
"Bukankah dokter Kirei sangat cantik, Tama?". Riana yang sejak tadi sibuk mengupas buah apel untuk Tama membuka suara.
"Sudahlah bu. Tidak usah mulai lagi". Ketus Tama yang tahu kemana arah pembicaraan ibunya.
"Mulai apa? Ibu hanya bertanya..apa salahnya?". Tama kembali menghela nafas, berbicara dengan baginda ratunya memang dirinya tidak akan pernah menang.
"Bagaimana kondisimu Tama?". Ibu dan anak itu kompak menoleh ke sumber suara.
Tampak seorang pria berusia dibawah ayah Tama sedang berdiri didepan pintu kamar rawatnya.
"Sudah lebih baik om". Tama melihat lelaki yang ia panggil om seperti seorang malaikat yang menyelamatkannya dari pertanyaan-pertanyaan konyol ibunya.
"Apakah kamu mengenal dokter Kirei??". Pertanyaan ibunya membuat Tama menghela nafasnya panjang. Baru saja ia merasa tenang dikunjungi lelaki yang juga pamannya itu, namun ibunya sudah kembali beraksi.
"Tentu kak. Dia termasuk dokter muda berprestasi. Kenapa? Apa aku ketinggalan sesuatu?". Tanya lelaki itu tak kalah antusias.
"Bagaimana menurutmu, Dim?". Tanya ibunda Tama dengan mata berbinar.
"Dia sama seperti perempuan lain bu! Sama saja menilai segala sesuatu dari harta benda". Sengit Tama membuat Riana dan Dimas mengernyit heran.
"Dari mana kamu tahu? Sok tahu sekali kamu". Cebik Riana kesal mendengar ucapan Tama.
"Sepertinya kamu salah menilai dokter Kirei, Tama". Ucap Dimas membuat Tama menoleh.
"Dia sama saja om". Balas Tama tak mau kalah.
"Om cukup mengenal dokter itu, Tama. Dokter Kirei bahkan tidak pernah mengambil gajinya selama setahun ini dia bekerja disini, gajinya selalu dia gunakan untuk membantu biaya pasien yang belum ada kejelasan identitasnya. Sama seperti dirimu kemarin. Meskipun nanti dinas sosial akan turun tangan dan mengganti jika memang pasien dari kalangan kurang mampu. Jadi sepertinya kamu salah paham dengan dokter Kirei". Jelas om Dimas panjang lebar.
Dimas adalah adik dari ibunda Tama yang juga seorang dokter yang bekerja dirumah sakit itu.
Tama terdiam mencerna ucapan Dimas yang tidak sesuai dengan apa yang dilihatnya kemarin. Ia sempat mengagumi Kirei ketika gafis itu bersikeras menolak uang darinya, namun ketika gadis itu menerimanya, penilaiannya pada Kirei langsung berubah. Bukan tanpa alasan, walaupun pria itu tidak tahu secara mendetail brand ternama pakaian perempuan. Namun lelaki itu tahu pasti bahwa sepatu dan jam tangan yang dikenakan oleh Kirei sewaktu memeriksa dirinya bukanlah barang murah.
Lalu dari mana gadis itu mendapat uang untuk membeli semua keperluannya jika gajinya saja selalu ia gunakan untuk membantu pasien-pasiennya yang kurang mampu. Apakah gadis itu memang anak orang kaya.
Suara pintu terbuka membuat semua mata menatap pintu, kini dihadapan ketiganya sudah berdiri sosok yang tengah menjadi bahan pembicaraan mereka.
"Selamat pagi". Sapa Kirei tersenyum ramah pada Dimas dan Riana. Namun wajahnya kembali datar ketika bertatapan dengan Tama yang masih terus fokus padanya.
Sejak kejadian tidak mengenakkan yang Kirei alami, Kirei tetap rutin memeriksa kondisi Tama. Namun wajahnya benar-benar tidak sedikitpun menunjukkan keramahan seperti sebelumnya.
"Kondisi anda sudah sangat baik. Anda sudah bisa pulang sore ini. Saya permisi". Tanpa menunggu respon Tama, Kirei segera berbalik diikuti suster Mirna yang selalu setia mendampinginya.
"Saya permisi dulu dokter Dimas..nyonya Riana". Kirei menundukkan kepalanya sedikit kemudian segera keluar dari dalam ruangan yang seolah minim sekali udara.
"Terimakasih dokter". Sahut nyonya Riana dengan senyum mengembang sempurna. Dalam pikiran wanita itu sudah tersusun banyak rencana untuk mendekatkan putra sulungnya dengan dokter cantik itu.
*****
Tama yang bosan berada didalam kamar memilih berjalan keluar kamar untuk menghirup udara segar. Rumah sakit milik ayahnya itu memang menyediakan taman yang terdapat banyak tumbuhan hias yang sengaja ditanam untuk memberi ruang bagi pasien dan keluarganya yang merasa bosan berada didalam kamar rawatnya.
Beberapa saat lalu infusnya sudah dilepas, namun dirinya masih harus menunggu visite terkahir dari dokter Kirei sebelum dirinya keluar dari rumah sakit itu.
