Imperferct Partner

Imperferct Partner
alergi


__ADS_3

Kedekatan Naya dan Akbar semakin hari semakin terlihat jelas. Sementara Al hanya bisa melihat sahabat dan gadis yang entah kenapa selalu mampu mengusik hati dan pikirannya.


Setiap hari ia harus menyiapkan mata dan hatinya untuk melihat dan menerima kenyataan bahwa Akbar lah yang memang memiliki hati gadis manis itu.


Seperti saat ini, matanya sudah lelah melihat bagaimana perhatiannya Akbar pada Naya, dan bagaimana bahagianya gadis itu mendapat perhatian Akbar.


"Makasih kakak.." Seperti biasa, suara Naya selalu terdengar ceria jika berbicara dengan Akbar.


"Sama-sama..makan yang banyak ya.." Ucap Akbar sambil mengusap kepala Naya.


"Kakak tinggal bentar ya..mau jus??". Tanya Akbar yang sudah berdiri.


Naya mengangguk antusias mendapat tawaran dari Akbar. Lelaki itu memang paling pengertian. Ken dan Kai seperti tak memiliki adik, pasalnya tugas keduanya sudah dikerjakan oleh Akbar semua. Dari membeli makanan hingga minuman dan te**k bengek keinginan Naya selalu Akbar yang menurutinya.


Saat sedang makan, ada seorang siswa datang dan memberikan makanan pada Naya.


" Nay ini ada titipan buat elo Nay, katanya sih kelas sebelah.." Seorang siswi datang membawakan kue yang langsung membuat Naya ngiler..


"Siapa?". Tanya Naya


" Kaga tau..dia cuma nitip tadi. Duh mana lagi orangnya.." Siswi bernama Tika itu celingukan mencari orang yang menitipkan makanan untuk Naya.


"Tau ah dimana tadi..salam dari Dio, gitu doang tadi". Ucap Tika. Naya hanya berooh ria menaggapinya.


" Yaudah..kalo ketemu bilangin makasih ya. Kuenya gue makan". Naya langsung memakan kue yang diberikan untuknya.


Satu gigitan besar masuk kedalam mulut mungilnya hingga membuat bibirnya belepotan. Naya diam sesaat merasakan kue yang ia makan. Namun sesaat kemudian ia melanjutkan mengunyah kuenya dengan semangat. Al yang duduk didepannya ingin sekali membersihkan sisa sue yang menempel disekitar bibir mungil cerewet itu. Namun sebisa mungkin ia menahannya.


"Makan kaya bocah.." Ucap Al membuat Naya mengangkat kedua alisnya.


Al memberi kode pada Naya bahwa banyak kue yang menempel disekitar bibirnya.


"Ish..tinggal bilang. Mas ganteng marah-marah mulu kalo ama aku". Gerutu Naya mengambil tisu dan mengelap bibirnya dengan kasar.


Tak berapa lama Akbar kembali membawa jus jeruk kesukaan Naya. Dekat dengan Naya beberapa bulan membuat Akbar tahu makanan dan minuman apa yang menjadi kesukaan gadis itu.


" Makasih kak..kakak tahu aja kalo aku udah haus banget". Naya menerima jus yang disodorkan Akbar dan langsung meneguknya hingga menyisakan setengahnya saja.


Al memalingkan wajahnya melihat interaksi antara Naya dan Akbar yang entah mengapa membuat hatinya panas.


"Balik kelas Ken..adek lo udah ada yang ngurus". Ucap Kai kemudian bangkit diikuti Ken. Mereka memilih kembali ke kelasnya daripada harus melihat kelakuan Naya dan Akbar yang sepeti sedang mabuk cinta.


" Kakak le toilet dulu ya.." Pamit Akbar dijawab anggukan kepala oleh Naya.


"Mas Al jangan kemana-mana dulu. Temenin aku ampe kak Biru balik ya .." Naya memegang tangan Al yang hendak pergi meninggalkannya. Al menghela nafas panjang, entah mengapa dirinya tak bisa menolak semua permintaan Naya, padahal dirinya ingin menolaknya.


