Imperferct Partner

Imperferct Partner
ondel-ondel


__ADS_3

Jelas saja kini Tama dan Inneke lebih sering bertemu. Bahkan untuk mengantisipasi segala hal yang tidak diinginkan, Tama selalu membawa dua prajurit sableng yang selalu menguras isi dompetnya untuk membayar jasa keduanya yang diminta mengawal Tama.


"Lo berdua pada pengen bikin gue jatuh kere ya!". Sengit Tama menatap kesal kedua teman sablengnya yang tengah menikmati makanan lezatnya direstoran mewah.


"Kaya gini kaga bakal bikin lo kere Tam". Sahut Gery acuh terus memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


"Tiap hari kaya gini gimana kaga kere". Dengus Tama membuat Gery dan Saga tertawa puas.


Suara hentakan heels mengalihkan perhatian tiga pria yang tengah membahas konsep pemotretan yang akan segera mereka laksanakan.


"Maaf, bikin kamu lama nunggu". Gadis yang tak lain adalah Inneke langsung mendudukkan pan**tnya disebelah Tama hingga membuat ketiga lelaki itu melotot.


"Kenapa?". Tanya Inneke melihat tatapan tak suka ketiganya.


"Mana asisten elo?". Tanya Saga yang langsung mendapat hadiah tendangan kuat dari Tama.


"Maksud saya, dimana asisten anda". Ralat Saga ketika melihat tatapan membunuh Tama.


"Nyantai aja gapapa kali Ga. Kita udah lama kenal". Kekeh Inneke melihat Saga meringis memegangi kakinya.


"Kami hanya berusaha professional, nona Inneke". Tegas Tama dengan wajah datar.


Hati Inneke berdenyut sakit melihat tatapan Tama terhadapnya. Sudah tidak ada lagi tatapan hangat penuh cinta yang dulu selalu Tama berikan kepadanya. Ia tersenyum kecut menyadari kebodohannya yang lebih memilih mengejar kariernya dan meninggalkan Tama.


"Kita udah lama kenal, seenggaknya kita bisa jadi teman". Inneke memaksakan senyumnya meski hatinya sakit.


"Kita mulai pembahasan untuk konsep pemotretannya. Saya tidak punya banyak waktu". Tegas Tama tanpa memperdulikan ucapan Inneke.


Mereka terus membahas segala konsep yang akan mereka gunakan untuk pemotretan sebuah produk perusahaan yang tak lain adalah milik Daniel.


"Saya rasa konsep untuk pemotretan besok sudah kita tentukan. Saya harus permisi dulu. Istri saya menunggu". Tama menoleh sekilas pada Inneke yang masih terus terfokus padanya.


"Gue cabut dulu. Bini gue udah dateng". Tama melirik seorang wanita yang berjalan dengan senyum mengembang dibibirnya, tangannya pun melambai pada Tama.


"Oke". Jawab Saga dan Gery. Tama tidak ingin mengambil resiko untuk bertemu dengan masa lalunya hanya berdua, ia akan mengajak kedua sahabat semprulnya itu untuk pekerjaan yang bersangkutan dengan Inneke.


"Tapi Aksa---" Inneke bangkit. Namun tangannya langsung dicekal oleh Gery.


"Jangan ganggu dia. Kita cuma sekedar rekan kerja". Sengit Gery menatap sinis Inneke.


"Gue nggak akan lepasin Aksa lagi!". Sarkas Inneke menghempaskan tangan Gery.


Saga dan Gery menyunggingkan senyum miring mendengar penuturan Inneke.


"Lo nggak liat, bahkan Aksa elo udah m*ti sejak lama". Sinis Saga membuat Inneke menatap tajam padanya.


"Yang hidup sekarang itu Tama. WI-RA-TA-MA, suami dari dokter Kirei". Imbuh Gery cepat membuat wajah Inneke pucat seketika.


Ia mengalihkan pandangannya, dan melihat Tama sedang memeluk dan mencubit gemas hidung wanita yang berstatus istrinya itu. Hatinya kembali terasa nyeri melihat pemandangan yang membuatnya sesak.


Gery dan Saga melambaikan tangannya sambil tersenyum ketika Kirei melambaikan tangannya untuk berpamitan. Keduanya tersenyum mengejek melihat ekspresi Inneke.


"Aku akan dapetin kamu lagi Sa. Apapun dan bagaimanapun caranya!". Batin Inneke penuh tekad.


"Jangan pernah ngerusak hubungan mereka. Bahkan dalam pikiran lo sekalipun!". Peringat Gery tegas.


"Karna bahkan dipikiran elo pun, elo nggak akan bisa pisahin mereka". Imbuh Saga mantap.


"Kita liat aja siapa yang bakal milikin Aksa". Sengit Inneke tak ingin kalah.


