
Seperti janji Akbar sebelumnya, pagi ini ia sudah nangkring didepan rumah Naya untuk menjemput gadis manis itu. Sementara didalam kamar Naya, sang mommy tengah berusaha membangunkan Naya yang masih asik dengan dunia mimpinya.
"Ya Allah..adek.."
"Bangun nak.."
Kirei terus mencoba membangunkan putrinya yang jika sudah tidur seperti orang yang diberi obat bius. Sulit dibangunkan.
"KANAAYAAAAAA". Teriak Kirei yang sudah pusing membangunkan Naya.
" 5menit lagi mom.." Balas Naya dengan suara seraknya. Ia bahkan merapatkan selimut yang membungkus tubuhnya. Kirei menghela nafas panjang melihat sikap putrinya.
"Akbar..kamu berangkat aja dulu. Naya mau tidur lagi". Ucap Kirei sedikit keras agar Naya mendengarnya.
Mata Naya langsung terbuka lebar setelah mendengar nama Akbar. Nyawanya yang sebelumnya masih berterbangan kemana-kemana langsung berkumpul jadi satu. Dengan kesadaran yang belum sepenuhnya pulih, Naya melompat dari atas ranjang hingga berakhir membentur meja disamping tempat tidurnya.
" Aaaww..sssshh" Naya meringis sambil mengelus tulang keringnya.
"Tungguin aku kak Biruuu..aku siap-siap dulu". Teriak Naya kemudian kembali berjalan dengan sedikit pincang karena kakinya sakit. Kirei hanya menggeleng melihat kelakuan Naya yang tak kunjung dewasa. Padahal usianya sudah hampir 16tahun, tapi sikap dan sifatnya benar-benar masih kekanakan.
Kirei memutuskan turun untuk menemui Akbar dan mengajaknya untuk sarapan bersama.
" Mana incess mom?". Tanya Satria yang melihat Kirei hanya seorang diri turun. Semalam Satria memang menginap dirumah Kirei karena malas pulang.
"Masih mandi". Ucap Kirei setengah berbisik.
" Mana Akbar? ". Tanya Kirei yang tak melihat Akbar dimeja makan.
" Lagi disidang daddy". Bisik Kai membuat Kirei menoleh kursi suaminya yang ternyata juga kosong.
"Haish..dasar bapak-bapak posesif". Gumam Kirei pelan membuat Ken dan Kai serta Satria terkekeh, ia kemudian berjalan menuju ruang tamu
Diruang tamu Kirei melihat Akbar dan Tama duduk berhadapan. Ia menghela nafas panjang sebelum berjalan mendekat. Pusing dengan sikap posesif suaminya itu terhadap putri semata wayangnya.
" Udah lama kenal Naya?". Tanya Tama dengan nada penuh intimidasi.
"Sejak Naya sekolah di SMA Garuda om.." Jawab Akbar tenang. Jangan tanyakan jantungnya, rasanya ia lebih memilih dihukum berlari mengelilingi lapangan puluhan kali daripada dihadapkan dengan situasi seperti saat ini.
"Baru beberapa bulan ya.."
"Kanaya itu putri kesayangan saya, jadi---"
"Dad..." Panggilan Kirei membuat Tama menoleh. Ia melihat Kirei yang menggelengkan kepalanya memberi tanda pada Tama untuk tidak berlebihan terhadap pemuda yang bisa dibilang cukup dekat dengan putrinya itu.
" Udah dari tadi Bar??" Tanya Kirei ramah
"Lumayan tante.." Melihat Kirei bagaikan melihat malaikat penolongnya. Akbar merasa sangat lega kini.
"Tunggu sebentar ya..Naya sedang bersiap". Ucap Kirei dijawab anggukan kepala oleh Akbar.
" Daddy nggak akan ke kantor?". Tanya Kirei membuat Tama menghela nafas panjang kemudian bangkit dan mengikuti sang istri ke kamar.
"Saya tinggal dulu..tolong jaga Naya". Ucap Tama sebelum meninggalkan Akbar diruang tamu seorang diri.
Akbar masih menahan nafasnya ketika matanya melihat punggung Tama berbalik, ia baru bisa menghirup nafas panjang setelah punggung kokoh itu menghilang dari pandangannya.
" Hufft..baru gini aja jantung gue udah mau loncat". Gumam Akbar mengelus dadanya yang terasa berdebar.
Didalam kamar, Kirei tengah menatap Tama yang berpura-pura sibuk dengan ponselnya. Ia menghampiri sang suami dan duduk disampingnya, kemudian tangannya terulur mengambil ponsel Tama dan menyimpannya diatas meja.
