Imperferct Partner

Imperferct Partner
menyadari cinta


__ADS_3

"Saya harap bapak mempertimbangkan keinginan saya". Naya membuka suara karena Al hanya diam dan menatap nanar kertas berisi pengunduran dirinya.


" Saya permisi pak.." Naya membungkuk karena Al tak menjawab. Ia berbalik dan hendak keluar saat tiba-tiba sebuah tangan kekar merengkuh tubuhnya dari belakang.


Naya membeku. Tubuhnya seolah kaku tak bisa bergerak merasakan pelukan itu semakin erat. Dirinya benar-benar ingin menangis kini, namun sebisa mungkin Naya menahannya.


"P-pak.." Lirih Naya


"Aku tahu kamu menghindariku Kay. Aku tau ini semua karena perasaanku". Naya merasa punggungnya basah. Apakah Al menangis?? Apakah Naya membuatnya menangis?? Naya benar-benar mengutuk dirinya.


" Kamu tidak perlu resign Kay.."


"Biar aku..biar aku yang menghilang dari pandanganmu". Hati Naya terasa ngilu mendengar ucapan Al. Sungguh bukan ini yang Naya inginkan.


" Kamu tidak perlu mengorbankan cita-citamu untuk menjadi wanita karier yang sukses hanya karena lelaki seperti ku Kay". Sungguh Naya ingin berkata jika bukan seperti ini maksud nya.


"Aku tahu kamu pasti sangat membenciku..hingga begitu inginnya kamu menghindari ku". Naya merasa pundak dan punggungnya benar-benar basah kini. Suara Al pun terdengar sangat bergetar dan parau.


" Kamu harus tetap disini..aku janji. Aku janji akan menghilang dari pandanganmu untuk selamanya Kay..Aku janji". Al semakin mengeratkan pelukannya.


Al membalikkan tubuh Naya hingga gadis itu bisa melihat betapa rapuhnya ia kini. Dibenci dan dihindari oleh Naya benar-benar membuatnya tak berdaya. Tanpa mengucapkan apapun, Al memeluk Naya, memeluknya dengan sangat erat seolah dirinya akan mati jika melepaskannya.


"Jangan Kay..tolong sebentar aja. Setidaknya aku bisa membawa kenangan ini bersama denganku saat aku bener-bener nggak bisa lagi lihat kamu". Al menahan tubuh Naya yang berontak melepaskan diri.


" Berbahagialah Kay..maafkan aku". Al mencium kening Naya dengan sangat lembut dan lama. Bahkan Naya memejamkan matanya menikmati kehangatan kecupan itu.


"Aku pamit..jaga dirimu". Naya membuka matanya saat tak lagi merasakan kehangatan itu.


Al mengusap air matanya dengan kasar, memberikan senyum terbaiknya pada Naya yang kini menatapnya juga dengan tatapan yang tak bisa Al mengerti.


Tanpa menunggu respon Naya, Al segera keluar dari ruangannya. Meninggalkan Naya yang jatuh terduduk didepan pintu ruangan Al. Air matanya perlahan mengalir, apalagi mengingat setiap kata yang Al ucapkan.


Ia ingin mengejar Al, namun ia menahannya. Ia tidak ingin semakin menyakiti lelaki baik seperti Al.


" Bukan gini..bukan gini maksud aku kak..Maaf..maafin aku kak". Naya terisak seorang diri. Menikmati sakit yang merasuk kedalam sanubarinya.


Entah berapa lama Naya menghabiskan waktu untuk menangisi keadaan. Mengapa dunia begitu kejam mempermainkan perasaannya, tuhan mengambil lelaki yang ia cintai saat dirinya juga tengah mencintainya sangat dalam. Dan kini saat ada lelaki yang mencintai dirinya, mengapa bayang masa lalu membuatnya tak bisa maju dan menikmati cinta barunya.


****####****


Tiga hari sejak hari itu, Al benar-benar menepati semua ucapannya. Ia tak pernah sekalipun menampakkan dirinya dikantor maupun ditempat Naya berada. Dan itu berhasil membuat hati Naya tidak tenang dan diliputi perasaan bersalah.


Semua pekerjaan dilimpahkan pada Rian. Bahkan pertemuan dengan jajaran direksi yang harusnya dihadiri langsung oleh Al pun diwakilkan pada asistennya itu.


"Emang dasar bos kaga akhlak. Bisa mati muda aku kalo suruh kerja kaya kuda begini". Sudah tiga hari gerutuan dan makian itu Naya dengar.


" Lagian Yohan kenapa sih tiba-tiba mau balik ke negara S". Ucap Safira yang tak kalah sibuk dengan Rian.


