Imperferct Partner

Imperferct Partner
simalakama


__ADS_3

Hari pernikahannya dengan Tama sudah ditentukan. Satu minggu lalu, kedua orang tuanya datang ke Jogja untuk bertemu dengan Tama beserta kedua orang tuanya. Membahas tentang rencana pernikahan yang sejujurnya masih enggan bahkan tak sedikitpun ia pikirkan. Namun apa dayanya jika sang ibu sudah memintanya.


"Kenapa harus buru-buru bun? Menikah tidak semudah itu..beri Kirei dan Tama waktu". Pinta Kirei memohon. Namun jawaban Ara selalu sama.


"Beberapa bulan sudah cukup untuk kalian saling mengenal Ki. Kalian bisa lebih mengenal setelah menikah. Semua akan baik-baik saja. Maaf jika kamu menganggap buna egois, buna dan ayah melakukannya untuk kebahagiaanmu". Ingin Kirei bertanya, kebahagiaan macam apa yang sedang ibunya bicarakan. Jika menikah saja dirinya masih belum terpikirkan. Mengapa harus dipaksa menikah? Namun Kirei hanya bisa menelan sendiri pertanyaan itu. Dirinya tak cukup memiliki keberanian untuk membuat ayah dan ibunya kecewa dengan penolakannya.


Pun dengan Tama yang hingga kini masih berusaha mengulur waktu agar bisa menunda pernikahannya dengan Kirei. Namun hasil yang ia peroleh sama seperti Kirei, nihil.


"Tama masih muda bu, Kirei pun sama..kami masih ingin mengejar cita-cita kami. Setidaknya biarkan kami menentukan sendiri kapan kami siap menikah". Tama mencoba membuat penawaran pada sang ibu.


"Setelah kalian menikah pun kalian masih bisa mengejar semua yang kalian inginkan. Menunggu kamu siap menikah sama saja menunggu gajah bertelur". Jawab Riana tak bisa lagi Tama bantah.


Kedua anak manusia itu hanya bisa saling mengadu nasibnya yang gagal membujuk ibu ayahnya untuk membatalkan, atau setidaknya menunda rencana pernikahan mereka.


Satu bulan sudah cukup bagi Ara dan Riana untuk menyiapkan segala keperluan untuk pernikahan anak-anaknya. Entah sudah berapa kali Tama dan Kirei mencoba mencari cara untuk menggagalkan rencana pernikahan mereka. Namun semua rencana dengan mudah langsung ditangkis oleh kedua ibu itu.


"Sekarang kita musti gimana?". Tanya Kirei frustasi. Saat ini keduanya tengah duduk disebuah cafe yang belakangan ini memang sering mereka datangi untuk membahas segala hal tentang rencana keduanya.


"Lo bisa kabur pas hari H". Usul Tama tanpa beban.


"Lo waras?". Tanya Kirei kesal mendengar usulan gila Tama.


"Kenapa nggak lo aja yang kabur!". Sengit Kirei yang dibalas cengiran oleh Tama.


Meski sudah lebih memahami dan mengerti satu sama lain, namun keduanya masih sering berdebat mengenai hal sepele sekalipun. Bagaimana tidak, jika orang yang saling mencintai saja bisa berselisih paham..apalagi seperti mereka berdua yang tidak memiliki perasaan. Atau mungkin belum memahami perasaan masing-masing.


Rencana pernikahan mereka lebih cepat satu bulan dibanding pernikahan Daniel dan Arin. Ara dan Dev sengaja mempercepat rencananya karena takut Daniel akan semakin sering menemui Kirei.


"Lagian pada kenapa sih nyuruh buru-buru kawin". Heran Tama yang baru terpikir tentang rencana kedua orang tuanya yang terkesan terburu-buru.


"Nikah..NI-KAH!!". Ralat Kirei yang sudah kesal.


"Sama aja lah..abis nikah mau ngapain lagi!???". Disaat seperti ini pun Tama masih menyempatkan diri menggoda Kirei.


Kirei menghela nafas panjang demi mengurangi rasa kesal yang tiba-tiba memenuhi rongga d***nya. Berunding dengan Tama hanya menambah pusing dan menguras emosinya saja.