"Aku tahu kamu sangat menyayangi Kanaya, mas. Aku juga sangat menyayangi anak kita. Tapi aku rasa terlalu berlebihan kalau kamu seperti tadi pada Akbar". Ucap Kirei membuat Tama menoleh.
" Aku hanya tidak ingin terjadi sesuatu pada Naya, sayang". Ucap Tama menggenggam kedua tangan istrinya.
"Mereka masih muda mas..biarkan mereka menjalani masa mudanya seperti anak pada umumnya. Apa yang selama ini Naya alami sudah cukup berat. Bukankah tidak adil kalau kita juga melarang lelaki manapun mengenalnya?".
" Jangan terlalu khawatir dengan sesuatu yang belum pasti terjadi mas". Kirei membalas genggaman tangan Tama yang hanya bisa menghela nafas panjang dan mengangguk patuh pada istrinya.
#####
"Kakak kenapa kerumah nya pagi-pagi banget?". Tanya Naya yang sedang berusaha memasang sabuk pengamannya.
" Ini udah siang, Kanaya". Ucap Akbar menunjukkan pergelangan tangannya.
"Sini.." Akbar mendekat dan memasangkan sabuk pengaman Naya. Tanpa ada adegan tatap-tatapan terus berakhir kiss kiss ya. Auto digampar ama abang-abangnya si Naya dong Akbar kalo berani nyosor adeknya.
"Kamu yang tadi kesiangan Nay.." Ucap Akbar yang sudah menjalankan mobilnya. Dibelakang mobil mereka, seperti biasanya akan ada bodyguard-bodyguard tampan milik Naya yang setia mengikutinya.
__ADS_1
"Hehehe..tadi malem drama nya bagus kak, jadi tidurnya kemaleman". Jawab Naya sambil nyengir.
" Kakak kok tumben bawa mobil?". Tanya Naya pada Akbar yang fokus pada kemudinya.
"Tadi mendung Nay..kakak takut kalo ujan. Kamu keujanan terus sakit kan bisa gawat". Ucap Akbar menoleh sekilas pada Naya yang tengah menatapnya dengan senyum manis.
" Jangan senyum terus Nay.." Peringat Akbar membuat Naya terlihat bingung.
"Kamu manis..nanti kakak diabetes kalo kamu kebanyakan senyum kaya gitu". Goda Akbar membuat Naya salah tingkah. Dirinya yang sering menggoda Akbar, kini balik digoda oleh Akbar.
" Ish..kakak apaan sih. Kakak nggak cocok ngegombal". Ucap Naya memalingkan wajahnya yang terasa panas.
"Siapa yang ngegombal? Kakak jujur Nay.. kamu tu manis. Makanya jangan sering-sering senyum ya.."
"Kenapa?". Tanya Naya bingung. Bukankah jika memang manis, harusnya Akbar suka jika dirinya tersenyum?
" Kakak nggak mau nanti banyak yang tambah klepek-klepek sama kamu kalo sering liat senyum manis kamu. Bikin kamu tambah cantik". Makin salah tingkah saja Naya mendapat kata-kata manis seperti itu dari Akbar.
"Aaaa..kakak apaan sih". Naya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya lantaran salah tingkah.
" Masa ratunya ngegombal salah tingkah gitu sih. Mana coba mukanya?". Akbar menoleh pada Naya yang masih menutup wajahnya.
"Kok merah gitu sih mukanya.." Akbar semakin gencar menggoda Naya yang masih menutup wajahnya.
"Kakak..." Rengek Naya membuat Akbar tergelak, bahkan kini lelaki itu tertawa keras karena merasa berhasil menggoda Naya yang notabene nya adalah gadis paling jagoan soal gombal menggombali.
"Kamu lucu banget sih Nay.." Sebelah tangan Akbar mengacak pelan pucuk kepala Naya.
Jantung Naya seperti diajak marathon mendapat perlakuan Akbar yang lembut. Rasanya terlalu nyaman berada dekat dengan Akbar, dia selalu merasa dilindungi dan disayangi.
****
"Awas Nay..!!!". Naya memejamkan matanya melihat bola melayang tepat diatas kepalanya. Ia sudah bersiap menerima bola itu jatuh tepat dikepalanya.
Sudah beberapa detik, namun bola itu tak kunjung mengenai kepalanya. Jika perhitungannya tak salah, pada hitungan ketiga seharusnya bola itu sudah mendarat sempurna dikepalanya. Lalu kemana perginya bola tadi?
Perlahan Naya membuka matanya yang sejak tadi tertutup rapat. Hal yang pertama ia lihat adalah dada bidang seseorang yang berdiri tepat didepannya. Ia mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa orang yang menolongnya dari hantaman bola tadi.
" Mas ganteng???". Seru Naya ketika melihat Al berdiri didepannya.
