
Kebenaran yang terungkap tak mengubah kenyataan apapun dari kehidupan sehari-hari gadis itu. Ia tetap menolak dengan tegas jika harus pergi bersama kedua kakaknya.
Dengan berbagai alasan yang tak masuk akal dan ancaman yang juga tak masuk akal, Naya memaksa teman-teman kakaknya untuk tetap merahasiakan kebenaran tentang dirinya dan kedua kakaknya.
Sudah satu minggu berlalu sejak teman-teman sang kakak mengetahui siapa dirinya. Kedekatannya dengan Akbar semakin hari semakin ada peningkatan. Bahkan pagi ini Naya meminta ijin pada kedua kakaknya untuk pergi bersama Akbar.
"Hari ini Nay pergi sama kak Biru ya". Ucap Naya pada kedua kakak dan kedua orang tuanya
" Siapa Biru?". Tanya Kirei penasaran.
"Temennya abang". Jawabnya santai.
" Kamu masih kecil Nay. Jangan pacaran dulu. Daddy nggak ngijinin". Ucap Tama yang masih fokus pada makanannya.
"Emang Nay pacaran? Emang pacaran itu gimana dad?". Mendapat pertanyaan seperti itu dari sang putri membuatnya gelagapan sendiri. Ia lupa jika se sableng dan se somplak apapun sang anak, putri kecilnya itu memang belum mengenal apa itu pacaran dan cinta-cintaan. Kini ia merutuki mulutnya yang membahas soal pacaran dengan putrinya itu.
" Jelasin dad". Goda Kirei menahan senyum melihat suaminya bingung sendiri.
"Tanya abang. Daddy udah kesiangan". Jurus jitu langsung Tama keluarkan. Lebih baik ia pergi pagi-pagi daripada menghadapi pertanyaan-pertanyaan Naya yang bisa membuatnya mati kutu.
" Pacaran itu yang gimana mom?? Temen-temen aku juga pada pacaran". Ucap Naya membuat Kirei menatapnya.
"Emang kalo pacaran itu peluk-peluk sama cium-cium gitu mom?". Tanya Naya membuat Kirei gemas dan mencubit hidung mancung anak gadisnya.
" Anak mommy masih kecil. Belajar aja dulu ya..Nay akan tahu kalo udah waktunya..hmm??". Naya hanya mengangguk. Toh ia tak peduli dengan pacaran atau apapun.
"Akbar dateng Nay". Ucap Kai membuat Naya tersenyum.
" Assaamualaikum tante". Ucap Akbar sopan.
"Wa'alaikumsalam.." Sahut Kirei tak kalah ramah.
"Loh katanya Biru. Kok kata abang Akbar? Jadi siapa yang bener?". Tanya Kirei sedikit bingung.
" Biru mom.." Ucap Naya membuat Akbar tersenyum
"Lo mah hobi ganti-ganti nama orang dek". Ucap Kai yang sudah menyampirkan tasnya dipundak.
" Mommy pusing..katanya Biru..tapi Akbar".
"Biru itu panggilan Naya untuk saya tante. Kalo temen-temen yang lain panggil saya Akbar". Terang Akbar untuk mengurangi kebingungan Kirei.
" Ouhh..tante panggil Akbar saja ya". Ucap Kirei membuat Akbar mengangguk.
"Sarapan dulu Bar". Ajak Kirei
" Terimakasih tante. Saya sudah sarapan". Kirei tersenyum melihat kesopanan Akbar.
"Hayu ih kak Biru. Nanti Nay telat..pak bohlam nanti hukum Nay lagi". Naya sudah menarik-narik lengan Akbar yang hendak pamitan dengan Kirei.
" Seenak udel elo mah dek ngasih nama guru. Gimana ceritanya pak Wardi jadi bohlam?". Tanya Ken tak mengerti.
"Kepalanya botak..persis bohlam". Naya cekikikan sendiri membayangkan kepala plontos guru matematikanya itu.
" Udah hayu kakak..nanti aku beneran dihukum". Rengek Naya kembali menarik lengan Akbar.
" Iya sebentar..kakak pamit dulu sama mommy Nay ya.." Jawab Akbar lembut. Kirei mengangkat sudut bibirnya. Melihat sekilas saja Kirei sudah bisa menilai jika pemuda itu menyukai putrinya. Dari kesabaran dan kelembutannya terhadap Naya sudah terlihat berbeda.
