Imperferct Partner

Imperferct Partner
aib


__ADS_3

"Bang.."


"Hm.."


"Abang..!"


"Hmmm.."


"Abang ih..ham hem ham hem mulu". Seru Naya kesal membuat Ken yang duduk disamping Akbar menoleh ke belakang untuk melihat adiknya.


"Apasi dek?". Tanya Ken.


Sementara Akbar yang masih fokus dengan kemudinya hanya tersenyum samar mendengar percakapan tak jelas kakak beradik itu.


Mereka bertiga tengah dalam perjalanan pulang setelah mengantar Aisha ke panti. Bunda Widya dan Aisha berkali-kali mengucapkan terimakasih pada Naya dan Ken serta Akbar atas semua bantuannya.


" Mommy mau nggak ya bang kalo jadi donatur tetap panti asuhan bundanya Aisha?". Tanya Naya sambil berpikir.


"Hemmm.." Ken hanya menanggapinya dengan deheman sehingga membuat sang adik kesal.


"Gue getok lama-lama lo bang. Daritadi ham hem mulu!". Kesal Naya membuat Ken terkekeh.


" Daritadi lo diem aja kaya yang mikirin negara, ternyata mikirin temen lo?". Tanya Ken menatap Naya yang mengangguk dengan wajah sedih.


Tak bisa ia bayangkan jika dirinya yang harus berada di posisi Aisha. Ditelantarkan sejak bayi tanpa tahu siapa ayah dan ibunya, dipaksa keadaan untuk siap bekerja diusia sekolahnya. Bahkan membantu bunda panti mengurus semua adik-adiknya di panti. Membayangkannya saja Naya tak sanggup.


"Kasian Aisha ya bang..gue nggak kebayang ada di posisi dia bang". Lirih Naya membuat Ken dan Akbar menatapnya sekilas.


" Lagian siapa sih emak bapaknya. Kurang ajar banget ninggalin anak masih bayi di panti!! Mana nggak pernah ada niatan ngambil anaknya pula. Kalo ketemu mah udah gue unyeng-unyeng!!". Omel Naya penuh amarah.


"Kan kasian jadinya temen gue!! Kudunya dia lagi seneng maen sana sini sama temen-temennya. Tapi sekarang dipaksa keadaan buat jadi dewasa terus bantu cari uang buat bantu bunda ngasih makan adek-adeknya". Suara Naya kembali lirih. Entah mengapa membahas tentang Aisha membuat emosinya naik turun.


Ken dan Akbar hanya diam mendengarkan semua ucapan Naya yang kadang terdengar lirih, namun sesaat kemudian berkata penuh amarah.


" Nanti insyaallah abang bantu per bulannya". Ucapan Ken bagaikan angin segar bagi Naya.


"Beneran? Abang nggak boong kan?". Tanya Naya antusias membuat Ken mengangguk. Sudah terpikir olehnya untuk sedikit membantu keuangan panti asuhan tempat Aisha tinggal.


" Pasti Aisha seneng". Wajah Naya yang sedari tadi mendung langsung bersinar terang mendengar ucapan kakaknya.


"Nanti mau minta bang Kai juga ah". Tiba-tiba Naya mendapat ide cemerlang. Cemerlang menurut 'versinya'.


" Nanti dirumah mau ngomong ke mommy supaya masukin Aisha ke daftar anak asuh mommy ah. Biar Aisha nggak usah mikir uang buku, uang apapun. Aisha nggak usah kerja". Naya benar-benar berniat membantu Aisha.


Ken dan Akbar tersenyum mendengar celotehan Naya yang seperti tak ada habis bahan pembahasannya.


"Thanks Bar.." Ucap Ken yang sudah bersiap turun


"Kakak mampir yuk.." Ajak Naya membuat Akbar tersenyum. Ia pun ingin mampir, tapi sudah sore. Dirinya harus cepat pulang.


"Udah sore..besok lagi ya". Ucap Akbar lembut membuat bibir mungil Naya mengerucut.


" Besok pagi kakak jemput deh.." Bujuk Akbar yang melihat wajah Naya mulai mendung.


Mendengar ucapan Akbar membuat senyum Naya langsung mengembang. Gadis cantik itu tak menyadari jika dirinya mulai bergantung pada lelaki yang selalu ia panggil Biru itu.


"Janji??". Seperti seorang anak kecil, Naya mengacungkan jari kelingkingnya didepan Akbar hingga membuat pemuda itu tersenyum.


