Imperferct Partner

Imperferct Partner
Pesta


__ADS_3

Kirei POV


Saat ini aku sedang bersiap untuk pergi ke tempat diadakannya acara anniversary tante Riana dan tuan Akmal, suaminya. Sesuai keinginannya, aku akan datang kesana, meski sebenarnya aku enggan.


Aku memoles wajahku dengan makeup tipis, tidak ingin tampil berlebihan. Aku memilih gaun berwarna hitam dengan panjang selutut yang menampakkan kedua bahuku. Rambut sebahuku aku biarkan tergerai.


Entah mengapa, sebenarnya aku enggan datang ke pesta itu, namun Tania dan Juna sudah memberikan ultimatumnya agar aku tidak kembali melarikan diri dari pesta.


Sekali lagi aku meneliti penampilanku dari pantulan cermin. Cukup pantas untuk datang ke pesta besar, batinku.


Aku keluar dari kamar, memastikan kompor dan tv sudah aku matikan. Apartemen yang aku tempati memang tidak terlalu besar, namun sangat nyaman, memiliki dua kamar. Satu kamarku, dan satu lagi akan dipakai ayah dan buna jika menengokku. Atau jika dua semprul sepupuku datang menengokku. Ahh..rasanya aku merindukan dua biang kerok itu. Sudah lama aku tidak bertemu mereka. Terakhir aku bertemu mereka saat aku ke kota untuk menghadiri pernikahan bang Arka dan Alma. Akhirnya dua orang itu menikah juga.


Setelah memastikan semua aman, aku berjalan keluar dan membuka pintu apartemenku perlahan, Namun gerakanku terhenti, tubuhku membeku, kenapa dia ada disini? Batinku berteriak.


"Lo..kenapa lo disini? Dari mana lo tau apartemen gue?". Aku langsung memberondongnya dengan berbagai pertanyaan.


Dan dia hanya tersenyum? Senyum itu..aaaishh benar-benar senyum menyebalkan. Mengapa dia menjadi jauh lebih tampan jika tersenyum.


"Lama banget sih lo. Dandan ga dandan sama aja, keliatan galak". What??? Benar-benar tamia s*alan.


"Gue udah pegel nungguin elo dari tadi, gue kira lo bakal jadi kaya bidadari, taunya malah kaya singa betina. Buruan, emak gue udah nanyain elo mulu". Bahkan dia tidak memberikan aku kesempatan untuk membalas semua ucapannya.


Ingin rasanya aku melemparkan heels yang saat ini aku pakai, namun aku urungkan. Beberapa kali aku memergokinya menatapku dengan tatapan yang tak aku mengerti artinya. Dan aku bersikap acuh, berpura-pura tak menyadari bahwa ia menatapku.


"Gue bisa pergi sendiri. Ga perlu bareng elo". Aku menghentikan langkahku disamping mobilnya. Apakah sekarang aku harus pergi berdua dengannya? Berada satu mobil dengan cassanova tengil ini? Tidak!


"Ya lo ngomong aja ama emak gue kalo gitu". Dia menjawab dengan santai tanpa beban dan meninggalkanku begitu saja diluar mobil. Aaahh..benar-benar s*al. Terpaksa aku mengikutinya masuk kedalam mobil, mendudukkan diriku disampingnya. Dan tunggu, mau apa lagi dia.


"Ngapa lo merem, pengen banget gue cium?". Pertanyaan menyebalkan itu membuatku langsung membuka mata lebar, wajah tengilnya berada tepat didepanku, dekat..bahkan sangat dekat. Rupanya dia hanya ingin memasangkan sabuk pengaman milikku, aaaah..aku malu sekali sekarang.


Sepanjang perjalanan aku hanya diam, malu rasanya bertatapan dengannya setelah kejadian tadi, aku memilih menatap keluar jendela melihat pemandangan disepanjang jalan yang kami lewati.


