
Tama nampak gusar didepan ruang operasi, berkali-kali ia mengusap kasar wajahnya. Beberapa kali pula calon ayah itu menjatuhkan tinjunya ke tembok disampingnya untuk mengeluarkan segala rasa pedih dihatinya yang merasa gagal melindungi istri dan anak-anaknya itu. Sebisa mungkin ia berusaha tenang dan tak menangis,meski dirinya sangat ingin menangis saat ini. Separuh nyawanya seolah ikut menghilang dibalik pintu dihadapannya itu. Lampu masih menyala, pertanda operasi masih berlangsung didalam sana.
Suara sepatu beradu dengan lantai membuatnya mengalihkan tatapannya dari pintu ruang operasi. Terlihat jelas wajah khawatir ibu dan juga ayahnya. Tak ketinggalan adik dan dua sahabatnya yang berjalan dibelakang kedua orang tuanya.
"Bu...Kirei". Tangis yang sedari tadi ia tahan akhirnya jatuh juga. Ia menangis sesenggukan dipelukan wanita yang melahirkannya 27tahun silam.
Riana menangis, namun sebisa mungkin ia menenangkan putra sulungnya yang tampak kacau dengan baju yang masih berlumuran darah.
" Tenang nak..istrimu wanita kuat. Percayalah, mereka akan baik-baik saja". Riana mengelus sayang kepala putranya yang semakin terisak dalam pelukannya.
Sementara yang lain hanya bisa menepuk pelan bahu yang biasanya terlihat kokoh itu kini terlihat rapuh.
"Gue nggak pernah liat lo serapuh ini, Tam". Batin Gery yang tak tega melihat Tama begitu hancur. Ia memalingkan wajahnya dari Tama.
" Secinta ini lo ama Kirei, Tam. Lo harus sehat Ki, lo nggak bisa ninggalin sahabat gue gitu aja setelah bikin dia cinta mam pus ama elo". Batin Saga yang tanpa sadar ikut meneteskan air matanya, menatap sedih pintu yang masih tertutup rapat itu.
"Sabar mas..mbak Kirei pasti baik-baik aja". Juan menepuk pundak kakaknya. Memberi kekuatan pada lelaki yang biasanya selengekan, kini terlihat tak berdaya.
" Jangan tinggalin mas, Ki. Mas nggak akan bisa hidup kalo kamu sampe kenapa-kenapa". Batin Tama yang kini fokusnya kembali pada pintu yang masih tertutup.
"Ayah tinggal sebentar". Akmal menyentuh pundak istrinya yang masih sibuk menenangkan anaknya. Riana mengangguk, memberi izin Akmal untuk meninggalkan mereka. Ia tahu, suaminya tengah bersedih sekaligus marah. Suaminya itu pasti tengah mengusut perihal tabrak lari yang menimpa menantu kesayangannya itu.
Akmal memberi kode pada dua sahabat Tama untuk mengikutinya, dan meninggalkan Juan bersama Riana untuk menenangkan Tama.
" Kalian pasti mengerti apa yang akan om bicarakan". Ucap Akmal dingin. Akmal yang tak pernah ia perlihatkan pada keluarganya. Gery dan Saga mengangguk paham, mereka juga menduga bahwa ini adalah kesengajaan, mengingat lobby rumah sakit bukanlah tempat rawan kecelakaan. Apalagi ini pelakunya langsung melarikan diri.
Ketiganya bergegas ke ruang cctv guna melihat kejadian yang menimpa Kirei. Tangan ketiganya terkepal kuat saat dugaan mereka memanglah benar. Mobil yang menabrak Kirei seolah memang menunggunya lengah dan langsung beraksi menabraknya.
"Kalian berdua cari tahu siapa pengemudi mobil ini. Om percayakan masalah ini pada kalian sebelum polisi turun tangan. Jangan biarkan dia lepas. Om tidak bisa ikut, om tidak mungkin meninggalkan mereka saat ini". Ucap Akmal yang fokus pada layar yang menampakkan bagaimana menantunya tertabrak dengan begitu keras. Ia membayangkan bagaimana sakitnya sang menantu.
"Serahkan pada kami, om. kami akan berusaha sebisa kami". Ucap Saga yakin membuat Akmal mengangguk.
" Anak buah om akan membantu kalian menemukannya". Akmal menepuk pundak keduanya dan berlalu keluar. Ia tak bisa meninggalkan keluarganya dalam keadaan seperti ini.
