Imperferct Partner

Imperferct Partner
kecelakaan


__ADS_3

Hari-hari dilalui Naya dengan bahagia. Tak pernah sekalipun Naya merasa tak bahagia, Akbar selalu membuatnya tak memiliki kesempatan mengeluh. Segala bentuk cinta Akbar curahkan pada Naya. Membuat cinta Naya pada lelaki itu semakin besar saja.


Sudah beberapa bulan setelah pertunangannya dengan Akbar. Mereka memang memutuskan pernikahan akan dilaksanakan ketika Naya menyelesaikan pendidikan strata satunya yang kurang dari satu tahun lagi.


Pagi itu seperti biasa, Naya bersiap untuk pergi ke kampus bersama kakak iparnya, Aisha. Seperti biasa pula, mulut cerewet Kai akan mewanti-wanti adiknya itu untuk menjaga kakak ipar dan calon keponakannya.


"Jagain Aisha ya, dek. Jangan ampe dia kecapekan, ka---"


"Kalo kakak ipar aku ini pengen makan apa-apa usahain cariin. Jangan sampe lepas dari pengawasan, kalo ada apa-apa cepet hubungi abang". Setiap pagi Naya selalu mendengar kalimat itu berulang. Ia sampai hafal luar kepala dengan pesan kakaknya itu.


" Bagus..emang pinter adek abang". Puji Ken membuat Naya meliriknya jengah.


"Apal banget sih Nay". Goda Khanza yang sedang duduk disamping Ken.


" Gimana nggak apal mbak. Tiap pagi diulang terus kaya radio rusak". Cebik Naya membuat Ken dan Khanza tergelak.


kriing..kriing..


Ponsel Naya berbunyi didalam saku celananya, matanya berbinar melihat id pemanggil nya yang bertuliskan 'Biru ku'. Dengan semangat, Naya menggeser ikon telepon berwarna hijau dan menempelkannya ditelinga.


"Assalamualaikum Sayang..kakak nggak bisa jemput kamu ya nanti siang. Kakak ada rapat sama dewan direksi siang ini.."


"Wa'alaikumsalam..Gapapa kak..Nay bisa pergi sendiri".


" Maafin kakak ya sayang..nanti kakak telpon lagi. Love u sayang, Assalamualaikum ".


" Wa'alaikumsalam kak.." Naya menatap layar ponsel nya yang sudah hitam. Ia tersenyum maklum, calon suaminya itu memang sangat sibuk mengembangkan perusahaan yang ia rintis sejak masih berkuliah dulu. Dan kini perusahaan itu mulai mengembang dan semakin besar.


"Ayo Sha kita berangkat.." Ajak Naya menggandeng tangan Aisha.


"Ponakan onty yang didalem sana..dengerin onty baik-baik ya..besok kalo udah keluar jangan kaya papi kamu. Ribet". Sinis Naya melirik kakaknya yang sudah melotot mendengar cibirannya.


" Heh..jangan ngajarin anak gue kaga-kaga ya". Omel Kai yang diacuhkan oleh Naya.


"Kak..aku pergi dulu ya". Aisha segera menengahi sebelum terjadi perdebatan yang semakin melebar kemana-mana.


Pagi itu seperti biasa, seluruh anggota keluarga pergi beraktivitas dengan kesibukan masing-masing. Hanya menyisakan Kirei dan Khanza saja yang berada dirumah.


##***###


Sejak Aisha resmi menjadi kakak iparnya, Naya sudah seperti bodyguard yang selalu menempel kemanapun Aisha pergi. Tentu saja atas perintah kakaknya yang menyebalkan itu. Ditambah lagi kini kakak iparnya itu tengah mengandung keponakan pertamanya. Semakin cerewet saja kakak lelakinya yang satu itu. Hampir setiap jam Kai akan menelponnya dan menanyakan keadaan Aisha kepadanya.


" Udah bang..udah. Ya Allah.."


"Lo bawa ke kantor lo aja dah bang kalo gini. Pusing gue lo telponin nanya itu-itu mulu". Hilang sudah kata 'aku kamu' dari bibir mungil Naya. Jika sudah kelewat kesal, maka 'lo gue' akan keluar dengan mulus dari bibir gadis itu.


