
Suasana meja didominasi dengan suara Kirei dan Kalina yang terus bercerita tentang masa-masa kuliah keduanya. Tama baru melihat sosok lain dari istrinya. Rupanya istri cantiknya itu sangat cerewet bila sudah bertemu dengan orang yang dekat dengannya.
"Terus sekarang kak Lili kerja dimana?". Lili adalah panggilan kesayangan Kirei untuk Kalina semenjak dibangku kuliah dulu.
"Kakak nggak kerja. Pengangguran kaya gue mah Ki". Kekeh Kalina membuat Kirei mencebik.
Saga dan Gery lebih memilih makan sambil mendengarkan obrolan kedua gadis yang terlihat sangat dekat itu.
"Si Tania gimana kabar? Masih player tu bocah?". Tanya Kalina yang tiba-tiba teringat dengan sahabat baik Kirei.
"Ya gitu deh. Tapi gue penasaran deh kak. Gimana ceritanya lo berdua bisa deket, bahkan udah mau nikah?". Tanya Kirei menatap serius Kalina yang justru terkekeh melihat tingkah Kirei.
"Yaaa..dulu lo tau lah ya ini es balok demennya ama siapa. Sayang aja dia kaga jago ngelobi. Elo nya juga kaya es balok jadi gagal deh dia. Pindah haluan ngejar gue doi". Ucapan Kalina membuat suasana tiba-tiba hening.
Tama hampir saja menyemprotkan minuman yang baru saja masuk kedalam mulutnya mendengar ucapan clientnya itu. Artinya, Reza pernah menaruh hati pada Kirei?
"Gue juga kaga tau sih gimana awalnya, cuma lama-lama kita nyaman aja. Saking seringnya ribut kali ya". Kalina menutup kalimatnya dengan tawa.
"Ish..apaan sih jadi ngomongnya kemana-mana elo mah kak". Kirei dapat melihat ketidaknyamanan Tama dengan pembahasan Kalina tentang masa lalunya saat kuliah dulu.
"Eh beneran loh. Tanyain ni orangnya. Susah move on dia tu". Kalina melirik Reza yang hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat kelakuan calon istrinya.
"Dih..ogah banget gue ama es balok. Mau jadi apaan anak gue ntar kalo bapaknya kaya gini". Sudah kepalang tanggung, akhirnya Kirei membalas ucapan Kalina.
"Eh..sekata-kata lo bocah. Yang es balok tu gue apa elo?". Sahut Reza tak terima.
"Ya elo..gue mah anak manis sholehah, ramah, murah senyum banyak yang suka". Jawab Kirei tak mau kalah.
"Dih..batu jalan juga masih lebih enak diliat daripada elo Ki. Muka lo mah lempeng mulu. Pantes kalo ada yang deketin langsung ngacir". Kirei melotot mendengar ucapan Kalina yang terang-terangan.
"Haish..lo berdua bikin gue jelek aja didepan laki gue". Desis Kirei membuat kedua seniornya itu terbahak.
Sementara Tama, lelaki itu tiba-tiba kehilangan ***** makannya setelah mendengar sendiri dari mulut Kalina bahwa Reza pernah menaruh hati pada istrinya. Pantas saja kebahagiaan jelas terpancar dari wajah tampan client nya itu ketika melihat Kirei.
"Duh Ki..kita kaga bisa lama-lama nih. Gue masih harus fitting baju pengantin gue". Kalina merasa tak enak meninggalkan Kirei setelah tadi memaksanya untuk makan siang bersama.
"Santuy aja kali kak. Kaya ama siapa aja lo". Kirei mengulas senyum manis pada dua orang yang sudah berdiri, siap meninggalkan meja makan itu.
Reza mengulurkan tangannya pada Tama yang sejak tadi hanya diam tanpa berkomentar apapun.
"Senang bekerjasama dengan anda pak Tama. Dan soal ucapan calon istri saya, jangan anda masukkan hati. Itu hanya masa lalu saja". Reza mengulas senyum simpul, menyadari ketidaksukaan Tama tentang masa lalu mereka.
__ADS_1
"Sekarang Kirei hanya sebatas adik untuk saya. Tapi jangan sampai anda menyakitinya. Akan banyak lelaki yang merebutnya dari anda jika sampai anak ini lepas dari anda". Suara Reza terdengar tegas penuh peringatan walau wajahnya masih mengulas senyuman tipis.