"Cepet kakak.." Rengek Naya
"Iya..sebentar yaa".
" Tante..Akbar pamit dulu. Nay nya dibawa sama Akbar". Akbar menyalami Kirei dan mencium punggung tangan Kirei.
"Titip anak tante ya..dia suka manja. Sabar aja". Ucap Kirei menepuk pundak Akbar beberapa kali.
" Iya tante.."
"Kakaaaaak..ayoooo". Naya sudah berteriak didepan pintu.
" Iyaaa..sebentar". Sahut Akbar.
"Saya pamit tante..Assalamualaikum". Kirei mengantar anak-anaknya sampai depan pintu. Melihat Ken memberi petuah pada temannya.
" Ati-ati bawa motornya. Kita berdua ikutin dari belakang". Ucap Ken pada Akbar.
"Tenang aja".
__ADS_1
Akbar membantu Naya memasang helmnya. Semua perlakuan Akbar tidak luput dari penglihatan kedua kakak dan ibu Naya.
" Pegangan yang bener, Nay sayang". Peringat Kirei yang melihat Naya tidak berpegangan.
"Siiap mom. Peluk boleh kan?". Tanya nya nyengir membuat Kirei melotot.
" Becanda kanjeng..heheh". Kirei menggeleng melihat kelakuan Naya.
"Pegangan dek! Jangan becanda diatas motor". Kini Ken yang memperingatkan.
" Iya abangku". Naya berpegang pada pinggang Akbar yang langsung merasa tubuhnya membeku.
"Lewat jalan tikus aja. Kita udah kesiangan". UcapKai menatap jam tangannya.
" Lo depan Bar. Kita ikutin". Ken memasang helmnya.
"Daaaa mommy..Nay pergi dulu. Assalamualaikum". Teriak Naya dari atas motor.
" Wa'alaikumsalam". Jawab Kirei.
" Naya..Naya. Bahkan jatuh cinta pun kamu nggak sadar sayang". Kirei menatap Naya yang melambaikan tangan padanya. Ia melihat binar-binar cinta dari mata putrinya untuk pemuda yang bernama Akbar itu.
"Semoga apa yang mommy alami tidak kamu alami sayang". Gumam Kirei.
Ken memberi kode pada Akbar untuk menambah kecepatan motornya. Atau mereka akan dihukum berjamaah jika sampai telat sampai disekolah.
" Pegangan ya Nay. Kakak agak ngebut". Teriak Akbar.
"Oke..yang ngebut banget kak". Naya balas berteriak.
Naya membelitkan tangannya diperut rata Akbar yang menambah laju kecepatan motornya. Tak butuh waktu lama untuk mereka sampai disekolahnya.
Seperti saat akan berangkat, ketika Naya sudah turun dari motor pun Akbar membantu Naya melepaskan helmnya. Sementara Ken dan Kai mengawasi dari tempat yang tak jauh dari Akbar dan Naya berada.
" Kakak anter ke kelas?". Tawar Akbar membuat Naya tersenyum manis.
"Emang nggak ngerepotin kakak?". Tanya nya tak enak. Akbar selalu baik dan sabar padanya. Ia tak ingin dianggap memanfaatkan kebaikan Akbar.
" Sama sekali enggak. Ayo". Dengan senyum lebar, Naya berjalan bersisian dengan Akbar yang terlihat lebih tampan pagi ini. Aaah..otak Naya mulai tercemar dengan pemikiran tentang laki-laki.
"Kak Biru ganteng banget ya.." Batin Naya yang sesekali mencuri pandang.
"Gila ya si Naya..kemaren ama Ken, sekarang sahabatnya sendiri yang diembat".
" Udah kaya cewek panggilan tu orang".
"Udah ganti aja sekarang ama kak Akbar".
" Jijik gue liatnya juga".
"Muka aja sok polos, ternyata semua diembat".
" Gila ya..semua cowok ganteng disekolah dicicipin ama tu cewek. Nggak nyangka".
"Dibelakangnya diikutin kak Ken ama kak Kai dong. Gila si Naya".
" Waah tu bocah bisa bikin persahabatan Kak Ken ama kak Akbar ancur".
