Imperferct Partner

Imperferct Partner
panas dingin


__ADS_3

Kirei dan Tama sedang mengambil foto bersama kedua orang tua mereka. Terlihat jelas kebahagiaan di wajah para orang tua. Mereka terlihat bahagia, terutama Riana dan Akmal yang memang sudah sangat ingin menikahkan putra cassanova tengil mereka itu.


Dari ekor matanya, Kirei melihat Daniel juga datang bersama dengan Arin. Tatapan pria itu tidak pernah beralih dari wajah cantik Kirei. Melihat Daniel, Dev dan Ara sudah memasang wajah siaga. Mereka tidak suka Daniel kembali masuk ke dalam kehidupan putrinya setelah dulu menghancurkan Kirei.


"Daniel..tante kira kamu tidak datang". Riana menerima pelukan Daniel. Kedua orang tua Tama belum mengetahui kisah masa lalu Kirei dan Daniel. Entah apa jadinya nanti jika semua terungkap.


"Daniel pasti akan datang tante". Ucap Daniel melirik Kirei yang langsung membuang muka. Semua itu tidak luput dari penglihatan Arin yang tiba-tiba merasakan sesak di dadanya. Daniel masih saja menginginkan Kirei meski gadis itu sudah resmi menjadi istri orang.


"Selamat ya kak. Semoga bahagia". Sangat terlihat jelas bahwa Daniel mengucapkannya hanya sebatas formalitas.


Tama hanya menjawab dengan deheman saja. Ia menatap tajam adik sepupunya itu. Merasa tidak nyaman dengan tatapan Daniel pada istrinya.


Daniel beralih pada Kirei yang nampak tidak nyaman berhadapan dengan Daniel. Daniel mengulurkan tangannya yang disambut dengan ragu oleh Kirei.


"Selamat Ki..semoga kamu bahagia dengan pernikahan kamu. Dan semoga kamu tidak menyesal menikah dengan dia". Ucapan Daniel mendapat tatapan tajam dari Kirei. Bukan hanya Kirei, namun Tama dan kedua orang tua Kirei juga menatap Daniel dengan tajam.


Daniel tersenyum penuh makna. Entah apa yang direncanakan oleh lelaki itu, tidak ada seorangpun yang mengetahui.


"Selamat tante, om. Semoga kalian tidak menyesal menikahkan Kirei dengan pria seperti kak Tama". Daniel menjabat tangan Dev dengan seringai kecil.


"Kami tidak akan pernah menyesal menikahkan Kirei dengan lelaki baik seperti Tama. Terlepas dari semua masa lalu Tama. Bukankah semua orang memiliki masa lalu?". Sahut Dev dingin, pun dengan tatapan matanya. Terlihat tajam dan menusuk.


"Tentu saja. Dan semoga om dan tante tidak menyesal memiliki menantu dengan masa lalu yang tidak kalian ketahui". Tama menyadari apa maksud ucapan Daniel. Sepupunya itu ingin menghancurkan rumah tangga yang bahkan belum sempat ia arungi bersama Kirei. Dev dan Ara hanya tersenyum miring mendengar semua ucapan Daniel.


Menyadari perubahan raut wajah Tama, Kirei menggenggam erat tangan sang suami yang terkepal kuat. Tama menoleh dan mendapati istrinya tengah tersenyum dengan tatapan lembutnya. Perlahan tangannya yang terkepal mulai terurai, membalas senyuman lembut sang istri dan membalas genggaman tangan Kirei. Sementara Daniel yang melihat interaksi Kirei dan Tama mengepalkan tangan kuat. Rencananya membuat Kirei mencurigai Tama di hari pernikahannya gagal. Daniel ingin Kirei meninggalkan Tama, lelaki itu tidak tahu jika Kirei sudah mengetahui semua masa lalu Tama bahkan yang terburuk sekalipun.


"Berhenti Dan..berhenti sebelum kamu kehilangan semuanya. Kirei sudah bahagia bersama kak Tama. Jangan ganggu dia lagi Dan". Lirih Arin yang berdiri disebelah Daniel.


Daniel melirik tajam pada Arin yang manatap dua mempelai yang senantiasa tersenyum diatas pelaminan setelah sesi foto keluarga.


