
"Apa lo liatin gue!!". Sentak Monika yang berpapasan dengan Naya.
" Dih pede. Ngapain liatin situ". Naya melengos tak ingin berurusan lagi dengan Monika hingga berakhir dihukum seperti sebelum-sebelumnya.
"Gue diemin makin nyolot aja lo ya!!!". Monika sudah maju untuk menyerang Naya. Namun kedua temannya menghalanginya.
" Inget Mon peringatan bu Eka". Bisik Agatha mencoba meredam amarah Monika.
"Nggak bisa Tha. Ni anak makin tengil aja". Ucap Monika mencoba melepaskan cekalan Agatha.
" Udah sih Nay..kaga usah diladenin. Kita ke kantin aja yok". Mayra yang melihat wajah Monika langsung bergidik ketika tatapannya tak sengaja bertemu dengan mata tajam Monika.
" Kak Monika kenapa sih? Kalo abang..maksud gue bang Ken nggak suka ama situ ya bukan salah gue lah. Situ kurang cantik kali. Atau mungkin..kurang menarik". Ucap Naya membuat Monika semakin geram.
"Bener-bener minta dihajar lo ya!!". Seru Monika dengan wajah merah padam.
Dengan sekali sentakan Monika berhasil melepaskan tangannya dari Agatha dan Lucia. Ia segera maju hendak memberi pelajaran pada Naya. Namun belum sempat tangannya menyentuh Naya, sebuah suara lembut membuat keduanya menoleh.
" Kanayaaa..sayang".
"Mommy...." Naya berlari mendekati sang ibu yang sudah merentangkan tangannya.
"Mo-mommy?". Gumam Monika.
" It-itu ibunya si kembar kan Mon?". Tanya Lucia terbata.
"Iya..itu mommy nya Ken sama Kai". Agatha menimpali.
" Sedeket apa mereka sampe anak tengil itu panggil ibunya Ken, mommy?". Tanya Agatha membuat Monika diam
"Mommy kenapa kesini? Mau nambah uang jajan aku?". Tanya Naya membuatnya mendapat cubitan lembut dihidungnya.
" Jajan mulu anak mommy. Belajar yang bener".
"Mommy??". Panggil seseorang membuat Kirei dan Naya menoleh. Terlihat Ken sedang berjalan dengan Al membawa tumpukan buku.
" Ada rapat lagi mom?". Tanya Ken yang sudah berdiri didepan sang ibu.
"Hmm..adikmu nakal?". Tanya Kirei melirik Naya yang masih memeluknya dari samping.
" Sorry ya mom..Nay nggak pernah nakal". Cebik Naya membuat Ken gemas dan mengacak rambut adiknya.
"Abaaaang.."
"Tuh mommy..abang nyebelin". Seperti anak kecil, Naya mengadu sambil merengek pada Kirei.
" Selamat siang tante.." Sapa Monika sopan membuat Kirei menatapnya.
"Siang.." Kirei sedang mencoba mengingat siapa gadis yang menyapanya.
"Monika tante..lama nggak ketemu ya tan.." Monika seolah paham dengan kebingungan Kirei akan dirinya, hingga dia memperkenalkan dirinya lagi. Ia sudah beberapa kali bertemu dengan wanita yang telah melahirkan pria yang sangat ia cintai itu.
"Monika..Monika". Kirei masih mencoba mengingat. Sementara Naya tengah menahan tawanya karena melihat wajah Monika yang sok ramah itu.
" Oh ya..anak pak Hartawan ya?". Tanya Kirei setelah mengingat gadis dihadapannya ini.
"Iya tante.." Monika memasang senyum terbaiknya membuat Naya ingin muntah.
"Mommy.." Panggil Naya manja membuat Kirei menatapnya lembut.
"Kenapa sayang?".
" Nay mau ke kelas dulu aja ah. Disini panas..hawanya nggak enak. Oksigennya dikit, tercemar pula". Ucap Naya melirik Monika yang terlihat jelas menahan amarahnya.
"Mana ada kaya gitu sayang". Kirei menoel lembut ujung hidung anaknya itu.
" Belajar yang bener ya nak". Ucap Kirei yang dijawab anggukan kepala oleh Naya.
"Dan kamu Ken.. Jaga Naya baik-baik. Kalo Naya sampai kenapa-kenapa, mommy getok kamu!!. Ancam Kirei membuat Naya menjulurkan lidahnya meledek sang kakak.
" Dicoret aja mom dari KK kalo abang gabisa jagain aku". Dasar kompor, bisa-bisanya Naya meminta sang ibu untuk mencoret nama kakaknya dari KK. Benar-benar adik durjana.
