali tinggal bersama. Walaupun kini hanya sekedar tinggal berdua, karena Kirei lebih memilih tidur dikamar terpisah dengan Tama. Ia belum bisa mempercayai bibir manis Tama yang selalu menyatakan cinta padanya. Bibir yang sama yang membuatnya kehilangan kepercayaan pada lelaki itu.
Semua ia lakukan demi kedua orang tua dan mertuanya yang dengan memelas memintanya untuk memberi kesempatan pada suami sablengnya itu.
"Pagi sayang.." Sapa Tama yang baru saja keluar dari kamarnya. Hari-harinya selalu ceria semenjak kepulangan sang istri satu minggu lalu. Meski kini ia tidak bisa mendapatkan perhatian dan cinta Kirei seperti sebelumnya, ia bertekad akan membuat istrinya jatuh cinta padanya untuk kedua kalinya.
"Pagi". Jawab Kirei pendek. Wanita berprofesi dokter itu sudah rapi dengan dress cantik berwarna peach. Ia sedang menikmati kopi nya. Entah sejak kapan ia menyukai kopi.
" Istri mas cantik banget sih". Puji Tama tulus. Antara bahagia dan tak rela melihat istrinya semakin hari semakin terlihat cantik.
"Hari ini mas anterin ya..nanti pulangnya mas jemput". Ucap Tama membuat Kirei menoleh.
" Nggak perlu". Jawaban Kirei membuat Tama menghela nafas berat. Sudah satu minggu bersama dan istrinya masih betah memberikan wajah dingin padanya. Bahkan Kirei sangat jarang, bahkan hampir tidak pernah memulai obrolan dengan Tama.
ting tong
Bunyi bel apartemen membuat Kirei bangkit dan segera berjalan untuk membukakan pintu tamunya.
"Mbak Kireiiii.." Suara cempreng Annisa membuat Kirei tersenyum.
"Assalamualaikum Annisa..." Sindir Kirei membuat Annisa menggaruk tengkuknya.
"Assalamualaikum mbakku. Selamat pagi". Annisa mengucapkan salam dengan benar kali ini.
" Wa'alaikum salam.. Ada apa pagi-pagi kesini?". Tanya Kirei
"Disuruh ibu. Inget anak gadisnya yang satu suka sama nasi goreng buatannya". Annisa mengangkat rantang ditangannya. Membuat Kirei semakin melebarkan senyumnya.
" Siapa sayang tamu nya?". Tama tiba-tiba sudah berdiri dibelakang Kirei.
"Eh..ada Annisa". Ucap Tama berbasa-basi.
" Masyaallah..ganteng banget sih mbak suaminya. Mirip Oppa Kim". Annisa menatap kagum pada Tama yang tersenyum geli melihat kelakuan Annisa.
"Pantes aja temen-temen aku kaya orang sinting kalo liat kak Tama". Tanpa sadar Annisa menangkup pipinya dengan kedua tangannya. Mengagumi ciptaan tuhan yang hampir sempurna.
" Oppa Kim?". Beo Tama membuat Annisa mengangguk semangat. Sementara Tama penasaran, Kirei sudah bosan mendengar Annisa menyamakan Tama dengan idol korea yang kalau dipikir memang ada banyak kemiripan dengan suaminya.
"Iya kak. Oppa Kim". Sahut Nisa antusias.
" Oppa Kim Seokjin, kak. Masa kak Tama nggak tau sih". Annisa mencebik kesal melihat Tama menggelengkan kepalanya.
"Dia itu terkenal loh kak". Celoteh Annisa masih tak terima jika orang yang ia samakan dengan kpop idol yang begitu ia gilai tak mengetahui jika dirinya begitu mirip dengan idol kpop yang bernama Kim Seokjin itu.
" Dia nggak kenal dek. Mbak juga kalo nggak kamu yang tiap hari ngocehin mas Kimin mas Kiminmu itu mbak nggak akan tahu". Goda Kirei membuat Annisa melotot tak terima.
"Oppa Kim mbak..Kimin Kimin. Siapa Kimin?". Tanya Annisa kesal. Kirei merangkul pundak gadis itu kemudian mengajaknya masuk. Karena Sejak Annisa mengoceh mereka masih berdiri didepan pintu.
" Kimin itu OB yang suka bersihin apartemen ini". Jawaban Tama membuat Annisa melotot menatap galak perempuan yang kini tertawa.
"Mbak Kireiiiii..ih jahat. Masa suaminya sendiri disamain kaya OB". Rengek Annisa membuat Kirei semakin kencang tertawa.
" Mbaaaak..!!" Sengit Annisa. Namun Kirei justru semakin terpingkal. Bahkan ia sampai memegangi perutnya.
