Imperferct Partner

Imperferct Partner
pak Yohan


__ADS_3

Hari yang Naya takutkan akhirnya tiba. Bahkan semalam ia tak bisa tidur hanya karna memikirkan akan bagaimana menghadapi direktur nya. Dan sial nya lagi..pagi ini Naya terlambat bangun karena semalam tak bisa tidur dengan benar. Jika kalian menanyakan dimana Diandra, maka gadis itu pun sama dengan Naya.


"Kamu gimana sih Di..kok malah kesiangan juga". Naya terus mengomel pada temannya saat keduanya sibuk memoles bibirnya dengan pelembab.


" Ya aku mana tahu kamu bakal kesiangan. Sejak kamu pindah, mak lampir jadi limpahin kerjaan ke aku sama Dimas. Greget banget deh aku pengen nampol mukanya". Sungut Diandra


"Ah ini sih bakal kena omel lagi. Ketemu direktur baru sekali ini malah telat..abis deh". Gumam Naya yang sibuk memasukkan perlengkapan kerjanya kedalam tas.


" Kamu sih nggak akan diomelin Nay. Lah aku.." Batin Diandra menangis.


Tak lama keduanya sudah siap dan dengan tergesa.kefuanya keluar dari kamar, keduanya bahkan sedikit berlari untuk menghemat waktu mereka.


Tepat saat mereka membuka pintu, Dimas sudah ada didalam ruang tamu apartemen mereka. Entah sejak kapan lelaki itu disana.


"Aku kira kalian tidak akan bangun lagi". Sindir Dimas.


" Ngomelnya lanjut nanti deh..kata mbak Safira hari ini pak direktur balik. Bisa kelar aku kalo telat". Naya menarik tangan Diandra dan Dimas sebelum kedua temannya terlibat perdebatan yang akan semakin membuat ketiganya terlambat.


"Lagian kamu gimana ceritanya sih kesiangan. Biasanya juga bangun paling subuh.." Diandra masih tak habis pikir bagaimana bisa temannya yang terkenal rajin itu bangun kesiangan.


"Semalam aku nggak bisa tidur, gara-gara mikirin nanti harus berhadapan langsung sama direktur. Takut bikin kesalahan..eh malah belum ketemu udah bikin kesalahan bangun kesiangan". Naya menatap angka diatas pintu lift yang terasa lambat bergerak.


" Nanti ngebut ya Dim.." Pinta Naya pada Dimas yang langsung mengangguk. Dirinya juga tidak ingin kena damprat Dina yang sekarang semakin sering marah-marah sejak Naya dipindahkan.


Dan benar saja, ketiga nya bahkan berlari untuk sampai di mobil Dimas yang diparkir didepan gedung apartemen mereka. Bahkan Dimas melajukan mobilnya cukup kencang. Beruntung tempat tinggal yang disediakan kantor untuk mereka tidak terlalu jauh dari kantor.


Ketiganya kembali berlari kala Dimas selesai memarkirkan mobilnya ditempat parkir yang disediakan kantor. Karena terlalu terburu-buru, Naya tidak sengaja menabrak seseorang yang benar-benar tak ingin ia jumpai pagi ini.


"Mata kamu dimana hah?!!!". Bentakan yang sudah hampir seminggu tak ia dengar kini kembali berdengung ditelinganya.


" Maaf mbak..aku buru-buru". Tak ingin memperpanjang masalah, Naya memilih mengalah dan minta maaf.


"Dasar ceroboh. Seharusnya karyawan ceroboh seperti kamu sudah didepak dari dulu!". Sinis Dina mulai melancarkan aksinya. Sepertinya ia sangat geram menyadari Naya lolos dari jebakannya.


Naya yang sejak tadi memilih diam sudah tidak tahan, apalagi Dina sudah mulai membahas perihal kontrak kerjasama yang menjadi masalah beberapa waktu lalu.


" Tapi buktinya aku masih kerja disini kok mbak. Sayang banget ya..kelicikan mbak Dina nggak bisa bikin aku enyah". Naya balik menatap sinis Dina. Perdebatan keduanya bahkan menjadi tontonan karyawan yang berlalu lalang disana.


"Apa maksudmu!! Bahkan tanpa kelicikan siapapun kamu memang nggak pantas kerja disini. Kamu nggak mampu!!!". Bentak Dina mulai terpancing emosi.


