Imperferct Partner

Imperferct Partner
Kontraksi


__ADS_3

"Apakah kalian akan berpelukan sepanjang hari??". Cibir Rian yang sudah berdiri dipintu dengan melipat kedua tangannya didepan dada, menatap sebal pada dua manusia yang sedang kasmaran itu.


Naya yang masih berada dipelukan Al segera melepaskan dirinya. Entah sudah semerah apa wajahnya saat ini, dirinya sungguh malu Rian memergoki dirinya berpelukan dengan Al. Untung bukan 5menit lalu Rian masuk, jika saja lelaki itu beberapa menit lebih cepat masuk keruangan itu, maka Naya akan benar-benar kehilangan muka dihadapannya.


" Ck..kenapa kamu mengganggu". Al berdecak, menatap kesal pada Rian yang ganti melotot mendengar ucapan Al.


"Wah..liat Ra. Kelakuan temen kamu..minta dilempar ke laut". Sungut Rian.


" Ya..emang kamu baru sadar kalo itu manusia es nyebelin??". Timpal Safira yang berdiri disamping Rian. Menatap Naya dengan tatapan menggoda.


"Bisa-bisanya dia mesra-mesraan disini. Ngebiarin aku yang kepalanya udah mau meledak menghadapi para dewan direksi yang memaksa mau ketemu dia. Untung mereka nggak copot sepatu terus dilempar ke aku.." Rian benar-benar ber na*su mengomeli Al.


"Tidak ingat dia semalam menang------hmmmp". Al berlari dan langsung membekap mulut Rian. Bisa jatuh harga dirinya didepan Naya kalau gadis itu tahu dirinya menangis semalaman akibat lamarannya ditolak Naya.


" Yaaaaa!!!!". Teriak Rian saat Al melepaskan bekapannya.


"Kaga bakal aku gaji kalo nyampe kamu cerita ke Kanaya". Bisik Al penuh ancaman. Rian tersenyum miring melihat Al ketakutan. Sepertinya ia memiliki senjata baru untuk membuat Al menuruti permintaannya.


"Para dewan direksi udah nunggu kan?? Ayo kita kesana..aku akan menanganinya". Al mendorong paksa punggung Rian untuk meninggalkan ruangannya.


" Kakak kenapa sih.." Gumam Naya menatap bingung pada Al yang tersenyum canggung padanya.


"Jadi kalian berdua kaya orang sinting berhari-hari gara-gara marahan?? Astaga..kalian seperti anak SMA". Safira sampai geleng-geleng kepala.


Safira keluar dari ruangan Al diikuti Naya. Keduanya duduk dikursinya masing-masing yang bersebelahan.


" Jadi sekarang kamu sudah menerima bos galak itu?". Tanya Safira membuat Naya salah tingkah.


"Untung kamu cepat berubah pikiran. Kalo enggak..kayanya bos galak itu bakal beneran gila". Safira ingat saat beberapa hari lalu ia dan Rian dibuat kelimpungan melihat kondisi Al yang sangat kacau.


" Emang ada apa mbak??". Tanya Naya lirih


"Dia udah kaya orang gila hampir dua minggu ini Nay. Sejak kalian saling diam kalo aku nggak salah.." Safira mencoba mengingat kapan pastinya Al mulai berubah dan bertindak bodoh.


"M-maksud mbak??". Naya semakin takut tahu kebenarannya.


" Mbak nggak tahu sebenarnya kalian kenapa. Tapi dulu..setiap dia membicarakan kamu, dia akan terlihat sangat bahagia. Dia berubah..dari Yohan yang menyebalkan dan dingin menjadi Yohan yang sangat hangat. Hanya ketika membicarakan kamu Nay.." Safira menjeda ceritanya.


"Kamu tahu..mbak sudah kenal Yohan bertahun-tahun. Dan baru sekali mbak lihat dia mabuk sambil nangis". Naya terhenyak. Al mabuk?? Lelaki itu menangis?? Tapi kenapa???


" Mak-maksud mbak apa??".


" Tapi kamu jangan bilang sama dia kalo mbak yang cerita ya.." Safira seperti maling yang celingukan, takut pemilik rumah memergokinya. Naya mengangguk cepat. Ia ingin tahu mengapa Al nya sampai mabuk.


"Kapan mbak??". Tanya Naya kemudian.


" Ehm..sekitar 3 atau 4hari lalu. Mbak pas nggak masuk deh kayanya.." Safira kembali mengingat kejadian beberapa hari lalu.


Naya melebarkan matanya. Hari itu?? Hari itu bukankah bertepatan dengan dirinya memberikan surat resign nya pada Al?? Mungkinkah karena hal itu??