Tama sangat menikmati senyum bahkan tawa Kirei yang begitu ia rindukan. Betapa cantiknya sang istri jika sedang tertawa seperti ini.
"Cantik". Gumam Tama membuat Annisa tersenyum menggoda.
" Cieeee". Godaan Annisa membuat Kirei menghentikan tawanya seketika.
"Makan bareng yuk". Ajak Kirei yang dijawab gelengan kepala oleh Annisa.
" Nisa udah makan mbak. Tuh perutnya kaya anggota dewan". Ucap Annisa mengelus perutnya yang sebenarnya sama saja seperti biasanya.
"Aku langsung pamit ya mbak. Ada kuliah pagi soalnya". Annisa meraih tangan Kirei dan mencium punggung tangannya. Ia juga melakukan hal yang sama pada Tama.
" Mas anter Annisa kedepan dulu ya. Kamu siapin nasi gorengnya aja dulu". Tanpa menunggu respon Kirei, ia segera menarik tangan Annisa kedepan. Melihat gadis itu, Tama mendapat sebuah ide brilian yang akan membuat iatrinya mau ia antarkan pagi ini.
"Ada apa kak? Aku mencium bau-bau orang ngajak konspirasi nih". Annisa memicing curiga. Tama hanya cengengesan karena ternyata gadis itu cukup cerdas mengetahui niat terselubungnya.
" Boleh nggak minta tolong?". Tanya Tama penuh harap.
"Tergantung". Ucap Annisa santai.
" Aku pengen nganter mbak mu, tapi selalu ditolak. Bisa bantu?". Tama bahkan menangkupkan kedua tangannya didepan da da.
__ADS_1
"Hmmm...oke deh. Apa kak?". Setelah berpikir sejenak, Annisa memutuskan akan membantu Tama. Karena ia tahu jika Kirei masih mencintai Tama. Ia akan membantu Tama mendapatkan cinta Kirei kembali.
Tama membisikkan sesuatu yang membuat Annisa sempat menolaknya. Namun akhirnya ia menyetujuinya setelah segala bujuk rayu Tama lancarkan.
" Tanggung jawab tapi ya". Ancam Annisa membuat Tama langsung mengangguk antusias.
"Yaudah, aku pergi dulu". Annisa hendak meninggalkan apartemen itu, namun urung ia lakukan karena Tama kembali memanggilnya.
" Buat tambah jajan. Kakak cuma punya itu yang cash". Tama memberikan beberapa lembar uang seratus ribuan pada Annisa yang terlihat berbinar mendapatkannya.
"Beneran buat aku?". Tanya Annisa dan dijawab anggukan kepala oleh Tama.
" Makasih kak Tama. Aku akan menjalankan perintah kakak sebaik mungkin". Gadis dengan rambut kucir kuda itu berjalan dengan riang meninggalkan Tama yang tersenyum melihat kelakuan Annisa.
Ia segera kembali kedalam sebelum Kirei mencurigainya. Dan saat dia kembali, dua piring nasi goreng sudah siap diatas meja makan. Pun dengan kopi racikan sang istri yang benar-benar ia rindukan.
"Makasih sayang". Tama mendaratkan kecupan dipucuk kepala Kirei yang sudah memulai sarapannya.
Kirei hanya melirik sejenak kemudian melanjutkan makannya. Hanya wajahnya yang terlihat datar. Percayalah hati dan jantungnya tak baik-baik saja.
" Ngapain lo dugem. Biasa aja!". Sengit Kirei dalam hati.
Keduanya makan dalam diam. Tama sedang membayangkan bisa mengantar sang istri lagi. Ia berdoa semoga Annisa menjalankan tugasnya dengan baik.
"Aku pergi dulu". Kirei mengulurkan tangannya untuk salim pada sang suami. Meski kesal dan marah, Kirei tak melupakan kewajibannya sebagai seorang istri. Kecuali satu kewajiban. Kewajibannya diatas ranjang, ia belum bisa memenuhinya saat ini.
" Kita bareng. Mas juga mau turun". Tama segera bangkit. Memasukkan ponselnya kedalam saku celananya. Kirei hanya mengangguk menjawab ucapan Tama.
"Loh..kok". Wajah Kirei terlihat bingung. Bagaimana tidak, dua ban mobilnya kempes tanpa sebab. Padahal semalam masih baik-baik saja.
" Kenapa sayang?". Tanya Tama menatap Kirei.
"Ban mobil aku". Tama mengikuti arah tangan Kirei menunjuk. Diam-diam ia tersenyum puas dengan hasil kerja Annisa.
