
Seorang gadis tengah mematut penampilannya dicermin sebelum bibir mungilnya tersenyum puas melihat tampilan barunya dengan seragam barunya.
"Perpect. Elo emang the best Nay". Ucapnya sambil mengedipkan sebelah matanya sambil mengacungkan telunjuknya pada cermin besar didepannya.
" KANAYAAAAAA". Teriakan maha dahsyat yang berasal dari lantai bawah rumah membuat gadis bernama Kanaya itu tersenyum cerah. Inilah rutinitas paginya, selalu menunggu teriakan istimewa dari orang yang istimewa pula.
"I'am coming bunda ratukuuuu". Sahutnya berteriak sambil menyambar ransel yang ada di sofa kamarnya.
Sampai dimeja makan, semua mata menatap sosok cantik yang tengah menuruni tangga dengan riang.
" Kamu ini anak gadis kenapa sih apa-apanya harus nunggu mommy teriak-teriak dulu". Omel sang ibu menatap putrinya yang hanya nyengir menampakkan deretan gigi rapinya.
"Ada yang kurang kalo pagi-pagi belum denger mommy teriak". Jawabannya membuat sang ibu mendengus kesal.
" Pagi pacar ganteng aku". Ucapnya sambil mencium kilat pipi sang ayah yang hanya bisa menggeleng gemas melihat kelakuan putri bungsunya.
"Pagi abang-abangku yang gantengnya ngelebihin oppa-oppa korea". Kini ia beralih menatap kedua kakak kembarnya.
" Stop panggil gue abang Nay. Gue jitak pala lo lama-lama kalo ngeyel". Sungut sang kakak yang membuat Kanaya tersenyum manis sambil mengambil selembar roti yang sudah diolesi selai coklat kesukaannya.
"Itu tu panggilan sayang gue buat kalian. Gimana sih". Jawabnya acuh kemudian memasukkan roti yang baru ia potong kedalam mulut.
" Bang Ken aja nggak protes gue panggil abang. Contoh napa sih bang Ken. Anteng, adem, ayem, ngalah-ngalahin kulkas ademnya". Ucapnya melirik kakaknya yang anteng dengan sarapannya. Tak sedikitpun terpengaruh dengan perdebatan adik dan saudara kembarnya.
"Iya dia enak kalo dipanggil abang. Lah kalo gue lo panggil abang? Auto ngenes Nay". Ucap Kai memelas
" Emang kenapa sih bang. Keren tau bang..Bang Kai. Hahahaha". Naya tertawa ketika menyebutkan nama kakaknya.
"Eh si sableng, malah disebutin. Keren-keren dengkulmu itu". Sungut Kai tak terima.
" Ken pergi dulu mom, dad". Ken yang sudah selesai dengan sarapannya menyampirkan ranselnya disebelah pundaknya kemudian menyalami kedua orang tuanya.
"Abang tunggu!!". Teriak Naya yang belum selesai makan. Pun dengan Kai yang terlihat buru-buru meminum jusnya.
" Makanya jangan ribut mulu". Cibir Tama melihat kelakuan kedua anaknya.
"Lagian kenapa sih Naya harus satu sekolah ama abang". Keluh Naya menatap kedua orang tuanya kesal.
" Harus ada yang menjaga kamu sayang. Mommy tidak ingin kejadian 2tahun lalu terulang". Ucap Kirei mengelus rambut putrinya.
"Ish..2tahun lalu aku masih kecil. Sekarang aku nggak selemah itu". Cebik Naya membuat Tama angkat bicara.
" Mommy dan daddy melakukannya karena kami sangat menyayangimu nak". Tama memeluk tubuh mungil putrinya yang tengah ngambek.
"Heh ketek..lo mau telat hari pertama!". Teriakan Kai membuat Naya mendengus kesal mendengar panggilan menyebalkan dari abangnya itu.
" Nay pergi dulu. Assalamualaikum". Setelah mencium punggung tangan kedua orang tuanya, Naya berlari menghampiri kakak tersayangnya.
"Lo kenapa sih dek. Manyun mulu". Ucapan Ken membuatnya mendongak.
"Kesel". Jawabnya pendek
" Perasaan tiap hari kerjaan lu kesel mulu tek". Kai kembali menggoda sang adik dengan panggilan yang paling adiknya benci.
"Bang Kai kaga usah ngajak ribut ya. Gue lagi males gelut ama abang!". Naya memalingkan wajahnya, ia lebih memilih menatap jalanan diluar jendela mobil.