Kenapa dengan manusia tengil ini, biasanya dia akan berisik. Tapi kenapa sekarang diam? Aku sedikit berfikir, apakah dia juga tidak nyaman berdua denganku?


Ah masa b*doh dengan si tengil tamia, aku tidak peduli. Yang aku inginkan adalah cepat sampai ditempat acara dan menjauh dari Tama.


Sampai ditempat acara, suasana sudah sangat ramai, sebuah halaman rumah mewah yang sudah diubah menjadi begitu indah. Mungkinkah ini rumah keluarga Tama? Aku mengedarkan pandanganku, mencari teman-temanku. Tatapan dari beberapa gadis membuatku tak nyaman berada dekat terlalu lama dengan Tama.


"Lo mau nyari apaan sih jalan udah kaya dikejar depkolektor". Mampu*lah aku, sekarang tanganku digenggam erat olehnya. Ahh..bagaimana ini??


"Gue..gue mau ke tempat ibu sama ayah lo. Gue mau ngasih ucapan selamat". Aku melepaskan tanganku dan berhasil.


Aku segera menghampiri raja dan ratu dari pesta malam ini, bu Riana..walaupun sudah berumur masih terlihat begitu cantik. Aku jadi merindukan ibunda ratuku yang selalu mengomeliku jika aku terlalu lama tidak pulang.


"Selamat malam tante.." Aku menyapanya dengan seulas senyum.

__ADS_1


"Kirei sayang..tante kira kamu tidak akan datang. Dan tante kira cassanova tengil ini tidak benar-benar menjemputmu". Tante Riana memelukku erat, suaranya terdengar bahagia. Syukurlah, setidaknya kehadiranku bisa membuat orang lain bahagia.


"Selamat untuk tante..semoga pernikahannya langgeng hingga maut yang memisahkan. Selamat juga untuk anda tuan". Aku membungkukkan sedikit tubuhku sebagai tanda hormatku pada mereka.


"Hei..kenapa tidak adil sekali?". Suara tuan Akmal membuatku mengangkat wajah. Tidak adil? Apanya yang tidak adil?


"Kamu memanggil istriku dengan sebutan tante, lalu kenapa memanggilku tuan?". What??? Apa lagi ini?


"Saya merasa lancang jika melakukannya pada anda tuan". Ucapku canggung, bahkan kini beberapa pasang mata memperhatikan interaksi kami. Aaaaa..aku malu sekali.


"Belajarlah memanggilku om juga, atau akan lebih baik belajar memanggilku ayah. Aku tidak suka dipanggil tuan olehmu". Oh ya Allah..aku benar-benar ingin melarikan diri sekarang. Aku hanya bisa mengangguk sambil tersenyum kaku. Dan dari ekor mataku, aku dapat melihat tamia s*alan itu menertawakan kekakuanku.


"Om, tante.." Tubuhku membeku ditempat, senyuman yang aku tunjukkan sejak tadi menghilang entah kemana setelah mendengar suara itu. Suara yang sama sekali tidak ingin aku dengar.


"Weiiss..calon manten kemana aja lo". Suara Tama membuatku makin kaku saja. Apa hubungan mereka? Kenapa seperti orang yang sudah lama mengenal. Dan apa tadi? Om? Tante? Ah, otakku rasanya sudah tidak dapat berfungsi dengan benar kali ini.


"Daaan..kamu datang nak? Tante kira kamu tidak akan datang". Tante Riana datang menghampiri lelaki yang tidak ingin sama sekali aku temui untuk saat ini, aku belum siap..bahkan tidak akan pernah siap.


"Oh iya..dimana Arin? Dia tidak bersamamu?". Suara tuan Akmal semakin membuat tubuhku benar-benar terasa kaku. Aku berharap bahwa suara itu bukan miliknya, namun sepertinya ketakutanku benar-benar terjadi.


"Dia sedang di toilet om..mungkin sebentar lagi kesini". Ya Allah, situasi apa lagi ini. Aku benar-benar ingin mengubur diriku dalam tanah.


