Imperferct Partner

Imperferct Partner
obsesi


__ADS_3

"ni kenapa banyak lalet nempel ke laki gue sih. Lama-lama gue tabok juga dah". Batin Kirei kesal melihat Inneke yang berpura-pura kesulitan menentukan pose nya agar Tama mendekat dan membantunya mendapatkan pose yang sempurna untuk pemotretannya.


"Seperti ini?". Tanya Inneke dengan suara manja membuat Kirei muak.


"Situ kan model professional, ya kali pose begituan doang kaga bisa". Tak bisa menahan kekesalan, Kirei memilih menyindir tingkah laku Inneke.


"Hahaha kena juga tu si Inneke ama mulut cabe nya si Kirei". Bisik Saga pada Gery yang langsung dijawab anggukan kepala serta senyum puas Gery.


"Gue kasih liat caranya kalo elo kaga bisa, mbak model terkenal". Kirei menekankan kata terkenal untuk membuat Inneke sadar bahwa apa yang sejak tadi ia lakukan benar-benar tidak menunjukkan sikap profesional apapun. Kirei menggeser tubuh Inneke yang hanya berbeda tinggi beberapa centi dengannya kesamping.


"Fotoin aku mas..gini aja model kamu nggak bisa. Masih minta dibayar mahal. Nanti kalo aku bisa, mendingan bayar aku aja. Dapet model, masih dapet yang enak-enak pulak". Tiga serangkai dengan otak sablengnya sudah hampir menyemburkan tawanya mendengar setiap kata yang meluncur dengan mudahnya dari bibir yang selalu bisa Tama bungkam itu.


Tama tak mengerti, kemana Kirei yang galak dan irit bicara dulu. Kini istrinya itu akan selalu cepat merespon jika menganggap sesuatu itu mengganggu dirinya.


Tama mengambil beberapa foto Kirei dengan berbagai pose, untuk sesaat dirinya dan kedua teman sablengnya sedikit tertegun melihat hasil yang bisa dibilang hampir sempurna. Padahal Kirei hanya memakai pakaian casualnya tanpa makeup. Gaya dan pose Kirei benar-benar luwes, bahkan lebih mirip model dengan jam terbang tinggi yang memang sudah terbiasa melakukan pemotretan.


"Gila sih emang bini lu Tam. Segala bisa, dokter oke, masak kaga main-main, ngehajar orang jangan ditanya lagi. Lah ini, difotoin juga kameranya pro amat ama bini elo". Gery berdecak kagum melihat hasil mengagumkan yang diambil Tama.


"Gue juga baru tau kalo dia bisa keren gini. Natural banget". Tama pun tak kalah kagum melihat hasil jepretannya.


"Gimana mas??". Kirei mendekati suaminya untuk melihat hasil jepretan suaminya.


"Hmmm..lumayanlah". Gumam Kirei membuat Tama dan Saga langsung menoleh mendengar gumamannya.


"Nih ya mbak liat. Difotoin tu gini. Jangan nyari kesempatan mau nempel-nempel laki gue. Lo cuma rekan kerja ya, jadi kaga usah punya rencana apa-apa, kalo lo macem-macem, gue colok juga lo!". Sengit Kirei menatap tajam Inneke yang sedikit terkejut melihat hasil gambar Kirei yang terlihat sangat natural, bahkan melebihi dirinya yang sudah menjadi model internasional.


"Saya hanya bertanya Aksa ingin gaya yang seperti apa. Hanya itu". Ucap Inneke membela diri.


"Kaga ada Aksa disini. Adanya Tama..laki gue. Terus soal gaya mah cuma gue yang tau gaya apaan yang dia suka. Lo kaga usah tau!". Sembur Kirei sewot. Entah kenapa otaknya sudah tertular kem***man sang suami, hingga ketika Inneke membahas tentang gaya. Yang ada dipikiran Kirei hanya hal iya-iya antara dirinya dan Tama.


Gery dan Saga sudah cekikikan mendengar Kirei berkali-kali memarahi Inneke. Sedangkan Inneke mendelik mendengar ucapan Kirei tentang gaya kesukaan Tama.


