Imperferct Partner

Imperferct Partner
kepergian Al


__ADS_3

"Al.." Panggilan Ken membuat Al mengalihkan perhatiannya pada teman baiknya itu. Ia mengangkat sebelah alisnya seolah bertanya 'apa?'


"Lo..kata Satria lo lanjut ke LN. Bener?". Tanya Ken hati-hati.


" huft.." Al menghela nafas panjang kemudian menghembuskannya pelan. Seolah mengisi seluruh paru-parunya dengan udara segar. Ia tahu cepat atau lambat pertanyaan yang enggan ia jawab pasti akan ia dengar juga.


"Hemm.." Al menjawabnya dengan deheman.


"Kenapa? Bukannya lo bilang mau kuliah bareng kita?". Tanya Ken menuntut.


" Karna Naya?". Tanya Ken lagi.


"Naya? Kenapa harus Naya?". Al balik bertanya.


" Al.."


"Bukan Ken.." Al kembali menghela nafas panjang.


" Nenek pengen gue nemenin beliau dinegara itu Ken". Al melirik Ken, melihat reaksi temannya sebelum melanjutkan ceritanya.


"Lo yakin?". Ken menatap serius Al yang membuang muka melihat Ken menatapnya.


" Ya.." Jawabnya tanpa menatap Ken.


"Gue kenal elo nggak sehari dua hari Al". Ken tahu temannya itu tengah berbohong padanya.


" Gue harap persahabatan kita nggak akan pernah putus karena ini Al". Imbuhnya membuat Al menatapnya.


"Lo sok tau Ken". Al terkekeh pelan. Sepandai-pandainya ia mengelak, rupanya temannya itu lebih memahaminya.


" Gue bahagia liat Naya bahagia Ken". Ucap Al pelan membuat Ken langsung menatap nya kembali. Jadi benar apa yang ia dan Kai pikirkan. Al sengaja menjauh dari negara ini karena menghindari Naya.


"Al----"


"Gue gapapa Ken. Gue nggak selemah itu, dan lo tau itu".


" Selagi dia bahagia, gue juga bakal bahagia.."


"Jadi pastiin Akbar nggak pernah bikin Naya nangis. Karna gue bakal dateng buat rebut Naya kalo Akbar sampe bikin tu bocah nangis". Al tersenyum tipis mengakhiri ucapannya.


" Dan gue pastiin lo nggak akan pernah punya kesempatan buat rebut dia Al. Gue pastiin Naya nggak akan pernah nangis karna gue". Al tersentak kaget mendengar suara Akbar yang berada tepat dibelakangnya.


"B-Bar.." Al tergagap. Ia melihat Akbar yang tersenyum seperti biasanya Akbar yang ia kenal.


"Gu-gue----" Belum sempat Al menyelesaikan kalimatnya. Akbar sudah memberi kode untuk dirinya diam.


"Gue tahu kalo lo ada rasa ama Naya, Al".


"Bahkan sejak lo belom sadar". Akbar tersenyum disamping Al.


" Bar..ini---"


"Gue tau lo suka sama Naya, lo sayang sama Naya. Tapi sorry Al..gue nggak bisa lepas Naya. Gue juga sayang banget sama dia.." Ucap Akbar menatap Al yang juga sedang menatapnya.


Sementara Ken yang melihat kedua pria yang mencintai adiknya hanya bisa mendengaarkan saja tanpa bisa melakukan apapun. Sungguh ia tak ingin persahabatan mereka hancur karena permasalahan hati.


"Gue juga nggak minta lo kasih Naya buat gue Bar. Gue cuma mau liat Naya bahagia". Al menepuk pundak Akbar dengan senyum dibibirnya.


" Nggak sepenuhnya gue pergi karna Naya, bro. Nenek gue emang nyuruh gue kesana buat nemenin beliau". Imbuhnya yakin, semua ucapannya tak sepenuhnya berbohong. Sang nenek memang memintanya untuk menemani hari tuanya.


"Per-persahabatan kita bakal tetep baik-baik aja kan?". Tanya Ken memecah keheningan. Ia ditatap oleh dua pria yang sama besarnya menyayangi Naya.


" Hahaha..apa yang lo khawatirin Ken?". Tanya Al terbahak.


"Lo pikir gue ama Akbar bakal adu otot, adu jotos gitu? Kaga lah Ken..gue kaga segila itu". Al masih terkekeh.


