
"Karna pak Yohan belum kembali, Rian yang akan meeting dengan client hari ini. Kamu temani dia ya". Ini adalah hari ketiga Naya menjadi asisten Safira.
Selama tiga hari itu, Naya diam dikantor dan mempelajari semua pekerjaan yang mungkin satu bulan lagi akan menjadi tanggung jawabnya dengan pengawasan langsung dari Safira. Naya sangat senang disana, walau belum sepenuhnya mengerti, namun ia begitu dihargai dan disayang disana. Safira dengan sabar membimbingnya, tak ada teriakan apalagi makian yang sudah menjadi makanannya selama beberapa minggu kebelakang.
Naya pun juga sudah menunjukkan pada Safira dan Rian tentang penemuannya terkait kontrak kerjasama yang hampir membuat perusahaan merugi beberapa hari lalu. Keduanya nampak tak terlalu terkejut, mereka hanya bilang untuk menunggu pak Yohan agar mengambil keputusan terkait Dina.
" Jangan protes Kanaya..kamu tahu aku udah nggak bisa pergi keluar untuk ikut meeting. Emang nggak kasian sama mbak?? Perutnya udah segede ini kamu suruh ngikutin Rian kemana-mana". Melihat Naya membuka mulutnya, Safira langsung mengultimatumnya.
"Tapi aku takut nggak bisa mbak. Nanti malah bikin malu.." Keluh Naya. Jujur saja, masih banyak yang belum Naya pahami tentang pekerjaan seorang sekretaris. Wajar saja, Naya tak pernah belajar menjadi seorang sekretaris sebelum nya.
"Aku suruh ngitung uang aja deh mbak..ya??".
" Nggak bisa Nay..kamu harus ikut aku". Rian sudah keluar dari ruangannya yang berada disamping ruangan direktur utama.
"Tapi aku takut salah bang.." Sejak menyandang status sebagai asisten Safira, Rian memintanya untuk tidak bersikap formal jika hanya ada mereka bertiga seperti sekarang ini. Dan Naya memilih memanggilnya abang sama seperti ia memanggil Ken dan Kai.
"Kamu cuma harus duduk aja Nay..nulis poin-poin pentingnya. Udah itu aja kok". Jelas Rian menenangkan.
" Udah jangan banyak protes..harus belajar mulai sekarang. Sebulan lagi aku udah cuti loh.." Safira membantu Rian meyakinkan Naya.
"Terus nanti kalo direktur yang minta ditemenin, kamu tawar juga?". Tanya Safira menggoda.
" Ya kan ada bang Rian, mbak". Naya nyengir
"Heeuuu..kamu mah". Safira begitu gemas dengan ketidakpercayaan diri Naya. Padahal selama mengajari gadis itu, Safira merasa Naya gadis yang sangat cerdas dan dengan mudah mengerti semua yang dia ajarkan. Beberapa pekerjaan yang sudah ia berikan juga mampu di kerjakan dengan baik oleh gadis itu tanpa kesalahan apapun.
"Kita berangkat sekarang Nay..takut kena macet". Akhirnya Naya hanya bisa pasrah dan mengambil tas serta peralatannya kemudian mengikuti Rian.
" Semangat Nay.. mbak yakin kamu bisa ". Safira mengepalkan tangannya diudara memberi semangat pada Naya yang berjalan sedikit gontai mengikuti Rian.
Safira terkekeh pelan sambil menggelengkan kepalanya melihat Naya dan Rian semakin menjauh.
" Pantes uncle Al nolak mama dulunya dek..ternyata hatinya udah kecantol ama onty gemes dari pas masih berbentuk embrio, hihihi". Safira mengelus perutnya yang sudah membuncit sambil terkikik geli mengingat kekonyolannya.
"Oke sayang..kita lanjut nonton yang semalam ya..mumpung nggak ada orang. hihihi.." Safira kembali duduk dikursinya, menyalakan ponselnya dan memasang earphone nya setelah ponselnya ia sandarkan ditumpukan bukunya. Sejak kehamilannya, Safira yang cenderung diam dan malas bermain ponsel apalagi menonton dibuat tergila-gila pada drama korea. Hampir setiap waktu ia terus menonton drama korea untuk memenuhi keinginan nya itu.