Ken menatap kakak kembarnya sambil menggeleng saat melihat Kai hendak membalas ucapan Naya. Ia tahu apa yang membuat mood adiknya tiba-tiba anjlok seperti saat ini.
" Disekolah jangan pernah bilang kalo Nay adeknya abang. Kalo perlu pura-pura nggak tau". Ucapan sang adik membuat keduanya saling pandang kemudian menghela nafas kasar.
"Abaaang!!". Teriak Naya ketika kedua kakaknya tak menjawab.
" Iya Nay..iyaaaa". Jawab keduanya kompak.
"Oke Nay..semua bakal baik-baik aja. Cukup ngejauh dari most wantednya SMA Garuda. Semua bakal aman". Batin Naya meyakinkan diri.
Naya berkali-kali menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya dengan kasar sebelum turun dari mobil yang dikendarai kakaknya.
" Kenapa sih udah rame aja jam segini". Gumam Naya menatap keluar mobil.
"Stop!!! Jangan coba-coba bukain pintu buat Nay, bang". Peringat Naya ketika melihat Kenzo hendak turun.
" Kenapa sih dek?". Tanya Kenzo bingung.
"Abang nggak inget waktu kita SD? Abang mau Nay dibully lagi kaya pas SD gara-gara abang belain Nay terus?!". Naya mendadak emosi ketika mengingat kejadian menyebalkan waktu sekolah dasar dulu.
" Inget bang. Kita orang asing disekolah. Titik!". Naya membuka pintu dengan cepat dan segera turun ketika melihat sekeliling sedikit sepi.
"Nayaaaaaa!!". Teriakan dari seseorang yang suaranya sangat familiar bagi Naya menghentikan langkah gadis mungil itu.
" Mulut lo May!! Gue tabok lama-lama tu mulut". Omel Naya pada sepupunya, Mayra.
__ADS_1
"Abis lo turun dari mobil abang lo udah kaya maling". Ucap Mayra yang langsung membuat Naya menoleh kanan kirinya.
" Jangan pernah bahas abang gue. Kita nggak kenal most wantednya SMA Garuda. Inget ya". Peringat Naya membuat Mayra mengangguk patuh.
Tak berselang lama, bel tanda masuk belajar berbunyi. Seluruh siswa kelas X dikumpulkan di aula sekolah untuk dilakukan MOS, atau pengenalan lingkungan sekolah.
Naya dan Mayra berjalan beriringan menuju aula. Mata Mayra melebar melihat dua lelaki yang sangat ia kenal berdiri dijajaran osis SMA Garuda.
"Nay..Nay!!!". Ucap Mayra heboh membuat Naya menoleh sambil mengangkat sebelah alisnya seolah bertanya 'apa?'.
" Itu beneran abang lo kan yang disana? Kak Ken sama Kak Kai?". Tanya Mayra berbisik.
Naya mengikuti arah pandang Mayra dan langsung lemas melihat kedua kakaknya ternyata bergabung menjadi anggota osis. Naya mendengus kesal, harusnya ia sudah tahu jika kedua kakaknya yang pandai itu pasti ikut keanggotaan osis.
"Apes banget hidup gue. Bakal susah gue sekolah disini". Ucap Naya lemas.
" Siapa yang apes?!". Suara dingin yang berasal dari belakang tubuhnya membuat Naya mematung.
"Maju kamu". Imbuh suara itu lagi.
" Eh tapi anu tapi..apa ya pak. Eh maksud saya mas..eh maksudnya kak. Ngapain saya maju?". Tanya Naya setelah berhasil menguasai keterkejutannya.
"Didepan sana ketua osis lagi nyampein visi misi sekolah. Kamu ngapain ngobrol dibelakang". Ucapnya seram.
" Maju!". Perintahnya tak ingin dibantah.
Keduanya kakaknya yang melihat Naya digiring maju hanya saling pandang kemudian menggeleng. Penyakit adiknya yang hobi membuat masalah memang sulit hilang.
"Kenapa ni bocah Al?". Tanya seorang siswi bername tag Monika.
" Ngobrol dibelakang". Jawabnya pendek.
"Lo ya..anak baru aja udah banyak gaya". Ucapnya dengan tatapan meremehkan.
" Oke perhatian semua. Teman kalian yang satu ini perlu dijadikan contoh, jangan menirukan kelakuannya ya". Ucap si ketua osis yang bername tag Akbar.
"Katanya suruh jadiin contoh. Tapi nggak boleh ditiru. Gimana sih". Gumam Naya membuat semua siswa menahan senyumnya. Sementara dua kakaknya sudah menepuk keningnya melihat tingkah konyol adiknya.
