Imperferct Partner

Imperferct Partner
ADIK


__ADS_3

Semakin hari kebencian Monika terhadap Naya kian membesar. Beberapa kali Monika memancing keributan dengan sengaja menabrak Naya dan mendatangi kelasnya hanya untuk sekedar memperingatkan Naya perihal Kenzo.


Bahkan sudah menjadi rahasia umum jika Monika sering membuat masalah dengan Naya. Seperti hari ini ketika keduanya berpapasan didekat lapangan upacra. Monika kembali mencegat Naya.


"Jangan terlalu percaya diri. Jangan karena lo deket sama nyokapnya Kenzo terus lo ngerasa bisa milikin Ken. Jangan harap!!". Monika kembali menekankan pada Naya bahwa Naya tak akan pernah memiliki Kenzo.


" Dan gue tegasin ke kakak ya..sampe kapanpun juga gue nggak akan biarin abang punya cewek kaya kakak!". Ucap Naya tak kalah tegas membuat Monika melotot.


"Udah lah Mon.." Agatha mencoba mencegah Monika.


"Ni bocah emang kudu dihajar!!". Monika langsung maju menerjang Naya yang belum siap menerima serangan.


Monika menjambak, mencakar dan memukul wajah Naya yang terkapar dibawah tubuhnya.


Tak terima, Naya membalikkan posisi keduanya hingga kini ia yang berada diatas tubuh Monika.


" Gue nggak sudi kalo abang nyampe punya pacar gila kaya elo". Teriak Naya


Beberapa murid yang lewat langsung mendekat begitu melihat adegan gulat yang menurut mereka sangat seru.


"Naya..udah Nay. Ya Allah..gimana ini". Aisha panik melihat pertarungan Naya dan Monika. Kini posisi kedua gadis itu sudah berdiri dan saling jambak.


Aisha yakin jika dirinya nekat memisahkan keduanya, sudah pasti dirinya tak akan mampu. Oleh karenanya, ia memilih berlari dan mencari keberadaan Kenzo yang menurutnya menjadi pusat permasalahan antara temannya dan kakak seniornya itu.


" Li-liat kak Kenzo nggak??". Tanya Aisha pada semua siswi yang ditemuinya.


"Aduh..kak Kenzo kelas apa ya". Aisha semakin panik kala menyadari dirinya tak mengetahui dimana kelas Ken.


" Ya Allah..pasti Naya tambah babak belur". Gumamnya semakin panik.


"Aaah..kantin. Ya..kantin. Pasti mereka disana". Aisha menyingsingkan rok panjangnya sedikit ke atas untuk memudahkannya berlari.


Ia berlari dan terus berlari hingga dirinya sampai dikantin yang jaraknya cukup jauh dari tempat Naya dan Monika berduel.


Aisha mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru kantin. Berharap ia bisa menemukan keberadaan Kenzo dan yang lainnya.


" DISANA". Seru Aisha senang ketika matanya menangkap keberadaan Ken dan teman-temannya.


Ia segera berjalan cepat menghampiri Kenzo yang sedang menyantap makanannya. Nafas Aisha terdengar ngos-ngosan ketika ia sampai dimeja Kenzo.


Tak ingin berlama-lama, tanpa sadar Aisha langsung memegang pergelangan tangan Ken yang tampak terkejut dengan apa yang Aisha lakukan.


"Iku--t ak-u kak.." Ucap Aisha masih ngos-ngosan


"Ikut kemana?". Tanya Ken bingung


" Cepet". Aisha menarik tangan Ken namun Ken menahan nya.


"Jawab gue". Ucap Ken dingin


" Cepetan!!! Aku nggak mau Naya kenapa-kenapa!!!". Aisha tak sadar jika ia membentak Kenzo.


"CEPETAN!!!". Ucap Aisha lagi ketika Kenzo dan Kai justru diam.


" NAYA GOB LOK!!!". Satria yang tersadar langsung menempeleng kepala si kembar agar tersadar. Sementara Al sudah pergi lebih dulu ketika mulut Aisha menyebut nama Naya.


Ken langsung menarik tangan Aisha dan membawanya berlari. Kini pikirannya kalut, tentang kenapa dan ada apa dengan adik tersayangnya.


Sementara ditengah lapang, sudah banyak siswa yang menonton. Sepertinya mereka terlalu menikmati duel antara dua gadis itu hingga tak ada yang berniat memisahkan keduanya.