"Heuh!! Udah gue bilang, Aksa elo udah m*ti! Bahkan dia nggak mau dipanggil Aksa ama elo!". Dengus Saga meninggalkan Inneke yang masih mematung menatap punggung Tama yang berjalan menjauh sambil memeluk pinggang Kirei posesif.

__ADS_1


"Aku bakal milikin kamu lagi Sa. Harus!!". Inneke membulatkan tekadnya. Ia sudah tidak peduli lagi jika harus menyakiti Kirei atau siapapun yang menghalanginya memiliki Tama.


"Kamu akan memilikinya. Saat saya sudah memiliki Kirei". Suara berat dari seseorang membuat Inneke berbalik.


Disana Daniel sudah duduk dikursi yang tadi ditempati oleh Tama. Inneke tersenyum licik, sama liciknya seperti senyuman Daniel.


"Ya..anda benar tuan Daniel. Kita akan memiliki orang yang kita cintai". Seringai licik muncul dibibir Inneke.


"Bahkan dalam bayangan kalian pun aku tidak akan membiarkan kalian merusak hubungan mereka berdua". Gumam seseorang yang sedari tadi mendengarkan ucapan Daniel dan Inneke.


"Kita mau kemana mas?". Tanya Kirei yang berjalan mengikuti Tama yang tengah menggandeng tangannya.


"Pacaran". Bisik Tama dengan wajah tengilnya.


"Dasar tengil". Kirei terkekeh melihat suaminya melotot mendengar ucapannya.


"Kamu bakal sering ketemu ama mbak mantan?". Tanya Kirei tiba-tiba membuat Tama menoleh dengan sebelah alis terangkat.


"Nanya doang mas, kaga udah mikir yang iya-iya".


"Bilang aja kamu cemburu sama Inneke". Goda Tama menoel dagu istrinya yang langsung mencebik.


"Ish emang dasar narsis". Cebik Kirei.


"Tamaaaa..beneran ini elo Tam?". Suara seorang gadis membuat keduanya menoleh.


Nampak seorang wanita dengan pakaian seksinya berjalan menghampiri Tama dan Kirei.


"Ya ampun..kangen banget gue ama elo. Kemana aja lo, nggak pernah lagi datengin gue". Sebelum Tama sempat menghindar, wanira itu sudah memeluk tubuh Tama dan memberikan kecupan dikedua pipi Tama.


"Lo apa kabar?". Tanya wanita yang masih belum Kirei ketahui siapa.


"S*tan!". Batin Tama berteriak


"Lo kemana aja sih. Gue kangen jalan bareng ama elo". Mata Kirei melotot mendengar ucapan wanita yang kini tengah bergelayut manja dilengan sang suami setelah tadi menghempaskan tubuhnya.


"Ni ondel-ondel siapa sih. Udah mah pake baju kurang bahan, nempel-nempel lagi ama laki gue. Waaah..jangan-jangan mantan laki kadal gue". Omel Kirei dalam hati.


"Gue ada..kaga kemana-mana". Jawab Tama sambil terus berusaha melepaskan lengannya dari pelukan wanita yang sepertinya akan membuat dirinya mendapat masalah besar.


"Eehhhmm". Kirei sengaja berdehem keras untuk menarik perhatian makhluk sejenis ondel-ondel yang terus menempel pada suaminya itu.


Dan benar saja, wanita dengan dandanan menor dan pakaian seksi itu langsung menoleh pada Kirei. Memindai penampilan Kirei dari kepala hingga ujung kaki, seolah menilai segala yang menempel pada Kirei.


Tama yang memahami kode keras sang istri segera melepaskan diri dari wanita yang terus menempel padanya. Demi mencari aman, Tama merangkul mesra pundak istrinya.


"Kenalin Nya..ini istri gue. Oia sayang, kenalin temen lama mas, Anya". Tama menoleh pada Kirei yang sudah menunjukkan wajah masam.


"ISTRI?!!". Pekik wanita bernama Anya, seolah tak percaya bahwa Tama menikah.


"Hahaha..bercandaan lo kaga lucu Tam". Anya tak percaya dengan apa yang diucapkan Tama.


"Ini beneran bini gue. Ni liat, ini cincin kawin gue ama bini gue". Tama menunjukkan cincin pernikahannya dengan Kirei pada Anya yang langsung menghentikan tawanya.


"Lo beneran bini nya Tama?". Tanya Anya pada Kirei. Namun Kirei hanya mengangkat kedua alisnya sambil mengendikkan bahunya acuh.


"Kapan lo kawinnya? Jahat lo! Lo kan tau, gue masih cinta ama elo". Ucap Anya membuat Kirei langsung menatap suaminya tajam.


"Mamp*s gue". Batin Tama. Ia memejamkan sejenak matanya untuk menetralisir detak jantungnya yang tiba-tiba tidak normal.


"Ya elo kan tau gue kaga pernah cinta ama elo". Ucap Tama berusaha santai.

__ADS_1


"Sorry Nya, gue pergi dulu ya. Bye". Tanpa menunggu respon dari Anya, Tama segera membawa Kirei pergi dari tempat itu.