"Malem itu Rian telpon mbak. Dia bilang Yohan kacau.." Safira menceritakan malam dimana dirinya dan sang suami harus menyusul Rian di club malam karena kewalahan menghadapi Al dan kesulitan membawa pemuda itu pulang.


Naya membekap mulutnya dengan kedua telapak tangannya mendengar cerita Safira tentang betapa kacaunya Al karena penolakan darinya.


"Mbak belum pernah liat si Yohan se rapuh itu Nay. Jadi..kalau kamu ragu sama perasaan itu manusia es..mbak bisa jamin kalau dia benar-benar cinta sama kamu Nay". Safira menatap Naya yang sudah berderai air mata. Tak pernah ia bayangkan jika Al mencintai nya begitu dalam.


" Jangan raguin perasaan Yohan, Nay".


"Bahkan mungkin nyawa bakal dia kasih kalau kamu yang minta". Safira tersenyum melihat wajah terkejut Naya.

__ADS_1


Tak lama Al dan Rian kembali. Masih dengan mulut yang terus mengomel, Rian mengikuti langkah lebar Al.


" Giliran ama kamu aja mereka iya iya pak. Lah ama aku..udah kaya mau direbus idup-idup". Gerutu Rian


"Kenapa lagi sih Yan??". Tanya Safira yang mulai kesal karena sudah berhari-hari Rian selalu marah-marah.


" Itu dewan direksi, giliran si Yohan yang dateng langsung pada 'Oh iya pak' 'Baik pak' 'Oh..tentu saja saya setuju pak', dasar aki-aki nyebelin". Gerutu Rian menirukan orang-orang diruang rapat tadi.


Sementara Rian tengah menggerutu, tatapan Naya tak lepas dari wajah Al yang sudah terlihat seperti Al yang selama ini ia kenal. Senyum lembut dan tatapan penuh cinta itu kembali ia lihat.


"Loh kamu kenapa Kay? Kok matanya merah?". Tanya Al yang rupanya juga memperhatikan Naya sejak kedatangannya tadi.


" Nggak apa-apa kak. Cuma kelilipan.." Elak Naya. Ia tak mau Al tahu jika dirinya menangisi kebodohannya yang pernah membuat pemuda sebaik Al terluka.


"Kamu yakin??". Tanya Al tak percaya. Namun Naya mengangguk yakin untuk membuat Al percaya.


" Mata kalian tidak lelah saling menatap terus??". Sindir Rian membuat Safira mengulum senyum melihat kelakuan Rian.


"Kenapa sih dari tadi amuk-amukan mulu". Ganti Al mencibir


" Apa menurutmu dokumen ini akan selesai jika kalian hanya terus saling menatap?? Dasar pasangan bucin". Cibir Rian mendahului Al masuk kedalam ruangannya.


"Kakak tinggal dulu ya.." Naya mengangguk menjawab Al.


Keempatnya kembali larut dalam pekerjaan masing-masing hingga tanpa terasa waktu makan siang sudah tiba.


Safira dan Naya masih asyik mengobrol saat Al keluar dari ruangannya, pun dengan Rian.


"Dasar ibu-ibu tukang ngerumpi". Entah mengapa Rian jadi lebih banyak bicara dari biasanya. Mungkin efek stress karena beberapa hari seluruh beban dan tanggung jawab perusahaan ia emban seorang diri.


" Pasti mbak banyak mantan ya sebelum menikah sama suami mbak?". Lamat-lamat Rian mendengar percakapan Naya dan Safira. Sepertinya seru, jadi lelaki itu memutuskan untuk bergabung, Al juga sudah duduk di sofa yang ada disamping meja Naya.


" Hah?? Jangan becanda mbak.." Naya terkekeh tak percaya


"Mana ada laki-laki normal bisa nolak mbak Fira. Cantik, tinggi, putih, mana pinter banget lagi. Pasti cowoknya rada rabun ya mbak?". Naya masih tak percaya ada laki-laki yang bisa menolak pesona seorang Safira.


" Hahahaha..berarti yang nolak Safira tu matanya rabun ama kagak normal Nay??". Rian langsung menimpali dengan senyum jahil melirik sahabatnya.


"Ya iya lah bang. Sekarang aku tanya sama abang..emang abang nggak suka kalo deket sama perempuan kaya mbak Fira??". Tanya Naya balik.


" Ya suka lah..aku masih laki-laki normal Nay ". Jawab Rian semakin melebarkan senyum tengilnya. Sementara Safira sudah tergelak melihat wajah masam Al.


" Emang kenapa dia nolak mbak??". Tanya Naya penasaran.


"Katanya sih udah cinta mati ama perempuan lain Nay". Sahut Safira menahan tawanya.