"Putar ulang". Perintah Gery pada petugas yang menjaga cctv itu. Kedua sahabat Tama itu terus memperhatikan tayangan demi memudahkan mereka menemukan pelaku yang sudah dengan kurang ajarnya membuat istri sahabatnya seperti sekarang.
Kembali keruang operasi, Tania tengah berjuang mengeluarkan bayi kembar yang masih ada didalam perut ibunya. Sementara dokter anak sudah menunggu untuk menyambut cucu dari tempat mereka bekerja.
Dokter bedah pun sudah menunggu disana untuk menangani Kirei setelah Tania selesai dengan tugasnya.
Tangis bayi pertama yang berhasil dikeluarkan Tania menggema memenuhi ruang operasi, diikuti sang adik yang hanya berbeda beberapa detik dari sang kakak.
Para dokter dan perawat yang berada disana bernafas lega karena berhasil menyelamatkan bayi dalam kandungan Kirei. Namun mereka belum bisa tenang lantaran masih harus berjuang menyelamatkan sang ibu yang tergolek tak berdaya.
Beberapa saat kemudian, pintu ruangan operasi terbuka. Dua orang perawat keluar dengan mendorong box berisi dua bayi tampan yang membuat semua orang berdiri. Tak berselang lama, Tania keluar masih dengan baju operasinya.
"Cucu nenek". Riana menghentikan perawat yang tengah mendorong box bayi berisi cucunya. Air matanya mengalir deras melihat kedua cucunya. Wajah tampan dengan mata dan hidung yang teramat mirip dengan menantu tersayangnya. Hanya bibirnya saja yang diwarisi dari putranya.
" Bapak bisa mengikuti perawat untuk mengadzani putra bapak". Ucap Tania memecahkan lamunan Tama yang menatap kosong pada dua box yang berisi dua putranya.
Bukan ia tak bahagia kedua putranya lahir ke dunia ini. Namun semua ini masih belum bisa membuatnya tenang, sebelum istrinya dinyatakan baik-baik saja.
"Kamu harus mengadzani mereka nak". Riana menepuk pundak Tama yang masih terpaku menatap dua putranya. Kebahagiaan dan kesedihan yang datang secara bersamaan.
" Tama mau nunggu Kirei, bu". Ucap Tama lirih. Air matanya kembali menetes mengingat kondisi terakhir istrinya sebelum masuk kedalam ruangan operasi.
__ADS_1
"Kamu tidak boleh egois, Tam. Mereka juga membutuhkan dirimu". Kini sang ayah memberi nasehat pada putranya itu.
" Percayalah..Kirei akan baik-baik saja. Dokter akan melakukan yang terbaik untuk istrimu". Imbuhnya meyakinkan Tama untuk segera mengadzani dua cucunya.
Dengan gontai Tama berjalan mengikuti dua perawat yang membawa kedua putranya. Dibelakangnya Juan setia mengikuti sang kakak yang terlihat begitu lemah dan tak berdaya.
Selesai mengadzani kedua putranya, Tama menatap dua bayi mungil yang terlihat terus bergerak didalam inkubator. Perlahan ia mengusap kaca yang menghalanginya untuk menyentuh bayi-bayi mungil itu.
"Doakan mommy sayang..doakan agar mommy baik-baik saja. Daddy tidak akan bisa hidup tanpa mommy kalian. Daddy tidak akan bisa merawat kalian tanpanya, dad---" Tama sudah tak sanggup meneruskan kata-katanya. Membayangkan hidup tanpa Kirei saja sudah mampu membuatnya kesulitan hanya untuk sekedar bernafas. Jika sampai Kirei benar-benar meninggalkannya, ia tidak yakin apakah ia masih mampu bertahan atau tidak.
"Mbak Kirei pasti baik-baik aja mas. Kita harus percaya itu". Juan memeluk kakaknya erat. Beberapa perawat yang menyaksikan Tama ikut merasakan kesedihan lelaki tampan itu. Mereka ikut menangis karena tak tahan mendengar tangisan pilu Tama.
Beberapa waktu berlalu, lampu ruang operasi padam. Tak berselang lama pintu terbuka, menampakkan wajah lelah seorang dokter.
" Bagaimana keadaan istri saya? Dia baik-baik saja kan?". Tanya Tama beruntun. Dokter itu hanya bisa menghela nafas panjangnya sebelum menjelaskan.
"Operasi nya berjalan lancar.."
