
"Kenapa traktirnya ditempat kaya gini lagi sih Dim.." Omel Naya
"Nggak liat wajah temen kamu yang itu? Dia butuh ini.." Dimas menoleh pada Diandra yang sudah mulai meminum minuman haram itu.
Ya, ini bukan kali pertama Naya ikut kedua temannya pergi ke club malam seperti ini. Namun selama dirinya ikut, dirinya tak pernah sekalipun menyentuh minuman haram itu. Naya hanya akan menjadi pengasuh bagi dua teman yang sepertinya tengah ditimpa masalah berat itu.
"Jangan terlalu mabuk ya.." Kedua temannya mengangguk. Mereka beruntung memiliki teman sebaik Naya yang tak pernah sekalipun meninggalkan keduanya meski dalam kondisi mabuk parah. Dengan sabar gadis itu akan membawa mereka pulang ke apartemen dan membuatkan minuman agar rasa pengar akibat mabuk mereka berkurang.
Naya hanya melihat kedua temannya terus menenggak minuman keras itu. Ia hanya menggeleng ketika kesadaran keduanya mulai berkurang. Inilah guna dirinya jika sudah seperti ini. Mencegah hal gila lain yang mungkin saja terjadi jika kedua temannya sudah dikuasai minuman laknat itu.
"Di..aku ke toilet dulu ya.." Diandra hanya mengangguk sambil mengacungkan jempolnya.
Entah hanya perasaan Naya atau memang benar matanya menangkap sosok lelaki yang ia kenal juga tengah berada disana. Cahaya yang temaram membuat nya tak bisa melihat jelas wajah lelaki itu.
"Mungkin aku salah lihat.." Gumam Naya dan melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi untuk menuntaskan keinginannya buang air kecil.
Sekembalinya Naya dari toilet, pemandangan itu kembali ia lihat. Ia melihat Diandra menangis sambil meracau. Bedanya kali Ini Diandra menangis didalam pelukan Dimas. Entah apa yang sebenarnya gadis itu alami hingga minuman keras sering menjadi pelampiasannya. Naya menghela nafas panjang sebelum berjalan mendekati kedua temannya.
"Di..udah ya. Kamu udah mabuk banget.." Naya mencegah tangan Diandra yang hendak meraih gelas.
"Abis ini ya Nay.." Pinta Diandra membuat Naya menghembuskan nafas kasar.
Kedua temannya itu terus minum dan meracau. Berulang kali Diandra terisak dan menyebut nama Abi.
"Kamu jahat mas Abi..kenapa kamu hancurin aku". Racau Diandra berderai air mata.
Naya mengangkat tangannya pada seorang pelayan, meminta bantuannya untuk membawa Dimas kedalam mobilnya. Sementara dirinya memapah tubuh Diandra yang terus meracau sepanjang jalan.
" Kenapa kalian selalu seperti ini sih..Ini sih namanya bukan traktiran. Aku cuma beli minum harga 50rb aja tanggungannya bawa pulang badan kalian yang berat ini" Gerutu Naya menyalakan mesin mobilnya, namun meski menggerutu, tak pernah sekalipun Naya punya niat untuk meninggalkan kedua temannya di tempat terkutuk itu. Ia tak menyadari jika sejak kedatangannya ke club malam itu, ia sudah diawasi oleh sepasang mata elang yang menatap tajam padanya.
Namun sudut bibirnya si pria bermata elang itu terangkat sempurna saat tahu bahwa gadis yang ia awasi masih menjaga batasan dan tak sedikitpun menyentuh alkohol.
"Kamu memang gadis ku Kay.."
Ya lelaki itu adalah Al yang memang tak pernah sedikitpun lengah mengawasi Naya. Awalnya ia begitu kaget melihat Naya dan kedua temannya datang ke club malam. Al pikir berada dikota besar sudah merubah sikap dan tabiat Naya, namun dirinya keliru. Sepanjang mengikuti dan mengawasi Naya, ia bisa menyimpulkan jika gadis itu ikut hanya untuk menjaga kedua sahabatnya.
"Aku nggak tahu beban apa yang kamu pikul Di..tapi aku tahu kamu gadis yang baik..sangat baik bahkan. Aku berdoa agar kamu bahagia". Naya menatap wajah Diandra yang terlelap. Seperti yang sudah-sudah, ketika dua temannya ini mabuk, maka mereka akan tidur bertiga diruang tamu apartemen milik Naya dan Diandra.