"Apa maksudmu?". Tanya Daniel masih menatap tajam Arin. Berpura-pura tidak mengerti dengan apa maksud ucapan Arin.


Arin menoleh, menatap sendu Daniel yang tengah menatapnya dengan tatapan benci. Arin tersenyum kecut melihat kebencian Daniel yang masih setia berada dimata lelaki itu setelah 6tahun lebih keduanya dijodohkan.


"Aku tahu kamu masih mencintainya Dan. Dia adalah gadis yang kamu cintai selama 6tahun ini bukan?". Pertanyaan Arin membuat Daniel membeku. Dari mana tunangannya itu tahu siapa Kirei sebenarnya.


Daniel membuang pandangannya pada Kirei dan Tama yang terlihat sangat bahagia dan sedang mengambil foto dengan pose yang sangat romantis, bibir keduanya hampir menempel. Daniel dapat melihat cinta dimata keduanya meski sedikit.


"Lepaskan dia Dan. Bukankah mencintai seseorang tidak harus dengan memilikinya? Bukankah melihatnya bahagia adalah kebahagiaan juga?". Daniel kembali menatap Arin, kini tatapannya semakin tajam.


"Kalau begitu kenapa kamu tidak melepaskan aku. Bukankah kamu tahu aku tidak pernah mencintaimu!". Ucapan Daniel seperti ribuan jarum yang menusuk tepat dijantungnya secara bersamaan. Meski selama ini Arin tahu bahwa Daniel tidak mencintainya, namun mendengar penyataan Daniel membuat hatinya terluka. Tanpa dikomando, air matanya jatuh membasahi pipi mulusnya. Sesakit inikah mencintai lelaki yang sudah berhasil mencuri hatinya selama 6tahun lebih.

__ADS_1


Daniel tersenyum sinis kemudian berjalan meninggalkan Arin yang terlihat mengenaskan. Tidak dicintai dan ditinggalkan begitu saja tanpa Daniel menoleh lagi padanya.


"Kenapa mencintai kamu bisa sesakit ini Dan". Lirih Arin berurai air mata. Namun secepat mungkin ia menghapus air matanya, memilih meninggalkan pesta yang belum selesai lebih baik daripada menjadi tontonan atas kisah cintanya yang begitu tidak beruntung.


Kirei hanya bisa menghela nafasnya panjang melihat Arin meninggalkan pestanya dengan berurai air mata. Kirei tahu apa penyebabnya, namun dirinya tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu temannya itu.


Tama meraih pinggang Kirei hingga tubuh langsingnya menempel tanpa jarak dengan tubuhnya. Kirei menoleh, dan apa yang ia lihat membuatnya ingin menendang suaminya jauh dari planet bernama bumi ini.


Saat ini Tama sedang tersenyum dengan tatapan mesumnya, Kirei bahkan sampai bergidik melihat Tama seperti saat ini. Otaknya langsung memikirkan hal yang iya-iya yang akan terjadi malam nanti. Kirei segera menggelengkan kepalanya, mengusir pikiran-pikiran kotor yang tiba-tiba menyambangi otaknya.


"Kenapa?? Lo mikir yang iya-iya kan??". Goda Tama menaik turunkan alisnya.


"Kalo kaga ditempat kaya gini, udah gue jamin lo kaga bisa jalan". Sengit Kirei setengah berbisik. Ingin rasanya Tama tertawa, namun sebisa mungkin Tama tahan. Melihat wajah Kirei kesal selalu membuatnya bahagia.


"Lo yakin kalo gue yang kaga bisa jalan? Gue rasa sih elo yang bakal susah jalan besok". Seringai itu muncul lagi. Membuat Kirei ingin menghadiahi wajah itu dengan pukulan keras. Kirei paham kemana arah pembicaraan Tama.


"Buset dah..ini penganten emang kaga tau tempat. Sabar dikit napa sih". Suara Gery membuat Tama dan Kirei menoleh. Tama melonggarkan sedikit belitan tangannya dipinggang Kirei.