"Oh iya..kenalkan, ini calon menantu tante..namanya Kirei. Cantik kan? Nggak kalah sama Arin". Tiba-tiba tante Riana menarikku mendekat padanya. Dan apa katanya tadi? Calon menantu?? Kegilaan apa lagi ini?????


Aku mulai merasa tubuhku seperti tak bertulang, terasa lemas dan rasanya sudah tidak lagi mampu menapak. Sebisa mungkin aku berusaha menguasai diriku, aku tidak ingin terlihat konyol dimata semua orang, terlebih dihadapan Daniel.


"Ca..calon istri?". Aku yakin Daniel sama terkejutnya seperti diriku. Tapi kenapa? Bukankah dia sudah memiliki Arin. Bahkan 6 tahun lalu dia meninggalkan diriku setelah mengatakan bahwa dia menyayangi dan mencintai diriku.


Perlahan aku mengangkat wajahku, dan hal pertama yang aku lihat adalah wajah tengil Tama yang sedang menatapku. Entah apa arti tatapannya itu. Yang aku inginkan hanya segera pergi dari hadapan lelaki yang pernah menggoreskan luka mendalam dihatiku.


Daniel masih menatapku dalam diam, entah apa yang ia pikirkan. Aku benar-benar tidak perduli lagi.


"Sayang..kamu baik-baik aja kan?". Hah..apa lagi yang dilakukan playboy s*alan ini. Bahkan dengan santainya dia memeluk pinggangku dengan erat dihadapan semua orang. Sontak aku menoleh dan menatap dirinya dengan tatapan membunuh.


Belum sempat aku memprotes kelakuannya, sebuah benda kenyal hangat menempel tepat dikeningku. Manusia ini benar-benar cari m*ti rupanya. Dia mengambil kesempatan untuk menciumku.


Aaaah..aku benar-benar seperti orang b*d*h sekarang. Hidup tapi seolah tidak bernyawa. Yang bisa aku lakukan hanya mengikuti permainan cassanova s*alan yang masih terus memeluk pinggangku posesif. Aku akan memberinya pelajaran nanti, sekarang aku tidak bisa berbuat apapun selain mendiamkannya.


Pesta masih berlangsung, namun nyawaku seperti entah terbang kemana. Aku sama sekali tidak menikmati pesta ini, aku ingin segera pulang dan mengguyur tubuhku dengan air dingin.


Author POV


Tama berjalan mendekati Kirei yang tengah duduk bersama dengan Juna dan Tania. Sudah sejak tadi Kirei menjadi bulan-bulanan manusia menyebalkan itu. Karena kedua temannya mendengar Riana yang memperkenalkan Kirei sebagai calon menantunya.


"Boleh pinjem temennya dulu?". Suara Tama membuat ketiganya menoleh. Melihat siapa yang berbicara, Kirei segera melengos.

__ADS_1


"Boleh pak Tama..boleh banget. Ya kan Jun". Tania menyenggol lengan Juna membuat lelaki itu langsung mengangguk cepat.


"Mau dansa bareng saya, calon istri". Ucap Tama sengaja menekankan kata calon istri membuat Kirei kembali menjadi bahan godaan kedua temannya.


Sementara mata Kirei sudah seperti akan melompat dari tempatnya menatap Tama yang hanya memasang senyum tanpa dosanya.


Ketika Kirei melengos, matanya tanpa sengaja bertubrukan dengan mata tajam yang sejak tadi terus mengawasinya.


Menghela nafasnya kasar sebelum akhirnya Kirei menerima uluran tangan dari Tama. Tidak ada pilihan lain untuknya saat ini kecuali menunjukkan pada Daniel bahwa ia sudah bisa melupakannya. Kirei tidak ingin kisah masa lalunya menghancurkan kehidupan yang sudah susah payah ia bangun selama 6 tahun ini. Dia tidak ingin menyakiti Arin, temannya.


"Lo cantik". Bisik Tama yang semakin menarik tubuh Kirei merapat padanya.