Ken begitu lega mendengar ucapan Al, meski sebenarnya ia tahu dan dapat melihat rasa sakit dari pancaran mata Al. Namun setidaknya persahabatan mereka tetap baik-baik saja. Ken patut bersyukur untuk itu.


 


 


Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, seluruh siswa kelas XII sedang berdebar menantikan pengumuman kelulusan mereka. Sementara Akbar dan Naya semakin dekat, namun Akbar masih menahan diri untuk menyatakan perasaannya pada Naya.

__ADS_1


Sorakan bahagia terdengar memenuhi seluruh aula SMA Garuda. Seluruh siswa kelas XII dinyatakan lulus semua. Seperti biasa, nilai Ken dan teman-temannya selalu memuaskan. Bahkan satu diantara mereka memiliki nilai tertinggi diantara seluruh siswa kelas XII.


Para guru berpesan untuk tidak melakukan aksi corat coret baju. Namun apalah daya para pendidik, semua siswa beralasan jika itu akan menjadi kenang-kenangan mereka.


Jadilah saat ini baju murid kelas XII sudah tak berbentuk, terdapat coretan sana sini dibaju putih mereka.


" Otak lo makin tok cer aja Al..bangga gue punya temen kaya elo". Rendra berkali-kali menepuk bahu Al yang nampak acuh tak acuh mengetahui dirinya lah pemilik nilai tertinggi seantero SMA Garuda.


Setelah kejadian beberapa bulan lalu dirumah Ken, sebisa mungkin Al menghindari Naya. Ia tak pernah lagi makan bersama teman-temannya ke kantin. Atau lebih memilih makan dimeja yang berbeda dengan yang lain.


Ken dan Kai memahami situasi, terkadang mereka menemani Al dan meminta Akbar dan Naya untuk jangan bergabung. Tentu saja Akbar tahu alasan temannya itu menjauhi Naya. Ada perasaan bersalah pada sahabatnya itu, namun dirinya tak bisa jika harus melepas Naya untuk siapapun, termasuk Al.


"Kak Aaaaallllllll..." Teriakan melengking itu membuat Al menoleh. Ia melihat Naya yang sudah menggandeng lengan Akbar datang menghampirinya.


"Hari ini hari terakhir lo bisa liat wajah ngeselin tu bocah Al. Jangan menghindar lagi". Batin Al bertekad kuat.


Berat bagi Al menjauh dari Naya, bahkan ia tak pernah ikut berkumpul jika tempat berkumpulnya dirumah Ken. Ia masih belum mampu membiasakan diri melihat kedekatan Naya dan Akbar.


" Kak Al..selamat ya..waaah nggak nyangka ternyata freezer kaya kak Al pinternya nggak ketulungan. Kulkas aku aja kalah". Cerocos Naya begitu sampai didepan Al.


"Berisik". Ucap Al membuat Naya mencebik.


" Ini tu aku kasih ucapan selamat buat kakak". Sengit Naya yang memanyunkan bibirnya lantaran kesal.


"Ya..ya..makasih". Ingin rasanya Al mengelus pucuk kepala gadis manis itu. Namun sebisa mungkin dirinya menahan tangannya.


" Ish..dasar freezer ngeselin!". Kesal Naya yang terlihat semakin menggemaskan.


"Hari ini kerumah gue ya Al.." Ucap Ken membuat Al menoleh menatap Ken. Ia kemudian menggelengkan kepalanya.


"Kak Al kenapa sih gamau ke rumah? Udah beberapa bulan loh aku nggak liat kakak main". Tanya Naya polos membuat para lelaki didekatnya ingin meneriakkan kata-kata indah ditelinga gadis itu.


" Gara-gara lo markonah!!!". Jerit Al dan yang lain, namun tentu semua itu hanya suara hati mereka. Mereka tak ingin semakin pusing jika Naya bertanya ini itu nantinya.


"Kali ini lo kaga bisa nolak Al. Anggep aja ini perpisahan buat kita". Akbar mendekat pada Al.


" Perpisahan? Emang kak Al mau kemana??". Dasar gadis cerewet, ingin rasanya Al mencubit bibir mungil itu.


"Bener kata Akbar Al..besok pagi lo udah pergi kan? Seenggaknya kita kumpul bareng lagi sebelum lo pergi". Timpal Kai ikut memaksa Al.


"Bener kata si Kai. Lo harus mau..nggak ada alasan, dan nggak nerima penolakan". Keputusan mutlak Satria membuat Al pasrah dan mengikuti keinginan teman-temannya.


