
Tepuk tangan meriah diberikan untuk Naya yang baru saja menyelesaikan lagunya. Senyuman manis Naya persembahkan untuk semua orang. Ia menatap Al yang masih trrpaku menatapnya, dan dengan jahilnya Naya mengedipkan sebelah matanya untuk menggoda Al yang sepertinya terpesona dengan bakat menyanyinya.
"Oke..oke cukup para penggemar. Gue tau kok kalo gue emang cantik dan bertalenta. Terlebih gue emang berkharisma". Naya merentangkan tangannya setelah mengibaskan rambut hitamnya.
" Wuuuuuuu..." Sorakan kembali terdengar setelah gadis cantik itu membanggakan dirinya diatas panggung.
"Kamu ya..emang paling narsis". Ucap Akbar tanpa mic membuat Naya menoleh dan kembali tersenyum.
" Bikin hati kakak cenut-cenut kan ya". Naya memainkan alisnya naik turun untuk menggoda lelaki tampan didepannya yang hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Dasar". Ucap Akbar gemas.
" Silahkan Naya kembali ke tempatnya". Imbuhnya lagi.
"Tempat aku kan disini kak". Sahut Naya cepat membuat Akbar mengernyit bingung.
" Iya disini..disisi kak Akbar. Kan aku calon pasangan masa depan kakak". Naya benar-benar turunan Tama dan Kaivan. Biarpun perempuan dia sangat pandai menggoda.
"Huuuuuu". Kembali terdebgar riuh sorakan teman-temannya.
" Apasi ha hu ha hu mulu. Kaya tarzan lo pada". Omel Naya membuat teman-teman barunya tertawa.
"Ini anak satu bener-bener jawara ngegombal. Gimana kalo kita tandingin sama raja gombal kita. Kak Kaivan gimana? Berani nggak?". Tantang Akbar membuat Naya menoleh dan menjulurkan lidahnya mengejek sang kakak yang langsung melotot.
Kaivan maju hingga berdiri disamping Naya. Ia yakin bisa mengalahkan kenarsisan dan ke sablengan adiknya. Harga dirinya dipertaruhkan kini.
" Gimana Naya? Berani?". Tanya Akbar
"Siapa takut". Sahut Naya santai. Padahal ia sudah tahu hasil akhirnya. Sudah pasti ia akan kalah
Memang darimana keahlian merayunya jika bukan dari abang cassanova tersayangnya itu. Ilmu nya jelas masih dibawah sang kakak.
" Oke..kita mulai. Silahkan kak Kai". Akbar menyerahkan mic pada Kai dan memilih duduk dibelakang Naya.
" Naya lo tau besok hari apa?". Tanya Kai memulai aksinya.
"Rabu.." Jawab sang adik polos
"Tau apa artinya?". Tanya Kai lagi dan dijawab gelengan kepala oleh Naya.
" Emang apa?". Tanya Naya.
"Aku ra-butuh yang lain selain kamu". Ucap Kai disertai senyuman maut yang membuat semua siswi berteriak histeris. Kecuali Naya dan Mayra tentunya.
" Garing". Jawab Naya
"Nih giliran lo". Kai memberikan mic pada Naya yang tampak berpikir.
" Bang Kai tau nggak kenapa kita berdiri disini bareng?". Tanya Naya membuat Kai menggeleng.
"kenapa?". Tanya Kai
" Ya soalnya disuruh sama calon imam aku. Emang tadi bang Kai nggak denger gitu?". Ucap Naya membuat suasana aula dipenuhi suara tawa.
"Hheeeuuuu!! Gundulmu". Ucap Kai menggetok pelan kepala adiknya.
" Kakak ganteng..aku nggak mau ah ama yang ini. Pinter ngegombal. Mau yang kaya kulkas aja ah". Ucap Naya menatap Akbar yang langsung berdiri.
"Kulkas?". Beo Akbar membuat Naya langsung mengangguk.
" Yang itu". Ucapnya menunjuk Ken yang tengah berdiri bersandar pada tembok.
"Oke..kak Ken, mari. Ada request khusus dari adik manis kita". Ucap Akbar menatap Naya yang selalu tersenyum.
Sementara Al semakin yakin jika Naya dan Ken memanglah memiliki hubungan khusus.
Dengan senyum tipis yang mampu membuat semua gadis menjerit, Ken melangkah maju untuk lebih mendekat pada sang adik.