Naya akan tidur dipaling ujung dan Diandra berada ditengah-tengah antara dirinya dan Dimas. Ini bukan kali pertama ini terjadi, Naya sudah mulai terbiasa. Awalnya Naya sangat kaget melihat kelakuan dua temannya, namun Naya tahu..ada beberapa orang yang hanya bisa melampiaskan rasa sakit yang dideritanya dengan cara yang sama seperti Diandra dan Dimas.
###***###
" Tidur kalian benar-benar nyenyak". Diandra mengerjapkan matanya untuk menyesuaikan cahaya yang menerobos masuk kedalam kornea matanya.
Ia melihat Naya sedang duduk disofa ruang tamu itu dengan secangkir teh hangat. Gadis itu tengah menatap Diandra dan Dimas yang masih saling berpelukan diatas kasur lantai yang semalam ia bentangkan.
Seperti yang sudah berlalu, Diandra akan terbangun didalam rengkuhan hangat Dimas.
"Ayo pasangan kekasih..bangun lah". Ucap Naya.
"Aku sudah membuatkan kalian air lemon agar pengar kalian hilang. Jadi cepat minum selagi hangat".
Diandra melepaskan diri dari rengkuhan Dimas yang masih terlihat begitu nyenyak dalam tidurnya. Naya hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan dua manusia itu.
" Apakah semalam aku tidur dalam pelukannya? ". Tanya Diandra yang sudah memegang cangkir berisi air lemon hangat yang dibuat Naya.
" Ya..seperti yang sudah-sudah. Kenapa kalian tidak berkencan saja kalau begitu". Mendengar celotehan Naya, Diandra terkekeh pelan. Ya, Naya tak tau bagaimana rumitnya kisah percintaannya.
"Hei tuan tidur..bangun dan minumlah lemon hangatmu". Naya menggoyangkan tubuh Dimas yang bergerak meregangkan ototnya.
__ADS_1
" Jangan ganggu aku..aku masih mengantuk". Gumam Dimas dengan suara seraknya.
"Minumlah dulu..setelahnya lanjutkan tidurmu dikamar". Diandra sudah membawakan air lemon untuk Dimas yang memaksa tubuhnya untuk duduk dan segera meminum air penawar pengar nya itu.
" Terimakasih Di.."
"Berterimakasihlah pada teman terbaik kita ini. Kalau tidak ada dia, mungkin kita akan dilempar keluar club". Diandra terkekeh pelan.
" Kamu memang terbaik Nay.." Naya hanya tersenyum mendengar ucapan teman lelakinya itu.
"Kamu masih sangat mengantuk??". Tanya Naya dijawab anggukan kepala oleh Dimas.
" Semalam ada yang terus meracau dan menangis, jadi aku harus terjaga semalaman untuk membuatnya tenang dan tidur pulas".
"Aku baru bisa tidur saat adzan subuh berkumandang. Jadi sekarang aku masih mengantuk". Sindir Dimas melirik Diandra yang tampak acuh.
" Kenapa kalian tidak berpacaran saja?". Tanya Naya membuat keduanya tertawa.
"Kami?? Yang benar saja Nay. Apa kami sangat cocok??". Tanya Dimas mengerling jahil pada Naya.
" Ya..kalian jauh lebih romantis daripada sepasang kekasih. Sepasang kekasih gila". Cibir Naya membuat keduanya terbahak melihat reaksi kesal Naya.
"Aku masih sangat mengantuk, jadi nona-nona..jangan ada yang mengganggu tidurku. Aku ingin tidur sampai siang nanti". Peringat Dimas setelah menandaskan air lemonnya dan beranjak menuju kamar kedua gadis itu untuk melanjutkan tidurnya.
Sepeninggal Dimas, kini hanya ada Naya dan Diandra yang berada diruang tamu. Naya terlihat beberapa kali mencuri pandang pada Diandra yang rupanya menyadari gerak gerik Naya.
" Ada apa Nay?? Ada yang ingin kamu bicarakan??". Tanya Diandra yang seolah paham dengan keraguan Naya.
"Ehmm..."
"Bilang aja..kaya ke siapa aja sih kamu tuh". Naya menghela nafas panjang sebelum mengucapkan apa yang mengganjal dihatinya.