"Alhamdulillah--" Ucap seluruh keluarga merasa lega. Namun Juan dan Akmal tahu jika ada sesuatu yang belum disampaikan oleh dokter yang menangani Kirei.
"Ada apa dengan menantuku?". Tanya Akmal membuat wajah lega Riana dan Tama kembali menegang.
" Pendarahan dikepala dokter Kirei cukup parah, tuan. Beliau saat ini masih ada didalam masa kritisnya. 24jam kedepan akan sangat riskan. Segala sesuatunya bisa terjadi dalam waktu 24jam itu". Dokter yang menjelaskan terlihat sedih diakhir kalimatnya. Bagaimanapun, Kirei adalah teman sejawatnya. Apalagi selama ini Kirei terkenal sebagai dokter yang sangat baik dan tak pernah bermasalah pada dokter atau pegawai rumah sakit yang lain.
"Bu.." Lirih Tama membuat Riana memeluknya.
"Tenang sayang..kita berdoa untuk kesembuhan istrimu. Dia wanita baik, dia wanita kuat". Riana mengelus punggung Tama yang kembali bergetar.
" Dokter Kirei adalah dokter hebat, pak Tama. Banyak orang yang akan mendoakan istri anda. Saya yakin dokter Kirei akan mampu melewati masa kritisnya". Ucap dokter yang menangani Kirei.
Dokter itu menoleh pada Akmal, seolah meminta persetujuan tentang permintaan Tama. Karena selama ini pasien dengan kondisi seperti Kirei tidak diperkenankan untuk ditemani, bahkan sekedar dilihatpun tak boleh. Akmal mengangguk, menunjukkan kelima jarinya seolah memberi batasan waktu untuk putranya melihat menantunya.
" 5menit..hanya 5menit pak Tama". Ucap dokter yang langsung membuat Tama mengangguk.
Inilah Tama saat ini, dengan pakaian khusus yang diwajibkan untuk semua petugas medis yang keluar masuk kedalam ruangan dimana istri nya tengah terbaring tak sadarkan diri. Perlahan ia mendekat, menguatkan diri agar tak roboh. Hatinya sakit, rasanya pedih melihat istrinya dengan tubuh dipenuhi alat-alat medis yang memantau setiap perkembangan organ vitalnya.
"Sayang.." Tama meraih tangan lemas istrinya, mengecupnya lembut. Takut membuat istrinya merasa sakit jika ia tak perlahan memegang tangan istrinya itu.
"Kamu capek ya? Pengen istirahat dulu seharian ini?".
" Ini pasti sakit banget ya, Ki". Tama mengelus lembut kening istrinya yang dibalut perban.
" Oh iya..mas sampe lupa sayang. Selamat sayang..sekarang kamu udah bener-bener jadi mommy. Anak-anak kamu ganteng kaya mas". Tama terkekeh pelan meski matanya terus mengeluarkan cairan bening yang sejak masuk kedalam ruangan itu tak bisa ia tahan.
"Jangan terlalu lama istirahat sayang..sekarang bukan cuma mas yang butuh kamu. Anak-anak kita juga butuh kamu". Tama kembali mengecup punggung tangan istrinya.
Tania dan Juan serta dokter yang tadi mengoperasi Kirei hanya diam mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Tama. Tania bahkan sudah menangis sejak melihat bagaimana Tama memperlakukan istrinya yang tengah berjuang melawan kematiannya.
" Mas tahu kamu wanita kuat Ki..sesakit apapun kamu pasti bisa ngelewatin ini semua".
"Pak Tama, maaf. Tapi waktunya sudah habis". Juan memberanikan diri mengingatkan Tama.
Tama menoleh pada Juan dan mengangguk meski sebenarnya enggan untuk meninggalkan Kirei seorang diri.
" Udah abis ya". Lirih Tama kemudian beralih menatap Kirei lagi.
__ADS_1
"Sayang..mas tinggal ya. Sebenernya mas mau nemenin kamu. Tapi mas tau kalo dokter disini pasti pengen kamu juga cepet sembuh, sama kaya mas".
" Inget Ki..mas sama anak-anak selalu nunggu kamu. Jadi cepet bangun ya". Tama mengecup lama kening istrinya. Ia benar-benar merasa berat untuk meninggalkan Kirei. Namun ia tak ingin egois dan membahayakan istrinya.
24jam terasa begitu lama untuk Tama. Tak sedetikpun ia lalui tanpa merapalkan doa. Bahkan tak sedetikpun matanya terpejam. Ia dengan setia menunggu istrinya diluar ruangan.
