Imperferct Partner

Imperferct Partner
Mencoba bangkit


__ADS_3

Al kembali harus meninggalkan negara kelahirannya untuk pergi ke perusahaan yang ia bangun beberapa tahun silam itu. Berat baginya meninggalkan Naya dengan kondisi nya yang belum stabil, namun apa daya, perusahaannya juga membutuhkan dirinya. Mungkin setelah ini Al harus memikirkan untuk membuka cabang dinegara ini.


Sudah satu bulan sejak Al membawanya ke tepi danau dan memberinya banyak pengertian dan nasehat yang membuatnya perlahan bangkit dari keterpurukannya. Setiap hari Al selalu menelpon untuk menanyakan kondisi Naya. Tak pernah sekalipun Al melewatkan untuk menelpon Naya.


Pagi ini, Naya memutuskan untuk kembali melanjutkan pendidikan nya yang tinggal sebentar lagi akan selesai. Kedua orang tua dan kakaknya menatap Naya bingung melihat gadis itu sudah rapi pagi-pagi begini.


"Selamat pagi mom..dad.."


"Pagi abang.." Sapaan Naya membuat semua membeku mendengar sapaan hangatnya.


Mereka seolah tak percaya melihat Kanaya kembali. Meski tak seceria biasanya, namun setidaknya gadis itu sudah mulai keluar kamar tanpa paksaan siapapun.


Naya tersenyum meski sedikit terkesan dipaksakan untuk melegakan hati keluarganya. Ia masih ingat pesan Al terakhir kali sebelum lelaki itu berpamitan untuk kembali ke negara lain dimana perusahaannya berada.


"Saat kamu merasa kembali terpuruk dan terluka. Saat kamu merasa enggan melanjutkan hidup. Saat kamu merasa kembali diliputi kesedihan dan kamu merasa sendiri, selalu ingat jika akan ada yang lebih sakit dan terluka melihatmu seperti itu. Percayalah, Akbar pun tak akan pernah suka dan tak akan tenang melihat wanita yang ia cintai seperti ini. Jadilah Kanaya yang kami kenal.." Pesan Al masih selalu terngiang ditelinganya.


"Sayang.." Panggilan Kirei membuat Naya tersadar dari lamunannya tentang pesan Al padanya.


"Nay mau nasi goreng nya mom.." Semakin melongo saja mereka. Selain bahagia, tentu saja ada sedikit keterkejutan atas perubahan sikap Naya.


"Biar mbak ambilin.." Khanza yang melihat Kirei masih terkejut berinisiatif mengambilkan sarapan untuk adik iparnya.


"Kamu ke kampus naik apa Sha?". Tanya Naya membuat Aisha hampir tersedak.


" Di-dianter kakak.." Aisha melirik Kai. Ya, selama beberapa minggu Naya terpuruk, Kai selalu menyempatkan mengantar dan menjemput istrinya.


"Mulai sekarang Aisha biar bareng aku lagi aja bang.." Kai menoleh, menatap adiknya yang tersenyum hangat padanya. Hati semua orang dipenuhi rasa lega. Sepertinya perjuangan Al membujuk gadis itu sedikit banyak membuahkan hasil.


"Abang titip kakak ipar kamu ya.."


"Iya..Nay masih apal kok bang". Kai tersenyum bahagia. Adiknya perlahan sudah kembali menjadi dirinya.


****


Rupa-rupanya Naya hanya kembali menjadi Naya saat berada disekitar keluarga tercintanya. Sikap Naya berubah pada orang luar, ia lebih menjaga jarak dan tak seramah dulu lagi. Aisha merasakannya, bahkan adik iparnya itu terkesan lebih menuup diri dan dingin pada orang lain. Entah apa alasannya hingga Naya memilih bersikap acuh seperti sekarang.


Ponsel Naya berdering, Naya mengambilnya dan melihat id si pemanggil. Senyum tipis tersungging dibibir mungilnya melihat siapa yang menelponnya saat ini. Ia sudah tahu apa yang akan ditanyakan oleh lelaki itu setelah teleponnya ia angkat.


" Assalamualaikum kak.."


"Wa'alaikumsalam.. Gimana kondisi kamu Kay? Udah lebih baik?" Naya kembali tersenyum mendengar pertanyaan yang sama setiap harinya.