"Kalo jalan liat-liat. Jangan pecicilan mulu jadi orang". Ucap Akbar dingin membuat Naya terkesiap.
"Maaf.." Cicit Naya.
"Pake mata lo!". Ucapan terakhir Al membuat Naya mendongak dengan mata berkaca-kaca.
" Aku juga nggak minta ditolongin". Ketus Naya kemudian berlari menjauh dari lapangan diikuti Mayra dan Aisha.
Al menghembuskan nafasnya kasar. Ia tak bermaksud memarahi Naya, namun kekhawatirannya membuat dirinya tanpa sadar memarahi Naya yang hampir celaka.
"Tenang bro.." Rendra menepuk pundak Al yang melihat punggung Naya menjauh.
"Ruwet kisah cinta elo Nay, Nay". Satria yang melihat dari kejauhan hanya menggelengkan kepalanya.
Ia bisa melihat Al begitu mengkhawatirkan Naya. Terbukti saat bola hendak mengenai Naya, pemuda itulah yang berlari paling kencang untuk menangkis bola itu agar tak sampai mengenai Naya. Bahkan kecepatannya dan Rendra tak ada apa-apanya dibandingkan Al yang berlari seperti orang kesetanan.
Satria melihat Al berjalan menjauh dari lapangan, dilihat dari arah perginya, sepertinya lelaki itu akan menyusul Naya yang berlari kearah taman belakang sekolah.
" Susah dah ini mah". Ucap Rendra sambil menggelengkan kepalanya menatap Satria yang tersenyum penuh arti.
"Yang pada dikejar kaga pekaan. Mam pos dah tu laki duaan, jumpalitan tapi dighosting doang ujungnya ama si ketek". Keduanya terbahak membayangkan jika keduanya ditolak Naya pada akhirnya.
" Udah yok lanjut". Ucap Rendra menepuk pundak Satria.
"Untung abang-abangnya lagi kaga ada". Ucap Satria dijawab anggukan kepala oleh Rendra.
Al terus berjalan sambil melihat kekiri kanan nya, berharap melihat gadis yang baru saja ia marahi. Ia sudah melihat Mayra dan Aisha, namun tidak ada Naya diantara mereka. Langkah kakinya membawa Al ke taman belakang sekolah.
Ia berhenti melangkah melihat Naya sedang ditenangkan oleh seseorang. Hatinya ikut sakit melihat Naya menangis, tangis yang ia sebabkan. Namun sayang bukan dirinya yang menghapus air mata gadis itu.
" Aku kan nggak minta ditolongin sama mas Al, kak.." Naya bercerita sambil terisak. Sementara Akbar sedang berjongkok didepan Naya dan dengan lembut menghapus air mata gadis itu.
"Mungkin kak Al takut kamu terluka Nay.." Ucap Akbar menenangkan.
"Ya nggak usah marah-marahin aku dong..kan aku juga nggak pengen kena bola. Nggak--tahu kalo ma-u--kena bola 'sroook'.." Ucap Nay terputus-putus lantaran menangis.
"Udah dong nangisnya..kak Al baik kok. Naya kan tahu kalo kak Al baik..dia cuma khawatir sama kamu". Ucapan Akbar membuat Naya menatapnya. Sementara Akbar yang ditatap oleh Naya tersenyum sambil mengangguk.
__ADS_1
" Udah ya..kakak anter balik ke kelas ya?". Tawar Akbar dijawab anggukan kepala oleh Naya.
"Sorry Nay..harusnya gue nggak marahin elo tadi". Batin Al yang melihat Naya digandeng Akbar meninggalkan taman. Menyisakan dirinya seorang diri disana meratapi kebodohannya.
----****----
Hari ini Ken dan teman-temannya kembali berkumpul, bedanya kali ini hanya teman-teman pria nya saja yang disana. Tidak ada teman-teman perempuannya.
Sejak datang pun mereka sudah berkumpul dikamar Kai. Ada enam orang pemuda yang berada didalam kamar Kai, termasuk Akbar dan Al.
Sejak pulang sekolah mereka langsung menuju rumah Ken setelah mendengar apa yang Kai dan Satria ucapkan. Mereka seperti pemuda pada umumnya. Kenakalan remaja pada umumnya yang tentu tidak diketahui oleh orang tuanya. Auto digampar ama mommy Kirei kalo ketauan.
" Wah gila sih itu ceweknya aktif banget". Rendra mulai mengomentari apa yang mereka tonton saat ini.
Saat ini keenam pemuda itu tengah duduk didepan laptop milik Satria yang tengah memutar blue film yang membuat mereka merem melek. Bibit-bibit mesum besutan Kai sama Satria..Jangan ditiru buat yang nggak punya pertner duet ya, bahaya.
"Buset..gede". Celetuk Ken membuatnya mendapat hadiah tempelengan dari Kai.