" Tapi kata bu Safira hasil kerja aku memuaskan loh mbak..Bahkan beliau memuji hasil kerja aku. Kayanya disini yang salah sih cara kerja mbak Dina". Kesabarannya selama ini habis sudah, Naya memilih meladeni kegilaan Dina.


"Kamu!!!". Bentak Dina sambil menunjuk wajah Naya yang masih tersenyum sinis menatapnya.


Tubuh Naya yang tidak siap menerima serangan akhirnya oleng dan hampir terjatuh akibat dorongan keras Dina. Diandra dan Dimas yang hendak menolong mengurungkan niatnya ketika melihat sudah ada orang yang merengkuh tubuh Naya dalam dekapannya.


Mata Dina membola melihat siapa yang menolong Naya. Pun dengan Naya yang langsung membuka matanya dan mendongak untuk melihat siapa malaikat penolongnya.


" P-pak Yohan.." Cicit Dina dengan wajah pucat ketika mata elang itu menatap tajam padanya penuh intimidasi


"Kakak??". Lirih Naya menatap Al yang tengah menatap tajam pada Dina.


" Temui saya setelah briefing". Hanya itu yang Al ucapkan pada Dina yang sudah pucat. Sementara Al, lelaki itu sudah menggenggam tangan Naya dan membawanya berlalu dari sana.


Al masuk kedalam lift tanpa melepaskan genggaman tangannya pada Naya. Sementara Rian terlihat berlari memasuki lobby kantor. Sehingga ia tidak bisa satu lift dengan Al dan Naya.


"Aduh..bahaya". Pekik Naya tiba-tiba membuat Al menoleh dengan kening berkerut.


" Aaaa..aku telat kan. Gara-gara mak lampir ngeselin sih". Gerutu Naya lagi. Wajahnya terlihat gelisah dan tidak tenang.


"Kamu kenapa sih??". Tanya Al akhirnya


" Aku telat kak..aduh gimana dong kak".

__ADS_1


"Telat kemana sih?? Ini belum ada jam 8 Kanaya.." Al jadi gemas sendiri melihat wajah Naya gusar.


"Ish..atasan aku tuh masuk hari ini. Aku baru mau sekali ini ketemu tapi malah kesiangan. Gara-gara mbak Dina ini mah pokoknya". Al tersenyum geli, ia lupa jika Naya belum tahu siapa direktur diperusahaan itu. Ia lantas mengelus rambut sepunggung Naya hingga membuat gadis itu menoleh dan melihat senyum manis yang sudah beberapa hari tak ia lihat. Jujur, Naya merindukan senyum itu.


" Nggak usah ngomel-ngomel Kay. Ntar keriput.." Goda Al membuat Naya mencebik.


"Dasar nyebelin.." Cebik Naya


"Kakak ngapain disini??". Tanya Naya kemudian ketika menyadari Al berada dikantor tempat nya bekerja.


Ting..


Belum sempat Al menjawab. Pintu lift sudah terbuka dilantai 4 tempat Naya bekerja. Naya ingin menanyakan bagaimana Al tahu jika sekarang dirinya tidak bekerja di lantai 3?? Kenapa ia tahu dimana lantai tempat nya bekerja sekarang? Namun Naya menelan semua pertanyaan itu, sekarang yang paling penting baginya jangan sampai bosnya tahu jika dirinya terlambat.


Dari jauh ia melihat Safira yang sudah duduk dimeja kerjanya. Dilihat dari gelagatnya, sepertinya wanita itu sedang menelpon seseorang. Naya mempercepat langkahnya, hingga tepat saat Naya sampai disamping Safira. Wanita itu juga mengakhiri panggilan telponnya.


" Pak direktur udah dateng mbak??". Tanya Naya was-was.


"Udah.." Jawab Safira yang melihat Al berdiri dibelakang Naya. Sementara dari dalam lift yang baru saja terbuka, Safira melihat Rian berjalan mendekat.


"Aduh..mati aku. Pake acara telat segala sih.." Naya kembali terlihat gusar, dan itu sukses membuat Safira tersenyum geli.


"Kakak udah sana pulang..aku mau kerja". Naya mendorong tubuh Al.


" Aku mau disini dulu". Jawab Al menyandarkan tubuhnya dimeja kerja Naya. Ia ingin melihat gadisnya yang bingung memikirkan atasannya yang tak lain adalah dirinya sendiri.