"Kakak nggak bosen nanyain hal yang sama tiap hari?". Tanya Naya pelan.


" Enggak..kamu lagi dimana Kay. Kok rame?". Tanya Al


"Nay di kampus kak.." Entah seperti apa reaksi pemuda diseberang sana itu.


"Ka-kamu ke kampus Kay?? Kamu udah mulai kuliah??". Naya dapat mendengar nada tak percaya dari suara Al.


" Biasa aja kali kak.." Naya terkekeh pelan.


"Anak pintar ..itu baru Kanaya yang aku kenal". Naya yakin pasti Al merasakan kelegaan yang sama dengan seluruh keluarga nya.


"Aku cari dosen pembimbing dulu kak.."


"Belajar yang bener ya. Kerjain skripsinya bener-bener biar cepet kelar kuliahnya".


" Iya kak..Assalamualaikum ".


" Wa'alaikumsalam.. " Naya memutuskan panggilan telepon dari Al setelah Al menjawab salamnya.


Naya kembali melanjutkan langkahnya untuk mencari dosen pembimbingnya. Ia ingin cepat menyelesaikan pendidikan nya dan bekerja agar setidaknya ia bisa sedikit mengalihkan pikirannya dari bayangan Akbar.


Sementara dibelahan bumi lain, Al sedang tersenyum sambil mengelus foto Naya yang diambil oleh orang yang selama ini ia sewa untuk terus mengawasi dan memantau kondisi Naya selagi dirinya tak ada.

__ADS_1


"Pak..Pak.." Panggil Luna ragu


Sementara orang-orang yang saat ini tengah rapat memandang heran pada Al. Apa gerangan yang membuat bos galak dan dingin itu bisa tersenyum sehangat itu hanya karna menatap ponselnya.


"Pak Yohan.." Luna memberanikan diri menepuk pundak Al yang masih asyik dengan dunianya.


Al segera menoleh ketika merasakan sentuhan cukup keras dipundaknya. Ia melihat Luna, sekretarisnya sedang berdiri disampingnya. Ia mengangkat sebelah alisnya seolah bertanya 'Apa?'.


"Maaf..pak Robert sudah selesai.." Luna melirik pria paruh baya yang sedang berdiri didepan sana mempresentasikan ide dan gagasannya.


Al sedikit gelagapan, ia lupa jika saat ini dirinya tengah meeting dengan para bawahannya untuk membahas rencananya membangun anak cabang perusahaan dinegara kelahirannya. Naya Benar-benar bisa membuatnya melupakan sekelilingnya.


"Ehm..." Al berdehem sebentar sebelum menatap satu persatu bawahannya yang terlihat heran melihatnya tidak fokus meeting.


"Serahkan semua laporan kalian pada Luna. Aku akan membaca dan memeriksanya nanti".


" Meeting selesai.. kalian bisa kembali ke ruangan kalian. Terimakasih untuk waktunya". Al bangkit dan berjalan meninggalkan ruang meeting.


Sementara Chris yang merupakan direktur umum diperusahaan itu hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat kelakuan atasan sekaligus sahabatnya sejak 6tahun lalu itu. Ia segera bangkit dan menyusul Al yang sudah lebih keluar, meninggalkan wajah-wajah terkejut rekanan kerjanya melihat si manusia es tersenyum apalagi menyelesaikan meeting tanpa mengamuk seperti biasanya.


tok..


tok..


tok..


"Masuk.."


Setelah mendapat izin dari atasannya, Luna masuk dengan membawa setumpuk berkas yang Al minta pada setiap kepala bagian seusai meeting tadi.


"Ada yang bisa saya bantu lagi pak?". Tanya Luna sopan.


" Tidak..kamu bisa kembali ke mejamu. Terimakasih Lun.." Ucap Al membuat Luna mengangguk dan membungkukkan sedikit badannya sebelum undur diri dari hadapan Al.


"Ada apa Chris??". Tanya Al yang masih fokus dengan berkas ditangannya.


" Apa ada sesuatu yang aku lewatkan?? Kenapa manusia es kita bisa tersenyum saat sedang meeting?? ". Tanya Chris menggoda Al. Dan benar saja, Al langsung mengangkat kepalanya saat Chris membahas persoalan meeting barusan.