"Daaan???". Tanya Diandra tak sabar
" Dia menanyakan apakah ada karyawan bernama Diandra bekerja disana atau enggak". Naya menjeda kalimatnya untuk melihat reaksi Diandra, dan benar saja, wajah gadis itu terlihat tegang mendengar penuturannya.
"Si-siapa??". Tanya Diandra yang matanya terfokus pada cangkir berisi air lemon hangat yang hanya menyisakan setengahnya.
" D-dia bilang...mama mu". Naya kembali diam saat melihat wajah Diandra semakin menegang.
"K-kamu jawab apa Nay??". Naya tersenyum menyadari ketakutan Diandra, ia memegang tangan temannya dan kemudian mengelusnya lembut.
" Aku mengatakan tidak ada karyawan bernama Diandra..karena kamu pernah bilang bahwa kamu sebatang kara. Makanya aku ragu mau memberitahu penelpon itu".
Jelas sudah, Naya yakin Diandra menyembunyikan sesuatu dari dirinya. Terlihat dari kelegaan gadis itu ketika Naya mengatakan apa jawabannya terhadap penelpon itu.
"Apa aku melakukan kesalahan dengan mengatakan itu Di??". Tanya Naya ragu-ragu. Namun Diandra justru tersenyum dan menggeleng kuat.
" Terimakasih..kamu sudah melakukan hal yang sangat membantuku Nay".
"Aku tahu ini urusanmu..tapi jika kamu merasa kamu butuh orang untuk mendengar kan. Maka aku akan dengan senang hati mendengar ceritamu Di.."
"Kapanpun kamu siap untuk bercerita., aku akan siap mendengarkan, aku yakin nggak mudah menyimpan luka sendiri". Naya memeluk Diandra sebentar sebelum melepaskannya.
" Jadi jangan pendam sakit itu sendiri Di..jangan biar kan hatimu mati karna luka". Diandra memeluk Naya yang telah melepas pelukannya, ia kembali menangis dipelukan Naya yang dengan sabar mengelus punggungnya.
Mereka tak tahu jika lelaki yang berpamitan akan melanjutkan tidurnya itu rupanya mendengar kan apa yang mereka bicarakan. Hatinya ikut berdenyut sakit melihat Diandra yang dikenalnya tangguh itu terlihat rapuh.
Namun apalah daya, hingga kini wanita yang entah sejak kapan mendiami hatinya itu enggan bercerita tentang beban hidupnya yang sepertinya tak mudah.
__ADS_1
######***#####
Hari senin sudah kembali, itu artinya Naya dan Diandra harus kembali ke rutinitas bekerja mereka. Rasa malas masih menghinggapi dua gadis itu, namun keduanya tak mungkin bisa bersantai.
Sejak kejadian Diandra menangis dipelukan Naya pagi itu, Naya berpura-pura tak terjadi apapun. Ia tak mau teman barunya itu merasa tak nyaman jika dirinya bersikap tak biasa padanya.
"Kamu ngerasa enggak sih Di?". Bisik Naya pada Diandra yang berdiri disampingnya. Keduanya tengah berada didalam lift untuk menuju lantai 3 dimana ruang kerja mereka berada.
" Ngerasa apa?". Diandra balik bertanya dengan berbisik juga.
"Pada ngeliatin aku kok sinis gitu ya.." Diandra langsung mengangkat kepalanya, dan benar saja. Beberapa karyawati yang sedang berada didalam satu lift dengan mereka terlihat melirik Naya dengan tatapan sinis.
Diandra bukan tak menyadari, bahkan sejak masuk kedalam lobby kantor tadi, Diandra sudah merasakan aura intimidasi dari wanita-wanita penghuni kantor itu. Namun Diandra coba menepisnya.
"Padahal kan aku selalu coba ngehindar dari mereka. Kayanya aku juga nggak bikin masalah deh.." Gumam Naya yang terlihat berpikir keras.
"Udah lah..gausah dipikirin. Nggak penting juga". Diandra mencoba menghibur Naya yang terlihat tak nyaman. Tak lama keduanya sampai diruangan mereka. Sama seperti sebelumnya, para wanita penghuni ruangan itu menatap Naya dengan tatapan tak suka.
" Kemana aja sih jam segini baru dateng!". Belum sempat Naya meletakkan tasnya, seorang wanita yang selalu menganggap dirinya senior Naya itu sudah mendamprat Naya yang terlihat kaget mendengar nada tingginya.
