Imperferct Partner

Imperferct Partner
Naya kepo


__ADS_3

"Mommy pergi dulu.." Ucap Kirei yang masih memeluk Naya. Sementara Ken dan Kai serta teman-temannya berdiri dibelakang Naya.


"Kenapa pergi nya harus ngedadak sih mom". Rengek Naya yang mulai keluar sifat manjanya.


" Kasian daddy kalo sendiri.." Ucap Kirei sabar.


"Bilang aja mommy takut daddy kecantol janda bahenol ditempat sono". Cibir Naya dan berhasil membuat Kirei dan Tama mendelik.


" Ini mulut ya..kecil gini kalo ngomong suka..hiiisssh" Tama yang gemas menjewer pelan telinga putrinya.


"Mana ada daddy kaya gitu lah". Imbuh Tama membuat Naya dan Kirei meliriknya sinis.


" Nggak ada soalnya ngga ada kesempatan". Cibir keduanya bersamaan.


"Yaudah deh..mana uang jajan aku?". Naya melepaskan diri dan langsung menengadahkan tangannya didepan Kirei dan Tama.


" Kan udah.." Ucap Tama yang memang rutin mentransfer uang bulanan untuk ketiga anaknya.


"Beda dong..kan aku ditinggal ama mommy ama daddy. Jadi uang jajan ekstra". Naya menggerak-gerakkan telapak tangannya didepan kedua orang tuanya yang menggeleng.


" Dasar matre". Cibir kedua kakaknya yang masih bisa didengar oleh Naya.


"Hari gini nggak matre mah nggak idup bang. Ini bukan matre..tapi realistis". Ucapnya sambil melengos kesal.


" Udah daddy transfer ya". Tama menunjukkan layar ponselnya yang membuat Naya tersenyum lebar.


"Yaudah sana kalo mommy sama daddy mau pergi. Katanya keburu telat". Kedua orang tuanya kembali dibuat melongo dengan ucapan Naya yang terkesan mengusir mereka.


" Ati-ati mommy..daddy.." Naya berlalu setelah mencium punggung tangan kedua orang tuanya.


"Anak kamu mas.." Ucap Kirei membuat Tama mendengus.


"Anak kamu juga". Ketus Tama.


" Dan kalian berdua.." Kirei menunjuk kedua putranya


"Bertiga sayang.." Tama menunjuk Satria yang memang sudah seperti anak mereka sendiri.


"Ya kalian bertiga bang..jaga adek kalian. Kalo sampe selama mommy pergi adek kamu ada telpon mommy sambil nangis-nangis gara-gara kalian---" Kirei menatap ketiga pemuda itu tajam.


"Mommy lempar ke kandang buaya kalian". Ucap Kirei melirik Tama yang langsung melotot.


" Buaya nya nggak usah ngelirik aku bisa kan?". Tanya Tama yang dijawab endikan bahu oleh Kirei.


"Paham?". Tandas Kirei dijawab anggukan kepala oleh ketiganya.


" Mommy pergi dulu.."


"Tante tinggal dulu ya semua.." Pamit Kirei menatap teman-teman anaknya yang mengangguk dan tersenyum. Mereka bergantian mencium punggung tangan kedua orang tua Ken dan Kai.


"Assalamualaikum.."


"Wa'alaikumsalam.." Jawab Ken dan teman-temannya serempak.

__ADS_1


Sementara Ken dan teman-temannya sedang berada diluar, Naya yang penasaran dengan apa yang menjadi tontonan kakaknya dan teman-temannya itu sudah berada didalam kamar Kai.


Ia melihat laptop Satria yang teronggok diatas kasur milik Kai. Tangannya terulur mengambilnya dan membukanya. Rupanya laptop itu belum dimatikan oleh pemiliknya.


"Ini apa ya---" Gumam Naya membaca folder bertuliskan jangan dibuka.


Nama folder 'jangan dibuka' justru memancing rasa ingin tahu Naya tentang isinya. Ia membuka folder tersebut dan melihat ada banyak video yang didalamnya.