" Good job Nisa. Nanti kakak tambah uang jajanmu deh". Batin Tama puas.
Ia melirik Kirei. Berkali-kali istrinya itu melihat jam tangannya. Tama memang paling bisa melihat kesempatan.
"Mas antar. Bentar lagi kamu udh mulai praktek kan?". Tanya Tama
"maaf merepotkan". Ucap Kirei
" Mas seneng bisa nganterin kamu Ki". Balas Tama senang.
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Kirei hanya diam tanpa suara. Ia masih enggan bersikap seperti dahulu pada Tama.
"Mampir studio sebentar ya?". Tanya Tama membuat Kirei menoleh dengan sebelah alis terangkat.
" Mas udah telpon Juan. Kata Juan kamu udah digantiin sama Tania". Imbuhnya menjelaskan. Akhirnya Kirei menurut meskipun sebenarnya enggan.
Sesampainya mereka di studio foto Tama, mereka disambut Gery dan Saga yang sudah berdiri didepan pintu.
"Gawat Tam". Ucap Gery panik ketika melihat Tama berjalan mendekat, namun sedetik kemudian matanya melebar melihat perempuan cantik yang berjalan dibelakangnya, yang tak lain adalah Kirei.
" Gawat kenapa?". Tanya Tama. Sementara Kirei hanya mendengarkan dengan santai.
"Kenapa? Malah bengong lo ditanyain". Lidah Gery dan Saga tiba-tiba kelu.
Tama berjalan melewati keduanya diikuti Kirei. Sementara Saga dan Gery semakin panik melihat Tama berjalan menuju ruangannya.
" Mam pus! Bakal ada perang dunia lagi!". Ucap Gery menepuk bahu Saga yang masih menatap Tama berjalan bersama Kirei.
"Cegat go blok!!! Kenapa malah kita biarin!!!". Pekik Saga setelah tersadar dari keterkejutannya.
" Tam..woiii!!! Tama!!!". Teriak keduanya berlari mengejar Tama.
"Lo..lo berdua pada ngapain? Kan pagi ini Kirei ada praktek kan? Kok kesini?". Tanya Gery setelah berhasil mencegah Tama membuka pintu ruangannya.
" Ada yang ketinggalan. Kemaren gue lupa". Ucap Tama santai dan hendak menggeser tubuh Gery dan Saga yang berdiri menghalangi pintu.
"Apaan? Biar gue ambilin". Timpal Saga.
" Biar gue ambil sendiri". Ucap Tama sedikit bingung
"Mau ambil apaan sih? Ama gue aja". Saga kekeh menghalangi jalan Tama.
__ADS_1
" Lo berdua kenapa sih? Gue cuma mau ambil kamera gue. Awas lo ah". Tama yang tak paham dengan segala kode yang diberikan kedua sahabatnya memaksa keduanya menyingkir.
Sementara dibelakang, Kirei sudah curiga dengan segala gelagat yang diperlihatkan kedua sahabat suaminya.
"Jangan masuk Tam". Cegah Gery.
" Lo pada kenapa sih hah?". Tama bahkan sampai sedikit berteriak karena saking bingungnya melihat kelakuan aneh kedua sahabatnya.
"Gue ambilin aja ya kameranya". Bujuk Saga yang disetujui Gery.
Sementara ketiganya berdebat, Kirei sudah lebih dulu berhasil membuka pintu ruang kerja suaminya hingga membuat Saga dan Gery berteriak.
" JANGAN DIBUKA!!!". Teriak Saga dan Gery bersamaan. Namun terlambat, Kirei sudah masuk diikuti Tama yang berjalan santai dibelakangnya.
Kirei yang baru saja membuka pintu mematung didepan pintu ketika melihat siapa yang baru saja keluar dari kamar pribadi Tama diruangan itu.
"Kenapa sa----" Tama melotot melihat siapa yang sepagi ini sudah ada diruangannya. Apalagi dengan pakaian yang sangat---- ah Tama sampai kehabisan kata-kata
"Eumhh.." Wanita yang sepertinya belum menyadari kehadiran orang lain diruangan itu meregangkan ototnya.
"Aksa?!". Ucap wanita yang tak lain adalah Inneke terlihat terkejut melihat banyak orang menatapnya.
Kirei hanya menatap datar Inneke. Sementara Tama merasakan jantungnya dicabut paksa melihat Inneke dengan pakaiannya, serta reaksi dingin sang istri. Bahkan dengan tenangnya, Kirei memilih duduk disofa ruangan itu sambil memperhatikan wajah tegang dari semua orang.
" Ki..ini nggak kaya yang kamu pikir sayang. Mas---" Tama menghentikan ucapannya kala Kirei mengangkat tangannya.