"Maaf mbak Dina..bukannya memang belum jam masuk? Masih ada 10menit sebelum jam kantor dimulai". Jawab Naya tenang, ia tak ingin terprovokasi dan menimbulkan keributan sehingga mengganggu kerja nya.
" Ngejawab aja kamu bisanya. Nih kerjain!". Wanita bernama Dina itu meletakkan tumpukan map dimeja Naya.
"Iya mbak.."
"Setelah jam makan siang harus udah selesai ya. Saya nggak nerima kesalahan apapun. Jadi teliti!!". Nada suara Dina masih tak bersahabat.
Naya menghela nafas panjang kemudian duduk dikursinya. Ia melirik Dimas dan Diandra yang sedang menatap iba padanya. Naya tersenyum untuk melegakan hati dua temannya, meski dirinya sendiri dilanda kebingungan tentang perubahan sikap yang cukup drastis dari rekan kerjanya itu.
Sejak awal kedatangan Naya, Dina memang sudah menunjukkan rasa tidak sukanya terhadap Naya. Namun sejauh ini, wanita galak itu tak pernah mengusik pekerjaan Naya seperti hari ini.
" Gini sih nggak akan sempet makan siang". Batin Naya membuka satu persatu map yang ditumpuk dimeja nya.
"Oke Naya..semangat!!! Kaya gini aja masa mau nyerah". Naya memecut semangat dalam dirinya. Ia tak mau terlihat lemah didepan orang yang sepertinya memang sengaja ingin menindasnya. Naya akan buktikan jika ia bukan gadis lemah yang tidak memiliki kemampuan.
Naya terus berkutat dengan pekerjaannya padahal jam sudah menunjukkan angka 12. Artinya sudah waktunya beristirahat. Namun jika Naya beristirahat, maka Dina akan memiliki kesempatan untuk memaki dirinya lagi.
" Nay..belum kelar??". Tanya Diandra mendekat ke kubikel Naya. Terlihat gadis itu menggeleng
"Kita bantuin ya.." Usul Dimas yang tidak tega melihat Naya mengerjakan pekerjaan sebanyak itu sendiri. Belum sempat Naya menjawab, suara melengking yang menyebalkan terdengar.
"Heh kalian berdua!!! Pada ngapain disitu?!!". Suara cempreng Dina membuat Diandra dan Dimas menoleh. Wajah Dina sudah seperti singa yang siap memakan mangsanya. Terlihat mengerikan hingga tanpa sadar keduanya bergidik.
" Kita mau bantuin Naya mbak.." Ucap Diandra tenang. Jelas saja Dina langsung melotot tak suka..
"Kenapa?? Kamu merasa kurang dengan pekerjaan kamu??! Biar saya tambah kalau begitu". Sinis Dina
Diandra yang hendak membalas ucapan Dina segera dicegah oleh Naya. Naya memegang lengan Diandra dan menggelengkan kepalanya pertanda meminta Diandra menyudahi perdebatannya dengan Dina.
" Gapapa..kalian makan aja. Aku masih sanggup kok ngerjain ini. Aku masih punya otak yang cerdas, jadi kalau hanya mengerjakan seperti ini aku yakin masih sanggup". Wajah Dina memerah menahan amarah. Sementara Diandra dan Dimas tersenyum puas ketika Naya memberi pukulan telak pada wanita menyebalkan itu dengan kata-katanya.
"Kamu yakin??". Tanya Diandra yang dijawab anggukan kepala oleh Naya.
" Yaudah kita tinggal. Nanti kita beliin makan siangnya". Dimas menarik tangan Diandra dan membawanya keluar dari ruangan yang terasa panas karna amarah Dina. Keduanya melewati Dina sambil menghunuskan tatapan permusuhan karena sudah menyulitkan teman mereka.
"Heuh..kita liat aja. Seberapa kuat kamu mampu bertahan disini gadis murahan!". Sinis Dina berlalu meninggalkan Naya yang terpekur mendengar Dina menyebut dirinya gadis murahan. ..
Otak Naya berpikir keras tentang apa kesalahannya hingga Dina bersikap begitu menyebalkan dan terlihat begitu sangat membencinya. Naya menggelengkan kepalanya, mencoba kembali fokus pada pekerjaannya sebelum mak lampir Dina kembali menyudutkan dirinya akibat pekerjaan yang belum selesai.
__ADS_1