" Janji.."


"Kakak pulang dulu ya.." Akbar mengelus sayang pucuk kepala Naya yang mengangguk pelan dengan senyum yang terus menghiasi wajah cantiknya.


"Dasar bucin!". Cibir Ken yang memilih keluar mobil daripada matanya harus tercemar dengan kelakuan uwuw adik dan sahabatnya.


" Dasar sirik.." Balas Naya.


"Kakak ati-ati ya pulangnya.." Naya sudah berdiri disamping pintu kemudi. Menatap Akbar yang sudah kembali menyalakan mesin mobilnya.


"Daaaa kak Biruuuu..." Naya melambaikan tangannya pada Akbar yang mulai menjauh.


"Mommy....." Teriak Naya.

__ADS_1


"ASSALAMUALAIKUM...WA'ALAIKUM SALAAAAM". Teriak Naya mengucap salam sekaligus menjawabnya sendiri.


"MOMMY... YUHUUUU..INCESS PULAAAANG". Teriak Naya lagi hingga ia mendapat lemparan bantal sofa ketika melewati ruang tamu.


" Berisik dek!! Sakit kuping gue". Ucap Kai yang rupanya tengah duduk diruang tamu bersama beberapa teman sekelasnya, termasuk Al dan tiga orang gadis yang tah Naya tahu namanya.


Mereka terlihat melongo menatap Naya yang tengah memberengut kesal menatap Kai. Bahkan gadis cantik itu sepertinya tak peduli dengan keberadaan mereka.


"Sakit pala gue ish!! Nay laporin mommy biar abang dicoret dari KK". Sungut Naya membuat Kai memutar bola matanya jengah.


" Ini anak perempuan satu, kenapa sih kalo pulang senengnya teriak-teriak?". Kirei menjewer pelan telinga putrinya. Entah turunan siapa hingga putri bungsunya itu senang sekali berteriak ketika pulang dari bepergian, bahkan daddy nya tak pernah berkelakuan seperti Naya. Tingkah itu lebih mirip onty sablengnya Naya, Annisa.


"Biar mommy denger..hehe" Naya nyengir sambil mencium punggung tangan Kirei, kemudian ia langsung bergelayut manja dilengan sang ibu.


"Ati-ati mom..pasti ada mau nya tu anak mommy". Cibir Ken yang melihat adiknya terus menempel pada sang ibu.


" Sirik aja abang!". Kesalnya melirik tajam sang kakak.


"Mommy..masa abang tadi lempar Nay pake bantal sofa. Coret aja mom dari KK. Kalo Nay amnesia gara-gara itu bantal gimana coba? Terus Nay nggak inget mommy sama daddy..kan bahaya ya mom". Cerocos Naya membuat Kirei gemas dan mencubit hidungnya.


" Eh..calon istri udah pulang". Ucap Satria yang baru saja keluar dari dapur dengan membawa sepiring nasi beserta lauknya.


"Apa-apaan nih? Masa tamu main masuk dapur terus ambil makan sendiri?". Cibir Naya membuat Satria tersenyum acuh.


" Calon istri kenapa baru pulang?". Tanya Satria menyodorkan satu sendok penuh nasi beserta lauk didepan Naya yang langsung disambut penuh suka cita oleh Naya.


"Abis dari panti asuhan". Jawabnya dengan mulut penuh.


" Aaaa lagi bang.." Ucap Naya setelah berhasil menelan makanan yang disuapkan Satria padanya.


"Tadi aja tu mulut nyinyir. Sekarang minta disuapin". Sindir Satria yang ditanggapi Naya dengan mulut terbuka, bersiap menerima suapan kedua dari Satria.


Semua interaksi Naya dan Satria tak lepas dari pengawasan teman-teman sang kakak yang seolah masih tak percaya jika gadis manis itu benar-benar adik kandung si kembar. Kelakuannya benar-benar berbanding terbalik dengan Ken, kalau dengan Kai sih, sebelas duabelas sablengnya. Termasuk beberapa gadis teman sekelas Kai dan Ken yang melongo melihat kelakuan manja Naya jika dirumah.


" Oh iya mom---"


"Mandi terus ganti baju dulu..jangan lupa shalat ashar". Peringat Kirei yang melihat putrinya sudah bersiap menceritakan hal yang entah apa itu.


" Oke.." Naya memakan sesendok penuh nasi dan lauk yang hendak Satria masukkan kedalam mulutnya.