" Tidak ada. Apa sangat terlihat jika aku tersenyum? ". Tanya Al sedikit ragu.


" Ya..manusia es kita ini sangat terlihat bahagia. Ada apa?? Apa gadis itu sudah menerimamu?". Tanya Chris penasaran.


Al menggeleng, membuat Chris mengerutkan keningnya lantaran bingung. Jika bukan itu, lalu apa yang membuat temannya itu begitu bahagia.


"Lalu?? Aku yakin ini berhubungan dengan gadis yang selalu kau ceritakan itu.." Chris semakin mendesak hingga membuat Al kembali tersenyum.


"Kamu seperti ibu-ibu Chris. Apa kamu sering berkumpul dengan wanita-wanita tukang gosip itu?". Tanya Al membuat Chris mendelik kesal. Al semakin terkekeh melihat kekesalan temannya.


" Dia sudah mau ke kampus..dia mulai melanjutkan hidup nya Chris. Aku merasa lega.." Chris langsung mengubah ekspresi wajahnya. Ia tahu seberapa dalam si manusia es ini mencintai gadis bernama Kanaya yang sudsh sering ia dengar dari mulut lelaki itu.


Ia tahu bagaimana hancur dan terluka nya Al saat mendengar kabar bahwa gadis yang dicintai temannya itu akan bertunangan dengan teman semasa SMA Al. Chris tahu segalanya tentang Al dan Kanaya.


"Dan kamu belum menyatakan perasaan mu itu??". Tanya Chrus heran. Ia tak mengerti dengan jalan pikiran Al, jika cinta mengapa tak menyatakannya saja.


Al menggeleng lemah dengan senyum miris. Ia merasa menjadi pengecut yang tak berani menyatakan rasanya pada Naya. Ia takut Naya akan membenci dan menjauhi dirinya jika ia nekad menyatakan cintanya. Untuk saat ini, biarlah ia hidup sebagai pengecut yang menjaga cintanya yang tak berbalas itu.


" Aku terlalu takut dia membenciku Chris. Biarlah seperti ini, setidaknya aku bisa menjaganya". Al menatap langit-langit ruangannya. Pikirannya tak pernah bisa berpaling dari Naya. Padahal selama ini sang nenek dan Chris selalu berusaha mendekat kannya dengan beberapa gadis. Namun selalu saja Al menolaknya secara halus.


"Aku hanya bisa mendoakan kebahagiaanmu. Semoga suatu saat gadismu itu mengetahui betapa besar cintamu untuknya". Chris bangkit, menepuk pundak temannya beberapa kali dan pergi meninggalkan Al sendiri dengan segala pikirannya tentang Naya.


***####***


" Kenapa tidak bekerja disini saja sayang..kenapa harus jauh-jauh kesana". Kirei masih enggan melepas putrinya jauh dari dirinya.


"Kita masih dalam satu negara yang sama mom. Kapanpun mommy bisa datang".

__ADS_1


" Daddy punya perusahaan Nay, kamu juga bisa bekerja pada kedua abangmu. Atau kamu bisa bekerja dirumah sakit..kenapa harus repot-repot mencari pekerjaan ditempat yang jauh". Tak berbeda dengan Kirei , Tama pun enggan jauh dari putrinya.


"Aku hanya ingin mencari pengalaman baru dad, mom. Aku janji akan sering mengunjungi kalian disini.."


"Biarkan Naya pergi mom, dad".. Ken yang melihat kode dari sang adik akhirnya ikut membujuk kedua orang tuanya. Pun dengan Kai yang membantunya. Sebenarnya berat bagi keduanya membiarkan adik kesayangan mereka jauh dari pengawasannya, namun Naya bersikukuh untuk tetap pergi.


" Bagaimana bisa kalian mengijinkannya?". Omel Kirei menatap kedua putranya


"Mommy kesepian tanpa kamu sayang.." Kirei memeluk Naya lagi. Sejujurnya Naya pun tak tega jauh dari orang-orang terkasihnya. Namun dirinya tak bisa terus berada disana, ia tak bisa mengalihkan pikirannya dari Akbar. Bahkan setelah hampir setengah tahun kepergian lelaki itu.