"Wadaaww..ini calon nganten senengnya mojok teroosss". Suara yang tidak diharapkan Kirei dan Tama terdengar lantang hingga membuat keduanya justru menjatuhkan kepalanya keatas meja.


"Mau dicicil ama ni kunyuk, man". Oh, ayolah..ini bukan waktu yang tepat bertemu dengan dua cecunguk menyebalkan seperti mereka ini.


"Sabar bro..lo kudu dipingit dulu. Udah kaku emang??". Saga seolah buta dengan tatapan tajam Kirei dan Tama. Bahkan dengan santainya, ia dan Gery duduk disebelah pasangan yang terlihat sangat frustasi itu.


"Bentar..kalo gue terawang ini muka lo pada kok kusut amat sih. Kaya orang lagi mikirin utang negara gitu, beraaaat kayanya tu". Gery menatap wajah keduanya bergantian.


"Kaga sabar nunggu malam pertama dia". Memang dasar otak Saga m***m, yang ada dipikirannya tidak jauh dari kasur.


"Berisik!!!". Seru Tama dan Kirei bersamaan yang justru membuat duo sableng itu tergelak.


"Emang cocok sih lo berdua..suka gue liat pasangan model lo bedua. Perpect". Gery bertepuk tangan, seolah melihat Kirei dan Tama adalah sebuah keajaiban yang patut diapresiasi.

__ADS_1


Saat mereka sedang asyik mengobrol, atau lebih tepatnya si duo sableng yang masih asyik menggoda Kirei dan Tama. Sebuah suara mengalihkan seluruh atensi mereka.


"Aksa???". Suara itu..suara yang tidak ingin lagi Tama dengar. Perlahan Tama menoleh, berharap jika bukan orang sama yang memiliki suara itu.


"INNEKE!!". Seru Gery dan Saga bersamaan membuat alis Kirei berkerut melihat wajah pucat ketiga lelaki yang duduk bersamanya.


"Apa kabar Sa? Lama kita nggak ketemu". Tanpa menghiraukan seruan Saga dan Gery, gadis bernama Inneke itu menyapa Tama dengan suara lembut.


"Kita pergi sekarang!". Tama menarik tangan Kirei yang masih bingung melihat keadaan saat ini. Tama mengeluarkan dua lembar uang seratus ribuan dan meninggalkannya diatas meja tanpa berniat membalas sapaan dari seorang gadis yang sedang menatapnya sendu.


"Aksa!! Sa!!!" Teriak gadis bernama Inneke yang tak sedikitpun dihiraukan Tama.


"Duduk Nge.." Saga mencoba beramah tamah pada gadis bernama Inneke yang mampu membuat jantung mereka bekerja ekstra beberapa saat lalu.


"Enggak..makasih. Tadi itu---" Inneke melirik Tama dan Kirei dengan ekor matanya.


"Calon bini Tama". Jawab Gery cepat yang mampu membuat mata gadis itu membola sempurna.


"Ca..calon istri??". Beo Inneke tak percaya.


"Kita duluan". Gery tak menutupi rasa tidak sukanya pada Inneke. Bahkan Saga ditarik paksa meninggalkan Inneke yang masih mematung disisi meja yang baru saja mereka tempati.


****


Kirei melirik Tama yang masih fokus dengan kemudinya. Wajahnya terlihat dingin membekukan.


"Kaga usah ngebatin!". Sengit Tama yang wajahnya sudah kembali terlihat tengil. Sangat berbeda dengan beberapa menit lalu.


"Nambah dosa banget gue ngebatin orang kaya elo". Kilah Kirei yang mampu menutupi ekspresi terkejutnya karena Tama yang tahu bahwa ia mengumpatnya dalam hati.


"Eh..nah lo. Mau dibawa kemana lagi gue? Apartemen gue kesono". Ucap Kirei yang melihat Tama membawa mobilnya berlawanan arah dengan apartemennya.


"Kita kudu jajal cincin kalo-kalo elo lupa". Peringat Tama membuat Kirei kembali lemas mengingat rencana pernikahannya.


"Gue harap ntar pas mau nikah ada cewe dateng ngaku dibuntingin ama elo. Jadi kita kaga jadi nikah". Doa Kirei yang langsung membuat Tama menginjak remnya dalam-dalam.