"Video apa ya ini? Apa ini yang dibilang kak Biru ama mas Al tadi ya". Naya terus bermonolog dengan dirinya sendiri.


" Coba buka ah.." Naya mencoba membuka salah satu video. Matanya membelalak melihat adegan pertama yang muncul dilayar laptop itu. Ia reflek menutup rapat matanya dengan tangan kemudian berteriak.


"AAKKKH...ABAAAAANG!!!!!". Teriakan Naya bukan hanya membuat kedua kakaknya panik, namun semua teman Ken yang baru saja duduk langsung bangkit dan berhamburan lari menuju asal teriakan.


Ken membuka pintu kamar sang adik. Namun kosong..tak ada siapapun didalam kamar sang adik.


" Iiihh..itu suara apaan!! Kok gitu!!". Suara Naya membuat keenam pemuda itu saling berpandangan dengan mata membelalak.


Mereka membalikkan badan dan segera membuka pintu kamar Kai. Tubuh mereka lemas seketika melihat Naya berdiri diujung kasur dengan masih menutup rapat matanya, sedangkan laptop milik Satria masih menyala diatas kasur.


"ADEK!!". Teriak Ken dan Kai bersamaan.


Sementara Satria bergerak cepat mematikan video yang sedang diputar dilaptopnya.


" Abang..itu---itu apaan abang". Sebelah tangan Naya menunjuk ke atas kasur, sementara tangan yang lain masih menutup matanya rapat.


"Lo ngapain disini dek?". Tanya Kai melirik Ken yang sama pucatnya dengan dirinya. Matilah mereka kini, adiknya sudah melihat apa yang tadi mereka lihat.


"Emang lo liat apaan?". Tanya Ken was-was.


" Nggak tahu..Nay penasaran sama video yang abang tonton. Yang katanya pembantaian. Tapi kok gitu.."


"Keluar dulu ya..kita diluar yuk.." Satria bergerak cepat menuntun Naya keluar dari kamar Kai. Kini mereka memiliki tugas baru untuk mengalihkan dan membuat Naya lupa dengan apa yang ia lihat.


Keenam pemuda itu saling bertatapan seolah memberi kode satu sama lain untuk membuat Naya lupa dengan apa yang baru saja gadis itu lihat.


"Mau es krim kaga tek?". Tanya Satria membuat Naya membuka matanya


" Es krim apa??". Tanya Naya.


"Maunya apa? Abang beliin deh..apa mau ikut ke papamart depan?". Tawar Satria yang langsung dijawab anggukan kepala oleh Naya.


" Mau banyak boleh?". Tanya Naya.


"Boleh..mau beli ama papamart nya juga boleh". Ucap Satria membuat Naya antusias.


" Anterin si ketek Bar". Akbar melongo mendengar ucapan Satria. Bukan masalah sebenarnya membelikan Naya apapun itu, ia hanya khawatir jika diperjalanan Naya akan menanyakan hal yang tak bisa ia jawab.


"Kok kak Niru..kan abang yang nawarin". Muka Naya langsung cemberut.


" Tadi Akbar yang mau beliin". Elak Satria membuat Akbar semakin melongo.


"Emang iya kak?". Naya berbalik menatap Akbar dengan senyum mengembang, terlihat sangat manis hingga membuat Akbar kalah dan akhirnya menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


" Yaudah yok.." Naya langsung menarik tangan Akbar. Namun Akbar menahannya membuat Naya mengernyit.


"Ganti celananya ya..masa keluar pake celana abang kamu". Ucap Akbar melihat Naya memakai celana Ken.


" Biasanya juga gini kok..udah yuk. Keburu tutup papamartnya kak". Naya menggoyangkan lengan Akbar yang akhirnya pasrah dan mengikuti kemauan gadis itu.


Sebelum keluar dari rumah, Akbar menoleh menatap kelima temannya dengan mulut komat kamit mengeluarkan sumpah serapah untuk teman-temannya yang menjadikannya tumbal untuk membuat Naya lupa.