Tama tersenyum tipis menjabat tangan Reza
"Saya pastikan tidak akan ada yang bisa merebut istri saya". Jawaban Tama membuat Kirei menoleh. Mendapati wajah sang suami penuh keyakinan, seolah pernikahan mereka benar-benar karena cinta dan Tama benar-benar tidak akan melepaskannya.
Kirei melambaikan tangannya pada Kalina dan Reza yang meninggalkan parkiran restoran tempat mereka makan. Tidak sedikitpun Tama mengajaknya berbicara seperti biasa. Tama seperti patung yang berjalan membuat Kirei kesal.
"Lo masih ada kerjaan? Kalo ada gue pulang aja. Daripada kaya jalan ama patung". Sindir Kirei memasang tampang datarnya.
Tama menoleh, menatap sang istri yang sibuk memainkan ponselnya. Sepertinya istrinya ingin memesan taxi online.
"Kita pulang". Tama mengambil ponsel Kirei dan memasukkannya disaku celananya. Kemudian menggandeng tangan Kirei dan membawanya ke mobil.
Saga dan Gery ingin tertawa keras melihat Tama cemburu hanya dengan mendengar sedikit cerita masa lalu Kirei. Keduanya memasang wajah biasa ketika Tama tiba-tiba membalikkan badannya.
"Sisanya gue percayain ama lo berdua". Setelah Gery dan Saga mengangguk, Tama segera berjalan memutar dan duduk dibangku kemudi. Tanpa berbicara sepatah katapun, Tama melajukan mobilnya membelah padatnya jalanan kota untuk pulang ke apartemennya.
###
Hari sudah mulai sore ketika mereka sampai di apartemen Tama. Sepanjang perjalanan hanya keheningan yang mengisi udara disekitar mereka. Sepanjang jalan Kirei terus mengumpati Tama dalam hatinya karena hanya diam.
Tama langsung masuk kedalam kamar lain yang ia fungsikan sebagai ruang kerjanya. Sementara Kirei memilih membersihkan tubuhnya didalam kamar.
Kirei sibuk dengan kegiatan memasaknya hingga tidak menyadari Tama sudah berdiri dibelakangnya. Melihat Kirei hanya memakai kaos longgar dan hotpants dengan rambut yang dicepol asal-asalan saja sudah membuat Tama kesulitan menelan ludahnya.
"Astaga! Lo ngap---". Suara Kirei terhenti kala bibirnya dibungkam oleh Tama. Tangan Tama bergerak mematikan kompor yang masih menyala. Kemudian Tama mengangkat tubuh Kirei, mendudukkannya diatas meja makan tanpa melepaskan tautan bibir keduanya.
"Malem ini gue nggak akan lepasin elo, Ki". Bisik Tama dengan nafas memburu. Suaranya terdengar berat, dan Kirei tahu bahwa suaminya sudah menginginkannya.
Tama melepaskan melemparkan secara asal kaos yang ia kenakan hingga Kirei bisa melihat betapa sempurnanya tubuh sang suami. Perut rata dengan otot yang membuat Tama semakin terlihat seksi.
"Kedip juga..gue tau kalo gue seksi". Rasa kagum Kirei langsung ambyar mendengar kenarsisan sang suami.
Tepat saat Tama hendak mencium bibir Kirei lagi, ponsel Kirei berdering. Namun keduanya memilih mengabaikan deringan ponsel dan meneruskan kegiatan panas mereka.
Ponsel Kirei terus berdering, membuat Tama mendengus kesal. Keduanya melirik ponsel Kirei yang ada diatas nakas samping ranjang. Nama rumah sakit tempatnya bekerja terpampang jelas dilayar ponselnya.
Ia menoleh kemudian menatap Tama seolah meminta ijin pada sang suami untuk menjawab panggilan itu. Setelah menghela nafas panjang, Tama menyingkir dari depan sang istri untuk memberi ruang pada Kirei menjawab panggilan teleponnya.
Setelah berulang kali menghela nafasnya dan membuangnya perlahan, Kirei menggeser icon telepon dilayar ponselnya kemudian menempelkan benda pipih itu ditelinganya.
__ADS_1
"Halo". Sapa Kirei berusaha mengatur suaranya.
".........…"
"Saya akan segera kesana". Kirei mematikan ponselnya kemudian melemparnya ke atas ranjang.