"Lo berani macem-macem ama gue..gue patahin masa depan lo". Ancam Kirei membuat Tama terkekeh.


"Ini masa depan lo, bukan masa depan gue..calon istri". Kini Tama seperti memiliki mainan baru. Menggoda Kirei sungguh menyenangkan. Apalagi melihat wajah kesal gadis yang saat ini berada dalam kekuasaannya.


Entah mengapa, hatinya terasa damai, bahagia memenuhi setiap rongga dadanya kala mendengar sang ibu memperkenalkan gadis galak itu sebagai calon istrinya. Mungkinkah dirinya benar-benar jatuh cinta?


"Jangan ngomong lagi, gue bisa khilaf nyium elo disini". Goda Tama semakin membuat wajah Kirei memerah.


"Gue tau ada kisah antara elo sama Daniel. Gue gatau apa, dan gue ga akan nanya. Gue cuma mau bantu elo aja". Kirei mendongak,menatap mata hitam lelaki tampan yang selalu membuatnya naik darah, terlihat ketulusan dari tatapan mata Tama. Dan untuk pertama kalinya, Kirei merasa beruntung ada Tama didekatnya saat ini.


Kini tubuh keduanya benar-benar merapat sempurna, tanpa celah. Membuat orang-orang yang melihatnya bersorak.


"Makasih". Lirih Kirei mengangkat wajahnya. Untuk kedua kalinya, ia merasa begitu dekat dengan Tama, bahkan bibir keduanya hampir bersentuhan membuat Daniel mengeraskan rahangnya dengan tangan terkepal kuat.


"Aaaa...ya ampun ya ampun ya ampuuuuun, cubit gue Jun..cubit gue". Pekik Tania heboh, dan dengan senang hati Juna menuruti keinginan teman somplaknya itu.


"Anj**!!! Jangan keras-keras ogeb nyubitnya!!". Dengus Tania membuat Juna tertawa.


"Ini gue beneran kaga ngimpi kan Jun..Kirei kita Jun,..gue kira dia kaga doyan laki". Ucap Tania fokus menatap dua anak manusia yang masih asik berdansa.


"Si g*bl*k!!! Temen kita itu!". Juna meninju lengan Tania membuat gadis itu mengaduh.


Saat ini Kirei dan Tama tengah menjadi pusat perhatian semua orang, wajah rupawan keduanya membuat mereka terlihat sangat serasi. Apalagi outfit yang mereka pakai benar-benar senada. Seolah keduanya memang sudah merencanakannya.


Tangan Daniel terkepal kuat, rahangnya mengeras melihat wanita yang masih menempati seluruh ruang hatinya begitu dekat dengan lelaki lain yang tak lain adalah sepupunya.


"Aku tau kamu masih cinta sama aku Ki..aku yakin. Dan aku akan membuat kamu kembali sama aku, apapun caranya". Kepalan tangan Daniel semakin kencang, membuat buku-buku jarinya memutih. Sorot matanya memperlihatkan tekad yang kuat untuk kembali membawa Kirei kedalam hidupnya.


Arin hanya diam, berdiri disamping lelaki yang akan segera menjadi tunangannya. Menatap penuh luka pada lelaki yang terus memfokuskan matanya pada gadis lain yang adalah temannya.


Hatinya begitu sakit melihat Daniel tidak pernah peduli padanya. Namun dirinya bisa apa? Rupanya cintanya terlalu besar untuk bisa membuat otaknya berfikir cerdas. Harusnya ia bisa melepaskan Daniel dan mencari kebahagiaannya sendiri. Namun ternyata membayangkan berjauhan dengan Daniel lebih menyakitkan hatinya.


________

__ADS_1


Hai..hai..hai, semoga suka ya sama ceritanya. Kritik dan sarannya jangan lupa ya😉


Maaf kalo ada komen yang belum dibalas, othornya ngejar yang penting up tiap hari🤭😁


__ADS_2