"Ish..udah sana. Nanti atasan aku marah". Ketiga orang yang lain saling bertatapan dengan senyum geli menghiasi wajah mereka.


" Dimana pak direktur nya mbak?? ". Tanya Naya yang sudah berbalik menatap Safira.


Jujur Safira ingin tertawa keras melihat wajah polos Naya. Ditambah Al dan Rian yang terkekeh dibelakang tubuh Naya.


" Ada..kenapa sih?". Tanya Safira semakin menggoda.


"Tadi nanyain enggak mbak?? Gimana ya mbak..aku takut dimarahin".


"Ish..kakak ngapain masih disini. Udah sana pulang..syuh..syuh". Naya mengibaskan tangannya beberapa kali mengusir Al.


" Beranian kamu Nay.." Ucap Rian tak bisa menahan diri untuk lebih lama diam. Sepertinya menggoda Naya akan sangat menyengangkan.


"Beranian apa sih?? Udah ah.."


"gimana ini mbak. Pak direktur marah enggak ya aku telat? Baru juga mau ketemu sekali, udah telat". Naya menepuk keningnya sendiri. Kali ini dirinya keliru karna bangun terlalu siang.


" Tanya aja ama direktur nya. Dia marah apa enggak". Ucap Safira.


"Mana berani aku nanya mbak. Aku masih pengen kerja disini tauuuu". Naya benar-benar takut sekarang.


" Ngusir direktur aja kamu berani, masa nanya dia marah apa engga aja nggak berani sih??". Naya mengernyit bingung mendengar ucapan Rian.


"Kapan bang?? Jangan ngawur deh bang..ketemu aja belum pernah. Mana berani aku ngusir beliau.." Sahut Naya tak terima.


"Lah barusan kamu ngusir dia Nay.." Safira ikut menimpali. Melihat wajah bingung Naya sungguh hiburan tersendiri bagi Safira dan Rian.


"Belum perna---h ...." Naya menatap dua orang kepercayaan direktur itu. Kemudian menatap Al yang juga menatapnya dengan tenang. Bahkan lelaki itu sudah bersandar diujung meja kerja Naya dengan sebelah alis terangkat.


Naya menunjuk pintu bertuliskan direktur, kemudian menunjuk Al yang tersenyum lucu melihat wajah bingung Naya.


"P-pak Yohan??". Naya kembali menatap Safira dan Rian bergantian. Dan keduanya mengangguk menjawab kebingungan Naya. Kasian juga melihat wajah gadis itu memucat karena terlalu takut. Al bergerak cepat menahan tubuh Naya yang hampir jatuh, sepertinya ini benar-benar membuat gadis itu terkejut.


" P-pak Yo-yohan? K-kok bisa??". Suara Naya terdengar pelan. Sepertinya gadis itu masih bingung.


"Nih minum dulu.." Rian mengambilkan air putih diatas meja Naya dan memberikannya.

__ADS_1


Naya langsung menenggak air yang diberikan Rian hingva tandas. Ia butuh banyak konsentrasi untuk mencerna informasi yang membuat otaknya tiba-tiba buntu tak bisa bekerja.


Naya kembali menatap tiga orang yang juga tengah menatapnya dengan khawatir. Ini benar-benar sulit Naya terima. Bagaimana bisa ini terjadi??


"Ini--ini beneran? Nggak lagi pada becandain aku??". Tanya Naya menatap Al, Rian dan Safira bergantian. Dan ketiganya kembali mengangguk.


Naya langsung menyandarkan punggungnya ke tembok dibelakang nya. Kegilaan semacam apa lagi ini??? Otak Naya benar-benar dipaksa berpikir keras.


" Huaaaaaa...kenapa aku nggak dikasih tau". Akhirnya Naya menangis, entah menangis karna apa. Namun itu berhasil membuat Al kelimpungan melihat Naya kembali menangis.


"Hei..kenapa nangis??". Al langsung memeluk Naya dan mendekapnya erat. Ia paling tidak bisa melihat Naya menangis, tidak lagi, jangan lagi ada air mata itu.


" Huaaaa...kenapa kakak nggak bilang..huaaaaa". Suara tangisan Naya semakin terdengar keras.