Masih banyak lagi bisikan yang terdengar jelas oleh Naya dan Akbar. Pun dengan Ken dan Kai yang sudah mengepalkan tangannya kuat hingga buku jarinya memutih.
Akbar yang sudah tak tahan hendak melabrak orang yang membicarakan Naya tanpa tahu kenyataan dan kebenarannya. Ia benar-benar benci mendengar segala hal buruk tentang Naya. Namun Naya menahan lengan Akbar, ia tahu jika Akbar akan memarahi orang-orang yang membicarakannya, oleh karena itu ia menahan Akbar.
"Diemin aja kak. Toh ini salah aku sendiri yang nggak jujur tentang status aku". Ucap Naya
" Tapi nggak bisa gitu juga Nay..mereka keterlaluan". Geram Akbar membuat senyum Naya semakin lebar. Ia bahagia dibela Akbar.
"Gausah abisin waktu buat mereka kak..nanti mereka juga capek sendiri". Inilah Naya, dia sudah terlalu kebal dengan cacian dan sindiran dari orang-orang yang tak mengenalnya.
" Tapi mereka perlu dikasih pelajaran dek". Naya langsung menoleh, menatap Akbar dengan mata mengerjap. Ia sudah biasa dipanggil adek oleh kedua kakaknya ataupun Satria. Namun Akbar? Ini pertama kalinya mulut lelaki itu memanggil Naya adek. Rasanya sedikit berbeda dan menghangatkan hatinya seketika.
"Naya? Kanaya?? Hei..kok bengong sih". Akbar yang sedari tadi ngoceh kesana sini ternyata diacuhkan oleh Naya yang sedang tak fokus.
" Eh..iya..apa kak?". Tanya Naya bingung.
"Kamu mikirin apa sih hm?? Mikirin omongan orang-orang nggak jelas itu ya?". Tanya Akbar khawatir.
" Biar kakak kasih pelajaran ya. Biar dibiasain pada jaga mulut". Akbar hendak berbalik namun Naya kembali mencegahnya.
__ADS_1
"Nggak usah kakak..yaampun. Buang-buang waktu kak". Ucap Naya menenangkan.
" Lagian udah ada guru yang ngasih pelajaran ke mereka kak. Kalo masih pada bodo ya berarti kapasitas otaknya yang kecil". Naya terkikik mencerna ucapannya.
Akbar yang gemas akhirnya mengacak rambut Naya yang jadi berantakan akibat ulahnya. Sementara Ken dan Kai yang melihat interaksi Akbar dan Naya hanya saling pandang dan tersenyum penuh makna.
"Temen lo mabok cinta". Ucap Ken membuat Kai tergelak.
" Udah jadi bucinnya si Nay dah tu bocah". Kai menggeleng kan kepalanya. Heran dengan Akbar yang selama ini bahkan tak pernah melirik perempuan- perempuan yang mendekatinya selama ini. Tapi kini dengan gadis sejenis adiknya lelaki itu takhluk.
"Yang diliat dari bocah sableng apaan coba Ken? Cewek yang antri jadi pacar dia banyak. Tapi mentok di si Naya"/ Ucap Kai bingung.
" Mana gue tau". Ken mengangkat bahunya acuh.
Ya..Akbar memang lelaki humble dan ramah, hingga membuat banyak gadis menaruh harapan pada pria itu. Namun harapan mereka selalu kandas karena Akbar memang tak pernah membuka hati untuk siapapun.
"Adek lo pake pelet apaan Ken?". Tanya Kai
" Lo kata si Akbar ikan, dikasih pelet segala". Keduanya tertawa melihat Akbar yang bahkan mengantarkan Naya sampai depan pintu kelasnya.
"Lah..kita yang blo on! Ngapain kita jadi buntutnya orang lagi mabok cinta?!". Kai menempeleng kepala Ken yang menatap saudara kembarnya dengan tatapan bingung.
" Lah iya..kita yang koplak". Keduanya lalu tertawa dan berbalik menuju kelas mereka.
"Makasih ya kak udah nganter Nay ampe depan kelas". Ucap Naya malu-malu. Benar-benar remaja yang tengah kasmaran.
" Sama-sama. Kakak ke kelas dulu ya". Akbar menepuk pelan pucuk kepala Naya hingga membuat jantung Naya seolah berlompatan.