"Omo..omo..ganteng banget dek. Nanti kamu ganteng gitu ya mukanya dek.." Safira mengelus perutnya dengan senyum penuh harap.
Andai ada Rian dan Al disana, sudah pasti ibu hamil itu akan dicibir habis-habisan oleh keduanya.
'Bagaimana mungkin anakmu akan mirip seperti pria cantik itu. Mereka tidak menanam saham diperutmu itu' Mungkin kedua pria itu akan berkata demikian andai saja mendengar apa yang Safira ucapkan.
Sementara saat ini, Naya dan Rian baru saja sampai direstoran tempat mereka akan meeting. Naya terus mengikuti kemana langkah kaki Rian. Hingga mereka sampai diruangan VIP yang memang dipesan untuk meeting pagi ini.
"Udah siap?". Tanya Rian yang hendak membuka handle pintu.
Naya menggeleng lucu dan berbisik " enggak bang.." Sontak Rian terkekeh pelan melihat kegugupan Naya. Padahal ia yakin jika pekerjaan sebagai sekretaris pasti akan dengan mudah dikuasai oleh gadis itu.
"Santai..ini cuma meeting biasa kok. Nggak usah tegang". Rian mencoba menenangkan, namun tetap saja ini adalah pengalaman pertama Naya sebagai seorang sekretaris yang mendampingi atasannya meeting.
" Bismillah deh bang.." Akhirnya Naya pasrah, toh dirinya tidak mungkin terus-terusan menghindar. Mulai detik ini, status sebagai sekretaris adalah pekerjaannya. Jadi siap tidak siap, Naya harus membiasakan dirinya mulai sekarang.
Rian mengangguk dan membuka pintu ruangan. Rupanya didalam sudah ada client yang menunggu mereka.
"Maaf membuat anda menunggu pak.." Ucap Rian saat masuk kedalam ruangan.
"Tidak masalah..aku juga baru saja tiba. Aku yang terlalu cepat datang". Keduanya berjabat tangan
" Siapa ini?? Sepertinya bukan Safira". Tanya client karena Naya selalu menunduk sejak tadi.
"Oh ya..kenalkan, ini sekretaris baru yang akan menggantikan Safira beberapa waktu. Anda tahu sendiri, Safira sebentar lagi akan melahirkan". Jelas Rian dengan senyum ramah.
__ADS_1
" Kenalkan dirimu Nay.." Ucap Rian membuat Naya mengangkat wajahnya. Dan matanya membola saat melihat siapa client yang ditemui oleh atasannya saat ini.
"Kanaya???!!".
" Uncle G?????". Seru keduanya bersamaan. Rian mengernyit bingung melihat Naya mengenal kolega bisnis perusahaannya yang cukup menjanjikan itu.
"Bagaimana kabarmu?? Mommy dan daddy mu? Apa mereka masih menyebalkan??".
" Ck..uncle juga sama seperti mereka. Masih menyebalkan". Cebik Naya membuat lelaki itu terbahak.
"Hahaha..kenapa kamu galak sekali sih".
" Uncle Gery!!!". Pekik Naya ketika rambutnya diacak oleh Gery.
Ya, pria yang menjadi rekanan bisnis perusahaan milik Al adalah Gery, sahabat Tama.
"Baiklah baiklah..kenapa gadis kecil uncle jadi galak sekali". Rian mengerjap beberapa kali melihat interaksi keduanya. Selama menjadi rekanan bisnis lelaki itu, Rian belum pernah melihat Gery seperti saat ini.
" Jadi udah siap nikah sama uncle belum sekarang??". Goda Gery membuat Naya semakin kesal.
"Nanti aku laporin onty kalo uncle mulai genit lagi. Biar nanti malem nggak dibukain pintu". Ancam Naya membuat Gery tergelak.
" Lagian siapa yang mau nikah sama aki-aki. BIG NO". Naya menyilangkan kedua tangannya didepan tubuh membentuk huruf x besar.
"Hahahaha..baiklah baiklah. Kamu memang anak onty mu..menyebalkan tidak pernah mendukung uncle". Naya dengan sigap menghalangi rambutnya yang akan diacak kembali oleh Gery
" Kamu bekerja diperusahaan ini?? Kenapa tidak beke--- Aawww". Naya langsung mencubit pinggang Gery, memberi kode agar tidak membahas perusahaan kedua orang tuanya.
