Imperferct Partner

Imperferct Partner
ciuman pertama


__ADS_3

Kirei menghempaskan tubuhnya diranjang empuknya, dirinya baru saja tiba di apartemen nya beberapa menit lalu dengan diantar oleh Tama.


Kirei memejamkan matanya, berusaha mengontrol hati dan pikirannya agar tidak kembali terjerumus pada luka yang sama seperti 6 tahun lalu.


"Gue butuh piknik,.bisa gila gue lama-lama kalo kaya gini". Kirei memutuskan mandi dibawah guyuran shower, kepalanya terasa pusing setelah mengalami serentetan kejadian dipesta tadi. Harusnya ia mengikuti feelingnya untuk tidak datang kesana.


Selesai membersihkan diri, Kirei mengambil ponselnya, mencari kontak atas nama Juna dan menekan icon telepon.


Tidak butuh waktu lama hingga suara seorang pria terdengar diseberang panggilan.


"Napa?".


"Assalamualaikum Jun..salam. Lo islam KTPnya doang ya". Sembur Kirei membuat pria diseberang panggilan terkikik.


"Iye-iye..sorry. Wa'alaikumsalam ustajah. Ada apa?". Tanya Juna menggoda.


"Besok tuker shift ya..gue mau jaga pagi aja. Lo yang siang". Pinta Kirei yang langsung disambut dengan semangat 45 oleh Juna.


"Siiiap..dengan senang hati". Jawab Juna semangat.


"Yaudah, assalamualaikum". Kirei memutus panggilannya setelah mendengar sahutan dari Juna. Ia memutuskan besok akan menghabiskan waktu berjalan-jalan dan berbelanja di mall dan bermain di t*mez*ne setelah waktu tugasnya habis.


"Besok ikut gue ya, gue ada party di club xxx. Lo harus ikut, kudu, wajib Ngga pake nolak!!". Sebuah pesan masuk kedalam ponselnya, Tania tidak akan diam sebelum dirinya mengiyakan keinginan gadis itu. Kirei membalas 'ya' dan kemudian meletakkan ponselnya diatas nakas.


Akhirnya mata Kirei terpejam, meninggalkan dunia nyata yang selalu membuatnya pusing.


****


Hari ini suasana hati Kirei benar-benar bagus. Saat ini gadis itu sedang memilih sepatu yang menurutnya nyaman untuk menunjang penampilannya.


Semua berjalan lancar hingga sebuah suara yang sangat ia kenal terdengar oleh indera pendengarannya. Dan benar saja, ketika ia mengangkat wajahnya, sudah ada Tama yang berdiri memunggunginya. Meski belum melihat wajahnya, namun Kirei yakin bahwa itu tamia menyebalkan yang selalu membuatnya darah tinggi.


"Kamu nggak bisa dong main putusin aku aja". Rengek gadis yang belum bisa Kirei lihat wajahnya. Namun dari suaranya, sepertinya itu gadis yang sama dengan yang berada di cafenya.


"Kita udah lama putus Nath. Lo aja yang masih anggep gue pacar. Lagian gue juga udah punya calon bini". Suara Tama terdengar jelas ditelinga Kirei.


"Siapa??!! Siapa yang berani rebut kamu dari aku hah?". Kirei sampai melotot melihat wanita itu berteriak ditempat umum seperti ini. Benar-benar tidak tahu malu.


Dengan sangat hati-hati, Kirei berbalik dan segera meninggalkan toko itu. Keinginan belanjanya langsung musnah ketika bertemu dengan Tama dan wanita gila yang pernah mengatainya j*l*ng.


Kirei melihat jam tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam, sejak tadi ponselnya terus berdering. Telepon dari Tania seperti alarm yang terus mengingatkannya akan janji yang ia buat dengan gadis itu.


"Gue baru mau jalan. Jangan ganggu". Setelah mengirim pesan pada Tania, Kirei melajukan mobilnya menuju club tempatnya janjian dengan Tania.