Al kembali duduk, bedanya kini lelaki itu duduk disamping Naya. Sedang gadis yang membuat harinya tak tenang masih sibuk memakan kue yang diberikan oleh orang bernama Dio tadi.


"Pelan-pelan makannya. Gue kaga minta". Ucap Al melirik sekilas


Al menoleh ketika tiba-tiba tangan Naya menggenggam tangannya. Genggaman itu semakin terasa kencang hingga ia menatap wajah Naya. Al tersentak melihat wajah Naya memerah, sedangkan bibir mungilnya terlihat pucat bahkan membiru. Kue yang ada ditangannya terjatuh begitu saja.


" Lo kenapa??". Tanya Al panik. Namun Naya tak kuasa menjawab, nafasnya terasa berat, lehernya seolah tercekik hingga ia mulai kesulitan bernafas. Sebelah tangannya memegang lengan Al kencang, sementara sebelahnya sudah memegang lehernya sendiri.


Al semakin panik melihat wajah Naya semakin pucat, apalagi melihat gadis itu terlihat kesulitan bernafas.


"Kay jangan becanda ya. Nggak lucu sumpah". Al memegang bahu Naya.


" Ma--s.." Suara Naya tercekat. Bahkan memanggil Al saja dirinya sudah kesulitan.


"Kay..yaaa!!! Kanaya!!!". Al mengangkat tubuh Naya dan hendak membawanya ke UKS. Saat ini yang terpenting dokter memeriksa dahulu kondisi Naya.

__ADS_1


Al berlari bagaikan angin. Wajahnya terlihat sangat khawatir melihat Naya mulai kehilangan kesadaran.


" Kay!!! Jangan tidur..please tahan!". Sambil berlari Al terus mencoba menjaga kesadaran Naya.


"Kay please..jangan bikin gue takut!!". Al semakin mempercepat langkah kakinya. Sesampainya di UKS, Al yang memang menggendong Naya akhirnya membuka pintu UKS dengan cara menendangnya.


Dokter Siti yang sedang makan siang terkejut mendengar pintu ruangan itu terbuka paksa, beruntung ia tidak tersedak makanan yang belum sempat ia telan sempurna. Apalagi ketika mendengar teriakan seorang pria. Ia meninggalkan makan siangnya untuk melihat siapa yang membuat seisi UKS gaduh.


" DOKTER!!! DOK!!! TOLOONG!!!". Teriak Al seperti orang kesurupan.


"Kay..sadar Kay!!!". Al menggoyangkan tubuh Naya yang ada dalam dekapannya. Sebisa mungkin ia berusaha mencegah Naya tertidur.


" Ada apa ini?". Tanya dokter Siti


"Tolong dok..saya nggak tahu, tiba-tiba dia kayak gini". Al semakin panik melihat Naya semakin lemah.


" Baringkan dia". Ucap dokter Siti cepat, sepertinya apa yang dialami oleh siswi itu serius.


"Kita bawa kerumah sakit! Kamu ikut saya". Ucap Dokter Siti cepat setelah melihat kondisi Naya.


" Saya kasih tau abang-abangnya dulu dok". Sebelum Al beranjak, dokter Siti mencegahnya.


"Kita harus cepat. Sepertinya dia keracunan atau mungkin dia ada alergi makanan. Akan berbahaya----"


"Kita pergi sekarang dok!". Mendengar Naya keracunan membuat Al tidak menunggu sampai dokter menyelesaikan ucapannya. Ia kembali mengangkat tubuh Naya dan membawanya menuju mobil milik dokter Siti. Karena mobil milik dokter Siti lah yang diparkir paling dekat dengan UKS.


" Saya yang menyetir dok". Ucap Al mengacungkan tangannya setelah meletakkan Naya dikursi belakang.


"Kamu jaga dia. Saya belum siap menemui malaikat maut". Dokter Siti duduk dibalik kemudi hingga membuat Al pasrah dan duduk dibangku belakang bersama Naya.


" Dudukkan dia". Perintah dokter Siti. Al hanya manut dan mengikuti semua perintah dokter Siti.


