Imperferct Partner

Imperferct Partner
Bocil


__ADS_3

"Aaaaaaaaa...!!!". Teriakan beserta sebuah tendangan maut membuat Tama terlempar dari ranjang. Matanya yang awalnya tertutup rapat langsung terbuka lebar karena merasa nyeri pada punggung dan pant**nya.


"Mesum lo ya!!! Ngapain lo disini hah?!! Pake peluk-peluk gue lagi lo!!". Hardik Kirei menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.


Alis Tama hampir menyatu mendengar ucapan Kirei. Apa sekarang istrinya amnesia? Bukankah selama di rumah ayah mertuanya mereka juga tidur bersama??


Ah Tama lupa, Tama selalu tidur saat Kirei sudah tertidur dan bangun sebelum gadis itu bangun. Jadi sekarang? Apakah istrinya itu berpikir dirinya memperk*sa istrinya sendiri???


"Ngapain lo?!!". Suara Kirei terdengar sangat nyaring memenuhi telinga Tama hingga membuat lelaki itu menutup kedua telinganya dengan telapak tangan.


Perlahan Tama bangkit, mengelus pant**nya yang terasa berdenyut karena mendapat morning kiss dari lantai kamarnya.


"Gue suami lo kalo lupa!". Dengus Tama kemudian berlalu ke kamar mandi. Pagi ini ia ada pemotretan dengan client pentingnya, ia meninggalkan Kirei yang diam mencerna ucapan Tama.


"G*bl*k banget sih lo, Ki". Kirei menepuk keningnya berkali-kali setelah mengingat segala hal yang ia lalui. Ia benar-benar lupa jika Tama sudah menjadi suaminya beberapa hari lalu.


Kirei segera bangkit, merapikan ranjang yang semalam membuat dirinya tidur dengan sangat nyenyak dalam pelukan suaminya. Dirinya benar-benar merasa bersalah telah menendang sang suami yang masih nyenyak dalam tidurnya.


Kirei segera keluar dari kamarnya. Pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan untuk Tama yang sepertinya akan kembali meninggalkannya seorang diri di apartemen. Ia mencepol asal rambutnya setelah tadi membasuh mukanya dikamar mandi lain.


"Masak apaan ya?". Tanya Kirei pda dirinya sendiri. Kirei membuka kulkas. Setelah beberapa saat berpikir, ia memutuskan membuat omelete untuk sarapannya dan Tama. Kirei belum mengetahui kebiasaan Tama saat sarapan. Ia takut jika membuat makanan berat, Tama tidak akan memakannya.


"Lo lagi ngapain??". Tanya Tama yang berdiri tak jauh dari Kirei.


"Bikin sarapan". Jawab Kirei melanjutkan kegiatan memasaknya.


"Lo bisa masak beneran?? Gue kaga bakal keracunan kan?". Tanya Tama sengaja menggoda Kirei. Ia pernah memakan masakan gadis itu, dan rasanya sangat enak menurutnya.


Kirei berbalik, menatap tajam Tama sambil mengacungkan spatula yang tengah ia pegang dengan mulut komat kamit. Tama yang melihatnya hanya terkekeh geli, kemudian mendaratkan pant**nya dikursi meja makan.


"Makasih istri.." Ucap Tama ketika Kirei meletakkan piring berisi omelete untuk sarapannya. Kirei bergidik, merasa geli dengan panggilan Tama padanya.


"Ini kaga ada racunnya kan?". Tanya Tama saat akan memasukkan potongan omelete kedalam mulutnya.


"Gue kasih sianida! Biar lo ma** terus gue jadi janda rasa perawan. Puas lo!!". Sengit Kirei memasukkan potongan besar omelete kedalam mulutnya dengan kesal.


"Hahaha..gemesin banget sih istri". Tama mengacak gemas rambut Kirei yang langsung mencebik sambil menepis tangan Tama.


"Lo mau ikut gue kerja?". Kirei langsung mengangkat wajahnya, menatap Tama yang juga tengah menatapnya.


"Gue yakin lo bakal bosen. Kali-kali liat laki kerja. Biar lo tau perjuangan gue buat ngasih makan elo. Siapa tau elo jadi cinta kalo liat gue kerja". Tama menaik turunkan alisnya menggoda Kirei yang langsung memutar bola matanya. Jengah dengan kelakuan suami tengilnya.


"Boleh. Tapi gue belom mandi". Setelah berpikir beberapa saat, Kirei mengiya kan ajakan Tama. Sepertinya seru jika ikut Tama bekerja.


"Gue tungguin. Jangan lama-lama tapi. Dandan ama kaga kan sama aja". Kembali Tama menggoda Kirei yang langsung melotot tak terima.


Tanpa menjawab ucapan Tama, Kirei pergi ke kamar dan membersihkan dirinya. Ia akan ikut dengan Tama.


30menit berlalu, Kirei keluar dari kamar dengan menggunakan blouse berwarna putih dengan celana jeans berwarna biru terang. Ia mengenakan sepatu berwarna senada dengan bajunya. Tampilan sederhananya mampu membuat Tama terdiam mengagumi kecantikan istrinya.