Setidaknya sampai malam nanti ia bisa berpuas-puas menatap wajah cantik Naya. Ia akan menyimpan pahatan wjaah ayu itu jauh didalam lubuk hatinya.


" Pada denger aku nanya apa enggak sih!!!". Seru Naya yang sudah sangat kesal.


Ken dan yang lain menatap Naya yang terlihat bersungut-sungut. Terlihat sangat lucu dan menggemaskan.


"Al mau kuliah di LN". Jelas Akbar membuat Naya terkejut.


" Hah?? Loh katanya disini bareng abang sama kak Biru?". Tanya Naya tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.


"Bocah kaga usah banyak tanya". Ucap Al membuat Naya menatapnya tajam


" Dasar freezer. Ntar aku tutupin pintu biar nggak bisa masuk..wlee". Naya menjulurkan lidahnya mengejek Al yang tersenyum tipis.


Sore itu mereka memutuskan berkumpul dirumah Ken. Mereka akan merayakan pesta kelulusan sekaligus perpisahan dengan Al yang akan pergi jauh dari mereka.


Sesampainya dirumah Ken, mereka sudah disambut Kirei dengan senyum hangat. Satu persatu teman Ken mencium punggung tangan Kirei dan mendapat ucapan selamat. Hingga tiba dengan Al, ia mencium punggung tangan Kirei cukup lama.


"Selamat ya Al..kamu benar-benar membanggakan". Kirei menepuk bahu Al yang tersenyum pada Kirei.


" Makasih tante.."


"Tante dengar kamu akan melanjutkan studi mu di LN? apa benar?". Tanya Kirei dijawab anggukan kepala oleh Al.


" Iya tan..besok pagi Al pergi " Kirei dapat menangkap nada tak rela dari suara Al. Ia pernah mendengar percakapan antara Ken dan Kai tentang perasaan Al pada putrinya. Sejujurnya ia bersyukur banyak pemuda baik mencintai anaknya. Namun apa daya, Naya bahagia bersama Akbar.


"Tante harap kamu akan bahagia..sukses selalu ya". Kirei memeluk Al yang sedikit terkejut dengan perlakuan Kirei padanya. Mungkinkah ibu dari gadis yang ia sayangi itu tahu jika ia menyimpan rasa untuk Naya.


" Pasti..makasih doanya tante.." Al balas memeluk Kirei.


######

__ADS_1


"Bakarnya yang bener Ren.." Seru Satria


"Mat*mu bener..bantuin anj*r!!". Sengit Rendra yang sibuk membakar daging.


" Yaelah gitu aja minta bantu". Cibir Satria, namun tak urung ia bangkit dan membantu Rendra.


"Kak.." Panggil Naya membuat Al menoleh. Disana hanya dirinya dan Naya saja. Yang lain sedang sibuk dengan makanannya.


"Kakak kenapa ke LN?". Tanya Naya yang seolah masih belum puas dengan jawaban Al.


" Kan tadi udah gue kasih tau". Sahut Al pura-pura acuh.


"Padahal aku seneng ada kak Al.." Al langsung menoleh pada Naya yang terlihat sedih. Bolehkah ia berharap jika Naya memiliki perasaan padanya.


"Kakak aku jadi ngurangin satu dong kalo kakak pergi". Ucapan Naya mampu meruntuhkan harapan Al.


" Bodoh lo Al..lo berharap apa emangnya? Harusnya lo sadar kalo hati Naya udah ada yang punya. Dan itu bukan elo". Al merutuki kekonyolan pikirannya yang berharap Naya merasa kehilangan dirinya sebagai seorang pria. Benar-benar bodoh, pikirnya.


"Lo harus bahagia Kay...Jangan pernah nangis karna apapun. Lo harus selalu bahagia dan tersenyum". Al menepuk pelan pucuk kepala Naya. Dirinya ingin memeluk Naya, namun ia urungkan demi menjaga perasaan Akbar, dan juga perasaannya sendiri tentunya.


" Aaaa...aku pasti kangen ama sikap kakak yang kaya freezer ini". Tubuh Al membeku, Naya memeluknya erat.


"Sering-sering pulang ya kak.." Ucap Naya lirih. Entah mengapa ia merasa sangat kehilangan sosok dingin yang juga selalu melindungi dan menuruti kemauannya itu.


Ia mengedarkan pandangannya, takut orang yang melihatnya akan salah paham. Dan benar saja, Akbar tengah menatapnya dan Naya. Namun bukan tatapan amarah, bahkan Akbar tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Melihat Akbar memberikannya izin, ia balas memeluk Naya. Ia menepuk punggung Naya beberapa kali, kemudian tangannya mengelus rambut Naya yang tak terlalu panjang itu.