Naya mematikan ponselnya. Lama-lama gemas juga ia terus dihubungi oleh si sableng Kai. Padahal baru setengah jam lalu Kai menghubunginya untuk menanyakan keadaan Aisha.


" Kak Kai ya, Nay??". Naya hanya mengangguk sambil tersenyum pada Aisha.


"Maaf ya..kamu jadi repot jagain aku". Ucap Aisha merasa tak enak.


" Kaga Sha..kaga ngerepotin sama sekali. Aku seneng bisa jagain kamu sama calon ponakan aku. Suami kamu aja yang minta dibanting, nanya mulu". Naya kembali kesal ketika membahas Kai.


Aisha terkekeh pelan melihat wajah ditekuk Naya. Tak berselang lama ponsel Naya kembali berbunyi, tanpa melihat id si pemanggil Naya langsung mengangkat telponnya dan mengomel.


"Abang !! gue pites ya lama-lama lo. Baru lima menit lalu lo telp---" Naya tak meneruskan ucapannya.


"Oh..ya-ya hallo. Maaf, saya kira orang yang mengganggu saya.." Naya terlihat salah tingkah.


"Iya benar dengan saya sendiri..maaf dengan siapa?". Aisha hanya diam mendengarkan Naya berbicara ditelepon.

__ADS_1


" Ap--apa??". Aisha panik karena melihat wajah Naya tiba-tiba pucat pasi.


"Ng-nggak..Nggak mungkin. Anda pasti salah". Naya menggelengkan kepalanya kuat.


" Saya akan kesana sekarang". Naya mematikan ponselnya. Wajahnya sudah dipenuhi air mata hingga membuat Aisha semakin panik.


"Nay..kamu kenapa?". Tanya Aisha khawatir


" Kak Biru..k-kak Biru---"


"Kak Akbar kenapa Nay??". Aisha jadi panik sekaligus bingung.


" Di-dia ke-kecelakaan". Tubuh Naya goyah, namun Aisha mencoba menahannya.


"Aku harus kerumah sakit sekarang. Kamu disini. Aku akan hubungi abang". Naya hendak berlalu, namun Aisha menahannya.


" Kamu tidak dalam kondisi baik untuk berkendara Nay. Aku akan menemani kamu".


"Jangan Sha.."


"Kita pergi sekarang". Aisha menarik lengan Naya yang terlihat seperti orang linglung dan hanya menurut pada Aisha. Air matanya sudah mengalir deras membasahi wajah ayunya.


" Kita naik taksi Kanaya". Aisha melarang Naya yang hendak menaiki mobil. Menariknya ke pinggir jalan raya untuk mencari taksi.


"Ke rumah sakit---"


"Dimana kak Akbar dirawat Nay?". Tanya Aisha menyadarkan Naya dari lamunannya.


" Ru-mah sakit XXX". Lirih Naya yang masih didengar supir taksi itu.


"Tolong cepat pak". Aisha memberi instruksi yang diangguki oleh si supir. Diam-diam ia menghubungi suaminya, mengabari jika saat ini dirinya dalam perjalanan ke rumah sakit karena Akbar mengalami kecelakaan.


Ia meminta suaminya itu untuk datang kesana saat ini juga, ia juga meminta Kai untuk mengabari Ken.


" Pasien atas nama Sabiru sudah dibawa keruang operasi mbak". Tubuh Naya bergetar hebat mendengar ucapan perawat itu. Ada apa?? Apa yang terjadi hingga Birunya harus berada diruang operasi.


"Di-dimana ruangan nya sus?". Sebisa mungkin Naya menguasai dirinya. Ia tak mungkin pingsan disana dan tak mengetahui kondisi calon suaminya.


Setelah mendengar arahan perawat, Kirei kembali berlari ke arah yang ditunjukkan oleh perawat. Langkahnya memelan ketika sudah mendekati ruangan operasi. Air matanya semakin mengalir deras melihat seorang wanita paruh baya tengah menangis didepan ruang operasi.