Al yang sedari tadi hanya diam ikut tersenyum sendiri melihat kelakuan menyebalkan Naya yang jujur saja membuat hatinya tak karuan. Apakah mungkin dirinya jatuh cinta pada gadis yang sama sekali bukan kriterianya itu.


"Lo kalah start bro". Bisik Rendra yang duduk disamping Al. Lelaki itu adalah playboy semacam Kai. Bukan hal sulit baginya menilai arti tatapan Al pada adik sahabat mereka itu.


" Apasi". Ketus Al membuat Rendra tersenyum sinis.


"Akbar udah beberapa langkah lebih maju dari elo". Bisik Rendra lagi membuat Al mendengus.


" Mommy..yuhuuuu...Mommy aku..." Teriak Naya sambil menuruni tangga. Semua teman sang kakak kembali dibuat melongo dengan penampilan Naya saat ini.


Sementara Ken dan Kai sudah pusing melihat kelakuan sang adik. Bagaimana tidak? Saat ini Naya kembali memakai kaos milik Kai dan celana pendek Ken hingga tubuh mungilnya tenggelam dalam busana kebesaran yang ia pakai.


"Kelakuan adek lo emang upnormal bro". Satria menepuk bahu kedua temannya yang terlihat frustasi dengan kelakuan Naya.


" MOMMY...." Teriakan Naya semakin kencang.


"Adek kamu tiap hari kaya gitu Kai?". Tanya Arum, teman sekelas Kai dan Ken.


" Kaya yang lo liat deh Rum". Jawab Kai apa adanya.


"Lucu ya..kelakuannya beda banget ama kalian". Bisik Nindya, teman Kai yang lain sambil terkikik melihat penampilan Naya. Meski tak bisa mereka pungkiri, pakaian yang dikenakan Naya tak bisa menutupi kecantikam gadis itu.


" Stop teriak adek.." Teriak Kirei dari dapur.


"Nyuruh aku nggak teriak..tapi mommy sendiri teriak. Ish..ish..bukan contoh yang bener". Ucap Naya pelan.


" Mommy denger ya Nay.." Teriak Kirei membuat Naya terkikik dan segera menghampiri sang ibu.


"Mommy.." Panggil Naya dijawab deheman oleh Kirei.


"Mommy mau ya jadi donatur tetap panti asuhan bundanya Aisha". Ucap Naya tanpa basa-basi.

__ADS_1


" Siapa?". Tanya Kirei memastikan. Ia takut salah dengar.


"Aisha mom..Aisha temen aku". Naya terus membuntuti kemanapun sang ibu berjalan. Saat ini Kirei tengah membantu para asisten rumah tangganya menyiapkan makan malam untuk mereka dan teman-teman anaknya.


" Aisha dari panti asuhan?". Tanya Kirei setelah yakin Aisha yang dimaksud putrinya adalah gadis yang pernah ia temui.


Naya mengangguk menjawab pertanyaan Kirei.


"Aisha ditinggal orang tuanya sejak bayi mom..jahat ya mom. Kalo ketemu mah udah aku getok kepalanya. Aisha jadi harus kerja keras buat bantu bunda Widya biayain adek-adeknya tau mom." Naya menceritakan semua tentang Aisha dan keinginannya meminta sang ibu untuk menjadikan Aisha salah satu anak asuh di yayasan yang dipimpinnya.


"Mommy bicarain sama daddy dulu ya". Ucap Kirei berjalan ke teras karena ia mendengar suara deru mobil Tama.


Seperti anak kecil yang belum mendapatkan mainannya, Kirei terus mengikuti kemanapun langkah kaki Kirei. Teman-teman sang kakak hanya melihat kelakuan Naya yang terus membuntuti ibunya.


" Ya dad..ya ya ya.."


"Harus iya pokoknya.."


"Gapapa deh uang jajan Nay dipotong.." Teman-teman Ken dan Kai semakin dibuat melongo melihat Naya sudah nemplok dipunggung sang ayah sambil bibirnya tak hentimya membujuk ibu dan ayahnya.


Kirei dan Tama saling pandang. Tak biasanya putri manjanya itu sampai rela dipotong uang jajannya untuk sesuatu hal atau untuk seseorang.


"Yakin uang jajannya boleh dipotong?". Goda Tama. Namun anggukan kepala Naya membuat keduanya kembali.saling berpandangan dengan tatapan tak percaya.