"Kalian ada masalah Nay??". Tanya Rian membuat Naya terhenyak. Sejak tadi pikirannya sudah kacau hingga tak menyimak dengan baik perbincangan kedua atasannya itu.


" A-apa bang??".


"Kalian berdua kenapa sih??". Tanya Rian kesal.


" Yang satu mau minggat. Yang satu kagak fokus". Imbuhnya


"Si Yohan berangkat kapan?". Tanya Safira.


" Hari ini". Sahut Rian dengan kesal.


"Itu orang beneran mau pergi?". Tanya Safira ragu.


" Kayanya sih iya..Tau tuh kesambet setan mana tiba-tiba mau balik ke LN". Naya kembali dibuat kaget dengan ucapan kedua teman Al itu.


"Aku pergi dulu deh Ra. Aku harus menemui jajaran direksi dan menyampaikan apa yang diperintahkan bos gila itu". Gerutu Rian meninggalkan Safira dan Naya disana.


"E-emang pak Yohan mau kemana mbak?". Cicit Naya. Tiba-tiba ia teringat dengan ucapan Al tiga hari lalu saat dirinya memberikan surat resign nya pada lelaki itu.


" Kamu harus tetap disini..aku janji. Aku janji akan menghilang dari pandanganmu untuk selamanya Kay..Aku janji". Ucapan Al terus terngiang ditelinga Naya.


Dalam hati ia berdoa semoga apa yang ia pikirkan dan ia takutkan tidak benar-benar terjadi. Hatinya tiba-tiba was-was, takut jika lelaki itu benar-benar pergi jauh dan tak bisa lagi ia gapai.


"Dia mau balik ke LN. Urusan kantor ini dia serahin semua ke Rian. Makanya dia amuk-amukan terus". Safira terlihat lelah, jika biasanya dirinya bisa bersantai. Sejak tiga hari lalu dirinya dibuat sibuk dengan jadwal kerja yang berantakan akibat ulah Al yang tiba-tiba mogok tidak mau pergi ke kantor.


" K-kapan mbak??". Tanya Naya, matanya sudah memanas siap menyemburkan lahar panasnya.

__ADS_1


"Hari ini..Mungkin dia sudah dibandara sekarang". Ucap Safira setelah melihat jam di pergelangan tangannya.


" Ha-hhari ini???". Cicit Naya


"Sejam lagi pesawatnya take off..harusnya sekarang dia ada di bandara". Safira masih ingat betul tiket pesawat yang ia pesan atas nama Al.


" Hey..Nay!! Kamu mau kemana??!!!". Teriak Safira


"Kanaya!!!". Teriakan Safira tidak didengar Naya. Gadis itu sudah berlari kencang setelah menyambar tas dan ponselnya.


" Kenapa sih tuh bocah berdua". Gumam Safira bingung.


Naya berlari Seperti orang gila, bahkan beberapa kali menabrak orang. Didalam pikirannya hanya ada Al dan Al saja. Mendengar ucapan Safira yang menyatakan bahwa Al akan tinggal di LN membuat Naya tak tenang.


Hatinya diliputi perasaan takut. Takut kehilangan, takut jauh dari lelaki yang rupanya sudah berhasil merebut hatinya setelah kepergian Akbar kekasihnya.


"Kakak nggak boleh pergi. Kakak nggak boleh ninggalin aku setelah kakak ambil hati aku". Gumam Naya terus berlari


Ia berlari ke jalan raya, jarak dari kantor ke bandara cukup jauh. Akan memakan waktu lama jika dirinya memakai taksi. Naya memutuskan naik ojek yang mangkal didepan kantor.


" Bandara ya pak. Ngebut". Pinta Naya setelah memasang helmnya.


"Siap neng.."


Sepanjang jalan Naya tidak tenang. Berkali-kali ia melirik jam ditangannya. Ingin dia menghentikan waktu sejenak agar dirinya bisa kesana sebelum Al pergi.


"Aku mohon bantu aku ya Allah..aku nggak mau lagi kehilangan orang yang aku cintai". Sepanjang jalan, Naya terus merapalkan doa. Berharap akan ada keajaiban yang membuat Al membatalkan kepergiannya.


" Maaf kak..maafin aku yang bodoh. Maafin aku yang terlambat menyadari bahwa aku juga sudah jatuh cinta sama kakak". Gumam Naya menghapus air mata yang terus menetes sejak dirinya mendengar Al akan kembali ke LN.