"Sabar Tam..ntar lagi juga kelar ini pesta elo. Bisa lo obrak-abrik sesuka elo". Timpal Saga tergelak.


"Bilang aja lo sirik". Sinis Tama dengan senyum mengejek. Wajah Saga dan Gery yang sejak tadi tersenyum meledek tiba-tiba berubah mendung mendengar cibiran Tama.


"Emang dasar temen se-tan!". Seru keduanya dan berhasil membuat Tama tergelak.


Pesta sudah selesai satu jam lalu, saat ini Kirei sudah selesai membersihkan dirinya. Sementara Tama, lelaki itu masih sibuk menerima tamu yang datang belakangan bersama kedua orang tuanya dan mertuanya.


Kirei masih memakai handuk kimononya, dirinya tengah bingung. Mengacak semua isi kopernya yang sudah disiapkan oleh sang ibu. Isinya membuat Kirei memijit pelipisnya, kepalanya terasa berdenyut melihat pakaian yang sudah disiapkan oleh ibunya. Sudah pasti ini rencana ibundanya serta ibu mertuanya.


"Sekarang gue musti pake apa? Buna bener-bener keterlaluan". Ucap Kirei memijit pangkal hidungnya.


Dirinya tak mungkin memakai handuk kimononya untuk tidur. Dirinya pikir ibunya akan menyiapkan pakaian formal atau setidaknya gaun untuk dirinya pakai besok ketika keluar dari hotel. Namun isi kopernya hanya berisi pakaian yang mungkin bisa membuatnya masuk angin.


Dirinya ingat ucapan Tama saat dirinya pengajukan perjanjian pra nikah. Perjanjian yang isinya langsung ditolak oleh Tama mentah-mentah.


"Kita emang nikah karena terpaksa, tapi jangan pernah lo pikir gue bakal lakuin hal konyol yang ada dipikiran elo. Nggak akan ada perjanjian pernikahan diantara kita Ki. Hubungan kita bakal berjalan seperti layaknya pernikahan. Dan gue...Gue bakal ambil hak gue sebagai suami". Ucapan Tama kembali terngiang ditelinganya. Benarkah malam ini dirinya harus menyerahkan apa.yang selama ini dia jaga untuk lelaki yang sudah menjadi suaminya itu.


Kirei memutuskan memakai gaun tidurnya yang paling terlihat tertutup meski masih terlihat minim.


"Gini sih gue bisa masuk angin". Kirei terus menggerutu. Menatap dirinya dari pantulan cermin didalam kamar mandi.


"Ini sih kaya orang kaga pake baju". Imbuhnya menggelengkan kepala. Heran dengan kelakuan ibunya.

__ADS_1


Dengan memantapkan hatinya, Kirei melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi. Ranjang hotel itu pun sudah dihias sedemikian rupa, nampak indah dengan taburan bunga membentuk hati ditengah ranjang. Kirei kembali menggelengkan kepalanya, sudut bibirnya terangkat. Ia tersenyum getir menatap ranjang yang akan ia tempati malam ini. Jika dirinya menikah karena cinta, mungkin ia akan menjadi gadis paling bahagia malam ini. Namun kenyataan tidak selalu seindah harapan.


Kirei menghela nafas panjang, dirinya harus berusaha menerima kenyataan bahwa kini dirinya sudah menikah dengan Tama. Berusaha membuka hatinya untuk belajar mencintai lelaki yang memang berhak mendapatkan cinta darinya.


Sementara didepan pintu, Tama berdiri mematung melihat penampilan Kirei. Baju minim kurang bahan, rambut basah yang masih meneteskan buliran air membuat Kirei terlihat sangat seksi. Tama menelan salivanya susah payah, jiwa kelelakiannya bangkit melihat penampilan Kirei yang terlihat menggoda.


Merasa ada yang memperhatikan, Kirei menoleh. Matanya bersirobok dengan mata tajam Tama yang menatapnya dengan cara berbeda. Tiba-tiba Kirei dilanda kepanikan melihat Tama yang hanya mematung didepan pintu yang masih sedikit terbuka.


"Lo..lo ngapain berdiri disana? Mandi sana". Kirei lebih memilih menutupi kegugupannya dengan cara memerintahkan Tama untuk mandi.


