Imperferct Partner

Imperferct Partner
End


__ADS_3

Malam ini Naya menghabiskan waktunya dengan bercengkrama dengan Diandra. Ia bahkan terlihat paling sibuk membuatkan susu jika bayi lelaki tampan bernama Gaara itu menangis karena haus.


"Kamu udah siap banget jadi ibu kayanya ya?". Goda Diandra membuat Naya tersipu malu.


Keduanya tengah memandangi wajah tampan baby Gaara, alisnya yang tebal serta hidung mancungnya benar-benar persis seperti ayahnya.


" Bukankah dia wanita kejam Nay?". Ucapan Diandra membuat atensi Naya beralih padanya. Ditatapnya wajah Diandra yang terlihat menerawang, menatap langit-langit kamar miliknya.


"Dia sudah mengambil cintaku..dan setelah aku mencoba mengikhlaskannya, dia dengan tega pergi meninggalkan nya". Diandra tersenyum kecut.


" Bahkan dia ibu yang kejam..dia tega meninggalkan bayi tidak berdosa ini". Sudut mata Diandra mulai menggenang air.


"Di.."


"Sekarang dia dengan mudahnya menitipkan Gaara untuk aku jaga. Apa dia benar-benar manusia?". Diandra mulai terisak hingga membuat Naya bangkit dan memeluknya.


" Dimana hatinya? Kenapa dia menitipkan Gaara padaku. Tidak tahukah dia jika ini membuat lukaku kembali menganga lebar??". Naya mengelus punggung Diandra.


Selama hampir tiga bulan ini, Naya selalu menjadi tempat Diandra mencurahkan keluh kesah dan kesedihannya.


"Aku yakin kamu mampu Di. Dan apa yang sudah kamu pilih adalah yang terbaik.." Diandra mengangguk dalam pelukan Naya.


"Apa Dimas juga kamu undang?". Diandra menghapus sisa air mata dipipinya.


" Ya..tentu saja. Dia juga teman baikku Di".


"Kamu yakin memangnya kalau dia pasti datang??". Goda Diandra


" Awas saja kalau dia tidak datang. Aku akan menghajarnya". Ucap Naya berapi-api.


"Memangnya kamu berani??". Tanya Diandra membuat bahu Naya merosot.


" Ya enggak. Mana berani aku sama anak konglomerat kaya dia". Diandra terkekeh pelan. Dirinya sama terkejutnya mengetahui identitas sebenarnya seorang Dimas.


"Nggak nyangka ya..kita temenan sama anak pengusaha kaaya raya". Keduanya tergelak ketika mengingat bagaimana kurangajarnya sikap keduanya pada Dimas. Jika sejak awal mereka tahu siapa Dimas, mungkin mereka akan sedikit segan pada lelaki itu.


Terdengar suara ketukan pintu saat kedua wanita itu tengah bersenda gurau. Naya membukakan pintu dan nampaklah sang ibu yang berdiri dihadapannya kini.


" Ada apa mom??". Tanya Naya


"Tidurlah..jangan terlalu malam tidurnya". Peringat Kirei yang sejak sore memang sudah mewanti-wanti Naya untuk tidak tidur terlalu larut.


" Bentar lagi mom..aku masih ngobrol ama Diandra ". Naya melirik kedalam kamarnya, dimana Diandra sedang memberikan s*su pada Gaara.


" Jangan terlalu larut..nggak lucu banget kalo mau ijab qabul kamu bangun kesiangan". Naya tergelak melihat wajah Kirei yang bergidik membayangkan dirinya bangun kesiangan dihari pentingnya.


"Hahaha..nggak akan lah mom".


" Jangan kunci pintunya..besok pagi kalo mommy mau bangunin kamu biar nggak susah". Peringat Kirei entah untuk ke berapa kalinya.


"Astaga..iya mommy"


"Di..bantu tante bangunkan putri tidur ini besok pagi ya. Ingatkan dia untuk tidak mengunci pintu". Kirei melongokkan kepalanya kedalam dimana Diandra sedang duduk memangku Gaara yang sedang meminum su*unya.


" Beres tan..besok aku banjurin kalo susah bangun". Naya mencebik mendengar Diandra yang sama saja seperti mommy nya.


