
"Lo ya, pen gue bejek-bejek. Bisa-bisanya lo enak-enak tidur disini. Noh laki lo kelimpungan nyariin lo koplak". Tania langsung mengeluarkan tausyah panjangnya bersamaan dengan tangannya yang menggeplak lengan Kirei yang nyawanya saja belum terkumpul sempurna.
"Lo dengerin gue apa kaga sih heh? Gue sampluk pake C D juga lo lama-lama". Omel Tania karena Kirei tidak sedikitpun memberikan respon.
"Heem". Kirei hanya bergumam. Karena sejujurnya ia tidak sedikitpun mendengar semua ceramah Tania.
"Pulang sono lo. Kasian itu laki lo ama adek ipar lo. Udah kaya kerja buat google, ngukurin jalan kesono sini nyariin orang sableng tidur disini". Usir Tania membuat Kirei akhirnya membuka mata.
"Gue lagi pengen ngadem". Ucap Kirei kemudian, membuat Tania yang sudah membuka mulutnya dan siap menyemburkan lahar panas pada sahabatnya itu terdiam. Sedikit banyak ia tahu tentang Tama dan Inneke dari cerita Kirei belakangan ini.
"2hari. Gue cuma numpang 2hari". Lanjut Kirei membuat Tania menghela nafas panjang.
"Masalah buat dihadapi Ki. Kaga buat lo hindarin kaya gini". Nasehat Tania membuat Kirei duduk. Sejak tadi ia masih merebahkan tubuhnya diatas sofa. Namun sepertinya Tania harus tahu garis besar permasalahannya dengan sang suami agar tidak terus menyudutkan Kirei.
"Gue bakal hadapin masalahnya. Tapi kaga sekarang. Ada masalah yang kaga bisa gue kelarin sekarang sama laki gue Tan. Kalo gue paksain ketemu dia sekarang, yang ada gue kasih bogem laki gue". Terang Kirei santai membuat Tania melotot mendengar apa yang Kirek ucapkan di akhir kalimatnya.
"Itu mulut ya..gue iket juga lama-lama. Laki cakep mau dikasih bogem". Cibir Tania yang kemudian berjalan ke kamarnya. Ia butuh menyegarkan diri. Entah mengapa, Kirei yang memiliki masalah, namun dirinya yang seolah bermasalah dan merasa gerah.
"Ini kalo laki lo tau lo disini terus gue diem-diem bae, auto dipecat gue". Gerutu Tania membuat Kirei terkekeh.
"Kaga bakal. Itu rumah sakit punya ayah, kalopun ada penerusnya udah pasti Juan yang jadi penerusnya. Kaga bakal si kadal buntung". Kirei kembali merebahkan tubuhnya diatas sofa. Bahkan matanya sudah kembali terpejam.
"Kadal-kadal palamu pitak. Itu juga laki elo". Tania berlalu meninggalkan Kirei yang kembali membuka matanya ketika mendengar Tania menutup kembali pintu kamarnya.
"Kalo sampe kamu main api, bakalan aku bakar idup-idup kamu ama itu ondel-ondel mas". Gumam Kirei mencoba meredam amarahnya ketika mengingat apa yang ia lihat di kantor sang suami.
Dan benar saja, selama 2hari itu Kirei hanya bersantai diapartemen milik Tania. Tidak sekalipun menyalakan ponselnya, ataupun pergi kerumah sakit. Ia benar-benar menghabiskan waktu dua harinya yang berharga itu untuk menenangkan dirinya.
"Kayanya jadi pengangguran enak ya". Celetuk Kirei dan langsung mendapat sambitan sebuah majalah dari Tania.
"Belom pernah gue cekek lo?!". Sengit Tania membuat Kirei tergelak.
"Enak bet lo ya..jantung gue udah kaya mau copot tiap laki lo nanyain dimana elo!". Sembur Tania yang membuat Kirei semakin tergelak.
"Ketawa mulu lo. Dasar sableng!! Ngatain laki lo sableng, lah elo sendiri kelewat sableng". Tania sudah benar-benar habis kata untuk mengusir Kirei yang tampak menikmati waktu santainya.
Sementara Kirei tengah menenangkan diri di apartemen Tania. Tama tengah kelimpungan mencari istrinya. Bagaimana tidak, nomor Kirei tidak dapat dihubungi bahkan setelah dua hari Tama mencobanya. Juan pun tak henti-hentinya mengomeli Tama karena kecerobohan dan kebodohan sang kakak yang tidak dapat melihat jika Inneke sengaja melakukan hal-hal yang akan membuat hubungan Tama dan Kirei renggang.
"Dimana Kirei?!". Tama yang tengah duduk diruang kerjanya dikejutkan dengan kedatangan Daniel yang tanpa pemberitahuan lebih dulu.
"Kalo kak Tama nggak bisa jaga perasaan Kirei. Mendingan kakak lepasin Kirei. Aku jauh lebih bisa membahagiakannya". Ucap Daniel tanpa ragu membuat Tama tersenyum sinis.