Tama mengerjap beberapa kali. Tubuhnya tiba-tiba terasa panas. Mungkin benar, dirinya perlu mengguyur tubuhnya dibawah air dingin untuk mendinginkan tubuhnya yang terlanjur panas.


Tanpa membalas ucapan Kirei, Tama berlalu ke kamar mandi. Mengguyur tubuhnya dibawah air dingin. Berharap sesuatu yang terbangun dibawah sana bisa ia tidurkan kembali dengan guyuran air dingin.


"****!!". Umpatnya dalam hati.


"Gimana kalo gue liat dia t*l*njang!!". Tama menyugar rambutnya ke belakang.


Sementara Tama sedang membersihkan diri, Kirei memilih duduk disisi ranjang. Jantungnya berdegup kencang. Rasa gugup tiba-tiba menyergap, membuatnya bingung harus melakukan apa saat ini.


Suara pintu terbuka membuatnya mendongak, matanya kembali bertemu dengan mata tajam milik Tama. Kirei menelan salivanya dengan susah ketika melihat penampilan Tama. Tama hanya melilitkan handuk dipinggangnya. Tetesan air yang mengalir didadanya menambah kesan menggoda dimata Kirei.


"Eeehmm". Keduanya berdehem untuk mengisi keheningan yang tiba-tiba menguasai ruangan luas itu.


"Gu..gue cariin baju ganti dulu". Kirei bangkit. Mendekati koper yang disiapkan ibu mertuanya untuk Tama. Posisi koper yang berada dibawah membuat Kirei harus berjongkok dan sedikit menunduk. Menampakkan kedua asetnya yang menantang Tama untuk ia jamah.


"Ini baj---" Ucapan Kirei terhenti saat tangan kekar Tama meraih pinggangnya hingga tubuh keduanya merapat sempurna. Dari jarak sedekat ini, keduanya bisa melihat betapa sempurnanya wajah pasangannya.


Tama memainkan jarinya di wajah Kirei, menyusuri wajah cantik itu dengan jemarinya hingga Kirei memejamkan mata. Merasakan sensasi menggelitik yang tiba-tiba membuat tubuhnya memanas. Ini adalah yang pertama bagi Kirei, sentuhan Tama bagaikan sengatan listrik yang mengaliri tubuh Kirei.


Perlahan Tama mendekatkan wajahnya, mencium lembut kening Kirei cukup lama. Kemudian turun pada kedua mata serta hidung mancungnya. Dan terakhir berlabuh dibibir mungil Kirei. Mencium dengan lembut bibir yang sudah menjadi candu baginya, mel***t lembut bibir pink milik Kirei. Kirei merasakan tubuhnya panas dingin mendapat perlakuan selembut itu dari Tama.


Pelukannya pada pinggang Kirei pun semakin erat. Semakin membuat tubuh keduanya menempel rapat. Nafas keduanya sudah memburu saat Tama melepaskan pagutannya dan menempelkan keningnya dengan Kirei.


"Sorry.." Ucap Tama melepaskan tangannya yang masih setia membelit pinggang Kirei. Terlihat jelas Tama menahan sesuatu.


Kirei mengerjap, dirinya seolah linglung setelah Tama melepaskan ciumannya. Dirinya kehilangan sesuatu saat Tama melepaskan ciumannya.


"Maaf..gue lepas kontrol. Gue tau lo belom siap". Tama mundur satu langkah membuat Kirei paham.


Kirei melangkah, mendekat pada Tama. Mengikis kembali jarak yang ada karena Tama mundur.

__ADS_1


"Sekarang..lo yang berhak atas gue". Ucap Kirei menatap netra Tama yang sudah berkabut gairah. Kirei mengalungkan tangannya pada leher Tama dan berjinjit untuk mencium bibir suaminya, ia memejamkan matanya ketika Tama membalas ciumannya dan kembali memeluk pinggangnya dengan lebih erat.


Kirei sadar bahwa saat ini dirinya adalah milik Tama seutuhnya, terlepas dari siap atau tidak dirinya. Jika Tama menginginkan dirinya, maka Tama berhak melakukannya.


__ADS_2