_____


Suara dentuman musik langsung menyapa indera pendengaran Kirei begitu ia menapakkan kakinya kedalam sebuah club yang sudah lumayan sering ia kunjungi bersama Tania dan Juna sejak kuliah dulu.


Hanya sekedar untuk menghilangkan penat, Kirei tidak pernah menyentuh minuman beralkohol dan kedua temannya mengerti akan hal itu.


Tania melambaikan tangannya, disebelahnya sudah ada Juna dengan wajah yang ditekuk. Entah apa yang sudah terjadi pada temannya itu.


"Lo apain?". Tanya Kirei setelah mendaratkan pan*a*nya disofa sebelah Tania. Ia melirik Juna dengan ekor matanya.

__ADS_1


"Gagal deketin cewe doi..gue bilang gue ini bininya yang lagi bunting". Tania terlihat puas menertawakan nasib Juna.


"Tau ni sableng! Gue baru mau deketin cewe, dia udah nempel, pake bilang bini gue lagi..mana bilang bunting. Dasar sinting! Gue tidurin beneran baru tau rasa lo bunting". Kesal Juna membuat dua temannya tertawa semakin keras.


Sementara disudut lain club, ada tiga pria dan seorang wanita yang sejak tadi terus mengikuti kemanapun dirinya pergi. Benar-benar menyebalkan.


"Ger..itu bukannya cewe yang dikenalin tante Riana sebagai calon bininya si Tama?". Saga menatap seorang gadis yang tengah tertawa bersama seorang lelaki dan wanita yang tidak ia kenali.


"Eh bener lo..itu beneran dokter Kirei". Seru Gery membuat Tama yang sedang sibuk menyingkirkan tangan yang bergelayut dilengannya mengalihkan pandangannya pada dua teman somplaknya.


Tama mengikuti arah pandang Saga dan Gery, ia melihat sosok Kirei yang terlihat cantik dalam balutan kemeja putih. Sederhana namun tetap menarik dimatanya.


"Cantik". Gumamnya tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat. Sebuah ide cemerlang melintas diotaknya untuk membuat Nathalie enyah dari hidupnya.


"Awas lo..ada calon bini gue". Tama menghempaskan tangan Nathalie hingga terlepas.


Sementara kedua teman Tama segera menoleh ketika mendengar Tama mengucapkan kalimat keramat 'calon bini'.


Nathalie yang tidak terima segera bangkit dan berjalan mengikuti Tama. Ia penasaran seperti apa rupa calon istri dari lelaki yang masih begitu ia gilai itu.


"Hai sayang". Ucap Tama sambil mendaratkan kecupan mesra dipipi kanan Kirei yang langsung membuat gadis itu tersedak oleh orange juice yang baru saja ia minum.


Sementara Juna dan Tania membuka mulutnya lebar-lebar melihat apa yang baru saja terjadi dihadapan mereka.


"Tuh kan bener! J*lang s*alan ini yang udah rebut kamu dari aku". Suara cempreng Nathalie membuat mereka menjadi pusat perhatian beberapa pengunjung lain.


"Tapi aku nggak percaya. Dia pasti bukan siapa-siapa kamu. Apalagi calon istri..cih". Nathalie berdecih, memandang remeh Kirei yang saat ini masih bingung dengan keadaan.


"Tama sayang..aku nggak percaya. Selera kamu itu cewe super seksi kaya aku, jadi kalo dia sih..." Nathalie melirik Kirei dari ujung kepala hingga kaki membuat Kirei tak nyaman.


"Lo harus balas budi buat pertolongan gue waktu itu". Bisik Tama tepat ditelinga Kirei.


Kirei mendongak menatap wajah Tama, dan belum sempat Kirei bertanya pertolongan apa dan dimana, bibirnya sudah dibungkam oleh Tama. Mata Kirei melotot merasakan benda kenyal yang menempel tepat dibibirnya.


Awalnya Tama hanya ingin mengecupnya saja untuk membuat Nathalie percaya, namun rasa manis pada bibir Kirei terasa berbeda dari gadis yang pernah ia cumbui selama ini.