"Bahagiain istri lo aja, lo kaga mampu. Ngapain lo petakilan mau bahagiain bini gue". Sinis Tama membuat rahang Daniel mengeras.
"Lepasin Kirei kak. Aku bakal bahagiain dia". Daniel tetap kukuh pada pendiriannya untuk meminta Tama melepaskan Kirei.
"Dalam mimpi lo sekalipun itu kaga bakal terjadi". Tama sekuat tenaga menahan tangannya agar jangan sampai menghantam wajah pria yang masih memiliki hubungan saudara dengannya itu.
"Tapi kamu sudah membuat kesalahan besar kak". Daniel tersenyum miring menatap Tama.
__ADS_1
"Darimana lo tau? Padahal nggak ada seorangpun yang tahu kecuali Inneke dan gue". Balas Tama sengit membuat Daniel sedikit gelagapan.
"Kak Tama nggak perlu tahu darimana aku mengetahui semuanya. Yang perlu kak Tama lakuin cuma melepaskan Kirei". Keduanya saling menghunuskan tatapan tajam hingga sebuah pukulan telak mengenai wajah Daniel, membuat Tama langsung bangkit ketika melihat siapa yang menghadiahi wajah Daniel dengan sebuah bogeman keras.
"Ba j*ngan lo Dan!!!!". Bentak Juan yang rupanya sejak tadi terus mendengarkan semua percakapan kakak dan sepupunya itu.
"Juan". Gumam Daniel dengan mata melebar.
"Breng sek lo ya. Jadi lo pengen ngerebut mbak Kirei dari mas Tama hah!!!". Tama segera menahan tubuh Juan yang hendak menerjang tubuh Daniel lagi.
"Cukup Ju. Dia cuma orang mabok yang nggak akan pernah dapetin Kirei". Ucap Tama menenangkan Juan yang diliputi amarah.
"Heh..cuma soal waktu kak. Kirei akan balik sama aku lagi dan hidup sama aku. Selamanya". Seolah menyiramkan bensin pada kobaran api, Tama yang sejak tadi berusaha sekuat tenaga menahan amarahnya., akhirnya tak bisa lagi menahannya. Ia melepaskan Juan dan langsung menghajar Daniel dengan membabi buta.
"Cih, tadi bilang 'cukup Ju'. Lah dia ngehajarnya udah pake nawaitu mateni (membunuh)". Cibir Juan yang melihat Tama dan Daniel saling memukul dengan sekuat tenaga yang keduanya miliki.
"Apaan nih?? Seru nih kayanya". Suara seorang wanita membuat Tama dan Daniel menghentikan aksi saling hajar mereka. Mata ketiga pria yang ada didalam ruangan Tama itu melebar kala melihat siapa wanita yang tengah berdiri santai dengan bersandar pada pintu ruangan Tama.
"Kirei". Pekik Daniel dan Tama bersamaan.
"Mbak Kirei?? Mbak dari mana?? Sehat kan?? Nggak ada yang sakit kan?". Juan segera menghampiri Kirei dan meneliti seluruh tubuh kakak iparnya itu.
Kirei terkekeh melihat kepanikan dan kekhawatiran Juan terhadapnya. Sementara Tama melotot kesal melihat adiknya yang lebih dekat dengan Kirei.
"Awas lo ah, pegang-pegang bini gue sembarangan aja lo". Tama menggeser tubuh Juan dan segera memeluk istrinya dengan begitu erat.
"Ada.." Jawab Kirei enteng.
"Kamu baik-baik aja Ki?". Suara Daniel membuat Kirei menatapnya tak suka.
"Kaya yang elo liat. Gue baik-baik aja". Jawab Kirei sinis.
"Kok udahan berantemnya? Kaga mau dilanjut?? Mau aku cariin pisau atau pedang mungkin mas?". Tanya Kirei penuh sindiran membuat Juan tertawa, sementara Tama mencebik kesal. Kini Juan tahu mengapa sang kakak bisa secepat itu insyaf menjadi seorang cassanova. Mungkin jika sejak awal Juan mengenal Kirei dan menempatkannya sebagai seorang wanita, dirinya pun akan dengan mudah jatuh hati dengan gadis cantik itu.
"Dia yang mulai duluan sayang". Tama mengadu layaknya anak kecil pada ibunya.
"Mau dia mulai juga kalo kamu ngga ladenin nggak mungkin ribut mas". Ucap Kirei lembut yang membuat Daniel begitu iri dengan posisi Tama saat ini.
"Harusnya aku yang ada diposisi kak Tama, Ki. Aku pengen hidup sama kamu". Batin Daniel sedih.
"Gue rasa urusan lo sama suami gue udah kelar. Bisa tinggalin kami?". Usir Kirei halus membuat hati Daniel terasa sakit.
"Ki---"
"Cukup Dan. Gue mohon tinggalin kami". Sebelum Daniel menyelesaikan kalimatnya, Kirei sudah mengangkat tangannya. Meminta Daniel agar diam.
