Imperferct Partner

Imperferct Partner
Mabuk


__ADS_3

Sejak pertemuannya dengan Kirei beberapa hari lalu, pekerjaan Tama banyak yang terbengkalai. Keinginannya bekerja terhempas entah kemana. Pria itu hanya menghabiskan waktunya dengan berdiam diri didalam apartemennya. Yang ada dalam pikirannya saat ini hanya Kirei dan Kirei saja.


"Kemaren ikan tetangga gue ngelamun nyampe lupa kedip Tam. Eh besoknya m*dar". Ucapan Saga membuat Gery tertawa.


"Dasar g*bl*k!! Ikan bisa kedip ya serem somplak!". Sebuah pulpen mendarat tepat dikepala si sableng Saga.


"Kaga usah dipikirin banget kali Tam..biasanya juga langsung gas nyari yang lain". Gery mencoba menenangkan Tama yang terlihat galau beberapa hari ini. Benar-benar bukan Tama yang Gery dan Saga kenal selama ini.


Tama yang mereka kenal tidak pernah memikirkan gadis manapun, jika pun ada itu hanya sekedar hiburan untuk lelaki itu.


Anggaplah ketiga lelaki itu br***s*k, namun selama ini ketiga orang itu hanya bermain-main tanpa melakukan hal diluar batas norma agama yang mereka yakini.


"Mending ntar malem kita cari yang baru aja di club biasa". S*tan berwujud manusia bernama Gery mulai membisikkan ajaran sesatnya pada Tama yang masih diam tak merespon.


"Ni orang nyawanya lagi melambai-lambai ama malaikat izrail Ger". Mulut tak berakhlak Saga kembali bersuara membuat Gery terbahak.


"Mod*r dong ni orang". Tawa Gery semakin menggema didalam ruang tamu apartemen Tama.


"S*tan lo berdua". Bantal sofa mendarat sempurna diwajah tampan Gery dan Saga yang justru semakin terbahak melihat wajah kesal Tama.


####


Tama tahu hukum menyentuh minuman beralkohol itu haram. Namun malam ini, pria tampan itu ingin melupakan sejenak wajah gadis yang sudah benar-benar sanggup menjungkirbalikkan dunianya.


"Udah Tam..lo udah teler parah ini". Saga mencoba mencegah Tama yang hendak meminum lagi segelas alkohol.


"Si sableng segitu cintanya ama tu dokter". Gery berdecak melihat kelakuan Tama yang seperti orang sedang patah hati.


"Wajar Ger, cakep sih. Apalagi ni sontoloyo udah pernah nyium tu cewe". Sahut Saga membuat Gery mengangguk.


"Gue mau ke toilet. Lo jagain ni bocah sableng..jangan ampe kaya waktu itu". Gery bangkit dari duduknya setelah memperingati Saga agar menjaga Tama.


**


"Apaan tu rame-rame". Gumam Gery yang baru saja kembali dari kamar mandi.


"Mamp*s!". Gery segera berlari mendekati kerumunan begitu menyadari Saga dan Tama sudah tidak ada lagi ditempat duduknya.


Gery berdecak kesal ketika melihat Tama sedang adu tonjok dengan seorang pengunjung club yang lain. Kemana perginya si semprul Saga, menjaga Tama saja dia tak mampu. Gery terus mengumpati kelakuan Saga yang selalu ceroboh.


"Wiiih..apaan ni rame-rame". Saga berdiri disamping Gery dengan memeluk erat pinggang seorang wanita dengan baju kurang bahan.


Pletak!!


Gery menyentil keras kepala sahabatnya itu. Hanya karena seorang wanita seksi, Saga lupa tugasnya menjaga Tama yang sedang mabuk berat.


"Lo disuruh jagain ni curut malah nyari anget-anget. Dasar koplak!". Sengit Gery dan hanya dibalas sebuah cengiran oleh Saga.


"Buru pisahin!!". Seru Gery semakin kesal karena melihat Saga yang justru menonton adegan baku hantam didepannya.


"Tam..udah woii. Bisa bonyok lo". Gery dan Saga mencoba menarik tubuh Tama menjauh dari lawannya. Namun justru Gery dan Saga yang terhempas mundur beberapa langkah karena Tama.


"Kata gue juga jagain. Kalo udah gini susah jinakinnya". Kesal Gery pada Saga.

__ADS_1


"Ya tadi dia tidur...makanya gue tinggal bentar". Kilah Saga yang tak mau terus diomeli oleh sahabatnya itu.