"Baiklah..uncle mengerti". Gery paham jika Naya tak ingin orang lain tahu.
"Maaf atas ketidak sopanan saya pak Rian. Saya lupa kalo kita mau meeting". Naya langsung bersikap formal
"Astaga..aku lupa. Duduk..kalian masih berdiri". Gery menepuk keningnya sendiri. Sudah lama ia tidak berjumpa dengan gadis kecilnya itu, hingga melupakan profeionalitas kerja.
" Dasar tua..pikun". Gumam Naya membuat Gery mendelik.
"Uncle masih dengar, Kanaya..". Gerutu Gery membuat Naya nyengir.
Beberapa waktu kemudian, pembicaraan sudah beralih pada pembahasan serius tentang kesepakatan kerjasama antara perusahaan milik Al dan Gery. Naya dengan teliti mencatat poin-poin yang dirasa penting dari pertemuan ini. Ia yang merasa memang belum sepenuhnya menguasai pekerjaannya memilih cara pintar dengan menyalakan perekam diponselnya. Ia bisa mengulang dan mengecek lagi apa yang sedang dibicarakan kedua belah pihak.
" Oh ya..dimana pak Yohan?? Kenapa kamu yang menggantikannya?". Tanya Gery sambil menyesap kopi yang dipesannya.
"Beliau sedang berada di negara S, pak Gery". Jawab Rian sopan.
" Jangan terlalu kaku..kita sudah selesai dengan pembahasan pekerjaan kita". Gery tersenyum sambil melirik Naya yang sudah asyik dengan spaghetti kesukaannya.
"Makan terus tapi nggak nambah gemuk.." Celetuk Gery membuat Naya menatap dirinya.
"Anugrah uncle.." Sahutnya kemudian melanjutkan makannya.
"Jadi kapan kamu akan menengok uncle dan onty mu??". Tanya Gery membuat Naya kembali menatapnya, kemudian terlihat berpikir.
" Nggak usah pura-pura mikir. Tu kepala kamu ngebul". Goda Gery membuat Naya mencebik kesal.
"Dasar..nggak uncle nggak abang, senengnya ngeledek".
" Nanti deh kalo libur, aku main ke tempat uncle". Jawab Naya akhirnya. Toh tak ada salahnya menengok uncle tersayangnya.
"Uncle tunggu..jangan bohong". Naya mengangguk pasti dan memasukkan suapan terakhir kedalam mulutnya.
Gery tahu betul bagaimana kondisi gadis kecilnya itu beberapa bulan lalu saat calon suaminya meninggalkannya untuk selamanya. Gadis itu hancur, Gery ragu dan tak yakin jika gadis kecilnya itu bisa bangkit. Melihat bagaimana rapuhnya Naya saat Akbar meninggal.
__ADS_1
Namun kini Gery lega, melihat keceriaan gadis itu kembali. Meski mata indah itu masih memancarkan kesedihan yang mendalam. Tapi setidaknya Naya sudah mau melanjutkan hidupnya.
" Uncle harus pergi..masih ada meeting dengan client lain". Gery bangkit diikuti asistennya yang sejak tadi hanya diam mendengarkan.
"Hm..hati-hati uncle". Naya mengambil tangan Gery dan mencium punggung tangannya.
" Jaga dirimu baik-baik. Jangan sungkan untuk menghubungi uncle jika kamu butuh sesuatu. Mengerti? ". Gery memeluk Naya. Bagi lekaki itu, Naya sudah seperti putri kandungnya.
" Mengerti.." Naya membalas pelukan Gery. Ia merasakan kecupan dipucuk kepalanya. Terasa hangat seperti didalam pelukan sang ayah. Ah..Naya jadi rindu daddy bawelnya.
"Saya titip Kanaya..tolong jaga dia". Gery menepuk bahu Rian yang sejak tadi fokus pada interaksi keduanya. Rian mengangguk dan tersenyum sopan.
" Pasti pak..dia sudah seperti adik bagi saya". Keduanya berjabat tangan erat.
"Senang bekerjasama dengan perusahaan anda". Ucap Gery sebelum.berlalu.
" Suatu kehormatan bagi kami pak.." Rian membungkuk sedikit untuk menghormati Gery.