"Mommy punya mbak Khanza sama Aisha. Mommy juga punya Rere sekarang..kesepian gimana??". Goda Naya membuat Kirei mencebik.


" Mbak Khanza juga lagi hamil, mommy bakal punya cucu baru lagi". Bujuk Naya.


"Mom..biarin Naya pergi. Mungkin setelah ngerasain jauh dari keluarga, dia jadi nggak betah terus pengen pulang". Kai melancarkan aksinya membantu sang adik.


" Mana ada seperti itu". Cibir Tama dan Kirei hanpir bersamaan.


"Aku tidak bisa lupa sama kak Biru mom. Kota ini menyimpan terlalu banyak kenangan kami..bisakah mommy dan daddy izinkan aku pergi sejenak untuk bisa mengikhlaskan kakak??". Tama dan Kirei bungkam, tak mereka sangka jika putrinya masih berada dalam bayang-bayang Akbar.


" Sayang..." Suara Kirei bergetar menatap putrinya sudah berkaca-kaca.


"Aku mohon mom..aku janji akan sering pulang"..


Setelah perdebatan yang cukup panjang dan sengit, akhirnya Naya menang dan kedua orang tuanya harus ikhlas membiarkan anaknya mencoba merantau dikota orang.


" Pulanglah jika kamu merasa kesulitan. Perusahaan daddy juga milikmu". Tama memeluk putrinya yang terlihat bahagia.


"Dimana kamu akan bekerja sayang?? Perusahaan apa?? Lalu kamu akan bekerja sebagai apa??". Kirei memberondong Naya dengan pertanyaan.


" Y.K food mom..aku akan bekerja dibagian keuangan sama seperti mata kuliah yang sudah aku ambil".


"Belum tentu kamu diterima". Ada pengharapan besar jika putrinya akan ditolak oleh perusahaan incaran anaknya itu.


" Sayangnya doa mommy kali ini tidak akan terkabul. Aku sudah diterima dan akan mulai bekerja minggu depan mom.." Ada seringai kecil dari bibir mungil Naya yang membuat Kirei mencebik kesal.


"Dua hari lagi aku akan pergi mom.."


"Apa?!!! Kenapa cepat sekali?? Tidak bisakah seminggu lagi, atau sebulan, kalau bisa setahun lagi". Ucap Kirei heboh membuat Naya yang kini mencibir.


" Itu mah sama saja nggak boleh pergi ama mommy!". Cibir Naya membuat kedua kakak dan kakak iparnya yang sejak tadi diam ikut tertawa.


"Lalu kamu akan tinggal dimana Kanaya???? Mommy belum sempat mencarikan dirimu tempat tinggal". Kirei benar-benar heboh hingga membuat suaminya menggeleng gemas.


" Tenang sayang..kenapa kamu yang heboh". Ucap Tama menenangkan istrinya


"Tenang gimana sih mas. Ini anaknya mau tidur dimana kalo nggak dicariin". Akhirnya Tama diam, daripada ia kembali disemprot habis-habisan oleh istrinya.


" Aduh..gimana ini mas.." Kirei terlihat panik.


"Mom..mom.."


"Mommy!!!" Teriak Naya yang gemas melihat ibunya panik.


"Naya mendapat fasilitas apartemen dari perusahaan mom.."


"Benarkah?? Syukurlah.." Kirei merasa lega.


"Tunggu Nay. Bukannya kalo orang ngelamar kerja harus diinterview kan?". Kirei tiba-tiba terpikir kan hal itu.


" Mommy pikir aku nggak diinterview??". Tanya Naya terkekeh geli melihat wajah ibunya.


"Nay diinterview secara online mom..karna nilai Naya yang memuaskan dan rekomendasi dari pihak kampus, makanya Naya bisa melalui sesi interview lewat telepon doang". Jelas Naya membuat Kirei menggut-manggut paham.


" Nay sedang mencoba bangkit kak..Nay pergi bukan untuk melupakan kakak, tapi Nay nggak bisa disini. Tapi disini, ditempat ini, dikota ini terlalu banyak kenangan kita kak. Nay nggak bisa bangkit disini..Nay janji akan jadi Naya yang kakak kenal. Nayanya Biru.."

__ADS_1


__ADS_2