"Kay tahan Kay.." Ucap Al yang merangkul bahu Naya dan menyandarkan kepala gadis itu di dadanya. Ia mendekap Naya erat seolah takut Naya akan pergi jika ia tak mendekapnya.


"Dok..cepat dok. Saya nggak mau dia kenapa-kenapa". Ucap Al panik.


" Pastikan kondisi kepalanya tertahan". Perintah dokter Siti yang tengah fokus melajukan mobilnya. Beruntung jalanan tidak padat karena memang saat ini masih jam kantor.


"Kay..bangun Kay..." Lirih Al, matanya terasa panas. Ia tidak suka melihat kondisi Naya seperti ini, ia lebih suka melihat gadis manis itu cerewet seperti biasanya.


Sesampainya di rumah sakit, Al kembali menggendong tubuh Naya. Didalam sudah ada dokter yang menunggu, rupanya dokter Siti sudah menelepon rumah sakit jika ia membawa pasien yang keadaannya cukup gawat.


Al berjalan mondar-mandir didepan ruang tempat Naya sedang ditangani. Cukup lama Al disana seorang diri, karena dokter Siti ikut memeriksa kondisi Naya didalam sana.


30menit menanti, akhirnya dokter Siti keluar bersama seorang dokter lain. Al yang melihatnya segera mendekat, dengan tak sabar ia memberondong dokter Siti dengan banyak pertanyaan.


"Gimana dok? Dia kenapa?? Apa dia baik-baik saja??? Sekarang kondisinya gimana?? Udah sadar belum?? Apa yang bik----"


Dokter Siti meletakkan telunjuk dibibirnya, meminta Al untuk diam dulu agar ia bisa menjelaskan kondisi Naya.


"Apa tadi Kanaya memakan makanan yang mengandung kacang lagi?". Tanya dokter bername tag Ardo.


" Maksudnya dok?". Tanya Al bingung. Pasalnya ia tidak melihat Naya memakan makanan yang mengandung kacang tadi.


"Alergi nya kambuh..untung kalian membawanya tepat waktu. Terlambat sedikit saja, saya tidak bisa menjamin untuk bisa menyelamatkannya". Nyawa Al seolah terbang entah kemana mendengar penjelasan dokter Ardo.


" Lain kali lebih berhati-hati lah. Dia sangat tidak bisa memakan apapun yang mengandung kacang sekecil apapun itu. Kalau saya lihat dari kondisinya, seperti nya makanan yang masuk cukup banyak sehingga kondisinya sampai seperti tadi".


"Tubuh Kanaya tidak bisa mentolerir apapun makanan yang mengandung kacang. Kenapa anak itu bisa sangat ceroboh memakan kacang. Apa dia mau bunuh diri". Dokter Ardo terlihat sangat mengenal Naya hingga membuat Al memberanikan diri untuk bertanya.


" Dokter..mengenal Kanaya?". Tanya Al ragu

__ADS_1


Dokter Ardo menoleh, menatap Al dengan senyum tipis menghiasi bibirnya.


"Dia pasien saya..saya sangat mengenalnya. Dimana abang-abangnya?? Kenapa kamu yang membawanya kesini?". Tanya Ardo. Al kemudian menceritakan kejadian sebelum Naya seperti itu.


" Kemungkinan kue itu yang mengandung kacang.." Ucap dokter Ardo terlihat berpikir.


"Tapi kenapa anak itu ceroboh sekali? Benar-benar mau bunuh diri". Ucap dokter Ardo masih tak habis pikir kenapa Naya sampai tak menyadari makanan yang masuk kedalam mulutnya.


" Temani saja dulu..sebentar lagi dia sadar". Ucap dokter Ardo menepuk pundak Al yang langsung mengangguk.


"Hubungi 'kedua abangnya. Mereka perlu dimarahi..bisa-bisanya teledor menjaga adiknya". Omel Dokter Ardo.


" Dia harus di opname..aku perlu mengobservasi lagi dan mengambil sample darahnya juga". Ucap Dokter apa dokter Siti yang mengangguk paham.


"Aku tinggal dulu.." Dokter Ardo berlalu, menyisakan dokter Siti dan Al berdua saja.