Kaki Naya seolah tak mampu lagi menapak bumi. Keatkutannya semakin besar untuk lebih dekat dengan ruang operasi. Sementara Aisha yang ditinggalkan Naya, saat ini sedsng berada diruang IGD untuk mencari Naya dan Akbar.


" Terimakasih sus". Ucap Aisha setelah mendengar penjelasan perawat yang ia temui. Sebelum kakinya melangkah meninggalkan ruang IGD, suara yang sangat ia kenali memanggil namanya.


"Kak.." Ucap Aisha yang melihat Kai dan Ken berjalan cepat ke arahnya.


"Gimana kondisi Akbar Sha?". Tanya Ken tidak sabar.


Aisha hanya menggelengkan kepalanya membuat Ken dan Kai saling pandang.


" Kata perawat, kak Akbar sedang di operasi". Ken dan Kai tak dapat menyembunyikan keterkejutannya.


"Kita kesana". Dengan lembut, Kai menggandeng tangan istrinya. Sementara Ken sudah melesat lebih dulu menyusul Naya.


Kembali ke ruang operasi, Naya memberanikan diri mendekat. Saat jaraknya hanya beberapa meter dari perempuan paruh baya yang masih menangis itu, Naya mencoba memanggilnya.


" M-ma..." Panggil Naya ragu. Wanita paruh baya itu menoleh. Melihat Naya disana, ia segera bangkit dan menghambur memeluk erat Naya. Tangisnya kembali pecah.


"Nay..Akbar Nay..Akbar".


" Kakak kenapa ma..kakak baik-baik aja kan ma?". Naya melepaskan pelukannya. Ia menatap mata calon mertuanya meminta kejelasan.

__ADS_1


"Duduk dulu nak..kalian harus tenang. Kita hanya bisa mendoakan semoga Akbar baik-baik saja". Ayah Akbar berdiri dan menghampiri dua perempuan yang kini tangisannya semakin menyayat hati. Tangis pilu dari seorang ibu dan tangisan penuh kesedihan dari seorang gadis yang mengkhawatirkan kekasih hatinya.


Ken semakin mempercepat langkahnya ketika melihat adiknya menangis dipelukan calon mertuanya. Ia tak sanggup melihat Naya dalam kondisi seperti saat ini.


" Nay.." Panggil Ken membuat Naya menoleh


"Abaang.." Naya bangkit, berlari dan menghambur kedalam pelukan Ken yang hanya bisa mengelus punggung bergetar adiknya.


"Kamu harus kuat Nay..abang yakin kalo Akbar juga bakal kuat". Ucap Ken mencoba membesarkan hati adiknya. Ia kembali membawa Naya untuk duduk disamping ibunda Akbar. Ia ingin mendengar apa yang sebenarnya terjadi pada sahabat sekaligus calon iparnya itu.


" Om..tante.." Sapa Ken sekedar berbasa-basi sebelum menanyakan perihal kecelakaan yang dialami Akbar.


"Bagaimana ceritanya om?". Tanya Ken pada ayah Akbar yang terlihat lebih tenang dibandingkan ibunya.


" Om tidak terlalu paham..tapi menurut polisi, mobil Akbar menabrak pembatas jalan sebelum terguling. Menurut beberapa saksi, Akbar berusaha menghindari truk yang berhenti mendadak ditengah jalan". Jelas ayah Akbar membuat tangisan Naya semakin kencang saja.


"Ada pendarahan diotaknya..benturan di kepalanya terlalu keras. Oleh sebab itu dokter harus segera mengambil tindakan operasi". Papa Akbar menghela nafas berat.


"Sayang.." mama Akbar memeluk Naya yang balas memeluknya erat.


"Kakak nggak akan kenapa-kenapa kan ma? Kakak pasti balik sama kita kan ma.." Tanya Naya lemah. Ia benar-benar menjadi gadis tak berdaya saat ini.


"Kita doakan Akbar ya sayang.." Mama yang sudah lebih tenang mencoba menenangkan calon menantu tersayangnya itu.


Sudah hampir 4jam mereka menunggu didepan ruangan operasi. Kai dan Aisha sudah lebih dulu pulang satu jam lalu. Kondisi kehamilan Aisha menjadi pertimbangan Kai untuk membawa istrinya itu pulang lebih dulu.