Si ketua osis tampak berpikir sebentar sebelum ikut menepuk keningnya dengan pola pikir Naya.
" Nggak gitu konsepnya, dek---"
"Kanaya kak, panggil aja Naya". Ucap Naya memperlihatkan nametag diseragamnya ketika melihat si ketua osis kebingungan mau memanggilnya apa.
"Aduh kak jangan senyum dong". Ucap Naya sambil memegang dadanya membuat Akbar si ketua osis sedikit panik.
" Eh..kamu kenapa?". Tanya nya panik.
"Jantung aku mau copot liat kakak senyum. Penyakit diabetes aku juga langsung kumat kak, badan langsung lemes". Gombalan Naya disambut sorakan teman-temannya yang tadi sempat ikut panik.
" Adek lo itu. Bukan adek gue". Bisik Kai pada Ken sambil memalingkan wajah. Kelakuan adiknya benar-benar absurd.
"Heeeeuu..kamu ini. Saya kira kamu sakit". Ucap Akbar disambut senyum manis Naya.
" Duh seneng banget..baru masuk udah dikasih perhatian. Aku jadi baper lho kak". Kembali sorakan terdengar memenuhi aula besar itu akibat ulah Naya.
"Oke karna kayanya kamu seneng banget ngegombal. Sekarang kakak kasih hukumannya ngegombalin salah satu anggota osis cowok ya. Kamu boleh pilih". Ucap Akbar disambut tepuk tangan semua siswa.
" Kalo udah dipilih, boleh dibawa pulang nggak kak?". Tanya Naya antusias membuat Akbar menggeleng sekaligus gemas. Baru kali ini ia melihat gadis seceria dan seberani Naya.
"Boleh. Tapi ijin ibu bapaknya dulu ya". Ucap Akbar menanggapi guyonan Naya.
Sementara disamping Ken, pemuda yang tadi membawa Naya maju mengangkat sedikit sudut bibirnya melihat kelakuan Naya. Lucu, menggemaskan, manis, sekaligus menyebalkan.
" Udah jangan godain saya terus..tugas kamu sekarang pilih dulu siapa yang mau kamu gombalin". Ucap Akbar membuat Naya sedikit berpikir.
"Gombalin kakak aja deh. Siapa tau udahnya baper ke aku". Ucapnya memainkan alisnya naik turun.
" Suka nih gue ama bocah model beginian. Udah cantik, lucu, berani, ngegemesin lagi". Ucap Rendra, lelaki yang berdiri disamping Kai.
"Kamu dari tadi udah gombalin saya terus. Sekarang ganti yang lain gih sana". Akbar memegang kedua bahu Naya dan memutarnya menghadap jajaran anggota osis laki-laki.
Lelaki bernama Rendra yang sepertinya satu frekuensi dengan kakaknya Kai membuatnya tersenyum geli karena sejak tadi terus mengedipkan matanya seolah memberi kode untuk dipilih.
" Kakak yang itu". Naya menunjuk Rendra yang langsung terlihat sumringah. Namun sesaat kemudian wajahnya berubah masam.
"Kakak kremian ya. Dari tadi kedip-kedip mulu". Imbuh Naya dengan wajah tanpa dosa membuat semua tertawa.
" Anak siapa sih itu. Gue bejek juga lama-lama". Ucap Rendra kesal membuat kedua kakak Naya berusaha menahan tawa.
"Eh..kok mukanya kakak yang itu berdua sama sih. Satu pabrik ya pasti". Ucapnya menunjuk kedua abangnya yang langsung melengos kesal.
__ADS_1
" Bukan cuma kita. Lo juga sepabrik ama kita Jubedah!". Batin Kai berteriak.
"Bisa-bisanya lo mah Nay. Ama abang sendiri pura-pura bloon gitu kaga kenal". Gumam Mayra.
" Temen lo tu. Urat malunya kaga ngambil kayanya pas pembagian". Timpal Ibra teman dekat mereka yang datang sekolah dikit terlambat namun terselamatkan dari hukuman berkat Naya yang sedang membuat gaduh diatas panggung.
"Tapi kok yang itu serem sih kak". Telunjuk Naya mengarah pada Ken dan temannya yang tadi menyeretnya maju.
" Serem kenapa?". Tanya Akbar memancing. Ia yakin gadis satu ini akan membuat suasana semakin ramai dengan kelakuan absurdnya.
"Mukanya datar banget. Kaya tembok. Gamau yang itu ah". Ucap Naya kemudian membuat seisi aula semakin riuh dengan sorakan dan tawa.