"Inget..jangan dikunci". Naya memutar bola mata nya, kesal lama-lama terus diingatkan hal yang sama.


" Iya mommy.."


"Kan nggak lucu pagi-pagi pake acara dobrak pintu". Kirei terus menggerutu sambil berlalu meninggalkan Naya yang menggelengkan kepalanya, heran melihat kecerewetan ibunya yang meningkat secara signifikan akhir-akhir ini.


Naya kembali masuk kedalam kamarnya dan mendapati Diandra masih memangku tubuh mungil Gaara.


" Kamu ganteng banget sih.." Naya menjembel pelan pipi Gaara.

__ADS_1


"Nanti kalo onty punya baby cewek, mau onty jodohin ama kamu..pasti seneng punya mantu ganteng kaya kamu". Naya terkikik membayangkan menjadi ibu mertua. Sementara Diandra hanya menggeleng sambil mendengus mendengar kekonyolan Naya.


Malam itu entah jam berapa kedua wanita itu tertidur, mereka benar-benar memaksimalkan waktu pertemuan mereka untuk membicarakan banyak hal. Mulai dari kehidupan sehari-harinya, pekerjaan, hingga masalah-masalah sepele yang konyol dan tidak penting.


Pagi ini Diandra terbangun saat sayup-sayup ia mendengar suara adzan, ia melirik jam di nakas samping ranjang Naya. Jam 4 lebih 25menit.


Ia kemudian melirik Naya yang rupanya masih bergelung manja dengan selimut tebalnya, kemudian ia melirik box bayi dimana Gaara ia tidurkan. Malam tadi tidurnya sangat nyenyak, Gaara yang biasanya terbangun berkali-kali, malam tadi hanya terbangun sekali.


Sepertinya bayi tampan itu tahu Diandra sedang menikmati waktunya bersama teman baiknya.


" Morning anak mama.." Diandra memberikan kecupan lembut didahi putranya. Ia beralih menatap Naya yang masih belum ada tanda-tanda akan bangun. Padahal hari ini gadis itu akan melepas masa lajangnya.


"Nay bangun.."


"Hmm.." Naya hanya bergumam dan merapatkan selimut nya. Diandra hanya tersenyum melihat tingkah Naya. Diandra memutuskan membersihkan dirinya dulu sebelum nanti kembali membangunkan calon pengantin pemalas itu.


"Astaga..dia tidur apa pingsan sih?". Gumam Diandra yang sudah selesai membersihkan dirinya.


" Hai gantengnya mama, udah bangun.." Diandra segera mengangkat tubuh mungil Gaara sebelum dia menangis.


"Kita bangunkan dia yang mengaku sebagai calon mertuamu itu ya.." Diandra membawa Gaara mendekat pada Naya.


"Onty..bangun lah. Apakah onty ingin uncle Yohan dibawa kabur orang". Diandra menirukan suara anak kecil. Sementara yang dibangunkan hanya menggeliat kegelian sat merasakan benda kecil memegang pipinya.


" Calon mertuamu kebluk ya sayang.."


"Jangan mengajarkan calon menantuku menjadi menantu nakal Di.." Diandra terkekeh mendengar suara serak Naya. Rupanya Naya terbangun saat Diandra menggunakan tangan mungil Gaara untuk mengelus pipinya.


"Astagaaaaa...Kanayaaaaa bangun!!!". Suara Kirei langsung memenuhi seluruh penjuru kamar Naya.


" Heem..."


"Banguuun..jangan ham hem aja. Itu perias nya udah dateng. Masa kamu belum mandi sih". Omel Kirei menunjuk tiga orang wanita yang berdiri didepan pintu kamarnya.


"Aku mandi dulu, terus shalat.. abis itu baru.."


"Baru dimake up??". Sambung Kirei cepat.


" Abis itu baru..makan". Naya langsung lari kedalam kamar mandi saat melihat ibunya melepas sebelah alas kakinya dan hendak dilemparkan pada Naya.


"Dasar.." Gerutu Kirei yang masih didengar oleh Diandra.