****###****
"Sepertinya kamu sangat mengenal pak Gery, Nay". Ucap Rian membuat Naya menoleh. Saat ini keduanya sedang berada diperjalanan kembali ke kantor setelah meeting tadi.
" Kenal lah bang..dia temen daddy". Naya tersenyum sambil terus mengunyah cemilannya. Entah kenapa ia tak sungkan pada Rian, karena memang lelaki itu selalu baik padanya sejak pertama bertemu.
"Bener kata pak Gery..kamu ngunyah mulu tapi nggak ada bekas". Rian terkekeh geli menyadari apa yang dikatakan client nya benar adanya.
" Ish..ini tuh anugrah bang. Jadi aku nggak usah repot-repot diat diet kaya yang lain". Ucap Naya bangga membuat Rian tergelak.
"Aku yakin kamu bukan dari keluarga biasa Nay..tapi aku bangga padamu. Bahkan kamu tidak memanfaatkan apapun dari kekayaan dan kekuasaan keluargamu..kamu lebih memilih bekerja ditempat orang lain. Akan seperti apa saat kamu tahu Yohan adalah lelaki yang selalu melindungimu.." Batin Rian menatap Naya.
"Bang..bang..." Naya menggoyangkan lengan Rian.
"Jalan bang..udah ijo". Rian tergagap, ia terlalu fokus dengan pemikirannya hingga tak fokus pada jalanan.
" Oh..iya. Abang kurang fokus.." Rian kembali melajukan mobilnya.
Sesampainya di kantor, Naya langsung mendekati Safira yang rupanya masih menatap layar ponselnya dengan earphone yang masih ada ditelinganya.
Perempuan hamil itu baru menyadari kedatangan Naya saat gadis itu menepuk pundaknya. Setelah Safira mematikan ponselnya, Naya langsung mengeluarkan buku yang ia pakai untuk mencatat hasil pertemuan tadi. Pun ia memutar rekaman diponselnya agar Safira bisa menunjukkan padanya jika ada kesalahanan atau kekurangan.
"Pinter banget sih.." Puji Safira ketika Naya mengeluarkan ponselnya dan memutar rekaman percakapan antara Rian dan Gery tadi.
"Hm..udah bener kok. Poin yang kamu catat udah oke semua..mbak yakin kamu bisa Nay. Ni buktinya.."
Naya tersenyum lebar mendengar pekerjaannya dipuji oleh orang yang lebih berpengalaman daripadanya. Tidak seperti di divisinya sebelumnya, Naya selalu dimaki dan diteriaki meski hasil kerjanya sudah benar. Ya walaupun hanya satu orang yang selalu membuatnya tak nyaman. Siapa lagi jika bukan Dina.
"Makasih mbak.." Naya memeluk Safira.
"Boleh elus nggak mbak??". Tanya Naya menatap perut buncit Safira. Melihat Safira mengangguk, Naya bersemangat dan segera mengelus perut Safira.
" Hai baby..ini onty cantik..kamu lagi apa didalam??". Seolah mendengar suara Naya, bayi dalam perut Safira memberi respon dengan gerakan dan tendangan hingga membuat Naya memekik heboh.
Safira dan Rian hanya tersenyum melihat kelakuan Naya yang menggemaskan dan membuat suasana lebih hidup. Sepertinya suasana dilantai 4 ini akan sedikit berubah dengan kedatangan gadis ceria seperti Kanaya. Dan Rian serta Safira senang akan hal itu. Karna itu artinya, mereka tidak perlu mendengar Al terus uring-uringan dan marah-marah seperti sebelum-sebelumnya.
"Eh iya mbak..pak Yohan kapan pulang??". Tanya Naya
" Rencana sih besok pulang..Kenapa??". Tanya Safira.
"Gapapa sih mbak..takut kalau pak Yohan galak. Nanti aku disembur mulu kaya kalo sama mbak Dina.." Ucap Naya membuat Safira tertawa.
"Nggak mungkin lah Nay..gimana mungkin itu bos jelmaan kulkas bisa ngamuk ke kamu. Liat kamu nangis aja udah kelabakan dia..mana tega marah sama kamu". Safira tersenyum geli. Tak terbayang akan seperti apa nanti saat pertemuan keduanya sebagai atasan dan bawahan terjadi. Dan Safira tidak sabar menantikan momen itu.
__ADS_1