"Haish..alamat kita juga bakal ikut kena pukul ini mah". Gerutu Gery. Keduanya hendak maju untuk memisahkan, namun langkah keduanya terhenti kala gadis yang menjadi penyebab utama kacaunya Tama sudah berdiri didepan mereka.


Mulut Saga dan Gery terbuka sempurna melihat apa yang Kirei lakukan pada Tama.


"Gila!! Sekali geplak doang man...langsung ambruk itu si sableng. Ck ck". Gery berdecak kagum melihat Kirei yang dengan mudahnya menumbangkan Tama, tanpa tergores sedikitpun.


"Jangan-jangan asalnya laki kali tu orang". Ucap Saga semakin ngawur.


"Maafkan teman saya". Karena tahu bahwa Tama yang memulai keributan, Kirei akhirnya meminta maaf atas nama Tama.


"Jaga yang bener temen lo". Seru pria yang sejak tadi ribut dengan Tama.


"Maaf". Hanya itu yang Kirei ucapkan. Ia ingin segera membawa Tama keluar dari tempat itu.


"Gue maafin..tapi sebagai permintaan maaf lo..gimana kalo lo nemenin kita-kita minum dulu". Seorang pria hendak mengelus wajah Kirei, namun dengan cepat gadis itu menepis tangannya kasar.


"Tinggalin aja temen lo yang payah ini. Mending sama kita". Ucap pria yang lain. Kirei yang sudah jengah langsung memelintir tangan pria yang berusaha menggapai lengannya.


"Jangan paksa saya berbuat kasar". Peringat Kirei dengan nada datar. Wajahnya pun tak sedikitpun menunjukkan keramahan.


"Jangan jual mahal cantik". Habis sudah kesabaran Kirei. Ia menghadiahkan sebuah pukulan keras yang tepat mengenai ulu hati seorang pria yang berusaha menyentuh dirinya.


Saga dan Gery hanya bisa menganga melihat Kirei yang dengan lincah membabat habis semua orang yang mencoba menyentuh tubuh dan wajahnya.


"Kita cabut Ger..biar si Tama diurus Kirei. Siapa tau udah ini mereka malah deket". Saga segera menarik Gery menjauh dari kerumunan.


"Lo kaga liat tadi. Sekali geplak aja si Tama langsung pingsan. Kalo kita disana, bisa-bisa kita yang dibikin bonyok ama tu bocah mabok". Saga terus menarik Gery menjauh dari club.


"Lepas tangan lo. Jijik gue, berasa ditarik ama om-om yang nyewa gue". Gery mengibaskan tangannya yang dipegang oleh Saga.


"Diihh..jijik". Saga bergidik dan berjalan cepat meninggalkan Gery yang tergelak.


Sementara didalam club, beberapa lelaki yang mencoba menyentuh Kirei sudah terkapar tak berdaya dilantai.


"Iissh..lo nyusahin banget sih tamia". Kirei dengan dibantu dua orang pelayan membawa tubuh Tama menuju mobilnya. Awalnya ia ingin meninggalkan Tama, namun hati nuraninya tak mengijinkan dirinya melakukan hal itu.


"Mau dibawa kemana ini mbak?". Tanya pelayan yang membantu Kirei.


"Bawa ke mobil saya saja mas". Kirei berjalan lebih dulu menunjukkan lokasi tempatnya memarkirkan mobil.


"Terimakasih". Kirei mengulurkan beberapa lembar uang seratus ribuan pada dua orang pelayan yang menerimanya dengan senang.


***


"Terus gue bawa kemana lo sekarang. Ish..harusnya gue diemin aja tadi". Gerutu Kirei sambil melirik jok belakang dimana Tama sedang terbaring tak sadarkan diri.


"Kalo gue telpon emak bapaknya, bisa-bisa dikira gue ama ni orang ada apa-apa. Aaaahh..ngeselin banget sih".


Setelah berperang dengan pikirannya, Kirei memutuskan membawa Tama ke apartemennya. Masa b*d*h apa yang akan Tama pikirkan saat nanti bangun dari pingsannya.


"Ki..lo cantik". Kirei dapat mendengar gumaman Tama. Tapi apa tadi? Ki? Ki siapa maksud buaya darat itu?

__ADS_1


"Iya..gue emang cantik. Baru tau lo". Sahut Kirei dari balik kemudi.


Kirei melajukan mobilnya menuju apartemennya, sepanjang jalan Tama terus mengigau memanggil nama Ki. Dan Kirei tidak yakin siapa Ki yang dimaksud oleh Tama.