"Mau ambil kamera kan?". Tanya Kirei santai. Tama mengangguk cepat.
Tama bergegas mengambil kameranya didalam lemari kerjanya. Sementara Inneke terlihat menarik nafas panjang sebelum berjalan anggun dan duduk dihadapan Kirei dengan menyilangkan kakinya hingga menampakkan paha mulusnya. Gery dan Saga?? Jangan ditanyakan lagi. Bahkan sepertinya mereka lupa caranya bernafas melihat kejadian yang sedang berlaku dihadapan mereka.
" Hai, Kirei". Sapa Inneke membuka obrolan. Ia kesal dengan reaksi Kirei yang tak seperti keinginannya.
"Kamu nggak pengan tahu kenapa aku disini?". Tanya nya lagi. Sementara Kirei masih diam memperhatikan Inneke.
" Jangan bikin masalah ya Nge!!". Peringat Tama tegas yang sampai menghentikan kegiatannya mengambil kamera.
"Apa sayang? Makasih buat semalam ya". Ucap inneke manja. Tama hampir gila mendengar ucapan gila Inneke. Sementara Gery dan Saga sudah lupa cara menghirup udara. Atau udara disekitar mereka yang sudah habis karena suasana panas ini.
" Apa yang mau anda sampaikan nona Inneke?". Akhirnya Kirei memilih meladeni pembicaraan dengan Inneke.
"Kami menghabiskan malam bersama. Tapi Tama meninggalkan aku saat aku terlelap". Inneke menoleh pada Tama yang melotot sambil menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
" Darimana aku bisa langsung mempercayainya?". Tanya Kirei masih santai.
"Nggak sayang. Itu nggak bener. Mas berani sumpah". Tama yang belum menemukan kameranya bergegas mendekat pada Kirei dan duduk disampingnya.
"Apa kamu tidak lihat. Aku keluar dari kamar itu". Ucap Inneke menunjuk kamar Tama.
" Kalau tidak dengan Tama, bagaimana mungkin aku bisa masuk kesana?". Inneke tersenyum puas saat Kirei menatap Tama dalam. Namun sedetik kemudian, tawa Kirei pecah hingga membuat semua orang bingung.
"Kok ketawanya ngeri ya Ger". Bisik Saga yang masih mematung didepan pintu.
" Iye. Gue ngerinya dia ngamuk terus bantingin tu orang bedua ampe bubuk". Gery bergidik ngeri membayangkan hal-hal mengerikan yang mungkin terjadi.
"Kenapa? Kamu nggak percaya?". Tanya Inneke kesal.
" OB juga bisa keluar masuk ruangan ini nona Inneke". Telak Kirei membuat Inneke sedikit gelagapan. Namun kemudian senyum sinisnya terbit membuat Tama menelan ludahnya kasar.
"Kamu nggak percaya? Liat aja cctv ruangan ini". Tantang Inneke seolah menemukan bukti kuat atas semua ucapannya.
" Cctv". Ucap Kirei menatap Tama.
Tama segera meraih laptopnya, mencari rekaman cctv hari kemarin. Ia yakin tidak melakukan kesalahan apapun. Jadi ia dengan yakin menunjukkannya pada Kirei.
"Lok kok mati sih". Tama bahkan sampai menjungkirbalikkan laptopnya karena rekaman cctv terhenti saat dirinya dan Inneke ada diruangan itu hanya berdua.
"Lihat kan? Aku adalah orang yang terakhir datang sebelum cctv itu rusak". Ucap Inneke mambuat Tama semakin kalang kabut.
Hari kemarin, Inneke memang datang kekantornya untuk surat pemutusan hubungan kerja. Itupun dirinya tidak hanya.berdua dengan Inneke.
" Sumpah ngga kaya yang kamu lihat sayang. Kemaren ada Sgaa ama Gery. Mereka lagi ambil surat pemutusan kontaknya dia". Tama menatap Gery dan Saga meminta dukungan.
"Iya Ki. Kita ada kok kemaren. Iya kan Ger?". Ucap Saga dijawab anggukan kepala oleh Gery.
" Kenapa nggak ngaku aja sih, Sa". Ucap Inneke membuat Tama menatapnya tajam.
__ADS_1
"Lagipula mereka berdua kan sahabat Aksa. Mana mungkin mereka berkata jujur". Sinis Inneke membuat ketiga pria itu semakin gelapan. Nyawa ketiganya seolah dipermainkan malaikat maut mendengar semua kata-kata gila Inneke. Ketiganya seolah bisa melihat rumah masa depannya detik itu juga. Membayangkan apa yang akan dilakukan wanita kuat seperti Kirei pada mereka.