"Tamiiaaaaa!! Lo kalo mau ma----". Kirei bungkam, menatap Tama yang tengah menatapnya tajam. Apa dirinya baru saja melakukan kesalahan??


"Mulut lo suka pengen dicium. Kalo ngomong suka ngadi-ngadi!! Lama-lama elo yang gue bikin bunting". Tama menyentil keras kening Kirei. Gemas mendengar doa aneh dari mulut gadis itu. Kirei mendesis menahan sakit dikeningnya.


"Lo nyentil jidat gue pake tenaga dalem ya. Sakit b*go!!". Kesal Kirei terus mengusap keningnya yang memerah. Tama terkekeh melihat wajah kesal Kirei. Setidaknya melihat wajah kesal Kirei bisa mengalihkan pikirannya dari gadis yang baru saja ia temui.


"Gue belom nikah aja ama ni kunyuk udah banyak masalah, si Daniel belom kelar..ini udah ada lagi nongol cewe atu. Ni orang sebenernya ada berapa biji sih mantannya". Kirei hanya bisa mengeluh dalam hatinya tanpa bisa menyuarakannya.


"Masalah Daniel belom beres, ini dateng satu lagi". Tak berbeda dengan Kirei, batin Tama pun rasanya lelah membayangkan perjuangan mereka kedepannya.


Tak butuh waktu lama bagi Tama dan Kirei untuk sampai disebuah toko perhiasan langganan Riana. Mereka sudah dinanti oleh pemilik toko yang memang sudah sejak pagi dihubungi Riana.


"Selamat siang Tama.." Sapa ramah seorang wanita paruh baya yang terlihat masih sangat cantik.

__ADS_1


"Siang juga tante Nila...makin cantik deh". Goda Tama membuat wanita bernama Nila tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Hm..dasar kadal. Matanya ijo liat yang bening mah". Batin Kirei


"Ini calon istri kamu? Cantik sekali.." Puji tante Nila tulus.


"Kenalkan, nama tante Nila.." Tante Nila mengulurkan tangannya yang langsung disambut oleh Kirei.


"Kirei tante.." Kirei memperkenalkan dirinya dengan ramah pada wanita yang mungkin usianya sama dengan sang ibu.


"Ara dan Riana sudah memesan cincinnya, kalian coba dulu..nanti kalau ada yang kurang pas, kita masih punya cukup waktu untuk memperbaikinya". Jelas Nila membawa Kirei dan Tama masuk kedalam salah satu ruangan di toko tersebut.


Tak berselang lama, seorang pegawai membawa cincin pesanan Ara dan Riana. Tampak sederhana namun tetap elegan dan cantik. Dalam sekali lihat saja, Kirei sudah menyukainya. Sejak awal, Kirei memang meminta segala hal yang sederhana. Ia tidak ingin pernikahan mewah yang sudah direncanakan oleh kedua orang tua mereka. Kirei ingin pernikahan sederhana saja.


Kirei dan Tama mencoba cincin itu, sudut bibir keduanya terangkat menatap cincin yang sudah tersemat dijari mereka. Sementara tante Nila hanya tersenyum melihat reaksi kedua anak muda yang ia ketahui menikah lantaran dijodohkan oleh kedua orang tuanya. Tidak tampak wajah terpaksa dari keduanya, justru terlihat sangat serasi.


"Ah tante hampir melupakan sesuatu..ibumu berpesan agar kalian juga fitting baju untuk resepsi kalian nanti. Tante sudah siapkan.." Ucapan Nila membuat Kirei dan Tama menoleh.


Ibunya benar-benar sudah menyiapkan segala sesuatunya dengan matang. Mereka tidak diberi celah sedikitpun untuk bisa menggagalkan apa yang sudah para orang tua rencanakan.


Kirei menatap takjub gaun sederhana berwarna putih yang kini melekat sempurna ditubuhnya. Gaun dengan panjang dibawah lutut yang menampakkan punggung mulusnya itu nampak menyempurnakan kecantikannya.