Melihat situasi semakin tidak kondusif, Tama memilih mengakhiri pemotretan hari ini.


"Hari ini cukup sampai disini saja. Kita lanjutkan besok". Ucap Tama membuat Inneke langsung menatapnya.


"Kenapa harus besok? Bukankah kita baru memulai?". Tanya Inneke tak rela jauh dari Tama.

__ADS_1


"Gara-gara elo. Kebanyakan tingkah sih..banyak nanya, ini gimana itu gimana. Makanya kalo belom pro kaga usah jadi model". Semprot Kirei


"Sudah sayang..kita keluar ya". Tama merangkul pundak Kirei dan mendaratkan kecupan mesra dipucuk kepala istrinya itu.


"Ger, Ga..rapihin ya alatnya". Perintah Tama yang dijawab acungan jempol dua temannya yang terkikik geli melihat Inneke menghentakkan kakinya melihat Tama lebih memilih menenangkan Kirei daripada melanjutkan pekerjaannya.


"Wleee--". Kirei memutar kepalanya dan menjulurkan lidahnya untuk meledek Inneke. Ia akan menunjukkan siapa pemilik Tama sesungguhnya. Jangankan hanya Inneke, singa dihutan pun akan ia hempaskan jika berani mengganggu suaminya.


Saga dan Gery semakin terkikik melihat kelakuan Kirei, apalagi wajah Inneke sudah merah padam antara malu dan kesal dengan segala.yang Kirei lakukan.


"Kata kalian dia dokter? Dokter apaan yang ngintilin suaminya kerja?!". Sungut Inneke membuat Gery dan Saga saling pandang.


"Dia mantu pemilik rumah sakit. Suka-suka lah mau kerja mau kaga. Rumah sakit juga punya bapak mertuanya". Jawab Saga enteng sambil merapikan kameranya.


"Lagian Tama yang kaga bisa lama-lama jauh dari bininya. Kemana-mana pengen deket ama bininya si Tamia somplak mah". Timpal Gery membuat wajah Inneke berubah sendu.


Apakah memang sudah tidak ada lagi tempat dihati Tama untuknya. Batin Inneke sedih. Namun Gery dan Saga masa bodoh dengan perubahan ekspresi wajah Inneke. Mereka sibuk mengumpulkan peralatan kerja yang masih tercecer akibat pekerjaan mereka yang tidak berjalan baik karena ulah Inneke yang ingin menempel pada Tama.


"Apa Aksa benar-benar mencintai perempuan itu? Kenapa Aksa diam saja perempuan itu mengganggu pekerjaannya?". Inneke bertanya entah pada siapa, karena tatapan matanya tak sedikitpun beralih dari punggung Tama yang semakin menjauh.


"Cabut Ger". Saga memberi kode pada Gery untuk meninggalkan Inneke yang sepertinya masih betah meratapi nasibnya.


"Mana bisa si Inneke deketin Tama lagi, lalet aja diajak gelut ama bininya si Tama kalo berani deketin lakinya. Apalagi dia hahaha". Dua manusia sableng itu terbahak mengingat bagaimana Kirei menjaga suami tercintanya dari bibit pelakor yang sesungguhnya.


"Kamu harus balik sama aku Sa..aku yakin kamu masih mencintai aku". Inneke mengepalkan tangannya, mengingat perlakuan manis Tama pada Kirei membuatnya semakin sesak. Ia semakin yakin ingin merebut Tama dari Kirei.


"Kamu pasti mendapatkannya. Kita hanya perlu bersabar dan bermain cantik". Suara lelaki yang tiba-tiba terdengar dibelakang Inneke membuatnya menoleh. Senyuman smirk sama-sama keduanya tunjukkan.


Entah rencana apalagi yang akan keduanya lakukan untuk membuat sepasang anak manusia yang baru merengkuh kebahagiaan itu terpisah.


"Aku akan buat kamu jauh lebih bahagia Ki". Batin Daniel menatap kosong kedepan.


####


"Gila sih kita udah lama banget kaga ngumpul gini". Suara cempreng Tania membuat meja yang ditempatinya menjadi pusat perhatian.