Tama memperdalam ciumannya, mel*mat habis bibir mungil Kirei yang terasa begitu manis dilidahnya. Kirei diam, matanya mengerjap beberapa kali. Bahkan untuk bernafas saja dirinya lupa". Otaknya seperti kehilangan fungsi berpikirnya.


"Nafas Ki..bisa mati lo kalo kaga napas". Ucap Tama melepas sejenak ciumannya, setelah melihat Kirei menarik nafas panjang, Tama segera melanjutkan aksinya mencium Kirei. Kini Kirei merasa menjadi orang yang sangat b*d*h karena mengikuti perintah Tama.


"Aaaaa...yaampun yaampun yaampun Juna. Ini gue nggak salah liat kan??!!! Bukan mimpi kan???!". Pekik Tania heboh sendiri.


Juna langsung menghadiahi kepala Tania dengan sebuah sambitan untuk meyakinkan temannya itu bahwa apa yang terjadi saat ini adalah nyata, bukan fatamorgana semata.


"Aawww.." Tania melotot tajam merasakan kepalanya berdenyut akibat ulah Juna.


"Sakit kan? Berarti nyata ogeb!". Juna kembali fokus menatap Tama yang sedang menikmati bibir temannya.


Puas menikmati bibir manis Kirei yang sepertinya akan menjadi candu baginya itu, Tama melepas ciumannya. Mengusap bibir mungil itu dengan ibu jarinya. Menatap wajah Kirei yang terlihat tegang, lucu dan sangat menggemaskan.


"See..dia calon istri gue". Tama tidak menyia-nyiakan kesempatan dan kembali melabuhkan sebuah kecupan lembut dibibir Kirei.


Nathalie menatap tak percaya apa yang baru saja ia saksikan "Aku bakal rebut kamu dari j*l*ng s*alan ini!!". Teriak Nathalir tak terima. Ia lantas berlalu pergi setelah menghentakkan kakinya beberapa kali.

__ADS_1


Tania menggoyangkan lengan Kirei yang masih berada dalam mode syok.


"Ki..lo gapapa?". Tanya Tania masih berusaha menyadarkan Kirei dari keterkejutannya.


"TAMIA S*ALAAAAN!!!!'. Teriak Kirei kesal dan langsung menghadiahi perut Tama dengan sebuah tinjuan kuat hingga membuat Tama meringis kesakitan.


Sementara dua teman kurangajarnya hanya tertawa puas melihat ada seorang gadis yang dengan beraninya memukul Tama setelah dicium.


"Lo...lo tamia kurangajar! Lo udah ambil ciuman pertama gue. Gue bener-bener bakal bunuh lo abis ini". Kirei mengacungkan telunjuknya tepat didepan wajah Tama. Namun bukan Tama namanya jika tidak bisa membalikkan keadaan.


Dalam keadaan kesakitan pun Tama masih bisa membuat Kirei semakin salah tingkah, jari telunjuk yang berada tepat didepan wajahnya itu ia kecup dengan penuh perasaan. Matanya mengerling nakal membuat Kirei seolah kesulitan hanya untuk bernafas meladeni kegilaan Tama.


"Lo makin cantik tau kalo ngamuk gini". Tama mengedipkan sebelah matanya membuat Kirei semakin kesal.


"Tamia gila, sinting, edan!! Nggak waras lo s*alan!!". Puas mengumpati lelaki yang justru terkekeh mendengar umpatannya, Kirei menyambar tas dan kunci mobilnya kemudian berlalu meninggalkan semua orang yang memandangi dirinya.


"Duh..sorry ya. Jadi ganggu acara kalian. Urgent soalnya tadi". Ucap Tama pada Juna dan Tania. Jelas saja kedua orang itu hanya mengangguk. Mana berani mereka melawan anak pemilik rumah sakit tempat mereka bekerja.


Tama segera berlari mengejar gadis yang baru saja ia curi ciuman pertamanya, sepanjang jalan mengejar Kirei, bibir Tama tak hentinya menyunggingkan senyum kebahagiaan. Entah mengapa hatinya terasa menghangat mendengar ucapan Kirei yang mengatakan bahwa dirinya lah yang mencuri ciuman pertama gadis itu.