" Jadi kamu maunya apa?". Tanya Akbar gemas
"Maunya dibawa ke pelaminan sama kakak aja. Gimana?". Cengiran khas milik Naya membuat Akbar hampir mengacak rambut gadis manis didepannya itu. Namun ia sadar dimana mereka kini.
" Huuuuuu" Sorakan dari seluruh penghuni aula membuat Kamaya mengangkat tangannya meminta semua orang diam.
"Kok kalian yang baper sih. Ini gue lagi usaha ngebujuk calon imam". Ucapnya yang membuat sorakan semakin kencang terdengar.
" Elo calon jenazah Nay". Teriak Ibra kesal karena sejak tadi Naya berulah.
"Hahahahahahha". Suara tawa menggema memenuhi aula mendengar teriakan Ibra.
" Ayo Kanaya--"
"Ayo ke KUA ya kak?". Potong Naya cepat sebelum Akbar menyelesaikan kalimatnya.
" Bukan Kanaya..ya ampun". Ucap Akbar frustasi.
"Sekarang kamu tunjuk mau gombalin yang mana". Imbunya.
" Ehmm..yang itu namanya siapa kak?". Tanya Naya menunjuk Al dan Ken bergantian.
"Yang dikiri namanya kak Al, kalo yang kanan namanya kak Ken". Ucap Akbar menerangkan.
" Yang sebelahnya?". Kini telunjuknya mengarah pada abang tercinta nya Kai.
"Itu kak Kai". Jawab Akbar.
" Halah..lo anak baru banyak bacot banget!". Sentak Monika tak santai membuat Naya menoleh.
"Dimana ada bekicot kak?". Tanya Naya polos membuat semua senior tersenyum geli saat ada anak baru yang berani pada senior cantik yang dikenal galak.
" Lo---" Telunjuk Monika sudah menunjuk wajah polos Naya. Dan sialnya Monika menyadari betapa cantiknya gadis itu.
"Oke cukup. Sekarang Naya pilih ya..kita harud lanjut acara selanjutnya. Capek nih kakak dari tadi nunggu kamu pilih target". Ucap Akbar menengahi. Ia paham betuh seperti apa watak keras Monika, dan sepertinya anak baru yang berhasil menarik perhatiannya itu tidak mengenal kata takut.
" Ehmm..gamau ah ama yang dua itu. Galak kayanya". Ucapnya melirik Ken dan Al.
"Mau abang ganteng yang itu aja ah". Ia menatap kakaknya Kai dengan seringai licik. Sementara Ken hanya bisa menghela nafas panjang. Saudara kembarnya dan adik tersayangnya memang sulit untuk akur.
" Oke..kak Kaivan boleh maju. Adik kelas kita yang manis ini mau coba gombalin raja gombal sekolah kita nih". Suara renyah Akbar disambut tepuk tangan meriah dari seluruh siswa baru dan juga para senior.
"Namanya sapa bang?". Tanya Naya menggoda.
" Kai". Jawab Kai singkat.
"Awas ya..bang Kai jangan baper ama aku". Ucapnya dengan wajah tengil. Ingin sekali Kai menampol wajah menyebalkan adiknya itu.
" Bang Kaiiii.."
Baru dua patah kata yang keluar dari mulut Naya saja sudah mampu membuat seisi aula tertawa hingga terpingkal-pingkal.
"Ssssttt..Pada diem dong. Ntar lupa gue mau ngomong apaan". Kanaya meletakkan telunjuknya pada bibir mungilnya, meminta semua orang untuk diam.
" Abang tau nggak bedanya abang sama duit?". Tanya Naya membuat Kai memutar bola matanya malas.
"Apa?". Tanya nya malas.
" Beneran nggak tau?". Tanya Naya memastikan.
"Kaga". Jawab Kai. Kini ia menatap adiknya yang menyebalkan itu.
" Ya beda lah..abang ya bang Kai, uang ya buat bayar lah". Jawab Naya santai membuat Kai menepuk keningnya. Kesal dengan kelakuan adiknya.
"Bercanda yaelah abang ganteng". Ucap Naya menoel lengan kekar kakaknya.
"Sebenernya teh bukan bedanya bang, tapi apa persamaan abang sama duit?". Tanya Naya lagi membuat Kai menggeleng.
" Sama-sama aku butuhin dalam hidup aku, bang Kaiiii". Ucapnya semangat membuat semua orang tertawa.
__ADS_1
"Dasar adek mata duitan". Bisik Kai sambil menyentil dahi Naya membuat para gadis histeris melihat apa yang dilakukan Kai pada Naya.