Monika mendorong tubuh Naya hingga keduanya berjarak. Kondisi keduanya sudah acak-acakan tak berbentuk. Rambut berantakan, sementara kancing baju Naya sudah terlepas beberap biji hingga menyulitkannya membalas serangan Monika lantaran tangannya memegangi bajunya agar tidak terbuka.


" Lo salah nyari masalah sama gue!! Hari ini gue bakal bener-bener permaluin elo! Pegangin dia!!!". Perintah Monika pada dua temannya yang langsung menurut.


"Kakak mau apa?!! Jangan gila ya!!! Abang nggak bakal maafin kak Monika!!". Teriak Naya yang lengannya sudah dipegang oleh Agatha dan Lucia.


" Lo pikir gue takut sama anceman lo?". Sinis Monika.


Naya sudah ingin menangis, malu jika sampai bajunya benar-benar terbuka. Apalagi kini Monika dibantu oleh dua temannya. Ia benar-benar berharap akan ada pertolongan untuk dirinya saat ini. Sebisa mungkin ia menahan tangisnya dihadapan Monika. Ia tak ingin terlihat lemah didepan lawannya.


Monika mengeluarkan sebuah gunting hingga membuat Naya melotot tak percaya. Naya menggelengkan kepalanya, air matanya sudah hampir jatuh.


" Kenapa hm?? Takut lo?". Ucap Monika tersenyum sinis melihat mata Naya yang sudah mulai berair.


"Jangan..gue mohon jangan kak". Naya sudah tak bisa lagi membendung air matanya. Dirinya benar-benar dipermalukan dihadapan banyak orang.


Monika menarik paksa tengan Naya yang masih mencengkeram seragamnya agar dada nya tak terekspos.


" Huuu..kayanya gue nggak perlu pake gunting". Monika melempar guntingnya dan dengan kasar ia menarik baju seragam Naya hingga hampir semua kancingnya terlepas.

__ADS_1


"JANGAAAAN!!". Teriak Naya.


"MONIKA!!!!!". Teriakan itu membuat Monika terkejut. Pun dengan kedua temannya yang sedang memegangi Naya langsung melepaskan cekalan tangannya.


Tubuh Naya merosot ke tanah..tubuhnya seolah kehilangan dayanya setelah apa yang Monika lakukan padanya. Kedua tangannya mencengkeram erat bajunya yang sudah tak berbentuk.


" APA-APAAN LO HAH!!!!". Suara itu terdengar lebih menyeramkan ditelinga Monika dan teman-temannya.


"Gu-gue cuma--"


"Ini pelajaran buat ni anak tengil Bar". Monika menyingkirkan rasa takut nya pada Akbar yang sejak tadi wajahnya sudah merah padam.


"Nay.." Akbar langsung mendekat pada Naya yang sedang menangis sambil mencengkeram bajunya. Ia berjongkok didepan gadis cantik yang terlihat berantakan itu.


Akbar yang baru saja selesai rapat dengan anggota osis yang lain segera mendekat saat dirinya melewati lapang yang terlihat ramai. Matanya melebar melihat apa yang Monika lalukan pada Naya.


Ia segera melepaskan jas almamaternya dan memakaikannya pada Naya yang terlihat tak berdaya. Bukan seperti Naya yang ia kenal selama ini.


"Kak.." Lirih Naya menatap Akbar dengan wajah basah.


"Kakak disini..kamu aman. Maafin kakak.." Akbar memeluk tubuh bergetar Naya. Ia melirik Monika yang terlihat tak suka Akbar membela gadis malang itu.


"Kak..Nay--- Nay takut". Lirih Naya dengan suara bergetar.


Dengan sekali gerakan, Akbar mengangkat tubuh Naya yang langsung mengalungkan tangannya dileher Akbar dan membenamkan wajahnya didada bidang Akbar. Akbar masih mendengar isakan-isakan kecil dari Naya yang kini ada didalam gendongannya.


"ADA APA INI!!!". Teriak Kenzo yang membuat tubuh Monika langsung membeku.


Naya sudah tak menanggapi apapun disekelilingnya. Ia sudah nyaman menyembunyikan wajahnya didada nyaman Akbar.


" NAYA!!". Teriak Ken, Kai serta Satria yang melihat Naya dalam gendongan Akbar. Sementara Al, lelaki itu mematung tak jauh dari Akbar menggendong Naya. Dirinya kalah cepat dengan Akbar.


"Ada apa ini Bar?". Tanya Ken panik.


" SIAPA YANG NGELAKUIN INI SAMA ADEK GUE!!!". Teriak Kai marah membuat tubuh Monika menegang.