"Hmm.." Naya hanya bisa menjawabnya dengan gumaman lantaran sudah salah tingkah sendiri.
Tiba-tiba Akbar menundukkan wajahnya hingga wajah tampan itu kini berada tepat didepan Naya. Membuat gadis itu semakin salah tingkah saja. Akbar memegang kepala Naya dan menatapnya dalam sambil tersenyum.
"Jangan senyum mulu woiii!! Jantung gue kenapa?? Jangan-jangan gue punya kelainan jantung". Batin Naya yang tubuhnya seolah kaku tak bisa digerakkan hanya karena jaraknya dan Akbar yang begitu dekat.
" Belajar yang bener. Jangan ribut mulu dek. Oke?". Akbar menoel hidung Naya sebelum menegakkan tubuhnya.
"Daaa Naya..ketemu istirahat nanti ya". Naya tak menjawab. Ia mematung didepan kelasnya setelah menerima perhatian dari Akbar. Selama ini Ken dan Kai sering memperlakukannya lembut..bahkan sangat lembut. Namun mengapa dengan Akbar rasanya sangat berbeda.
Perlahan tangannya terangkat dan memegang kepalanya sendiri. Tak lama ia jadi senyum-senyum sendiri seperti orang gila.
" Lah temen sableng lo kenapa lagi tuh May?". Tanya Ibra pada Mayra. Keduanya baru saja sampai dan hendak ke kelasnya.
"Lah iya..malah kaya patung selamat datang gitu". Ucap Mayra.
" Bra..jangan-jangan itu temen sableng elo kesambet. Kaga kedip-kedip woiii". Mayra memukuli lengan Ibra ketika melihat Naya tersenyum terus, bahkan tak berkedip.
"Lah iya..panggil coba". Ibra mendorong bahu Mayra untuk mendekat pada Naya.
" Nay..Naya??". Mayra mencoba memanggil Naya beberapa kali. Namun hasilnya nihil.
"Wah beneran kesambet May". Ucap Ibra heboh.
" Blo on lo!! Bantuin gue lah panggil dia!!". Omel Mayra.
"Nay..Naya.."
"KANAYAAAAA..WOOOOIIIII!!!!". Ibra berteriak didekat telinga Naya hingga membuat gadis itu terkejut bukan main
" Eh si koplak lo berdua ya. Mau bikin gue budeg hah!!!". Naya langsung menyembur kedua teman lucknut nya itu.
"Bener-bener lo berdua temen kaga ada akhlak, lak nat nya kaga ada duanya". Naya masih terus mengomel hingga membuat kedua temannya bernafas lega.
" Lah..bener-bener temen sableng ya lo berdua. Malah keliatan lega banget gue kaget". Ucap Naya berapi-api. Bahkan gadis itu sudah bertolak pinggang dihadapan kedua temannya.
"Berarti lo sehat. Kaga kesambet". Ucap Akbar membuat Naya mengernyit bingung.
" Lo dari tadi bengong Nay. Kita panggil kaga jawab. Kita kirain lo kesurupan". Jelas Mayra membuat Naya melotot.
"Kesurupan gundulmu kui!!". Sengit Naya tak terima membuat kedua temannya terbahak.
" Udah yuk Bra. Kita ke kelas..temen kita masih aman kokm Dia masih tetep sableng". Mayra hendak menarik lengan Ibra.
"Dasar lo ya Beha!! Temen kaga ada akhlak. Lo juga, sepupu somplak!. Gue doain lo berdua jodoh!!". Teriak Naya kesal membuat Mayra melepaskan tangannya.
" Doa orang sinting!!!" Teriak Mayra dan Ibra bersamaan.
Kedua melenggang santai menuju kelasnya yang berjarak 3ruangan dari kelas Naya.
__ADS_1
"Kanaya..ngapain kamu berdiri didepan pintu hah?". Suara horor yang tak ingin Naya dengar. Perlahan ia memutar kepalanya. Dan benar saja, pak Wardi sudah berdiri disana dengan tampang sangar.
" Ini pak..mau masuk. heheh". Naya langsung masuk kedalam kelas sebelum pak Wardi mengajaknya berdebat dan akan berakhir dengan sebuah hukuman.