"Mulut lo Nay. Untung tante ama kak Ken sabar..kalo kaga auto dilempar ke pluto lo". Ucap Mayra membuat Naya tergelak.
" Pasti mom..mommy tau gimana sayangnya aku ke Naya". Ucap Ken membuat Monika limbung. Mendengar ucapan Ken membuat Monika benar-benar sakit.
"Mommy percaya padamu. Mommy pergi sekarang".
" Daaa mommy.." Naya melambaikan tangannya pada sang ibu.
"Gue mau ke kelas ah..daaaa abang..daaa mas ganteng". Naya segera berlalu meninggalkan Ken dan Al sebelum Monika memancing keributan dengannya lagi.
" Ken.." Panggil Monika lirih
"Ya?". Sahut Ken dingin
" Naya kenal deket ya kaya nya sama keluarga lo". Ucap Monika membuat Al hampir menyemburkan tawanya.
"Ya iyalah kenal. Orang lahirnya dari ibu yang sama". Batin Al
" Kaya yang lo liat aja".
"Ayo Al". Ken segera berlalu, meninggalkan Monika yang hanpir ambruk mengetahui kenyataan menyakitkan.
__ADS_1
" Yang barusan nggak bener kan? Tha? Lu? Semua nggak bener kan? Yang gue denger salah kan?". Mata Monika sudah berkaca-kaca menatap kedua temannya bergantian.
"Tenang Mon.." Agatha mengelus punggung Monika.
######
"Hari ini kamu pucet Nay.." Ucap Alya yang duduk disebelah Naya. Keduanya baru saja berganti pakaian olahraga karena saat ini adalah pelajaran olahraga untuk kelas Naya.
"Gapapa Sha..Gue lagi dapet. Udah biasa kaya gini". Ucap Naya menenangkan.
" Kamu yakin? Aku izinin ke guru kalo nggak kuat Nay". Aisha tampak sangat khawatir pada kondisi temannya itu.
"Gausah..yok ke lapang. Ntar pak Budi keburu ngamok". Naya bangkit dan segera menarik tangan Aisha ke lapang.
Hari ini akan ada penilaian lari jarak pendek. Naya tak mungkin membiarkan nilainya kosong hanya karena nyeri perut yang ia rasakan setiap kedatangan tamu bulanannya.
Keduanya sampai disana tepat sebelum lari dimulai. Guru olahraga Naya membagi kelompok berisi masing-masing tiga orang untuk memudahkannya memberi nilai. Mereka dikelompokkan sesuai absen.
Aisha yang berada diurutan atas absensi langsung mendapat giliran tak lama setelah mereka tiba di lapangan. Sementara Naya duduk sambil menunggu gilirannya.
" Kuat Nay..masa iya pelajaran kaya gini lo musti ngulang. Lagian kenapa pas dapet sih". Batin Naya sambil meringis menahan nyeri diperutnya.
Ia tak menyadari jika sejak tadi sepasang mata terus mengawasinya. Tak sedikitpun mengalihkan pandangannya dari Naya. Dari jauh ia bisa melihat Naya yang beberapa kali meringis sambil meremas perutnya.
Tak terasa sudah giliran Naya, wajahnya semakin pucat, buliran keringatpun semakin banyak hingga membuat wajahnya basah oleh keringat.
"Kamu yakin Nay?". Tanya Aisha memastikan.
" Gapapa..tenang aja Sha". Naya menepuk pelan pundak temannya itu.
Naya berdiri digaris start bersama dengan dua teman lainnya. Ia menghela nafas panjang, mencoba memberi rasa nyaman pada perutnya. Namun sayang perutnya semakin terasa nyeri.
Akbar yang kelasnya juga sedang jam olahraga semakin mendekat ke lintasan lari ketika melihat Naya semakin pucat. Ia memiliki firasat buruk soal gadis yang sudah mampu mengganggu hari-harinya.
Naya sempat melihat Akbar yang berjalan mendekat. Ia tersenyum manis pada Akbar yang membalas senyumnya tak kalah manis.
"Nggak boleh kalah. Malu-maluin kalo diliat kak Biru terus gue kalah". Batin Naya bertekad untuk menang.
Begitu peluit dibunyikan, Akbar ikut berlari disisi lintasan untuk memastikan Naya baik-baik saja.
Setelah peluit dibunyikan oleh pak Budi, Naya berlari sekencang yang ia bisa, iamemimpin diantara teman yang lain. Namun sayang, baru setengah jalan tubuhnya limbung. Suara teriakan teman-temannya masih ia dengar, pun ia masih melihat Akbar yang berlari menyongsong tubuhnya sebelum dirinya kehilangan kesadarannya.
" KANAYAAAA!!!!". Akbar berlari kencang menyongsong tubuh Naya sebelum menyentuh lantai.