"Baju apa aja yang dia pake kenapa bikin ni bocah tambah cantik sih". Batin Tama sedikit tak rela jika kecantikan istrinya akan menjadi pusat perhatian banyak orang nantinya.


"Kenapa?? Aneh ya? Gue ganti dulu deh". Kirei yang menyadari tatapan Tama pada penampilannya merasa tidak percaya diri.

__ADS_1


"Kaga usah. Mau ganti seribu kali juga sama aja". Daripada berkata jujur, Tama lebih memilih megejek penampilan Kirei. Dirinya cukup malu untuk mengakui kecantikan istrinya.


"Maksud lo gue jelek gitu?!". Sengit Kirei yang mengikuti langkah Tama karena tangannya digandeng oleh Tama.


Tama terkekeh, melihat wajah kesal dan cemberut sang istri merupakan kesenangan tersendiri untuk lelaki tampan itu.


"Dasar tamia ngeselin". Sungut Kirei yang memanyunkan bibirnya.


"Jangan suka monyong-monyongin mulut kaya gini didepan laki-laki kalo kaga mau bibir elo abis dimakan ama mereka". Tama mencomot bibir manyun Kirei. Kirei semakin mencebik, sementara Tama semakin mengeratkan genggamannya pada tangan Kirei.


####


"Yang udah punya bini mah beda. Kerja juga dibawa-bawa sekarang mah". Suara Saga sudah menyambut kedatangan Kirei dan Tama.


"Aura nya tu beda ya kalo pengantin baru". Timpal Gery tak mau kalah menggoda sahabat baiknya.


Kirei memutar bola matanya jengah. Bertemu dengan makhluk minim akhlak seperti dua teman suaminya itu sudah tidak mengherankan jika yang ia dengar hanya ucapan unfaedah saja.


"Penganten baru mukanya bersinar yak". Saga mendekati Kirei dan memindai wajah cantik itu dari dekat.


"Kaga usah deket-deket juga!". Tama menoyor kening sahabatnya agar menjauh dari wajah istrinya. Melihat Saga berada dekat dengan Kirei membuat Tama tak nyaman.


"Posesip amat lu". Ketus Saga menjauh dari Kirei. Gery terbahak melihat Tama yang sepertinya tidak suka istrinya didekati lelaki lain.


"Biasa penganten baru. Maunya deket-deket ama nempel mulu". Gery menyikut lengan Saga, memberi kode jika sepertinya Tama mulai menaruh hati pada gadis yang telah menjadi istrinya.


Obrolan unfaedah mereka terhenti ketika sebuah mobil datang. Setelahnya turun sepasang kekasih yang sepertinya adalah client Tama.


"Selamat siang pak Tama. Maaf membuat anda menunggu. Kalina berdandan terlalu lama". Seorang lelaki bertubuh tegap dengan garis wajah tegas menghampiri Tama.


Pria bernama Reza itu menatap ke samping Tama dimana Kirei sedang berdiri. Menyadari tatapan Reza pada istrinya, Tama segera memperkenalkan Kirei pada Reza yang masih menatap intens istrinya.


"Perkenalkan, dia istri saya. Maaf saya bekerja membawa istri saya". Tama memperkenalkan Kirei dengan Reza. Kirei mengangkat kepalanya dan bertemu dengan mata tajam milik Reza. Mata keduanya melebar saat sudah melihat jelas rupa wajah masing-masing.


"Es balok!!"


"Bocil!!!".


Pekik keduanya bersamaan membuat kening Tama berkerut dalam. Wajah Reza berubah seketika, terlihat penuh senyum dan kebahagiaan.


Tidak lama calon istri Reza turun,melihat seseorang yang cukup familiar baginya membuat ia mempercepat jalannya.


"Bocil!!". Pekik Kalina, calon istri Reza membuat Kirei menoleh. Matanya semakin melebar kala melihat siapa calon istri Reza.


"Kak Lili!!!". Kirei tak kalah terkejut dari Kalina. Ia berjalan cepat menghampiri wanita itu dan sesaat kemudian mereka sudah saling memeluk seolah sudah ribuan tahun tak bertemu.


"Lo kemana aja bocil. Nggak pernah ada kabar". Kalina mengacak gemas pucuk kepala Kirei yang langsung mencebik kesal.


"Ish..berantakan atuh kak". Sungut Kirei semakin membuat Kalina gemas dan menjembel pipi Kirei.


"Kangen gue tuh ama elo. Masih kaya bocil aja lo ampe sekarang". Kalina semakin gemas dan memainkan pipi Kirei. Sementara Tama dan kedua sahabatnya saling pandang, bingung dengan situasi yang terjadi didepan matanya.


"Jangan salah sayang. Bocil kita ini udah nikah duluan ternyata. Pak Tama ternyata suaminya ni krucil". Reza mendekat dan ikut mengacak rambut Kirei hingga berantakan.

__ADS_1


"Whaat??!!! Lo beneran udah kawin?? Kenapa kaga ngabarin gue lo". Kalina langsung mencak-mencak mendengar berita Kirei sudah menikah. Kedua tangannya sudah berada dipinggang.