Naya memberikan dua lembar uang berwarna merah pada tukang ojek yang terus berteriak jika uangnya kelebihan. Namun Naya tak menghiraukannya. Gadis itu terus membawa langkahnya semakin dalam memasuki bandara.


Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri melihat sekelilingnya. Berharap menemukan orang ia cari. Tak patah semangat, Naya pergi ke bagian informasi dan menanyakan penerbangan menuju negara S.


Tubuhnya terasa lemas tak bertenaga ketika mendengar pesawat dengan tujuan negara S baru saja take off 10menit lalu.


Naya terlambat, cintanya kembali dibawa pergi. Meninggalkan dirinya yang terus terisak mengingat kebodohannya melukai hati Al yang sudah tulus padanya.


Lama Naya diam dan menangis dibandara. Meratapi nasib yang tak juga berpihak padanya. Sekarang dirinya harus apa?? Naya terus berpikir.


Sekarang hal pertama yang harus ia lakukan adalah menemui Safira.


" Ya..aku harus kembali dan menemui mbak Safira ". Naya menghapus air matanya. Bukan saatnya ia menangis, jika Al bisa melakukan apapun untuk dirinya, maka kini dirinya juga harus berjuang untuk Al.


" Aku harap kakak merestui kami. Aku akan menyimpan nama kakak dan kenangan indah kita didalam hatiku..tapi izinkan aku untuk mencintai lelaki lain". Gumam Naya menggenggam cincin pemberian Akbar yang ia jadikan bandul sebuah kalung.


Naya masuk kedalam taksi yang akan membawanya kembali ke perusahaan Al. Naya merancang rencana tentang apa yang akan ia lakukan selanjutnya setelah mendapat alamat Al.


"Mbak..mbak Safira..". Naya bahkan sedikit berlari menghampiri Safira yang terlihat sibuk.


" Hah baguslah kamu kembali.." Naya dapat melihat kelegaan diwajah Safira


"Mbak----"


"Tahan pertanyaan kamu. Apapun itu. Bantu aku mengerjakan ini".


" Tapi mbak.."


"Kerjakan ini dulu Nay.."


"Bentar aja. Abis mbak jawab aku bakal kerjain semua". Naya memegang lengan Safira, menatapnya penuh permohonan.


" Oke apa?? Cepet".


"Mbak tahu alamat pak Yohan yang di negara S??". Tanya Naya semangat.


" Buat apa?? Mbak nggak tahu lah..Rian yang tahu". Bahu Naya merosot mendengar jawaban Safira.


"Aku tanya pak Rian dulu.."


"Mau kemana?? Kerjain dulu. Rian juga masih meeting". Safira menahan lengan Naya.


" Ini apa yang mau dikerjain mbak?? Semua udah dikerjain". Naya membolak balikkan kertas yang ia pegang.


"Astaga.. aku lupa. Letakkan dokumen itu diruang direktur". Perintah Safira membuat Naya diam.

__ADS_1


" Pak Yohan kan pergi mbak.. " Lirih Naya


"Sudah letakkan saja Naya.." Dengan langkah gontai, Naya membawa berkas itu kedalam ruang direktur tanpa mengetuknya. Karna Al nya sudah pergi. Naya benar-benar ingin cepat menyelesaikan pekerjaannya dan mencari Rian.


Naya meletakkan dokumen ke atas meja Al. Perasaan rindunya semakin terasa menyesakkannya. Mengapa baru sekarang ia menyadari betapa pentingnya arti lelaki itu bagi hidupnya.


Naya menghentikan langkahnya ketika ia melihat punggung lebar membelakanginya. Naya tahu pasti punggung siapa itu. Ah..Sepertinya rindu sudah membuat matanya sedikit bermasalah. Bahkan kini ia berhalusinasi melihat punggung Al.


Tubuh Naya membeku ketika pemilik punggung itu berbalik. Matanya menatap tak percaya apa yang ia lihat. Benarkah ini? Atau hanya sekedar ilusi karena rasa rindunya pada lelaki itu??.


"K-Kay.." Suara itu, tatapan mata itu. Nyata kah ini?? Benarkah apa yang didepannya kini??


"K-kak Al??". Lirih Naya tak percaya. Ia bahkan menggosok matanya berkali-kali untuk memastikan yang ia lihat bukan lah illusi.


" M-maaf..aku tidak bermaksud menampak-kan------"


Tubuh Al kaku tak bisa meneruskan apa yang ingin dia katakan saat Naya berlari menabrak tubuhnya dan memeluknya begitu erat. Apalagi gadis itu menangis dipelukannya.


"A-aku akan pergi Kay. Aku mohon jangan menangis.." Al mengira Naya menangis karna Al mengingkari janjinya untuk tidak menampakkan dirinya didepan Naya lagi.