Selesai menjalankan kewajibannya menghadap sang pencipta, Naya mulai dirias. Sementara Diandra sibuk mengurus putranya, mulai dari memandikan hingga memakaikan baju pada Gaara. Semua Diandra lakukan sendiri, dan itu membuat hati Naya menghangat melihat perlakuan lembut Diandra pada bayi tak berdosa itu.


"Calon mertua kamu cantik banget ya.." Naya tersenyum melihat Diandra yang sudah siap dengan gaun sederhananya dan menggendong tubuh mungil Gaara yang terlihat lucu dengan kemeja kecil yang dipakaikan ditubuh mungilnya.


"Mbak Kanaya cantik banget.." Puji salah satu MUA yang disewa untuk merias Naya dan keluarganya. Sementara Diandra menolak ketika Naya memintanya untuk dirias juga.


"Itu calon mertua anak saya mbak.." Diandra ikut menimpali hingga membuat suasana semakin ramai dengan candaan Naya dan Diandra.


Naya tampak sangat cantik dalam balutan kebaya berwarna putih, sedangkan Diandra memakai kebaya berwarna peach yang mencetak jelas bentuk tubuh indahnya.


Sejak tadi senyum Naya tak pernah pudar menghiasi wajahnya, hari ini dirinya akan menikah dengan lelaki yang tak pernah ia bayangkan akan menjadi pemilik hatinya.


Diandra tersenyum melihat wajah tegang Naya. Ia mendekat bersama Gaara yang tak pernah lepas dari pelukannya sejak tadi.


"Pak Yohan yang ijab qabulnya kok kahmu yang tegang sih". Goda Diandra membuat Naya terkekeh geli. Benar juga apa ysng dikatakan Diandra. Mengapa dirinya yang tegang seperti ini. Tapi jujur dirinya tidak bisa menyembunyikan rasa berdebarnya menunggu Al mengikrarkan ijab qabul atas namanya.


Sementara diruang tamu rumah Tama yang sudah dihias sedemikian rupa, Al duduk dengan wajah tegang namun ketegangan itu tidak dapat menyembunyikjuan ketampanan yang hakiki lelaki itu.


Tama duduk dihadapan Al, bersiap menjabat tangan calon menantu nya yang terlihat jelas jika sedang tegang.


" Tenanglah..daddy tidak akan menghajarmu. Kenapa wajahmu pucat sekali?". Goda Tama untuk mengurangi ketegangan calon menantu nya itu.


Sementara Ken dan Kai yang mendengarnya hanya terkekeh geli. Mereka juga pernah berada diposisi Al, jadi mereka paham seperti apa rasanya.

__ADS_1


"Sudah siap?". Tanya penghulu pada Al dan Tama yang langsung mengangguk kompak.


" Silahkan jabat tangan ayah mempelai wanita". Penghulu mengarahkan Tama dan Al untuk saling menjabat tangan.


"Ananda Yohan Alexander bin Herman Alexander, aku nikahkan dan aku kawinkan engkau dengan putri kandungku, Kanaya Laika Mahendra dengan maskawin seperangkat alat shalat dan sebuah rumah dibayar tunai"


"Saya terima nikah dan Kawinnya Kanaya Laika Mahendra binti Wiratama Aksa Mahendra dengan mas kawin tersebut diatas, tunai!". Al melakukan nya dengan sangat tegas, hanya dengan satu tarikan nafas ia berhasil menjadikan Kanaya sebagai istri yang sah dimata hukum dan agama.


Al tidak dapat menyembunyikan kebahagiaannya bisa menjadikan seorang Kanaya menjadi istrinya. Sungguh ia sangat bahagia.


" Selamat ya Nay..kamu udah jadi nyonya Alexander yang resmi sekarang". Diandra memeluk Naya yang meneteskan air matanya ketika melihat Al yang mengucapkan ijab qabul dengan begitu lantang dan lancar.


"Makasih Di.." Naya balas memeluk temannya.


"Jangan nangis dong..nanti makeupnya luntur kan nggak lucu jadi kaya kunti". Diandra coba membuat Naya tersenyum.


" Kamu juga nangis waktu itu". Balas Naya meledek.