"Lo tu kalo makan, makannya nasi..jangan kaleng. Cempreng aja lo pelihara". Ledek Juna membuat Tania mencebik kesal. Saat ini ketiga orang bersahabat itu tengah duduk disebuah cafe yang cukup ternama di kota itu.

__ADS_1


"Tau ni si Tania..makan apaan tadi pagi, suaranya makin nyaring aja". Timpal Kirei membuat Tania semakin kesal.


"Emang ya lo berdua tu temen daj jal banget". Sengit Tania membuat Juna dan Kirei bertos dan kemudian tertawa.


"Ini lagi mantu direktur, mentang-mentang mantu direktur, kerja seenak udel aja". Kembali Tania mengeluhkan tentang sering absennya Kirei dari rumah sakit.


"Gua lagi kaga bisa jauh lama-lama dari tamia". Jawab Kirei sambil memasukkan potongan kentang kedalam mulutnya.


"Iya tau gue..penganten baru. Kaga usah diperjelaaaasss". Sahut Juna dan Tania bersamaan.


"Bukan masalah itunya ogeb!!". Kesal Kirei menoyor kepala kedua sahabatnya.


"Terus?". Juna dan Tania saling pandang kemudian tertawa lantaran mengucapkan kata yang sama.


"Mantan tercintanya balik dari planet mana kaga tau. Gue kaga tau, tapi feeling gue bilang ni ondel-ondel atu susah dihempas". Kirei menghembuskan nafas berat diakhir kalimatnya.


"Ya resiko elo sih. Punya laki ganteng sih lo. Mana tajir, terkenal pulak. Wajar kalo mantannya pen balik". Ucap Tania santai yang membuat Kirei semakin tak tenang.


"Ah elo Tan..bikin gue makin kaga tenang". Sungut Kirei membuat kedua temannya terkekeh. Kini keduanya yakin bahwa pasangan suami istri yang menikah karena keterpaksaan itu sudah benar-benar saling mencintai.


"Nyampe tu ondel-ondel berani gangguin si Tamia, gue uleg tu orang". Ucap Kirei penuh tekad yang membuat kedua temannya terbahak.


"Cinta banget siii kayanya ama mamas Tama". Goda Juna membuat Kirei menoleh.


"Ini bukan cuma masalah cinta ama kaga, ini masalah hal milik. Gue paling nggak suka apa yang jadi milik gue diganggu ama orang lain. Apalagi cuma orang dari masa lalu yang dulu pergi ninggalin. Cih..sorry kalo gue harus ngalah ama yang begituan". Kirei mengakhiri ceramah panjangnya membuat kedua sahabatnya melongo.


"Kalo ternyata Tama yang masih suka ama tu ondel-ondel gimnaa?". Pertanyaan Juna sukses membuat Kirei diam sesaat dan berpikir. Ya, dirinya harus memikirkan kemungkinan terburuknya bukan?


"Ish..mulut lo Jun!". Tania menyikut Juna ketika melihat reaksi diam Kirei.


"Hahaha-- bercanda aja Ki. Kaga mungkin pak Tama masih mau ama mantannya". Juna tertawa kaku untuk membuat mood Kirei kembali. Namun sepertinya Kirei benar-benar memikirkan ucapan Juna.


"Tenang Ki..gue bantu jambak tu ondel-ondel kalo ampe berani ganggu laki elo". Tania mengelus lengan Kirei yang membuat Kirei terkekeh.


"Gue masih sanggup sendiri Tan". Balas Kirei. Akhirnya ketiganya menghabiskan waktu santai mereka dengan banyak canda dan tawa. Tanpa Kirei sadar bahwa sejak tadi Daniel yang ternyata juga berada disana terus memperhatikan wajah yang masih sepenuhnya mengisi hati dan pikirannya.


Entah cinta atau hanya sekedar obsesi saja segala yang dirasakan oleh Daniel pada Kirei. Lelaki yang dulu baik itu kini berubah layaknya monster berwajah malaikat. Tidak ada yang tahu apa yang kini ada didalam pikiran manusia gila itu.

__ADS_1


__ADS_2