"Tadi itu---"


"Mantan mas Tama". Potong Kirei cepat, membuat Tama menghela nafasnya panjang. Baru kali ini Tama menyesali sikap playboy nya itu. Ke belakang mungkin Kirei akan sering merajuk karena seringnya bertemu dengan mantan kekasih Tama.


"Jangan ngambek dong..kan cuma mantan". Bujuk Tama yang melihat wajah mendung Kirei.


"Biasa aja". Jawab Kirei pendek tanpa menatap Tama. Bahkan sejak meninggalkan Anya, Kirei berjalan cepat mendahului Tama.


"Sekarang kita---".


"Pulang". Lagi, sebelum Tama menyelesaikan kalimatnya. Kirei sudah memotongnya lebih dulu dengan nada ketus. Terdengar helaan nafas berat dari Tama. Namun Kirei tak bergeming dan tetap melanjutkan langkahnya.


"Kita kan mau kencan sayang". Tama memaksa merangkul pundak istrinya, meski coba Kirei tolak.


"Nggak jadi". Ketus Kirei melanjutkan langkahnya. Daripada membuat singa betinanya semakin mengamuk, akhirnya Tama memilih mengalah dan menuruti permintaan Kirei.


"Tadi Inneke, barusan Anya. Kalo tiap hari ketemu mantan, bisa-bisa dipotong masa depan gue". Batin Tama menangis.


"Harusnya elo tau resiko nya elo nerima mantan kadal kaya laki elo ini Ki. Lo nggak perlu berlebihan!". Batin Kirei mencoba meyakinkan dirinya.


"Ya tapi kaga kaya tadi juga!". Dirinya masih kesal melihat wanita lain bergelayut manja pada suaminya.


"Sayang..tunggu dong. Kamu kaya lagi lomba jalan cepat". Tama mencekal lengan Kirei dan langsung memeluk pundaknya.


"Apaan sih. Lepas ah". Kirei mencoba melepaskan tangan Tama dari pundaknya.


"Sayang..kamu tahu nggak?". Tanya Tama sambil tersenyum geli. Sementara Kirei hanya diam walau sebenarnya ingin mendengar apa yang akan Tama katakan.


"Kita tu salah arah. Mobil mas disebelah sana kalo kamu lupa". Bisik Tama mencoba menahan tawanya melihat Kirei melotot kesal.


"Kenapa nggak bilang dari tadi sih! Kan udah jauh jalannya". Kesal Kirei membuat Tama tersenyum.


"Lah..orang elo yang jalan kaga nanya-nanya ke gue. Gue juga yang disalahin. Emang bener kata orang, cewe kaga pernah salah". Batin Tama.


"Kamu kan ninggalin mas tadi". Sahut Tama setelah beberapa saat diam.


"Ya kan mas tinggal bilang ke aku kalo arahnya bukan kesini, tapi kesana". Kekeh Kirei tak mau disalahkan.


"Makanya jangan suka ngambek. Jadi aja salah jalan kan". Balas Tama membuat Kirei semakin kesal.


"Ya itu gara-gara ketemu mantan mas yang kaya ulet bulu itu!". Pekik Kirei sambil berkacak pinggang.


"Capek aku mas!! udah jalan jauh malah jadi salah jalan gara-gara ulet bulu yang dandanannya kaya ondel-ondel!". Melihat Tama tertawa membuat Kirei semakin kesal.


"Mas!!!". Pekik Kirei ketika tubuhnya melayang.


"Katanya capek. Mas gendong biar nggak capek ya". Tama mencuri sebuah kecupan dari bibir yang selalu terasa manis.


"Maaasss..ini ditempat umum". Rengek Kirei ketika Tama mengecup singkat bibirnya. Kepalanya celingukan menatap sekitar, takut ada orang yang melihat kelakuan mereka.


"Yaudah..mas bawa ke tempat pribadi aja". Seringai mesum itu kembali Kirei lihat dari wajah Tama. Ia memukul dada sang suami sedikit keras kemudian mengalungkan tangannya dileher Tama.


"Nikmatilah masa-masa bahagia kamu Tama. Sebentar lagi semua akan berubah". Seseorang dibalik kemudi sebuah mobil mewah menatap Tama dan Kirei dengan sebuah seringai licik.


####


***Sebelumnya maaf buat pembaca setia 'IMPERFECT PARTNER'๐Ÿ™๐Ÿ™


Mungkin belakangan nggak akan bisa up tiap hari. Kehidupan nyata memaksaku mengesampingkan dunia haluku untuk sementara waktu. Aku bakal usahain buat bisa up setiap hari, tapi nggak bisa janji๐Ÿ˜Š๐Ÿ™

__ADS_1


Semoga masih setia nunggu cerita kelanjutan pasangan sableng ini ya. Happy reading๐Ÿฅณ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜Š


__ADS_2