Sudah berkali-kali sang ibu memintanya untuk beristirahat. Namun Tama tetaplah Tama. Ia tak sedikitpun menuruti perintah ibu dan ayahnya.
"Tama.." Suara lembut yang begitu ia kenali membuatnya mendongak.
Ara dan Dev berdiri dihadapannya. Tama segera bangkit, sebelum sepatah katapun keluar dari mulutnya. Ara sudah memeluknya dengan erat. Menangis..hanya itu yang bisa Tama lakukan dipelukan wanita yang telah melahirkan bidadarinya.
"Bun.." Lirih Tama.
"Istrimu perempuan hebat, nak. Dia akan baik-baik saja". Ara melonggarkan pelukannya. Menghapus air mata yang mengalir dikedua pipi menantunya. Meski dirinyapun tengah menangis.
" Tenanglah..dia tak selemah itu". Dev menepuk bahu menantunya yang terlihat berantakan.
"Istirahatlah. Ayah dan buna akan menungguinya". Imbuh Dev dan dijawab gelengan kepala oleh Tama.
" Tama mau disini yah. Tama takut Kirei bangun terus Tama nggak ada". Jawab Tama membuat kedua orang tua Kirei menghela nafas panjang.
"Setidaknya istirahatkan matamu. Kau perlu tidur walaupun sebentar. Tak perlu pergi, cukup disini. Tapi istirahatlah". Ara mendudukkan tubuh tinggi menantunya dan memintanya beristirahat.
Lelah..mungkin itu yang Tama rasakan. Hingga tanpa sadar akhirnya ia terlelap dikursi panjang tempat menunggu pasien. Ara dan Riana menyelipkan bantal dan memberikan selimut yang dipinjamkan oleh pihak rumah sakit. Jangan lupakan jika Akmal lah pemilik rumah sakit itu.
" Apa sudah ada perkembangan?". Tanya Ara pada Akmal
"Ya..Gery dan Saga sedang mencari orang itu". Jawab Akmal dingin. Siang tadi ia mendapat kabar bahwa pelaku yang membuat menantunya kritis telah diketahui identitasnya.
" Abang tunggu disini. Aku akan memberi pelajaran pada manusia yang membuat putriku seperti ini". Dev menahan lengan Ara yang sudah bangkit.
"Biarkan Gery dan Saga serta anak buah mas Akmal saja yang menanganinya sayang". Cegah Dev
" Untuk kali ini, aku tidak bisa menuruti perintahmu mas. Wanita itu harus menerima akibat dari tindakan gila nya". Ara melepas tangan suaminya dan berlalu dari sana. Meninggalkan Dev dan kedua besannya yang tidak tahu bagaimana Ara hanya bengong.
"Kenapa dibiarkan pergi?". Tanya Riana panik.
" Itu terlalu berbahaya Dev". Timpal Akmal.
"Kirei mendapat semua keberanian dan kekuatannya dari ibunya. Mereka akan baik-baik saja mas, mbak". Ucap Dev menenangkan.
Saat ini Ara tengah bersama Gery dan Saga. Dengan Gery yang mengendarai mobilnya menujun sebuah tempat, dimana pelaku penabrakan Kirei berada.
" Tepikan mobilnya, Gery". Perintah Ara membuat Gery menoleh.
"Kenapa tante?". Tanya Gery setelah menepikan mobilnya.
" Pindah. Tante akan bawa mobilnya. Kamu terlalu lama mengendarai mobil ini. Bisa-bisa wanita gila itu keburu pergi". Ara turun, membuka pintu Gery dan memaksa nya turun. Kedua sahabat Tama hanya pasrah. Padahal Gery sudah mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi.
"Mam pus gue. Nyawa gue". Gery memegang erat sabuk pengaman yang membelit tubuhnya. Pun dengan Saga yang terus merapalkan doa demi keselamatannya.
" Sekarang gue tau dari mana sifat bar-bar elo Ki. Mak elo aja kaya gini banget bawa mobil. Lama-lama modar gue ini ". Saga menutup matanya rapat-rapat.
" Berani-beraninya wanita gila itu melukai putriku. Aku akan memberi pelajaran setimpal untuk wanita itu. Jangankan bahagia, untuk melihat dunia esok pun aku pastikan dia tidak mampu". Ara semakin mempercepat laju kuda besi yang ia kendarai. Ia sudah tak sabar untuk melemaskan ototnya yang sudah lama tak.berolahraga.
__ADS_1