"Jangan pergi.." Lirih Naya


Al diam..mencerna ucapan Naya yang kini membuatnya meragu. Apakah kini trlinganya bermasalah? Atau dirinya bermimpi terlalu tinggi mengharap Naya mencegahnya pergi.


"Jangan pergi..jangan pergi.. jangan pergi lagi kak. Aku mohon jangan". Naya semakin membenamkan wajahnya didada bidang Al.


" Kay.." Al memberanikan diri membalas pelukan Naya dan memberikan elusan lembut dipunggung gadis itu.


"Aku mohon kak. Jangan pergi.." Naya mendongakkan kepalanya hingga Al bisa melihat wajah sembabnya yang sedari tadi menangis.


"Aku sayang sama kakak..aku cinta sama kakak. Aku mohon jangan tinggalin aku lagi". Naya kembali membenamkan wajahnya didada Al hingga tak melihat wajah terkejut Al yang mendengar pengakuan cinta Naya.


Naya melepaskan pelukannya saat tak mendapat jawaban dari Al. Apakah Al marah padanya? Apa lelaki itu sudah terlanjur kecewa padanya?? Berjuta pertanyaan memenuhi otak Naya. Dengan perlahan ia mengangkat wajahnya, rupanya Al juga tengah menatap dirinya. Keduanya saling bertatapan.


" Kak.." Lirih Naya


"K-kamu ngomong apa Kay??". Tanya Al ragu. Ia tak mau terlalu percaya diri. Dirinya takut jika semua hanya sebatas khayalannya saja.


" Aku sayang sama kakak..aku cinta sama kakak. Aku mohon jangan tinggalin aku". Naya mengulang setiap katanya tanpa keraguan sedikitpun.


"A-aku..."


"Aku nggak nerima penolakan kak. Kakak harus cinta juga sama aku..aku nggak mau tau". Potong Naya cepat, bahkan gadis itu berani bertindak nakal dengan mengecup singkat bibir Al.


Saat ini Al benar-benar tidak percaya dengan apa yang ia dengar, apalagi barusan ia dikecup oleh Naya?? Mimpi indah macam apa ini?? Tolong jangan bangunkan Al dari mimpi indah ini.


" Kak..." Naya mulai ragu ketika Al hanya diam sejak tadi. Apakah pernyataan cintanya sudah terlambat?? Apakah lelaki ini sudah terlanjur kecewa padanya??? Berjuta pertanyaan menakutkan berseliweran diotaknya.


"AKkkhh...." Naya memekik ketika tubuhnya melayang dan berputar akibat ulah Al.


"Kakak.." Pekik Naya yang takut terjatuh.


"Makasih Kay..makasih.." Ucap Al memeluk Naya lebih erat. Al bertekad, jikapun ini hanya mimpi, Al akan berusaha mewujudkannya.


"Aku juga sangat mencintai kamu Kay..sangat. Bahkan cintaku padamu lebih besar dari cintaku pada nyawa---"


Naya kembali mengecup bibir Al lebih lama. Ia tahu apa yang akan Al ucapkan. Dan Naya tidak menyukainya. Entah keberanian dari mana Naya berani mencium Al lebih dulu.


"Jangan pernah bicara begitu kak. Berjanjilah tidak akan pernah meninggalkan ku..apapun yang terjadi". Pinta Naya penuh permohonan.


" Aku janji..aku janji akan selalu bersamamu apapun yang terjadi Kay..sampai kapanpun kita akan bersama". Al mendaratkan ciuman bertubi-tubi diwajah Naya. Dan berakhir melabuhkan bibirnya dibibir mungil yang sudah lama ia idam-idamkan. Mel*matnya lembut, menghisapnya penuh perasaan. Al menyalurkan seluruh perasaannya selama 6tahun ini. Naya memejamkan matanya, menikmati setiap sentuhan lembut Al yang membuatnya semakin terlena.


Mereka tidak tahu jika diluar ruangan Al sedang ada duo manusia julid yang membicarakan kelakuan manusia yang sedang dimabuk cinta itu.


.


########


.


Oke cut...takut kebablasan nanti adegan ***-*** nya. Dosa..bukan mahram.. hahahahha


Aku tepatin janji kasih up lagi ya..semoga sukaaaaaa...


Dukung terus karya othor ya man-teman. Kita cepetin cerita ini, nanti kita ganti cerita Diandra yang sedikit pilu..

__ADS_1


Ikuti terus cerita yang othor buat. Semoga menghibur dan nggak bosen buat bacanya yaaa...


__ADS_2