"Hah...aman" Terdengar helaan nafas lega dari Ken dan Kai serta teman-temannya. Mereka tertawa melihat Akbar yang terus komat kamit menatap mereka tajam.


Karena besok hari sabtu, teman-teman Ken memilih untuk menginap dirumahnya. Saat ini mereka tengah bersantai ditaman kecil yang ada disisi rumah milik Tama.


Mereka sedang membicarakan tentang ujian yang akan mereka hadapi beberapa bulan lagi itu dan juga kampus yang akan menjadi tujuan mereka nantinya.


Tatapan Al berhenti pada satu objek yang membuatnya tak bisa memalingkan matanya dari sosok itu. Di balkon kamarnya, Naya tengah bernyanyi sambil memainkan gitarnya dengan sangat lihai.


"cantik.." Batin Al menatap Naya yang belum sadar jika sejak tadi Al memperhatikannya.


"Lo mikir apa sih Al.." Al memalingkan wajahnya, mencoba menatap hal lain untuk mengalihkan perhatiannya. Namun seolah matanya sudah menemukan objek yang membuatnya senang, matanya tak bisa berhenti menatap Naya yang ternyata juga tengah menatap ke arahnya.


Mata mereka bertemu, mata bening Naya dan mata tajam Al saling bertatapan sebentar. Naya tersenyum manis sambil melambaikan tangannya pada Al yang justru memalingkan wajahnya. Ia meraba dada nya yang terasa berdebar kencang..


"Ini udah nggak bener!". Batin Al sambil menggelengkan kepalanya.


Al kembali melirik balkon dimana kamar Naya berada, namun rupanya gadis itu sudah tidak ada disana. Al mengedarkan pandangannya, berharap bisa melihat Naya lagi. Namun Naya tak terlihat.


Al dikejutkan dengan tepukan dibahunya oleh seseorang hingga membuatnya yang tengah fokus mencari keberadaan Naya terkejut. Ia lebih terkejut melihat dan mendengar suara orang yang ia cari ternyata ada disampingnya.


" Mas Al ngapain kaya orang mau maling gitu..celingak celinguk". Tanpa meminta persetujuan Al, Naya duduk diantara Al dan Akbar yang memang sebelumnya duduk bersebelahan.


"Lo ngapain dek? Kaga tidur?". Tanya Ken menatap adiknya.


" Belom ngantuk bang.."


"Kakak nginep disini??". Tanya Naya menatap Akbar. Yang lain bagaikan makhluk tak kasat mata. Yang ada dimata Naya saat ini hanya Akbar dan Akbar saja.


" Heem.." Sahut Akbar tersenyum. Pemuda itu tak pernah tak tersenyum jika berada dekat dengan Naya.


"Yeeey..besok pagi jogging yuk". Ajak Naya penuh harap membuat Akbar menatap kedua kakak Naya seolah meminta izin.


" Kaya yang kuat lo mah tek". Celetuk Satria yang memancing keributan dengan ratu ribut.


"Sirik mulu abang mah kalo ama gue..berisik". Ketus Naya


Dan seperti biasa, perdebatan antara Naya dan Satria tak dapat terelakkan. Persis seperti tom jerry jika sudah bertemu.


" Yaudah besok kakak temenin.." Sela Akbar yang sudah mendapat persetujuan dari kedua kakak Naya.


"Beneran?". Tanya Naya dijawab anggukan kepala oleh Akbar.


" Bibir lo tu mungil banget Nay..tapi kenapa kalo ngomong kaya nggak ada abisnya sih. Kaga capek apa itu bibir lo pake ngomong". Batin Al yang tanpa sadar terus terfokus pad bibir mungil Naya yang tak berhenti mengoceh.


"yeeeyy..yaudah Nay mau tidur dulu. Biar besok nggak kesiangan". Ucapnya kemudian berlalu tanpa menunggu respon dari orang-orang yang menatap punggungnya menjauh dari pandangan mereka.

__ADS_1


__ADS_2