" Aaaaa...senyummu mengalihkan duniaku bang". Ucap Naya lebay membuat Kai menoyor kepala adiknya lantaran gemas dengan tingkah lakunya.
"Oke, Naya. Sekarang kak Ken nya udah disini. Sok lah digombalin sampe puas". Ucap Akbar kembali duduk dibelakang Naya.
" Bang Ken tahu nggak apa bedanya abang sama cincin?". Tanya Naya membuat Ken menggeleng.
"Nggak tau. Apa bedanya?". Tanya Ken lembut membuat seisi aula histeris mendengar lelaki yang dikenal dingin dan kaku itu bersikap lembut pada gadis yang baru 2hari menyandang status sebagai siswi SMA Garuda itu.
__ADS_1
" Kalo cincin itu cuma melingkar dijari aku..kalo abang melingkarnya di hati aku". Ucapnya sambil menyilangkan jempol dan telunjuknya hingga membentuk hati.
"Saranghae abang ganteng". Imbuhnya diaertai gelak tawa yang menular pada siapapun yang melihatnya. Benar-benar cantik dan manis, bahkan menggemaskan.
" Bales..bales..bales.." Teriakan dari seluruh siswa membuat Ken mengalah dan mengambil alih mic dari tangan adiknya.
"Lo tahu---"
"Jangan lo gue dong..aku kamu biar tambah uuuuhh". Potong Naya sambil mengacungkan jempolnya.
Ken menghela nafasnya panjang, namun tak urung lelaki tampan itu mengikuti kemauan gadis yang adalah adik kandungnya itu.
" Kak Ken emang paling lemah kalo ama si sableng satu itu". Gumam Mayra.
"Iya..kelemahan terbesar nya kak Ken ya temen sableng lo itu". Sahut Ibra kemudian kembali fokus pada Naya dan Ken yang tengah menjadi pusat perhatian seluruh mata.
" Oke..Naya tahu nggak apa bedanya kamu sama matahari?". Tanya Kenzo lembut.
"Ehmm..sebenernya tau sih. Tapi biar rame pura-pura nggak tahu deh". Ucap Naya membuat semua orang begitu gemas ingin menjitak kepalanya.
" Emang apa bedanya aku sama matahari, abang ganteng?? ". Tanya Naya dengan wajah yang sangat menggemaskan.
" Bedanya kamu sama matahari itu, kalo matahari itu menghangatkan dan menyinari bumi. Kalo kamu..kamu itu orang yang menghangatkan dan menyinari hidup abang". Ucap Kenzo membuat semua siswi memekik histeris. Tanpa mereka tahu bahwa Kenzo mengucapkannya tulus. Karena bagi seorang Kenzo, gadis bawel yang tengah berdiri dihadapannya itu adalah mataharinya.
Kai tersenyum melihat Naya yang jadi salah tingkah sendiri, ia pun tahu pasti bahwa adiknya itu memang lebih dekat dengan saudara kembarnya bila dibandingkan dengan dirinya yang lebih sering berdebat dengan Naya.
"Abang.." Lirih Naya membuat Ken tersenyum lembut pada nya.
"Aduh yaampun abaaaang..kaki aku lemes banget ini. Digombalin ama kulkas rasa microwave". Naya memegang kedua lututnya seolah kehilangan tulangnya.
" S*alan!!". Geram Monika dengan wajah memerah lantaran kesal melihat Ken meladeni gadis yang sejak awal.sudah berhasil membuatnya kesal.
"Gila nggak sih Mon..anak baru udah bisa bikin Kenzo kaya gitu". Ucap Lucia, teman Monika.
" Iya sih Mon..gila banget tu anak. Baru masuk aja udah bisa narik perhatian Kenzo ". Timpal teman yang lain bernama Agatha.
" Diem deh lo berdua". Desis Monika menatap tajam Naya yang terlihat tersenyum pada Kenzo.
"Apa lebihnya dia dibanding gue Ken. Lo nggak pernah lirik gue, bahkan setelah usaha gue sejak 2tahun ini". Batin Monika menatap Kenzo yang masih menatap intens pada Naya.
Tak lama terdengar bel istirahat berbunyi. Membuat Akbar membubarkan siswa untuk pergi mengisi perut mereka yang kosong sejak pagi.
" Kita lanjut nanti setelah istirahat ya..kayanya ratu gombal kita juga udah cape gombalin senior-senior gantengnya". Ucap Akbar menggoda Naya yang hanya nyengir tanpa dosa.
"Kuy Nay..kita makan. Laper gue". Mayra merangkul pundak Naya yang langsung mengangguk.