"Nay..hey.." Akbar menepuk pipi Naya beberapa kali
"Kanaya?? Bangun Nay..jangan bikin panik". Akbar kembali menepuk pipi Naya sedikit lebih keras.
" Ba-bawa ke UKS aja kak". Ucap Aisha yang tak kalah panik.
" Nggak perlu Bar..kamu bawa ke UKS saja. Disana juga ada dokter". Ucap pak Budi membuat Akbar mengangguk.
Dengan sekali gerakan, ia mengangkat tubuh Naya dan membawanya ke UKS dengan berlari. Satria yang melihatnya hanya tersenyum geli melihat Akbar begitu panik.
"Dasar bucin". Gumamnya sambil menggelengkan kepala.
Akbar membuka pintu ruang UKS dengan kaki, hingga menimbulkan suara yang keras.
" Dokter..dok!!!". Teriak Akbar
"Tolong...tolong temen saya dok". Teriaknya lagi.
" Ada apa ini ribut-ribut?". Seorang wanita berusia 30an keluar mengenakan snelli.
"Tolong temen saya. Dia pingsan..apa perlu dibawa kerumah sakit? Apa perlu saya panggilkan ambulance sekarang??". Tanya Akbar beruntun membuat dokter yang bernama Siti itu tersenyum.
" Letakkan dia disana. Saya akan memeriksanya dulu". Dokter Siti menunjuk sebuah kasur. Akbar dengan patuh meletakkan tubuh Naya dengan sangat perlahan ke atas kasur.
"Tunggu diluar dulu ya". Tanpa menunggu respon Akbar, Dokter Siti langsung menutup tirai hingga Akbar tak bisa melihat Naya.
Berkali-kali ia jalan mondar-mandir didepan tirai. Satria yang baru masuk kembali menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Akbar yang menurutnya terlalu berlebihan.
" Gimana dok?? Temen saya kenapa?? Perlu dibawa kerumah sakit?? Saya bawa kerumah sakit saja ya?". Dokter Siti kembali tersenyum geli melihat Akbar yang begitu panik.
"Dia desminore, sepertinya dia sedang menstruasi". Jelas dokter membuat kening Akbar berkerut.
" Dis--- Dis apa dok??". Tanya Akbar
"Dismenore". Ulang Dokter Siti.
" Apa itu dismenore?? Apa berbahaya?? Apa perlu kerumah sakit?". Dokter Siti kembali tersenyum geli.
"Apa dia pacarmu?? Kenapa khawatir sekali?". Dokter Siti dengan jiwa keponya langsung meronta. Meski umurnya sudah tak bisa dibilang muda lagi, namun terlalu sering berkomunikasi dengan para remaja membuat jiwa mudanya kembali berkobar.
" Kenapa dokter malah nanya itu? Ini temen saya gimana?!". Ucap Akbar tak sabar karena sang dokter malah salah fokus dengan status dirinya dan Naya.
"Dia cuma dismenore. Kamu kompres aja perutnya pake air hangat sama lap keringatnya". Ucap dokter.
" Apa berbahaya?". Tanya Akbar lagi
"Apanya?". Sang dokter malah balik bertanya hingga membuat Akbar gemas.
" Ya sakitnya itu dok". Ucap Akbar gemas.
__ADS_1
"Ooh..gapapa. Itu hal biasa pada perempuan yang sedang menstruasi". Jelas dokter memberikan kantong kompres berisi air hangat pada Akbar.
" Kompres perutnya, Nanti kalo udah sadar kasih teh angetnya, nanti saya periksa lagi". Dokter Siti berlalu meninggalkan Akbar yang saat ini sudah duduk disamping ranjang Naya.
"Dia kaga mati Bar. Pingsan doang..lo panik amat". Akbar langsung melotot mendengar kata-kata Satria yang terlampau santai.
" Santai Bar..Santai". Satria mengangkat kedua tangannya melihat Akbar melotot seram.
"Syuh..syuh..sono lo balik. Lo belom lari kan". Akbar mengusir Satria yang langsung mendengus kesal karena merasa diusir Akbar.
" Bilang aja lo mau berdua ama si ketek". Cibir Satria. Namun tak urung ia berlalu dari sana.
***
Naya merasakan dingin dikeningnya, dan hangat diperutnya. Satu kata yang ia rasakan saat ini, nyaman.
"Kamu kok belom bangun sih Nay..emang sakit banget ya". Ucap Akbar yang masih terus mengompres perut Naya sambil mengelap keringat yang terus muncul dikening gadis itu.