"Kamu temani dia. Saya akan mengurus administrasinya dulu dan kamar rawatnya". Ucap dokter Siti.


" Maaf dok..tolong kamar vvip saja untuk kamar rawatnya". Dokter Siti mengangguk. Ia sudah mengenal siapa Naya hingga ia tak menanyakan lagi perihal kamar yang Al pesankan untuk Naya.


"Tunggu didalam". Setelah dokter Siti berlalu. Al masuk kedalam bilik dimana Naya terbaring tak berdaya. Di tangan kirinya sudah tertancap jarum infus.


Wajah gadis itu sudah sedikit merona, tidak seperti beberapa saat lalu yang terlihat pucat seperti tak ada darah yang mengalir diwajahnya.


" Lo bikin gue jantungan, Kay". Ucap Al lirih yang kini sudah duduk disamping ranjang Naya.


Kelopak mata yang sejak tadi terpejam itu perlahan bergerak, menandakan sang pemiliknya akan segera membukanya. Perlahan mata Naya terbuka, Naya mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam kornea matanya.


"Lo udah sadar Kay?". Tanya Al antusias sekaligus lega.


" Ma--s Al?". Lirih Naya yang melihat Al duduk disampingnya.


"Gimana rasanya??". Tanya Al


" Sa--kit". Suara Naya masih sedikit terputus.


"Eh..ati-ati. Tangan lo diinfus". Al tergagap melihat Naya meringis saat gadis itu mengangkat tangan kirinya.


" Gue panggilin dokter dulu, Kay". Beberapa menit kemudian, Al sudah kembali bersama Dokter Ardo dan juga dokter Siti.


"Kamu temani dia dulu ya, saya harus kembali ke sekolah. Saya tidak bisa meninggalkan UKS lama-lama. Takut ada yang membutuhkan". Al mengangguk paham dengan penuturan dokter Siti.


" Gimana? Masih sakit tenggorokannya?". Pertanyaan dokter Ardo hanya dijawab anggukan kecil dari Naya.


"Uncle kira kamu mau bunuh diri". Goda dokter Ardo yang membuat Naya melirik dokter itu tajam.


" Rawat inap ya..uncle perlu mengobservasi kondisimu dulu". Naya kembali mengangguk


"Lain kali hati-hati dalam memakan apapun Nay". Semua ucapan dokter Ardo hanya dijawab anggukan oleh Naya.


" Apa dia sudah boleh minum?". Tanya Al sebelum dokter Ardo meninggalkan mereka. Dokter Ardo mengangguk


"Minum dulu Kay.." Al membantu Naya meminum air hangat yang disediakan perawat beberapa saat lalu.


Tak berselang lama, datang dua perawat yang akan memindahkan Naya ke kamar rawat. Al dengan setia menemani Naya, ia bahkan lupa mengabari kedua kakak gadis itu.


"Kami tinggal dulu ya dek..kalo butuh apa-apa tekan tombol ini saja. Akan ada perawat yang datang". Seorang perawat menunjukkan tombol darurat disamping bantal Naya. Al mengangguk patuh pada perawat itu.


" Masih sakit?". Tanya Al lembut membuat Naya menatapnya. Tak biasanya Al begitu khawatir, apalagi berbicara lembut. Biasanya lelaki itu akan mengomelinya.


"Di-kit". Lirih Naya. Ingin rasanya ia bertanya banyak hal pada Al, namun tenggorokannya masih terasa sakit.

__ADS_1


Sebenarnya Naya sudah curiga saat memakan kue itu, ia sedikit merasakan rasa kacang saat menggigitnya. Namun memang dasar Naya yang tak peka dengan dirinya sendiri, karena kue nya terlalu enak, Naya terus memakannya.


" Lo gimana sih Kay, masa lo makan kaga bisa ngerasain. Kalo tadi lo kenapa-kenapa gimana? Lain kali jangan ceroboh bisa?!". Naya menghela nafas berat ketika Al kembali mengomel. Lelaki itu sudah kembali menjadi lelaki galak yang ia kenal.


__ADS_2