" Aaah..tetap aja mbak. Aneh aja ada laki-laki yang nggak suka atau setidaknya tertarik lah sama mbak Fira".


"Emang siapa namanya mbak?". Tanya Naya kemudian. Ia benar-benar belum percaya jika ada laki-laki normal yang menolak pesona Safira.


" Tuh.." Safira melirik Al yang mendengus kesal.


Naya mengikuti arah pandang Safira yang tengah menunjuk Al dengan dagunya.


"Oooh..manusia es". Naya menggut-manggut namun kemudian ia berteriak keras.


" APAAAA????!!!"


Sontak saja Safira dan Rian tertawa keras melihat wajah terkejut Naya, juga wajah masam Al yang hanya tersenyum tipis melihat keterkejutan Naya.

__ADS_1


"Ka-kak Al?? Dia yang nolak mbak Fira???". Tanya Naya memastikan.


" Yaaa..dia laki-laki nggak normal dan rabun yang kamu bilang tadi Nay. Hahahahhahaha" Rian bahkan sampai memegangi perutnya melihat Naya jadi salah tingkah karena ditatap Al begitu dalam.


"Hahaha..aduh perut aku sakit dari tadi ketawa". Safira juga memegangi perutnya yang terasa berguncang karena ia tak bisa menahan tawa.


" Ish..kenapa nggak bilang dari awal sih mbak.." Bisik Naya yang serba salah karena Al terus menatapnya.


"Mbak..mbak Fira gapapa??". Tanya Naya melihat wajah Safira pucat dan berkeringat.


" Aduh..gapapa Nay. Kebanyakan ketawa jadinya gini". Safira menarik tisu dan mengelap wajahnya yang basah oleh keringat.


"Tapi mbak pucet.." Naya sudah tak peduli dengan tatapan Al. Fokusnya kini pada Safira.


"Iya Ra..kamu pucet". Rian ikut mengamati wajah temannya.


" Gapapa kok..aduhhh". Tiba-tiba Safira mengaduh sambil memegangi perutnya.


"Kenapa??!!". Tanya ketiganya serempak.


" Kayanya aku mau lahiran deh.." Ucap Safira disertai senyum tipis. Sementara ketiga orang yang bersamanya hanya mengangguk sambil berooh ria.


"Oooh..mau lahiran". Ucap ketiganya bersamaan.


" APAAAA??? LAHIRAN??!!!". Seru ketiganya ketika menyadari apa yang Safira ucapkan.


"Mbak Fira mau lahiran?? Aduh gimana ini?? Gimana bang, kak..mbak Fira mau lahiran". Naya sudah bangkit. Wajahnya terlihat panik.


" Kok nanya aku sih Nay. Aku nggak pernah lahiran Kanaya.." Rian tak kalah panik.


"Kakak jangan diem aja dong. Aduh ini gimana.." Naya balik mengomeli Al yang juga terlihat bingung namun tak tahu harus berbuat apa.


"Kakak juga bingung.." Sahut Al cepat


Safira terkekeh pelan melihat tiga orang dewasa dihadapannya kalang kabut hanya mendengar dirinya akan melahirkan. Meski terasa sakit sesekali, namun sakitnya belum terlalu sering.


"Bawa ke rumah sakit ih..kok malah pada bengong sih!!". Naya berubah jadi galak karena takut terjadi sesuatu pada Safira dan bayinya.


" Abang buruan!!".


"Eh iya..ayo Ra kita ke rumah sakit". Ajak Rian membuat Naya melotot galak. Sedangkan Safira semakin terkekeh melihat Rian mengulurkan tangan padanya.


" ABAAAANG". Seru Naya frustasi.


"Kakak!!". Naya menatap Al, berharap Al mengerti apa maunya.


" Apa?? Aku nggak bisa bantu lahiran Kay.." Naya benar-benar dibuat snewen oleh dua lelaki dihadapannya.


"Tenang Nay..kok jadi kamu yang panik sih". Safira memegang lengan Naya untuk menenangkannya.


" Abis pada nggak peka banget sih mbak.." Ucap Naya membuat Safira tersenyum.


"Gendong baaaaang..ya Allah. Mana ada orang mau lahiran disuruh jalan kaki". Akhirnya Naya mengutarakan apa maksudnya.


" Ooooh..bilang Nay. Abang nggak paham". Rian nyengir, kemudian mengangkat tubuh Safira.


"Berat banget sih kamu Ra". Ucapan Rian langsung mendapat pelototan tajam dari Safira.


" Iya-iya, ampun Ra.."

__ADS_1


Akhirnya siang itu, mereka membawa Safira kerumah sakit. Melupakan sejenak kisah asmara Al dan Naya.


__ADS_2