"Lo mau kemana hm? Gue anter ya?". Tama mengimbangi langkah cepat Kirei. Kirei bungkam, tak ada sedikitpun keinginannya untuk meladeni omongan lelaki sinting yang sudah sukses mencuri ciuman pertamanya.


"Hey.." Tama memegang tangan Kirei yang langsung ditepis kasar oleh Kirei. Mata gadis itu sudah berkaca-kaca, siap menumpahkan cairan bening itu kapan saja.


Tama tertegun melihat mata Kirei, perasaan bersalah memenuhi dadanya. Sebegitu terlukannya kah gadis yang baru saja ia cium itu.


"Lo kenapa hm?". Tanya Tama lembut membelai pipi Kirei. Air mata yang sejak tadi Kirei tahan akhirnya luruh juga mendengar duar Tama yang lembut membelai indra pendengarannya.


Tama menghapus air mata yang luruh membasahi pipi mulus gadis yang mampu menjungkirbalikkan hatinya beberapa minggu ini.


"Maafin gue..gue tau gue salah. Sorry..i'm so sorry". Ucap Tama tulus. Membawa Kirei kedalam pelukannya. Mendekapnya erat seolah enggan melepaskannya lagi.


Sementara Kirei hanya diam, dirinya membenci Tama..namun logika dan hatinya tak sejalan. Otaknya ingin menolak pelukan lelaki kurangajar yang sudah mencuri ciumannya, namun raganya seolah bahagia mendapat pelukan yang terasa begitu hangat dari lelaki itu.


"Lo mau kan maafin gue? Lo boleh deh mau apain gue, apapun boleh. Mau cium lagi juga gapapa". Goda Tama yang langsung mendapat capitan keras diperutnya.


Tama tersenyum dan semakin mengeratkan pelukannya pada Kirei, mencium pucuk kepala gadis itu dan menghirup dalam-dalam aroma vanilla yang menguar dari tubuh Kirei. Entah mengapa dirinya benar-benar merasa damai berada dekat dengan gadis yang dulu pernah bersitegang dengannya.


Sementara tak jauh dari tempat mereka berdiri, seseorang menatap mereka dengan mata tajam. Tangannya terkepal kuat menahan amarah yang siap menghanguskan siapapun didekatnya.


"Kamu nggak bisa sama orang lain Ki. Aku masih terlalu mencintai kamu".


Lelaki yang tak lain adalah Daniel menghantamkan kepalan tangannya ke tembok disebelahnya untuk menyalurkan perasaan sakit dan marah didalam dadanya.


Daniel menerima ajakan Arin untuk datang ke club dimana Kirei dan teman yang lain sedang berkumpul. Awalnya Daniel enggan, namun mendengar Arin mengatakan jika akan berkumpul dengan Kirei dan teman-temannya, akhirnya Daniel menyetujuinya.


Dan apa yang ia saksikan benar-benar membuatnya hampir mati berdiri. Baru saja kakinya menapaki ruangan yang penuh dengan orang-orang yang sedang mencari kesenangan dunia itu, dirinya dikejutkan dengan pemandangan menyakitkan dimana Tama sedang mencium Kirei. Dan yang lebih menyakitkannya, Kirei tidak sedikitpun berusaha menolak ataupun menghindar dari ciuman Tama.


Daniel merasa lega saat melihat Kirei meninju perut Tama sebagai hadiah kekurangajarannya pada Kirei. Melihat Kirei berlari keluar, Daniel mencoba mengejarnya dengan alasan pergi ke toilet pada Arin.


Namun langkahnya kembali terhenti kala melihat Tama sudah lebih dulu menjangkau pujaan hatinya itu. Bahkan kini yang ia saksikan, kedua orang itu seperti sepasang kekasih yang saling mencintai. Melihat bagaimana Tama mencium dan memeluk Kirei penuh kelembutan.


"Apa nggak ada kesempatan buat aku milikin kamu lagi Ki''. Lirih Daniel dengan air mata yang sudah mengalir.

__ADS_1


__ADS_2