Setelah penantian panjang, akhirnya lampu ruangan operasi padam. Menandakan bahwa operasi yang berjalan didalam telah usai. Kini jantung mereka berdebar menunggu dokter keluar dari ruangan itu.


"Bag-bagaimana kondisinya dok?". Begitu melihat doker keluar, Naya segera menghampirinya dan bertanya kondisi Akbar.


" Dengan?". Tanya Dokter menatap Naya.


"Saya..saya calon istrinya dok. Bagaimana kondisinya dok?". Tanya Naya mendesak. Ia tak sabar mendengar jawaban dokter yang menangani Akbar.


" Operasinya sukses. Semua berjalan lancar..kami akan menempatkan pasien di ICU dulu untuk kami pantau 24jam kedepan". Ucapan dokter bagaikan air ditengah teriknya gurun pasir.


Naya dan mama Akbar tak dapat menahan tangis haru mereka mendengar Akbar yang lolos dari maut. Sungguh mereka semua sangat bersyukur.


Tak berselang lama keluar dua perawat mendorong brangkar berisi tubuh tak sadarkan Akbar. Ditubuh lelaki itu terpasang berbagai peralatan medis, kepalanya diperban sepenuhnya karena baru saja dioperasi. Naya kembali meneteskan air matanya melihat kondisi Akbar yang memprihatinkan. Banyak luka memar dan luka robek disekujur tubuh lelaki itu.


"Kakak.." Lirih Naya sambil mengikuti brangkar yang membawa tubuh Akbar.


Naya tak sedikitpun pergi dari rumah sakit, meski sudah dibujuk oleh semua orang. Namun Naya bersikukuh menunggu pujaan hatinya membuka matanya. Gadis itu bahkan tidur didepan ruang ICU, tepatnya dikursi rumah sakit itu. Ia tak peduli jika badannya akan terasa sakit atau apapun. Yang ia inginkan hanya berada dekat dengan pujaan hatinya.


****-------****


Doa Naya dan semua orang seolah didengar oleh sang pencipta. Pagi ini mereka mendapat kabar baik jika kondisi Akbar sudah stabil dan bisa dipindahkan ke ruang perawtan biasa. Betapa bahagianya Naya dan seluruh keluarga mendengar kabar itu.


Saat ini Naya sedang duduk disamping ranjang Akbar. Tangannya menggenggam tangan lemah yang biasanya selalu melindungi dirinya dari apapun. Beberapa kali Naya mencium punggung tangan Akbar yang masih belum sadar.


Keluarga hanya bisa melihat dan memberi dukungan untuk Naya yang terlihat hancur melihat Akbar dengan kondisi tak berdaya seperti ini.


"Pasti sakit ya kak.." Lirih Naya. Air matanya kembali menetes hingga mengenai punggung tangan Akbar yang tengah ia genggam.


"Bangun ya kak..Nay nggak bisa liat kakak kaya gini". Naya menangis sesenggukan, ia menelungkupkan wajahnya disamping tubuh Akbar. Tubuhnya bergetar hebat menahan tangisan yang hampir meledak.


" Nay nggak bisa tanpa kakak". Suara Naya terdengar bergetar. Semua yang ada disana ikut meneteskan air matanya.


"Sa-yang..." Naya menghentikan tangisannya dan langsung mendongak. Matanya bertemu dengan mata sayu Akbar yang memaksakan senyum padanya.


"Ka-kakak..." Naya tak bisa melanjutkan ucapannya. Ia sudah memeluk tubuh Akbar erat seolah tak ingin melepaskan nya lagi.

__ADS_1


Ken yang melihat Akbar sadar segera memanggil dokter dan perawat yang bergerak cepat memeriksa kondisi Akbar. Dokter tersenyum lega setelah memeriksa kondisi Akbar.


"Syukurlah..tuan Akbar sudah melewati masa kritisnya". Penjelasan dokter membuat semua orang bernafas lega. Naya kembali menangis, tangis bahagia sekaligus lega.


__ADS_2