"Pergi Dan. Gue mohon". Kirei menangkupkan kedua tangannya didepan d***. Memohon pada Daniel agar mau meninggalkannya bersama Tama dan Juan.
"Aku pasti balik lagi". Setelah mengucapkannya, Daniel berlalu meninggalkan Kirei yang hanya bisa menghela nafas panjang.
__ADS_1
"Wong edan!". Umpat Tama dan Juan bersamaan menatap Daniel dengan kesal.
"Aku keluar dulu ya mbak. Mungkin mbak sama mas Tama butuh waktu". Juan yang mengerti kondisi segera meninggalkan Tama dan Kirei berdua.
"Makasih Ju". Ucap Kirei memberi senyuman tulus pada adik iparnya itu. Sementara Juan hanya menjawabnya dengan anggukan kepala dan segera berlalu dari ruangan itu.
Kirei duduk di sofa single yang ada diruangan Tama. Bersiap mendengar pembelaan dan penjelasan dari sang suami.
Tama menghela nafas panjang melihat istrinya tidak ingin duduk berdekatan dengannya. Namun Tama patut bersyukur memiliki Kirei. Kirei hanya pergi 2hari kemudian datang dengan sendirinya untuk meminta penjelasan darinya. Benar-benar wanita dengan pemikiran dewasa.
"Kamu nggak mau duduk sebelah mas?? Nggak kangen sama mas?". Tama mencoba mencairkan suasana yang terasa kaku karena sikap diam Kirei.
"Sayaaang.." Rengek Tama membuat Kirei kesal sendiri.
"Udah deh mas..buruan jelasin". Ucap Kirei membuat Tama kembali menghela nafasnya panjang.
"Abis ini, mas bakalan kurung kamu dikamar berhari-hari". Ancam Tama bangkit dan mengambil laptopnya.
Lelaki itu sibuk mencari rekaman cctv ruangan dimana ia dan Inneke mengambil gambar dua hari lalu dan berakhir dengan kesalahpahaman antara dirinya dan sang istri. Setelah menemukannya, Tama segera meletakkan laptop dihadapan sang istri yang masih memasang tampang kesal.
Kirei diam dan memperhatikan apa yang ada dilayar laptop sang suami. Tampak jelas disana Inneke berusaha untuk mendekati Tama. Adegan terakhir yang ia lihat membuatnya menarik nafas lega sekaligus kesal dengan kebodohan suaminya.
Disana terlihat Inneke yang berpura-pura membersihkan kemeja Tama, sehingga dari sudut pandang Kirei, terlihat keduanya tengah berciuman.
"Udah kan? Mas nggak salah kan?". Tanya Tama dengan senyum merekah.
"Mas tu ya, masa iya cassanova berpengalaman kaga bisa liat niat terselubung dari mantan". Sengit Kirei membuat Tama nyengir dan menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal.
"Ya mas mana tau Ki. Orang dianya tiba-tiba maju terus narik kemeja mas. Ya mas jadi nunduk". Ucap Tama membela diri yang semakin membuat Kirei mencebik.
"Itu sih emang mas Tama aja yang sekalian nyelem sekalian minum air". Sindir Kirei
"Kembung dong kalo nyelem sambil minum. Ntar kelelep dong sayang kalo gitu". Tama segera mengangkat tubuh Kirei dan membawanya kedalam kamar yang biasa ia gunakan untuk beristirahat jika tengah berada didalam kantornya.
"MAAAASSS!!!". Teriak Kirei yang sudah paham dengan maksud terselubung sang suami yang membawanya kedalam kamar.
"Jangan teriak-teriak. Belom juga diapa-apain udah heboh dulu". Ucap Tama santai membuat Kirei memukul d*** bidang sang suami beberapa kali.
"Turunin mas! Aku masih marah ama kamu". Sengit Kirei namun Tama tak memperdulikannya.
"Bentaran lagi juga ngga akan marah". Tama langsung membungkam bibir cerewet istrinya hingga membuat Kirei gelagapan.
"Heh kambing lo!!! Kalo pada mau enak-enak pulang sono!!!!". Teriak Saga dari luar ruangan Tama. Rupanya sejak tadi Saga dan Gery sudah menemani Juan berdiri didepan pintu ruangan itu.
"Dasar bang sat lo Tam!!! Kaga inget pas susahnya!! Enak-enak kaga mikirin perasaan jomblo kaya kita!!". Timpal Gery kesal, membuat Juan tertawa melihat kelakuan dua sahabat sang kakak yang juga sudah ia anggap seperti kakak sendiri.
Sementara Tama lebih asyik dengan kegiatannya mendaki gunung kembar milik sang istri hingga membuat istrinya mend*sah nikmat.
"Tama s*alan!!!!". Teriak Saga dan Gery kemudian berlalu meninggalkan dua insan yang sedang memadu kasih.
__ADS_1