Tak lama pintu kamar Naya terbuka, Kirei masuk dengan air mata menggenang dipelupuk matanya. Hari ini, akgirnya putri terkasihnya telah resmi menjadi istri. Ia bahagia melihat putrinya akhirnya menemukan kebahagiaannya.


"Selamat sayang..kamu sudah Benar-benar menjadi seorang istri sekarang. Jadilah istri yang penurut, semoga kamu bahagia sampai akhir hayat kalian.." Kirei memeluk putrinya erat. Ia tidak mampu menyembunyikan perasaan harunya melihat Naya menikah.


"Terimakasih mom..Terimakasih karena selama ini mommy selalu menjaga dan menyayangi aku". Sekuat tenaga Naya menahan laju air matanya.


" Jangan menangis sayang..ini hari bahagiamu". Kirei menghapus air mata Naya. Kemudian seorang MUA mendekat dan merapikan makeup Naya


"Kita keluar, semua sudah nggak sabar nunggu pengantin perempuan nya. Terutama Al.." Kirei tersenyum menggoda membuat Naya tersipu malu.


Naya keluar dari kamar dengan diapit oleh Kirei dan Khanza, sementara Diandra dan Aisha berjalan dibelakang mereka dengan menggendong bayi lucu.


Al terpaku menatap kecantikan wanita yang sudah sah menjadi istrinya itu. Berulang kali ia memanjatkan puji syukur karena bisa memiliki Naya. Meski bukan dirinya lah cinta pertama gadis itu, namun dirinya bersyukur karena dia lah lelaki beruntung yang akhirnya memiliki Naya seutuhnya.


Bukan hanya Al, banyak pasang mata memandang takjub akan kecantikan pengantin wanitanya. Namun ada sepasang mata yang tidak terfokus pada Naya, melainkan seorang wanita muda yang tengah tersenyum menggendong bayi tampan yang merupakan anaknya.


Naya sampai didepan Al yang masih terus menaatap kecantikan istrinya itu.


"Mempelai wanita silahkan cium tangan suaminya, nanti biar suaminya bisa cepet cium keningnya. Kelihatannya udah nggak sabar banget ini mempelai pria nya". Goda penghulu yang disambut sorak sorai tamu undangan.


Naya mengulurkan tangannya pada Al dan mencium punggung tangan lelaki yang sudah sah menjadi suaminya itu. Bergantian Al mencium kening Naya begitu lama, seolah tengah menyalurkan seluruh perasaan bahagianya pada istrinya itu.


" Terimakasih sayang..kamu cantik sekali". Bisik Al membuat rona merah diwajah Naya semakin jelas terlihat


"Sudah dulu ya..mesra-mesraan ekstremnya bisa dilanjut nanti dikamar. Sekarang ini ditanda tangani dulu..kasian yang pada belum nikah kalau disuruh lihat yang hangat-hangat begini". Suara riuh para tamu semakin memeriahkan suasana. Naya benar-benar dibuat tersipu dengan godaan penghulu itu.


Acara berlanjut dengan resepsi, Naya dan Al berganti pakaian. Naya dengan gaun berwarna peach yang senada dengan warna kebaya yang dikenakan para bridesmaid nya. Pun dengan Al yang juga memakai setelan jas berwarna senada.


Kedua mempelai terlihat sangat bahagia, senyum tidak pernah luntur menghiasi bibir mereka.


Keduanya tak pernah menyangka akan menjadi sepasang suami istri. Namun inilah impian Al selama ini, menjadikan Kanaya sebagai istrinya dan ibu dari anak-anaknya.


" Aku bahagia Kay..sangat bahagia. Terimakasih sayang..I Love You.." Al mencium kening Naya diatas pelaminan. Tak peduli sorakan para tamu yang melihatnya.


"Aku juga sangat bahagia kak.." Naya memeluk tubuh Al setelah mengungkapkan perasaanya pada lelaki itu.


"I LOVE YOU".


**END


**********


Akhirnya selesai juga kisah cinta mereka..tunggu karya aku selanjutnya ya semua..


Terimakasih untuk dukungannya selama ini..


Lope lope sekebon buat reader semuaaa**.....

__ADS_1


__ADS_2