"Kan kamu tahu nama dirutnya Yohan.." Al masih tak habis pikir, bagaimana Naya bisa tidak tahu.


"Nama kakak bukan Yohan..Tapi Al. Kan aku nggak kenal pak Yohan..huaaaa". Safira dan Rian tak bisa menyembunyikan tawanya mendengar penuturan Naya yang terlewat polos.


" Kamu nggak tahu nama kakak??". Tanya Al dijawab gelengan kepala oleh Naya. Sontak saja kedua teman Al semakin terbahak melihat kepala Naya mengangguk.


"Astaga Kanaya.." Gumam Al menepuk keningnya.


"Emang nama kakak siapa?". Tanya Naya membuat Safira dan Rian terpingkal-pingkal. Safira bahkan memegang perutnya karena terlalu keras tertawa.


" Hahaha..Astaga Kanaya. Kamu bikin mbak sakit perut. Muka mbak udah kram". Safira masih belum bisa meredakan tawanya.


" Hahahahaha..sudah lah Han. Kasian sekali nasibmu". Rian menepuk pundak Al beberapa kali.


"Udah bosen kerja kalian berdua??". Pertanyaan Al membuat keduanya temannya langsung mengunci mulutnya rapat. Namun keduanya masih belum bisa berhenti tersenyum.


" J-jadi ini beneran?? Kakak beneran direktur disini?? Nggak bohong?? Jangan-jangan kalian becandain aku lagi". Tanya Naya belum yakin dengan apa yang didengarnya.


"Ini baca dan lihat dengan benar.." Rian yang sudah gemas mengeluarkan ipad nya dan menunjukkan data diri Al. Dari nama hingga hobinya ada disana semua.


Naya membacanya dengan teliti. Sesekali ia menatap Al kemudian kembali membaca tulisan yang ada dilayar ipad yang masih ia pegang.


"Terus kenapa dipanggilnya pak Yohan??".


" Astaga Naya..perkara nama aja kamu nggak mau kalah". Safira mencubit gemas pipi Naya yang masih mempermasalahkan perkara nama.


"Kan namanya Yohan Alexander Nay..ya wajar dipanggil Yohan". Jelas Rian. Sementara Al tidak berniat menjelaskan apapun. Ia tahu seperti apa keras kepalanya gadis itu.


" Tapi aku nggak mau panggil kak Yohan.. aneh". Cebik Naya melirik Al.


"Panggil aku terserah yang kamu mau Kay.." Al mengusap pucuk kepala Naya.


"Tapi..." Senyum Naya surut mendengar Al mengucapkan tapi,


"Tetep panggil pak Yohan kalo lagi ketemu client ya..nanti kan nggak lucu kalo pada bingung denger kamu panggil kakak Al.." Naya mengangguk cepat. Ia bukan gadis yang tak bisa menempatkan diri.


"Mengerti pak Yohan.." Jawab Naya tegas dengan senyum mengembang dibibirnya.


"Jadi gimana Han?? Dimaafin enggak?? Udah mau telat..masih berani-beraninya ngusir direktur lagi". Goda Safira yang membuat bibir Naya mengerucut.


" Kamu karyawan paling berani Nay. Abang bangga sama kamu". Rian menepuk pucuk kepala Naya kemudian masuk kedalam ruangannya. Ia tak tahu jika atasan sekaligus sahabatnya tengah menatap tajam padanya yang berani memegang miliknya.


"Abang!!! Rambut aku jadi kusut". Sungut Naya merapikan rambutnya yang sedikit berantakan akibat ulah Rian.


" Kerja Nay..kerjaaa.." Teriak Rian melambaikan tangannya.


"Bacakan jadwalku hari ini Fi.."


"Itu sudah menjadi tugas asistenku sekarang pak direktur..$ Safira tersenyum menggoda menatap Al dan Naya bergantian.

__ADS_1


Naya langsung memasang sikap sopan dan profesional. Ia tidak ingin disebut memanfaatkan kedekatannya dengan direktur nya. Ia ingin menunjukkan bahwa dirinya memang layak menempati posisinya saat ini.


Al tersenyum melihat sikap siaga Naya. Ia mengenal gadis itu lebih baik daripada Naya sendiri, jadi ia paham gadis itu pasti tidak ingin disebut melakukan kecurangan dengan mengandalkan Al sebagai direktur.


__ADS_2