Kirei memarkirkan mobilnya, kemudian melirik Tama yang masih tidak sadarkan diri. Atau mungkin lelaki itu malah sudah tertidur.


"Lo berat banget sih. Badan lo berat ama dosa". Gerutu Kirei yang sedang memapah tubuh kekar Tama menuju unit apartemennya.


Dengan susah payah Kirei menekan tombol access masuk kedalam unit apartemen yang sudah 6 tahun ini ia tempati.


Kirei membawa tubuh Tama kedalam kamarnya, karena kamar tamu masih dalam kondisi kotor setelah ditempati oleh dua sepupu semprulnya.


"Hah..berat banget lo tamia. Ketemu lo dimana-mana bikin gue s*al mulu". Nafas Kirei masih terdengar ngos-ngosan. Bagaimana tidak, tubuh Kirei yang langsing harus memapah tubuh kekar Tama.


"Hish..sekarang gue kudu tidur diluar. Lo kudu bayar mahal pertolongan gue kali ini". Kirei menunjuk wajah Tama yang terlihat tak terganggu dengan segala ucapan Kirei.


Kirei membuka lemarinya dan mengambil pakaiannya, membawanya kedalam kamar mandi dan ia segera membersihkan dirinya. Tubuhnya sudah sangat lengket akibat membantu Tama.


Selesai dengan ritual mandinya, Kirei menghampiri ranjangnya. Ia duduk disisi ranjang dan memperhatikan Tama yang sejak tadi tampak tidak terganggu dengan suara yang ia ciptakan.


"Ni orang cuma tidur kan ya, kaga m*ti kan?". Kirei menempelkan jarinya didepan lubang hidung Tama.


"Heh.." Pekik Kirei ketika tangannya dipegang erat oleh Tama.


"Heuh..gue beneran udah gila gara-gara elo Ki. Sekarang gue liat elo didepan gue. Lo cantik banget". Ucapan Tama membuat gerakan Kirei terhenti.


Tama yang setengah sadar mengelus pipi mulus Kirei, dan kemudian kembali tertidur. Kirei membeku mendengar apa yang diucapkan Tama.


Kirei segera bangkit dan keluar dari kamarnya yang saat ini sedang ia pinjamkan pada pria mabuk yang membuatnya harus berolahraga malam karena berduel dengan beberapa pria di club.


"Dasar orang sinting". Umpat Kirei sebelum menutup pintu kamarnya. Malam ini, ia harus merelakan tubuhnya pegal karena tidur di sofa.


#####


Pagi yang cerah menyapa langit kota Jogja pagi ini. Tama menggeliat, matanya menyipit ketika cahaya matahari mengenai matanya.


Lelaki itu mengedarkan pandangannya. Tempat yang terasa asing baginya. Matanya berhenti tepat disebuah pigura kecil yang berada diatas nakas.


"Gue beneran udah gila". Tama terkekeh sendiri ketika melihat foto siapa yang ada dalam pigura tersebut.


"Iya..emang g*la lo. Nyusahin gue mulu". Tama yang nyawanya masih berterbangan entah kemana langsung duduk dengan mata terbuka sempurna ketika mendengar suara seseorang yang membuatnya hampir g*la.


Matanya semakin melebar saat melihat siapa yang bersandar dipintu kamar tempatnya semalaman tidur.


"Eh..kok lo, kok bisa..ini gimana?". Tama semakin bingung dengan keadaannya saat ini.


"Ah eh ah eh aja lo. Mandi sono. Bau lo bikin gue mual". Kirei menunjuk sebuah kemeja lengkap dengan celana dan d*l*man pria dengan ekor matanya. Jangan pikir Kirei yang membelikannya. Itu adalah milik Arka yang belum pernah dipakai dan sengaja ditinggal di apartemen Kirei.


Tanpa menunggu respon Tama, Kirei segera berbalik dan meninggalkan Tama yang semakin seperti orang linglung setelah Kirei benar-benar menghilang dari hadapannya.


Tama berharap jika ini mimpi, maka ia tidak pernah bangun. Perlahan ia turun dari ranjang yang terasa sangat nyaman dan membuatnya begitu nyenyak semalaman.


Jadi apakah semalam yang ia lihat benar-benar Kirei? Bukan hanya sekedar halusinasi? Sudut bibir Tama terangkat sempurna mengingat semalaman dirinya berada dalam satu apartemen dengan gadis cantik itu.

__ADS_1


__ADS_2