Ini benar-benar gaun impiannya. Jika ditanya mengapa memilih gaun yang simple, maka jawaban Kirei adalah karena dirinya ingin saat pesta pernikahannya, dirinya lah yang menyapa para tamu undangan. Itulah sebabnya ia lebih memilih gaun simple dan pendek. Untuk memudahkan dirinya menyapa para tamu saat resepsi nanti. Dirinya tidak akan betah jika hanya dipajang diatas pelaminan seperti pernikahan pada umumnya.


Ketika tirai ditarik, dihadapan Kirei tampaklah Tama yang sudah gagah dengan jas putihnya, sementara diseberangnya, Kirei sudah cantik dengan gaunnya. Tama mematung menatap betapa cantiknya Kirei dalam balutan gaun indah yang melekat sempurna pada tubuh indahnya.


Tante Nila membawa keduanya bersanding, mengambil beberapa foto dan mengirimkannya pada Riana dan Ara. Beberapa pelayan memekik takjub menatap keserasian Kirei dan Tama. Tidak akan ada orang yang mengira bahwa keduanya hanya dua orang yang terpaksa menikah demi menyenangkan orang tuanya.


Untuk sesaat Kirei dan Tama melupakan jika keduanya menikah hanya untuk membahagiakan orang tua masing-masing. Untuk sebentar saja, keduanya ingin merasakan bahagia menyiapkan pernikahannya. Tama tersenyum tulus pada Kirei yang juga membalas senyumannya.


####


"Pulang..capek gue". Kirei menyandarkan tubuhnya pada sandaran jok mobil Tama. Badannya terasa lelah setelah mengambil foto untuk undangannya.


Apalagi photographernya adalah duo sableng yang terus membuat keduanya tidak fokus hingga akhirnya Kirei dan Tama harus mengulang foto berkali-kali.


Dan yang lebih membuat Kirei kesal, foto yang akhirnya digunakan adalah foto yang tanpa sengaja diambil saat Tama menolong Kirei yang hampir terjatuh karena tersandung batu. Pun dengan posisi saat Tama berhasil menangkap tubuh Kirei yang berlari ditepian pantai setelah berhasil membuat Tama basah dengan air laut. Semua hasil jepretan yang digunakan justru ketidaksengajaan Kirei dan Tama yang menunjukkan kemesraan.


"Tau gitu nggak usah banyak gaya..udah aja kesandung terus". Kesal Kirei saat Saga memperlihatkan hasil jepretan saat Tama menolong Kirei. Terlihat alami dan tidak dipaksakan.


"Ngapain dari tadi kita capek-capek gaya-gayaan kalo endingnya yang dipake malah yang nggak sengaja jepretnya". Mulut Kirei masih terus mengomel kala mengingat usahanya untuk bergaya se-mesra mungkin dengan Tama justru ditertawakan oleh Saga dan Gery.


"Ngomel mulu". Tama mencomot mulut Kirei yang tak hentinya menggerutu. Sejak tadi ia sudah mendengar Kirei mengomel.


"Bisa nggak sih ini dibatalin?". Tanya Kirei lemah. Entah mengapa hatinya merasa tak yakin dengan pernikahannya dengan Tama. Meski sudah berusaha mencintai Tama, namun Kirei masih belum berhasil. Ia tidak ingin mengotori ikatan suci dari sebuah pernikahan dengan sebuah kebohongan.


Tama menghela nafas panjang, dirinya pun sama. Meski merasa nyaman berada didekat gadis galak bernama Kirei ini, namun Tama juga belum bisa mencintai Kirei. Namun apa daya keduanya, mereka tidak kuasa menghancurkan harapan kedua orang tuanya demi keegoisan mereka sendiri.


Keduanya berada dalam dilema. Bagaikan buah simalakama, apapun keputusan mereka sama-sama memiliki resiko besar. Jika mereka menolak, mereka harus siap melihat wajah kecewa dan sedih kedua orang tuanya. Dan keduanya yakin tidak akan sanggup untuk itu. Namun jika mereka pssrah dan menerimanya, maka keduanya harus siap hidup bersama tanpa sebuah rasa. Keduanya bungkam..larut dalam pikirannya masing-masing. Memikirkan apa yang harus keduanya lakukan jika mereka benar-benar harus menikah.

__ADS_1


__ADS_2