" Tapi jangan banyak-banyak potongnya. Kalo mau dipotong banyak mah uang jajan abang aja". Ucapnya kemudian dengan enteng, membuat Kirei menyentil pelan dahi anaknya. Tetap tak mau rugi rupanya incess kesayangannya itu.


"Kenapa yang abang?". Tanya Kirei gemas.


" Abang kan udah bisa nyari uang mom..kalo aku kan belom". Ucapnya memainkan alisnya naik turun hingga membuat orang tuanya begitu gemas.


"Dasar nggak mau rugi". Ucap Tama membuat Naya tersenyum.


" Mau ya..ya ya ya?? Pliiis..demi aku deh".


"Eh enggak juga..demi daddy sama Mommy. Biar banyak pahala, nanti pas ke surga nggak disusah-susah sama malaikat. Ya ya ya.." Bujuk Naya yang sudah berdiri tepat dihadapan kedua orang tuanya dengan wajah memelas.


"Kamu ya..mommy sama daddy masih sehat udah bahas-bahas surga ama malaikat". Kirei menggelengkan kepalanya. Putri bungsunya memang paling mahir membujuk dalam hal apapun.


" Ya daddy ya..ya ya ya..harus iya. Oke..iya". Seperti biasa, Naya akan memutuskan sendiri keinginannya sebelum kedua orang tuanya benar-benar menyanggupi permintaannya.


"Makasih dad, mom. Kalian emang the best". Naya mencium pipi kedua orang tuanya lalu tanpa meminta izin ia duduk nyempil diantara kedua kakaknya.


" Lo ngapain nyempil kaya upil gini". Ucap Kai melirik adiknya.


"Duduk". Jawabnya santai sambil mengambil buku milik Kai.


" Ish..ish..ish. Tulisan abang jelek banget. Kaya rumah kena gempa..nggak berbentuk". Naya berdecak sambil menggelengkan kepalanya. Sementara teman-teman sang kakak sudah tertawa mendengar ucapan jujur Naya.


"Yang penting abang pinter". Sombong Kai membuat Naya berdecih.


" Pinteran bang Ken aja bangga. Walaupun tulisannya sama jeleknya". Ledeknya membuat dirinya mendapat hadiah pitingan dari Kai dan Ken mengacak-acak rambut Naya.


"Abang kalo nggak lepas Nay bongkar nih aib abang sama bang Ken". Ancam Naya membuat Kai mengeratkan pitingannya hingga Naya berteriak.


" Beneran Nay bongkar ya.!!". Teriak Naya


"Kakak semua pada tau nggak kalo most wantednya SMA Garuda tuh pernah rebut----" Ken langsung membungkam mulut adiknya yang tak berfilter itu. Sementara Satria yang tahu aib keduanya sudah terbahak melihat wajah panik si kembar.


"Diem dek..diem". Ucap Ken mengeratkan tangannya dimulut sang adik.


" MOMMY..!!!!!" Teriak Naya ketika tangan Ken menjauh.


"Mommy..Nay di bully sama abaaaang!!!!". Kai melepaskan pitingannya untuk menggunakan tangannya menutup telinganya. Teriakan adiknya bisa merusah gendang telinganya jika dibiarkan.


Mendapat kesempatan melepaskan diri, Naya segera bangkit dan melarikan diri. Ia berlari cukup jauh sebelum berhenti dan menatap licik kedua kakaknya yang menggeleng kuat.


" Kalo kakak semua tahu ya..abang aku yang katanya most wanted itu..pernah berantem gara-gara rebutan kolor gambar suparman. Hahahahaha". Naya tertawa sambil menjulurkan lidahnya pada kedua kakaknya yang wajahnya memerah. Sementara teman-teman sang kakak sudah ngakak.


"Tuh apalagi yang kaya kulkas..nggak pernah deketin cewe..sekalinya deketin------"


"ADEEEEEKKK!!!". Teriak Ken kemudian bangkit hendak mengejar Naya yang berlari sambil berteriak melanjutkan kalimatnya.

__ADS_1


" Sekalinya suka sama cewe..eeeeh DITOLAK". Tawa Naya masih terdengar, sementara Ken sudah berlari mengejar adiknya yang sudah masuk kedalam kamarnya dan menguncinya. Kini dirinya benar-benar malu, aibnya dan Kai dibuka oleh adiknya.


Lebih malu lagi karena gadis yang dibicarakan Naya ada diantara ketiga gadis yang ada dengan dirinya saat ini. Aaah..adiknya benar-benar minta ditukarkan.


__ADS_2