"Selamat siang pak Tama". Seorang wanita cantik yang memakai snelli tersenyum dihadapan Tama.
"Siang". Jawab Tama pendek.
"Maaf mengganggu waktu anda sebentar, saya dokter Mala dari bangsal anak. Kami ingin mengucapkan banyak terimakasih untuk kemurahan hati bapak. Itu sangat membantu kami yang sedang membangun panti sosial untuk anak-anak kurang beruntung". Jelas terlihat kebingungan diwajah Tama, namun sedetik kemudian matanya melebar kala mengingat Kirei.
"Maksud dokter?". Tanya Tama mulai ragu dengan pemikirannya tentang Kirei.
__ADS_1
"Donasi yang anda berikan beberapa hari lalu sangat membantu kami, pak Tama". Jelas dokter membuat Tama semakin berdebar.
"Ah..i..iya. Kalau boleh saya tahu, kapan dan berapa saya mendonasikan dana itu? Saya hanya meminta tolong pada sahabat saya karena saya berada disini". Tama memilih menggali informasi dari dokter yang menemuinya.
Mala memperlihatkan catatan yang selalu ia bawa kemanapun yang berkaitan dengan kegiatannya membangun panti sosial.
"Saya menerimanya langsung dari suster Mirna yang bertugas di bangsal VVIP tempat dimana anda dirawat". Jelas dokter Mala dengan senyum mengembang.
"****!!!". Umpat Tama dalam hati kala melihat hari dan jumlah uang yang didonasikan atas namanya.
"Kami akan terus mengabari perkembangan pembangunannya pak Tama. Sekali lagi terimakasih..saya permisi dulu". Tama hanya tersenyum tipis dan mengangguk menanggapi ucapan dokter Mala.
"Jadi tu cewe nerima duit itu buat disumbangin? Atas nama gue? S*al!!". Tama merasa sudah keterlaluan dengan segala sikap yang ia tunjukkan pada Kirei.
Berkali-kali ia mengusap wajahnya dengan kasar, ketika mengingat ucapan dan perbuatannya pada dokter cantik itu.
_____
Saat ini Kirei sedang berada dikantin bersama teman sejawatnya sesama dokter.
"Dari tadi muka lo ditekuk aja Ki?". Tanya Juna membuka obrolan.
"Gue ketemu pasien sableng". Ketus Kirei menusuk bakso yang ada didepannya.
"Kenapa lagi Kiki?". Tanya Tania melihat wajah frustasi Kirei.
"Dasar keTan bakar nyebelin. Nama gue Kirei bukan Kiki". Sungut Kirei membuat ketiga temannya tergelak.
"Kamu kenapa sih Ki? Kayanya kesel banget..kan kamu emang pawangnya pasien rewel?". Kali ini Arindhi, teman sejawat Kirei yang paling kalem diantara mereka yang bertanya.
"Ini mah bukan rewel lagi Rin..pen gue suntik mati tu pasien". Kesal Kirei semakin membuat ketiga temannya tertawa.
"Lo bukannya dapet pasien VVIP yang anaknya direktur ni rumah sakit kan? Kok malah stres sih? Mana pak Tama orangnya ganteng lagi, kalo gue sih bahagia pasti". Tanya Tania antusias.
Kirei menghela nafasnya panjang, sebal mengingat wajah tengil Tama.
"Ya karena si tamia itu gue jadi snewen". Dengus Kirei membuat teman-temannya menatapnya bingung.
"Kaga usah pada liatin gue kaya gitu. Gue males cerita". Pungkas Kirei yang justru semakin membuat Juna dan Tania penasaran.
"Ada cerita apa sih? Gue yakin lo ada sesuatu nih ama pak Tama. Lo juga ngawur aja manggil orang ganteng kaya gitu tamia..namanya Tama Kireiiii, Ta..maaa. Ngerti kan?". Tania memang dikenal gadis penakhluk lelaki, hampir semua pegawai lelaki dirumah sakit ini pernah ia kencani. Kecuali yang beristri ya..bisa abis didamprat bini orang dia.
"Males gue ceritanya". Kirei memilih fokus pada makanan yang ia pesan.
"Dokter..huh..huh..dokter itu.." Mirna yang masih ngos-ngosan tengah berdiri disamping Kirei.
"Napas dulu Mirna.." Ucap Kirei masih fokus pada baksonya.
"Huh..huh..." Mirna berusaha mengatur nafasnya agar bisa segera menyampaikan pesan yang ia bawa.
"Dokter..dipanggil keruang VVIP 4". Jelas Mirna membuat Kirei menghentikan kegiatannya menusuk pentol bakso. VVIP 4 adalah ruangan dimana Tama dirawat.
"Haish..mau apa lagi itu si Tamia?". Tanya Kirei kesal.
"Tamia??". Beo Mirna bingung, namun sedetik kemudian ia terbahak setelah mengetahui siapa yang dimaksud Kirei dengan nama Tamia.
"Saya nggak tahu dok..tuan Akmal sama nyonya Riana yang meminta dokter kesana". Kirei bangkit tanpa mempedulikan tatapan curiga ketiga temannya.