"Kak Lili ama ini es balok yang udah ngilang kaga ada kabar. Kok malah ngomelin gue sih". Sindir Kirei membuat dua orang didepannya semakin gemas melihat tingkah menyebalkan Kirei yang tidak sedikitpun berubah.


"Ish..gue karungin juga ni lama-lama krucil ngeselin". Kalina semakin menjembel pipi Kirei hingga membuat gadis itu mengaduh.


"Kak Lili..! Sakit ish". Sengit Kirei mengelus pipinya yang sejak tadi menjadi korban kejahilan dua seniornya itu.


"Oh..maaf pak Tama. Saya sudah lama tidak bertemu dengan gadis nakal ini. Jadi kami sangat merindukannya". Menyadari tatapan bingung dari photographer yang ia pilih, Reza memberi sedikit penjelasan.


"Kak Lili calon istrinya ini es balok?". Tanya Kirei dan langsung mendapat anggukan kepala dari Kalina.


"What??!!".


"Kok mau sih ama es berjalan kaya gini. Ngomong aja ngirit, awas nanti cape ngomong kaga dijawab lagi. Mana pelit senyum pula". Sindir Kirei membuat Reza melotot.


"Heh krucil..lo sendiri gimana hah? Sama-sama es balok kaga usah saling sikut deh". Reza langsung berubah menggunakan bahasa santai ketika berbicara dengan Kirei.


"Ish..emang dasar batu bata". Sengit Kirei dibalas pelototan oleh Reza yang membuat Kalina terbahak.


"Kita foto dulu mas. Nanti keburu siang..ntar biar bisa makan siang bareng ama krucil kita ini". Kalina memberi saran pada calon suaminya yang langsung menyetujuinya.


"Ntar kita ngobrol lagi ya bocil". Reza dan Kalina bergantian mengacak rambut Kirei hingga berantakan.


"Ish..emang couple nyebelin lo berdua mah!". Sengit Kirei membuat calon pengantin itu tertawa puas.


Kirei duduk tidak jauh dari tempat Tama mengambil foto kedua seniornya itu. Sudut bibirnya terangkat melihat suaminya bekerja. Tama terlihat berbeda saat sedang bekerja. Terlihat macho dan sedikit seksi dengan keringat yang mengalir dipelipisnya.


"Mikirin apa lo. Otak lo traveling ya". Sebuah toyoran mendarat tepat dikepala sampingnya. Ia menoleh dan mendapati Saga tengah tersenyum melihatnya.


"Lo aja yang pikirannya kotor. Dasar rombongan m***m!". Sinis Kirei membuat Saga terkekeh geli. Lelaki itu meninggalkan Kirei yang wajahnya sudah semerah tomat.


Tama hanya melirik sahabat dan istrinya yang terlihat berdebat. Ia hanya tersenyum tipis karena sedikit mendengar perdebatan keduanya.


Waktu 3jam terasa cepat berlalu karena semua orang menikmati proses pemotretan. Kirei hanya berdecak kagum melihat keserasian kedua seniornya. Ia masih penasaran bagaimana ceritanya kedua seniornya itu bisa bersama. Padahal dulu keduanya sering terlibat pertikaian, bahkan tidak jarang mereka menggunakan kekerasan fisik untuk mengadu kekuatan keduanya.


"Oke..clear". Teriak Tama mengakhiri sesi pemotretan Reza dan Kalina. Semua bertepuk tangan mengapresiasi kinerja Tama dan timnya. Pun begitu dengan Kirei yang melebarkan senyumnya melihat skill sang suami yang memang tidak bisa dianggap sebelah mata.


Pantas saja suaminya itu selalu membanggakan skill dan nama besarnya didunia photography. Kirei mengambil botol air mineral yang sempat ia beli diswalayan tidak jauh dari tempat pemotretan. Ia berjalan mendekati Tama dan memberikan botol air pada sang suami.


"Minum dulu". Melihat keringat bercucuran diwajah suaminya, Kirei reflek mengelapnya dengan tisu yang memang selalu ia bawa didalam tasnya. Tama yang terkejut hanya diam menikmati perhatian istri cantiknya.


"Makasih". Ucap Tama tulus membuat Kirei salah tingkah sendiri.


"Aku ganti dulu mas. Kita harus memaksa bocil itu makan siang dengan kita". Bisik Kalina pada Reza yang hanya mengangguk menyanggupi.


"Bocil.." Teriakan Reza membuat Kirei menoleh dan mengangkat sebelah alisnya.


"Makan siang bareng ya?". Tanya Reza mendekati Kirei yang duduk disebelah Tama yang masih sibuk melihat hasil jepretannya.


Kirei menoleh pada Tama yang ternyata juga tengah menatapnya.


"Boleh?". Tanya Kirei polos membuat Tama tersenyum dan mengacak rambut Kirei. Ia mengangguk mengiyakan permintaan client nya.

__ADS_1


"Oke". Teriak Kirei membuat senyum Reza mengembang. Tidak lama Kalina datang dengan pakaian santainya.


"Let's go". Ucap Kalina semangat menggandeng tangan Kirei yang tersenyum menatap Kalina.


__ADS_2