"A-adik?". Gumam orang-orang disekitar mereka. Kenyataan ini terlalu mengejutkan mereka semua.


" Ba jingan lo semua!!! Siapa yang lakuin ini sama adek kita hah!!!". Satria tak kalah emosi melihat kondisi Naya.


Akbar masih diam, semakin mengeratkan tangannya menopang tubuh Naya yang masih terasa bergetar. Sepertinya gadis itu masih menangis.


Ketiganya ikut menatap tajam pada Monika yang seperti kehilangan nyawanya setelah mendengar teriakan Kai tentang siapa Naya.


" Gue titip adek gue". Ucap Kai


"Bawa dia. Ntar gue susul". Ken memberikan kunci apartemennya pada Akbar yang paham dengan keinginan temannya.


" Gue minta tolong temenin adek gue". Ken beralih pada Aisha yang sudah menangis sejak melihat Naya didalam dekapan Akbar. Ia hanya mengangguk menyanggupi permintaan Ken.


"Gue pastiin lo bertiga dihukum berat!!". Desis Akbar yang melewati ketiga gadis yang membuat Naya seperti saat ini.


Akbar berlalu dengan membawa tubuh Naya. Dibelakangnya ada Aisha yang setia mengikuti Akbar yang membawa tubuh Naya.


" Ke-Ken..gu-gue bisa jelasin". Ucap Monika terbata ketika Ken berjalan mendekat padanya. Aura dinginnya benar-benar bisa membekukan sekelilingnya.


"Breng sek lo Mon!!!". Teriak Kai yang hendak menyerang Monika. Namun tubuhnya sudah lebih dulu ditahan oleh Satria.


" Lepas Sat!!! Ni cewek kudu diajarin tata krama!!". Kai memberontak ingin melepaskan diri. Namun Satria menahan nya dengan kuat.


"Nggak gini caranya. Dia cewek". Ucap Satria yang mencoba tenang. Jika boleh jujur dan mengikuti amarahnya, maka ia juga akan menghajar Monika sampai tak bisa berjalan. Namun logika dan akal sehatnya masih menahan dirinya untuk melakukan semua itu.


" Ken bakal selesaiin ini. Percaya sama gue". Ucap Satria yang terus mencoba menenangkan Kai.


Ken berjalan semakin dekat dengan Monika. Sedangkan Monika sudah gemetar karena ketakutan.


"Gue udah pernah peringatin lo bertiga". Ucap Ken sambil terus berjalan.


" Udah gue bilang..jangan pernah ganggu apalagi sentuh Naya".


"LO NGGAK PAHAM!!! HAH!!!". Bentak Ken membuat Monika dan kedua temannya menunduk.


" Gu-gue nggak tahu--"


"Lo nggak tahu Naya adek gue. Jadi lo bisa lakuin itu ke dia? Gitu maksudnya?". Tanya Ken.


" JAWAB!!!". Bentak Ken lagi membuat Monika menutup rapat matanya. Ia benar-benar takut saat ini.


"Apa yang lo lakuin ke adek gue nggak akan pernah bisa gue maafin". Desis Ken membuat Monika mengangkat kepalanya.

__ADS_1


" Ken..gue salah. Maafin gue. Kalo gue tahu dia adek lo, gue nggak mungkin perlakuin dia kaya gitu". Ucap Monika hendak memegang lengan Ken. Namun Ken dengan cepat menepisnya.


"Jadi kalo dia bukan adek gue..lo ngerasa berhak berperilaku kaya tadi?". Tanya Ken lagi


"Bu-bukan gitu Ken. Gue--gue nggak suka dia deket elo. Sementara gue yang udah berjuang lama nggak pernah keliatan dimata lo". Monika memberanikan diri menatap Ken yang tengah tersenyum sinis menatapnya.


" Bahkan kalopun nggak ada perempuan kaya adek gue. Gue nggak akan pernah lirik perempuan kaya elo!". Ucap Ken tegas membuat Monika berkaca-kaca.


"Gue pastiin adek gue nggak akan pernah liat lo bertiga lagi!". Ken segera meninggalkan ketiga gadis yang terkejut mendengar ucapan Ken. Sementara Monika sudah menangis mendengar ucapan Kenzo.


" Dasar gila!!!". Umpat Kai sebelum mengikuti Ken.


#####


"Tolong datang ke apartemen Xxx, unit xx". Ucap Akbar disambungan telepon. Saat ini dirinya sedang berada dalam perjalanan menuju apartemen milik Ken.