" Lo cuma pasukan ha hu ha hu bisa laper juga May?". Tanya Naya membuat Mayra melotot.
"Seenak jidat lo bilang gue pasukan ha hu ha hu". Sengit Mayra membuat Naya terkekeh.
" Kan elo ama si beha emang cuma jadi tim penggembira kalo gue lagi beraksi". Ucapnya sombong membuat Ibra gemas dan langsung memiting kepala Naya diketiaknya.
"Beha!!! Lepasin kaga! Belom pernah dikutuk jadi batu lo ya ama gue". Teriak Naya membuat Ibra tertawa.
" Lo kata gue malin kundang. Tu mulut pasangin saringan napa sih Nay. Nama bagus-bagus Ibra, lo panggil beha. Sialin lo emang". Ibra mengencangkan pitingannya sambil mengacak-acak rambut Naya yang semakin berteriak.
Naya mendongakkan kepalanya kala Ibra mengendurkan pitingannya dan berhenti berjalan. Hal pertama yang ia lihat adalah wajah seram Monika dan dua gadis lain disisi kanan dan kiri Monika.
Naya kemudian melepaskan diri dari sahabatnya dan membenahi rambutnya yang berantakan akibat ulah sahabatnya.
"Maaf, numpang lewat ya kak". Ucap Mayra sopan kemudian melipir dan melewati Monika dan dua temannya. Diikuti Ibra yang melakukan hal yang sama.
Hingga tiba giliran Naya, Monika langsung menghadangnya dengan wajah garang. Naya menaikkan sebelah alisnya menatap Monika yang juga tengah menatapnya.
" Ini peringatan terakhir buat lo ya anak baru". Monika mengacungkan telunjuknya didepan wajah Naya yang terlihat biasa saja.
"Terserah lo mau ngapain. Tapi inget!".
" Jangan pernah coba deketin Ken. Atau lo bakal nyesel pernah sekolah disini". Ancam Monika membuat Naya tersenyum.
"Kakak tenang aja. Gue nggak tertarik buat berurusan sama lo tentang cowo manapun". Naya dengan berani menggenggam jari telunjuk Monika dan menurunkannya.
" Berhenti ngancem-ngancem nggak jelas gini. Itu nunjukin seberapa lemah elo, kak Monika". Ucap Naya dingin kemudian berlalu meninggalkan Monika yang mematung lantaran terkejut dengan apa yang dilakukan Naya.
Tak jauh dari mereka bersitegang, Ada Ken dan Kai serta teman-temannya yang ikut terpaku melihat keberanian Naya melawan Monika. Jika Akbar tanpa ragu tersenyum puas melihat Naya, lain halnya dengan Al yang berusaha menahan senyunnya agar tak semakin terlihat. Gadis menyebalkan itu semakin hari terlihat semakin menarik dimatanya.
__ADS_1
"Lo emang adek kesayangan gue, Nay". Batin Ken bangga.
" Harusnya mommy sama daddy nggak nyekolahin gue disini. Belom apa-apa gue udah didamprat ama kakak kelas cuma gara-gara kakak sableng kaya mereka!". Mulutnya tak henti menggerutu sambil berjalan menuju kantin, Sementara Mayra dan Ibra hanya tersenyum sambil mengikuti Naya dibelakangnya. Berkali-kali Naya meniup poninya lantaran saking kesalnya. Kebiasaan Naya jika sedang kesal, maka poni nya lah yang akan menjadi pelampiasannya.
"Udah sih Nay". Ucap Mayra mencoba menenangkan.
" Tu poni lama-lama terbang Nay lo tiup-tiup mulu". Timpal Ibra membuatnya mendapat pelototan tajam dari si pemilik poni.
"Iya-iya kita diem. Set dah ah..galak banget punya temen". Gerutu Ibra.
" Tuh kan..jadi kantinnya penuh. Ini gara-gara nenek moyang lo tadi pake acara nyegat gue". Naya bersungut-sungut ketika melihat kantin sudah dipadati oleh siswa yang tengah mengisi perutnya.
"Tu masih kosong Nay". Ibra menunjuk meja dipojok kantin yang tak berpenghuni, membuat senyum Naya mengembang sempurna.
" Lo berdua pesen. Gue kesana dulu biar ngga ditempatin orang". Ucap Naya dijawab anggukan kepala oleh kedua sahabatnya.