" Film kaya gini lo pada pantengin mulu. Dosa lo pada". Ucap Akbar, namun matanya juga tengah menatap layar laptop milik Satria.
"Lagu lu Bar..pen gue keplak tu pala". Cibir Satria membuat Akbar nyengir.
" Jangan terlalu menghayati Al..kaga ada partner yang ada lo ssolo karir ama sabun". Ucap Rendra yang melihat Al sejak tadi diam dan fokus pada layar laptop.
"Mulut lo Ren.." Sinis Al
"Suka bener". Kai menimpali hingga membuat mereka tertawa sesaat, kemudian keenamnya kembali fokus menatap layar laptop.
Mereka bukan pemuda suci yang tak mengerti tentang sesuatu hal yang seperti itu. Hanya saja mereka masih punya iman untuk tidak bertingkah yang melenceng dan melanggar norma agama.
Saking fokusnya mereka semua, tak ada seorangpun yang mendengar pintu diketuk bahkan teriakan-teriakan yang berasal dari pintu kamar Kai yang tidak terkunci.
" Abaaaang.." Teriak Naya sambil menendang pintu sang kakak beberapa kali.
"Abaaaaaaaaaaang". Teriakan Naya semakin kencang namun tetap tak ada tanggapan.
" Nay udah pegel ini pegang nampan". Ucapnya yang mulai merasa kram pada kedua tangannya yang sedang menopang nampan berisi minuman dan cemilan untuk sang kakak dan teman-temannya
"Pada ngapain sih? Pada tidur ya??". Teriak Naya untuk kesekian kalinya.
" Naya masuk ya bang.." Dengan kesusahan, Naya berhasil membuka pintu kamar sang kakak.
Dari kejauhan ia melihat kakak dan kelima temannya duduk membelakanginya. Ia coba melongokkan kepalanya untuk melihat apa yang sedang menjadi pusat perhatian keenam pemuda itu hingga panggilannya tak didengar. Namun ia tak melihat apa yang sedang dilihat oleh para pemuda itu.
"Pada ngapain sih?". Tanya Naya namun dirinya seperti tak dianggap.
Naya berjalan mendekat, semakin dekat, semakin dekat lagi..dan semakin dekat pula dirinya bisa mendengar suara-suara aneh yang belum pernah ia dengar sebelumnya.
" Abang nonton apa?? Kok suaranya kaya gitu??". Seperti maling yang tertangkap tengah mencuri, keenam pemuda itu mematung sesaat sebelum masing-masing mereka melompat dan segera menutupi laptop dengan tubuhnya.
"Pada nonton apa sih?? Nay mau ikut lah". Ucap Naya berusaha melihat apa yang sedang kakaknya tonton.
" JANGAAAN!!!". Teriak keenamnya bersamaan membuat Naya terkejut.
"Ja-jangan ya..tadi itu, ehm..tadi tu...." Akbar yang berdiri paling dekat dengan Naya melirik teman-temannya meminta bantuan untuk memberi penjelasan pada Naya.
"Tadi itu----" Beo Naya menatap Akbar meminta penjelasan.
"Tadi itu kita nonton film pembantaian. Lo nggak boleh liat". Sahut Al cepat membuat Naya menoleh menatap Al.
" Kok ada suara ah ah nya gitu? Emang gimana dibantainya?? Kok nggak teriak?". Tanya Naya beruntun membuat mereka kesusahan menjelaskan.
"Itu soalnya..apa ya, ehm.." Akbar berpikir sejenak sebelum memberi alasan yang masuk akal pada Naya.
"Lehernya kena sabet celurit Nay, jadi pas mau teriak aaah kenceng, udah nggak keluar suaranya". Ken dan yang lain memberikan acungan jempol pada Akbar.
" Beneran kak?". Tanya Naya pada Akbar yang langsung mengangguk cepat.
"Ish..nonton kok begituan sih. Serem". Naya bergidik membayangkannya.
Sementara keenam pemuda itu bernafas lega ketika Naya percaya dengan ucapan Akbar dan Al. Satria segera menyimpan laptopnya setelah tadi mematikannya.
" Bisa digorok kita kalo ampe ketauan". Bisik Satria pada si kembar yang langsung mengangguk.
Jantung keenam pemuda itu masih berdetak tak beraturan, bahkan lebih parah daripada saat mereka melakukan olahraga disekolah. Hampir saja bisnis besar mereka diketahui Naya yang masih terlalu polos untuk melihat hal yang bisa mencemari otak sucinya.
#####
__ADS_1
Punten-punten temen-temen semuaaa..kasih double up yang panjang pake banget-banget nih hari ini..
Bonus kemaren libur up ya man teman..semoga suka semuaaaa...