Naya mencoba membuka matanya ketika mendengar suara orang yang sangat ia kenal. Ia melirik dengan sedikit membuka matanya, dan benar saja. Akbar tengah duduk disamping nya sambil mengompres perutnya dengan begitu telaten.
" Kak.." Lirih Naya membuat Akbar langsung menoleh.
"Nay?? Kamu udah sadar? Gimana rasanya? Pusing? Sakit? Kamu mau apa?". Akbar langsung memberondong Naya dengan berbagai pertanyaan.
" Minum dulu teh nya ya.." Akbar mengambil teh hangat yang diberikan dokter Siti kemudian membantu Naya duduk dan menyangga punggung gadis itu dengan tangan kekarnya.
"Udah kak.." Naya mendorong pelan gelas berisi teh hangat yang masih Akbar pegang.
"Sedikit lagi ya..biar enak perutnya". Bujuk Akbar namun Naya menggeleng.
" Masih sakit??". Tanya Akbar
"Udah mendingan..makasih kak. Maaf juga ngerepotin kakak". Ucap Naya tulus.
" Gapapa.." Akbar mengelus pucuk kepala Naya yang langsung merasa jantungnya terpompa dengan cepat.
"Besok lagi kalo sakit jangan maksain ya..jangan bikin orang khawatir". Ucap Akbar lembut membuat Naya mengangguk patuh.
" Sebentar..kakak tinggal bentar gapapa kan?". Tanya Akbar
"Gapapa.."
"Tiduran lagi ya..biar enak". Akbar membantu Naya merebahkan tubuhnya sebelum benar-benar meninggalkan gadis itu.
Sepeninggal Akbar, dokter Siti masuk kedalam bilik Naya untuk memeriksa nya kembali.
" Gimana? Udah enakan?". Tanya Dokter Siti.
"Sudah dok..terimakasih". Jawab Naya sopan.
" Terimakasih sama laki-laki yang nunggu kamu tadi". Ucap sang dokter kemudian duduk disamping Naya.
"Dia pacar kamu ya?". Jiwa kepo dokter Siti kembali berontak.
" Pacar?". Beo Naya membuat dokter Siti mengangguk.
"Iya..laki-laki yang barusan keluar. Dia yang bawa kamu kesini. Masuk UKS teriak-teriak udah kaya kamu ssakit parah banget". Cerocos dokter Siti membuat Naya melongo.
" Dia yang bawa saya kesini dok??". Tanya Naya tak percaya.
"Iya..paniknya nggak ketulungan. Saya kira dia pacar kamu". Goda dokter Siti memainkan alisnya naik turun hingga membuat Naya salah tingkah.
" Duh..jadi inget masa-masa SMA deh".
"Ni dokter kenapa sih? Dasar aneh". Batin Naya menatap dokter Siti.
"Yasudah kamu istirahat aja dulu..nanti kalo udah enakan bisa kembali ke kelas atau malah pulang saja". Jelas dokter Siti dijawab anggukan kepala oleh Naya.
" Kak Biru yang bawa gue kesini?? Tapi gimana bisa?". Gumam Naya.
Tak lama Akbar kembali dengan membawa tas Naya hingga membuat gadis itu bingung.
"Kok kakak bawa tas aku?". Tanya Naya
" Tadi kakak udah izin ke pak Budi, katanya kamu bisa ikut penilaian minggu depan gabung sama kelas lain. Kakak juga udah minta ijin buat anter kamu pulang".
"Pulang?". Beo Naya.
" Iya pulang.."
"Pulang aja ya..gausah lanjut belajarnya. Istirahat dulu dirumah". Jelas Akbar panjang lebar
" Udah yuk.." Akbar tanpa ragu menyampirkan tas Naya ke pundaknya dan membantu Naya bangun..
"Mau kakak gendong aja??". Pertanyaan Akbar membuat Naya seketika sehat. Tak mungkin ia mau digendong dalam keadaan sadar begini. Mau ditaruh dimana mukanya.
" Eng..enggak perlu kak. Kuat kok jalan". Naya segera berdiri, namun beberapa detik kemudian kembali meringis memegangi perutnya.
"Hati-hati Nay..sini pegangan kakak". Akbar membawa tangan Naya membelit lengannya.
" Eh gini aja deh. Kalo kamu yang pegang nanti lepas malah jatuh". Akbar kembali melepaskan tangan Naya dari lengannya, kemudian merangkul pundaknya.
" Jalannya ati-ati aja". Akbar benar-benar memperlakukan Naya dengan sangat lembut.
__ADS_1
"Makasih banyak kak". Ucap Naya tulus disertai senyum manisnya.
" Gue harus bener-bener ke dokter jantung. Kayanya bener kalo gue punya kelainan jantung". Batin Naya yang kembali merasakan jantung berdebar cepat.