"Hahhh..akhirnya dapet tempat duduk juga". Naya tak menyadari jika saat ini dirinya tengah menjadi pusat perhatian karena tempat yang saat ini ia tempati adalah tempat duduk favorit para most wanted SMA Garuda.
Naya mendongakkan kepalanya saat meja didepannya diketuk oleh seseorang. Ia melihat wajah datar nan dingin yang sudah mampu membuat hatinya bergetar sejak pertama kali ia melihat nya.
" Ya ampun mas ganteng..ngagetin aku tau nggak sih". Ucap Naya menangkup pipinya dengan kedua tangannya.
"Ngapain lo disini?". Tanya Al dingin.
" Duduk dong..emang keliatannya aku lagi terbang gitu?". Tanya Naya menggoda membuat Al memutar matanya.
"Lo pindah deh". Ucap Al lagi membuat Naya mengernyit bingung.
" Emang kenapa?". Al mendengus kesal mendengar Naya terus menjawabnya. Ia memang paling tidak suka perempuan cerewet dan banyak tanya.
"Lo bisa kaga sih kalo udah disuruh tuh langsung dikerjain. Kaga usah banyak nanya". Sentak Al membuat Naya sedikit berjingkat.
" Jangan galak-galak kenapa sih. Nggak usah pake bentak-bentak juga". Lirih Naya. Dirumah ia selalu diperlakukan lembut, bahkan oleh Kai yang notabene nya selalu mengganggu dan membuatnya kesal.
"Nay..ini soto yang lo mau". Ibra datang dengan nampan berisi 3 mangkok soto. Sedang Mayra membawa minuman untuk mereka bertiga.
" Eh kak..siang kak". Sapa Ibra mencoba ramah pada Al.
"Bawa temen lo pindah". Ucap Al yang langsung diangguki oleh Ibra.
" Nggak mau. Enaknya aja si mas ganteng nyuruh-nyuruh pindah. Kan aku duluan yang disini". Naya berdiri berhadapan dengan Al tanpa rasa takut.
"Udah Nay, kita pindah aja. Udah ada yang kosong juga meja lain". Mayra menarik tangan Naya. Namun gadis itu tetap keukeuh tak mau pindah.
" Disini nggak ada tuh tulisan nama kakak atau siapapun. Kenapa aku harus pindah?". Naya kembali duduk dan mengambil semangkok soto kemudian segera menyendoknya.
"Ibraaa..kok ada kacangnya sih. Lo pengen gue mati?". Tanya Naya memberengut.
" Itu lo ambilnya salah oneng! Itu punya gue". Ibra menggantui mangkok Naya.
"Lo bener-bener kaga bisa dibilangin ya". Geram Al yang tak dihiraukan oleh Naya.
" Lo berdua buruan makan. Mau telat emangnya?". Tanya Naya melihat kedua sahabatnya masih berdiri.
"Nay..pindah aja yuk". Bisik Mayra namun Naya tetap menggeleng.
" Hallo Kanaya.." Sebuah suara membuat Naya mendongak. Teman sang kakak, Rendra yang menyapanya dengan begitu ramah.
"Holla juga kakak kremian". Naya melambaikan tangannya membuat Rendra melotot. Sementara Akbar sudah tertawa mendengar nama panggilan Naya untuk Rendra.
" Sembarangan. Nama gue Rendra. Bukan kremi". Sungut Rendra membuat Naya mengangkat kedua bahunya acuh.
"Ni bocah kaga mau pindah". Ucap Al dingin.
" Orang aku dulu yang dateng". Ucap Naya ngototmembuat kedua kakaknya menggeleng.
"Dasar keras kepala". Batin Kai dan Ken.
" Tempat duduknya masih cukup". Ucap Ken kemudian duduk disamping Naya yang membuat Al semakin yakin jika gadis itu adalah orang spesial untuk Ken. Pasalnya selama ini, Ken paling tidak suka jika ada yang duduk ditempat favorit mereka.
"Udah lo duduk. Malah kaya patung". Rendra menarik tangan Al untuk duduk.
" Apa mas ganteng liat-liat aku? Cantik? Emang". Ucap Naya membuat Al mendengus.
"Jangan galak-galak jadi cowo tu, kak. Contoh kak Akbar dong..baik, ganteng, murah senyum". Naya tersenyum menatap Akbar yang menggeleng gemas.
__ADS_1
" Awas.. ntar jatuh cinta sama aku kalo kelewat galak". Naya mengedipkan sebelah matanya pada Al kemudian bangkit dan berjalan meninggalkan kakaknya bersama teman-temannya.