"Kenapa?". Alis Tama menukik, perasaannya tiba-tiba tidak enak setelah Kirei menjawab panggilan telepon dari rumah sakit ayahnya.
"Gue harus kerumah sakit". Kirei turun dari ranjang dengan membawa selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Hah?". Mulut Tama menganga mendengar ucapan Kirei. Apakah malam ini dirinya harus kembali menahan hasr**nya.
"Sorry. Ada keadaan darurat dirumah sakit. Mereka butuh bantuan lebih banyak dokter". Jelas Kirei dengan wajah bersalah. Ia merasa kasihan pada Tama karena sudah kedua kalinya Tama harus menahan keinginannya.
Tama menghembuskan nafasnya berat.
"Lo siap-siap aja. Gue anterin". Tama bangkit dan berjalan menuju kamar. Kirei menghembuskan nafas lega melihat Tama berjalan menuju kamar lain. Meski kasihan kepada suaminya itu, namun tugasnya sebagai seorang dokter tidak dapat ia tinggalkan begitu saja.
Kirei mandi untuk menghilangkan hawa panas yang masih terasa ditubuhnya. Bayangan Tama menjamah tubuhnya masih terus terngiang dipikiran gadis itu.
Tepat saat Kirei selesai mengenakan pakaiannya. Pintu kamar terbuka, menampilkan Tama yang terlihat segar dengan pakaian casual yang menempel ketat ditubuh atletisnya. Sepertinya suami Kirei itu juga mandi untuk menenangkan juniornya yang sudah terlanjur terbangun karena kegiatan panas mereka beberapa waktu lalu.
"Udah siap?". Tanya Tama yang langsung diangguki oleh Kirei. Ia mengulurkan tangannya pada Kirei, membuat senyum Kirei mengembang. Ia segera menerima uluran tangan Tama yang menggandengnya keluar dari kamar mereka.
Tama terus menggandeng tangan Kirei hingga sampai di mobil. Rasanya enggan membiarkan Kirei pergi menjalankan tugasnya malam ini. Ia ingin mengurung Kirei didalam kamarnya saja. Namun Tama sadar bahwa ketenangan istrinya adalah jika ia bisa menyelamatkan sebanyak mungkin nyawa orang yang memang tengah membutuhkan bantuannya.
Tama memacu kuda besinya dengan kecepatan tinggi karena ponsel Kirei terus berdering dengan nama rumah sakit milik sang ayah sebagai pemanggilnya. Itu artinya keadaan saat ini sudah sangat gawat hingga mereka terus menghubungi Kirei.
Sampai didepan IGD, sudah banyak mobil ambulance yang lalu lalang. Telepon dari rumah sakit tadi mengabarkan bahwa telah terjadi kecelakaan beruntun yang menyebabkan banyak korban hingga mengharuskan rumah sakit memanggil semua dokter. Bahkan semua dokter magang pun dipanggil untuk membantu menangani semua korban kecelakaan.
Kirei melepaskan sabuk pengamannya dan segera meraih pintu dan hendak membukanya. Namun urung melakukannya dan justru membalikkan tubuhnya menghadap sang suami yang terlihat heran melihat Kirei yang justru menatapnya.
Kirei mengulurkan tangannya, rupanya gadis itu ingin salim pada suaminya. Tama tersenyum tipis sebelum membalas uluran tangan Kirei yang langsung mencium punggung tangannya.
"Jangan terlalu capek". Peringat Tama yang dijawab anggukan kepala oleh Kirei. Kirei mencondongkan tubuhnya ke arah sang suami dan mengecup singkat bibir Tama yang tiba-tiba mematung mendapat kejutan besar dari gadis galaknya itu.
"Maaf ya..gue pergi dulu. Hati-hati dijalan". Kirei segera turun meninggalkan Tama yang masih diam. Perlahan tangannya terangkat untuk mengelus bibirnya yang baru saja dikecup oleh istrinya. Sudut bibirnya terangkat sempurna, hatinya terasa bahagia, seolah ada ribuan kupu-kupu yang terbang didalamnya.
"Kaya gini aja gue seneng Ki. Apalagi kalo lebih". Gumam Tama menggelengkan kepalanya dengan senyum terus merekah dibibir seksinya.
####
__ADS_1
Maaf telat update, sebenernya udah dari 3hari lalu update. Tapi selalu ditolak karena ada unsur dewasanya..jadi harus mengganti ceritanya. Semoga masih bisa menghibur reader semua, selamat membaca😊😊