"Lo utang penjelasan ama kita Ki!". Teriak Tania dan Kirei hanya melambaikan tangannya sambil terus berjalan.
__ADS_1
____
"Kamu harus minta maaf yang bener ya. Ibu nggak mau tau!". Perintah Riana pada putra sulungnya.
"Iya bu..iyaaa. Ibu udah ngomong berapa ribu kali?". Kesal Tama.
"Permisi.."
"Silahkan dokter". Riana menyambut dengan ramah kedatangan Kirei yang masih nampak bingung tentang tujuan dirinya dipanggil.
"Ada yang bisa saya bantu tuan, nyonya?". Tanya Kirei pada kedua orang tua Tama. Kirei mengabaikan Tama yang sejak tadi terus mengamati dirinya.
"Bukan kami dok..tapi Tama". Ucap Riana melirik putranya.
Kirei berbalik, menatap datar wajah Tama yang sepertinya nampak ragu untuk memulai percakapan.
"Ada yang bisa saya bantu bapak Tama". Tekan Kirei menyebut nama Tama membuat Tama menatap mata indah itu lekat.
"Gue..gue minta maaf soal kejadian kemaren". Ucap Tama membuang pandangannya pada jendela kamarnya.
"Ish..yang bener. Jangan macem-macem". Ancam Riana pada putranya.
"Ini juga udah bener bu". Dengus Tama
"Tidak masalah pak Tama. Jika tidak ada yang perlu dibahas lagi, saya permisi". Kirei membungkukkan badannya sedikit pada orang didalam sana.
"Tunggu dokter.." Suara Akmal membuat Kirei menghentikan gerakannya memutar gagang pintu.
"Ada lagi yang bisa saya bantu tuan?".
"Saya minta maaf atas sikap kurangajar putra saya..tolong maafkan putra kurangajar saya ini". Ucap Akmal tulus membuat Kirei tersenyum. Senyum yang tidak pernah ia berikan pada Tama selama menjadi dokter yang merawatnya.
"S*al..senyumnya manis banget". Batin Tama yang sejak tadi terus memperhatikan Kirei.
"Sama sekali bukan masalah tuan. Mungkin putra anda hanya sedikit stress saja, kurang liburan mungkin..atau justru terlalu banyak berlibur". Kekeh Kirei disambut suara tawa pasangan paruh baya itu.
"Anda benar-benar orang yang menyenangkan dokter..saya senang bisa bertemu dengan anda". Riana memeluk Kirei yang mematung sesaat karena terkejut dengan reaksi dari istri pemilik rumah sakit ini.
"Saya juga senang bertemu dengan anda nyonya. Kalau begitu saya permisi dulu..semoga nyonya dan tuan selalu diberikan kesehatan oleh Allah. Mari semua.
"Kurang*jar..yang didoain sehat cuma ayah sama ibu. Gue kaga didoain. Padahal gue pasiennya". Umpat Tama dalam hatinya.
"Cantik ya, yah". Puji Riana setelah Kirei menghilang dibalik pintu.
"Ya..seandainya Juan sudah selesai dengan pendidikannya, pasti ayah akan menjodohkannya dengan dokter Kirei". Ucap Akmal tak kalah semangat.
"Hmm..pasti mereka cocok sekali". Kedua orang tua itu seolah lupa dengan anak mereka yang masih berbaring diatas ranjang rumah sakit. Tama melotot tak percaya mendengar ucapan kedua orang tuanya yang terang-terangan ingin menjodohkan Kirei dengan adiknya, Juan.
"Ayah sama ibu nggak lupa kan kalau punya anak aku?". Suara Tama membuat kedua orang tuanya menoleh, dan mendapati wajah masam dari putra sulungnya.
Keduanya memang sengaja tidak menyinggung Tama, karena keduanya ingin melihat reaksi pemuda itu. Dan sepertinya, Tama memiliki rasa tertarik pada gadis yang memang sejak awal pertemuan sudah menunjukkan sikap yang berbeda dengan kebanyakan gadis yang Tama kenal.
"Enggak dong sayang, mana mungkin ibu lupa sama anak ibu yang playboy ini. Iya kan, yah?". Ledek Riana membuat wajah Tama semakin ditekuk.
"Sayang sekali jika dokter sebaik dirinya berjodoh denganmu, bisa sia-sia keahliannya nanti hanya untuk meladeni kelakuanmu". Imbuh Akmal membuat Tama semakin kesal.
"Menyebalkan". Gumam Tama membuat kedua orang tuanya tersenyum.
"Ingat pesan dokter Kirei..jika kamu ingin mencoba menemui malaikat izrail lagi, kamu bisa menanyakan gedung tinggi didaerah ini. Mengerti?". Riana menepuk bahu putranya, kemudian menggandeng lengan sang suami dan berjalan keluar meninggalkan putranya yang sedang kesal.
__ADS_1
"Sabar Tama..sabaaar. Emak bapak lo emang paling unik, jadi sabarin aja. Orang sabar pan*atnya lebar". Tama mengelus d**anya beberapa kali agar lebih tenang menghadapi kelakuan kedua orang tuanya.