Akbar kembali melirik spionnya. Dibangku penumpang ada Aisha yang masih menangis tengah memangku kepala Naya yang sepertinya tertidur. Mungkin gadis itu terlalu lelah dengan kejadian hari ini.


Jas almamater milik Akbar masih menutup rapat tubuhnya. Berkali-kali Akbar menghela nafasnya melihat kondisi Naya. Ia menyalahkan dirinya yang tidak bisa datang tepat waktu hingga Naya harus mengalami hal memalukan seperti tadi.


" Tas lo sama tas Naya udah lo ambil?". Tanya Akbar pada gadis yang belum ia tahu namanya.


"Su--sudah kak". Ucap Aisha terbata lantaran masih menangis.


"Naya-- Naya nggak akan kenapa-kenapa kan kak?". Tanya Aisha dijawab anggukan kepala oleh Akbar.


"Dia pasti baik-baik aja. Dan harus baik-baik aja". Gumam Akbar.


Sampai didepan gedung yang menjulang tinggi itu Akbar menghentikan mobilnya. Ia membuka pintu dan segera membuka pintu belakang dimana Naya tertidur.


" Biar gue gendong aja. Tolong bawain tasnya". Aisha mengangguk patuh. Menuruti semua perintah Akbar.


"Maafin kakak Nay..harusnya kakak bisa lebih cepet nolongin kamu". Gumam Akbar mengeratkan tangannya pada tubuh Naya. Merasa gagal melindungi Naya.


Sampai diunit apartemen Ken, seorang wanita paruh baya sudah menunggu didepan pintu. Dari penampilannya, Aisha bisa memprediksi jika ia adalah seorang dokter.


" Tolong buka pintunya--" Akbar menggantung ucapannya lantaran bingung mau memanggil Aisha apa, dirinya tak mengetahui nama teman Naya itu.


Aisha mengeluarkan kunci yang tadi diberikan Kenzo. Ia membuka pintu lebar untuk memudahkan Akbar membawa Naya masuk.


"Kamar yang mana kak?". Tanya Aisha yang melihat ada dua pintu.


" Yang mana saja..yang penting Naya bisa segera diperiksa". Ucap Akbar membuat Naya mengangguk.


Dokter wanita yang sudah ditelepon Akbar sebelumnya mengikuti dari belakang.


Dengan perlahan, Akbar merebahkan tubuh Naya keatas kasur. Tangannya terulur menyingkirkan rambut-rambut kecil yang menutupi wajah Naya.


"Keluarlah dulu Bar". Ucap ddokter yang hendak memeriksa.


" Akbar ingin disini tan". Ucap Akbar.


"Kamu ingin melihat tante memeriksa dada nya?!". Tanyanya sekaligus menggoda Akbar yang langsung terlihat salah tingkah.


" Yang bener aja". Gumam Akbar berjalan keluar kamar. Sementara Aisha dengan setia menemani Naya yang sedang diperiksa.


"Apa dia baru saja duel?". Tanya dokter yang belum Aisha ketahui namanya.


" I-iya dokter---" Jawab Aisha bingung


"Panggil saja tante Mala". Ucap sang dojter ramah.


" Sepertinya lawannya ganas ya..dimana-mana bekas cakaran. Apa dia juga kena pukul?". Tanya dokter Mala yang melihat wajah Naya sedikit membiru.


"Sa-saya nggak tahu dok. Tadi--tadi saya pergi mencari kakaknya karena tidak bisa melerainya". Jelas Aisha membuat Mala mengangguk.


" Tidak parah..hanya sepertinya gadis ini trauma". Ucap Mala setelah selesai memeriksa Naya.


"Apakah gadis ini pacar Akbar?". Tanya Mala tiba-tiba membuat Aisha terkejut.


" Ha? Maaf?".


"Apakah gadis ini kekasih anak tengil yang baru saja keluar??". Tanya dokter Mala lagi


" Sa-saya tidak tahu dok". Jawab Aisha gugup. Pasalnya dirinya memang tak mengetahui status hubungan Naya dengan lelaki manapun.


"Sebaiknya kita ganti pakaiannya dulu supaya dia nyaman". Ucap Mala yang dijawab anggukan kepala oleh Aisha. Keduanya mencari baju di lemari yang ada dikamar itu.


" Lebih baik memakai ini daripada tidak diganti". Ucap Mala yang melihat Aisha memegang kaos laki-laki.

__ADS_1


Keduanya mengganti baju yang dikenakan Naya dengan kaos milik Ken yang ada disana.


__ADS_2