"Janji sama gue kalo elo bakal bahagia Kay.."Ucap Al lirih mengeratkan pelukannya pada Naya.


" Gue nggak akan pernah lupain elo Kay..disini..didalam hati gue, elo udah punya tempat paling luas. Lo yang milikin hati ini..semoga lo bahagia". Al tulus mendoakan kebahagiaan Naya.


Perlahan ia melepas pelukannya pada gadis itu. Ia mengelus pucuk kepala Naya dengan lembut disertai senyum tulus yang membuat Naya termenung melihat senyum itu. Senyum yang jarang, bahkan hampir tak pernah Al tampakkan.


Aaaah..dirinya benar-benar akan merindukan lelaki dingin menyebalkan ini sepertinya.


Al mengajak Naya bergabung dengan yang lain untuk menikmati hidangan yang sudah susah payah Rendra dan Satria siapkan untuk mereka semua.


Malam itu suasana sangat ramai, bahkan Naya sengaja membawa Aisha dan juga Ibra serta Mayra tentunya. Rumah Tama benar-benar ramai dan hangat.


Entah karena Al akan pergi atau bagaimana, Naya tak pernah jauh dari Al. Ia selalu menempel dan mengikuti kemanapun pemuda itu pergi. Dan Akbar sengaja membiarkannya.


"Gue nggak akan pernah lupain malem ini Kay..sampai kapanpun". Batin Al melirik gadis yang masih asik mengoceh disampingnya.


" Gue harap lo temuin kebahagiaan elo yang sebenernya Al". Batin Akbar tulus.


"Gue pamit dulu ya.." Al berpelukan dengan teman-temannya bergantian.


"Ati-ati Al. Kita selalu doain lo.." Kai menepuk punggung tenannya yang tengah memeluknya.


"Pasti.."


"Sering-sering nengok kita disini bro. Jangan putus komunikasi". Kini Ken yang memeluknya.


" Tenang bro..doain aja gue punya duit buat bolak-balik". Kelakar Al disambut tawa teman-temannya.


"Jaga dia Bar..gue bener-bener bakal balik buat ambil dia kalo lo sakitin dia". Bisik Al saat berpelukan dengan Akbar. Akbar tersenyum dibalik punggung Al. Dia berpikir, mungkin sebenarnya cinta Al lebih besar daripada cintanya pada Naya. Namun betapa beruntungnya ia karena Naya ternyata lebih nyaman dengannya. Ia berjanji pada dirinya sendiri, ia akan menjaga Naya dengan nyawanya. Dan mencintai Naya dengan segenap hidupnya.


" Dan gue pastiin kalo elo nggak akan pernah punya kesempatan itu". Balas Akbar berbisik


Al terkekeh pelan dibalik punggung Akbar. Kini setidaknya ia akan tenang pergi jauh dari gadis bawel itu. Akbar akan menjaga dan mencintai Naya dengan nyawanya sendiri. Keduanya saling melepaskan pelukan, Al kemudian beralih pada Kirei dan Tama. Ia mencium punggung tangan keduanya dan berpamitan.


"Huaaaaa...kakak". Tangis Naya akhirnya pecah juga. Ia kembali memeluk Al dengan kuat hingga membuat Al salah tingkah sendiri.


" Heh..lo kenapa sih Kay. Gue cuma kuliah, kaga mati". Al menepuk pelan punggung Naya dan mengelusnya perlahan, berharap bisa mengurangi tangis Naya. Namun tangisannya justru semakin kencang.


"Huaaaaaa...nan-ti sia-pa yang..yang beliin aku ja-jan tambah-an". Suara Naya terputus-putus lantaran menangis.


" Ada Akbar Kay..ada abang-abang elo. Udah dong..cup..cup". Al terus mengelus punggung Naya yang naik turun.


"Udah ya..gue pulang dulu. Baek-baek lo". Akbar menepuk pucuk kepala Naya beberapa kali.


" Om..tante..saya pamit. Assalamualaikum ". Al berbalik menuju motornya setelah semua orang menjawab salamnya. Ia masih mendengar suara tangisan Naya, ingin ia berbalik. Namun ia takut jika melihat wajah Naya, ia akan goyah dengan pendiriannya.

__ADS_1


" Gue harap gue nggak akan pernah kembali karna tangisan lo Kay..Lo harus bahagia. Harus".


__ADS_2