Imperferct Partner

Imperferct Partner
perkara nama panggilan


__ADS_3

Saat ini Ken dan Kai serta Akbar tengah berlari dilorong rumah sakit tempat adiknya dirawat. Beberapa saat setelah dokter yang berjaga di UKS kembali, Ken dan Kai beserta Akbar telah menunggu dan memberondongnya dengan berbagai macam pertanyaan.


Mereka sudah mencoba menelpon Al, namun sepertinya ponsel pemuda itu kehabisan daya hingga tak bisa dihubungi.


"Adik kalian dibawa ke rumah sakit Xxx. Ada satu teman kalian yang menjaganya".


" Tadi memang teman kalian mau memberitahu kalian dulu, tapi kondisi adik kalian cukup parah. Makanya saya melarangnya dan langsung membawa adik kalian kerumah sakit". Jelas dokter Siti pada tiga pemuda yang wajahnya terlihat sangat khawatir.


Akbar menahan lengan kedua temannya saat sudah dekat dengan ruangan Naya dirawat. Sementara si kembar menatap Akbar dengan bingung. Saat ini mereka sudah sangat khawatir dengan kondisi Naya, kenapa malah ditahan. Mungkin itu isi pikiran Ken dan Kai.


"Kita harus pelan-pelan. Siapa tahu Nay sedang tidur saat ini". Ucap Akbar menjelaskan maksudnya menahan kedua temannya. Nafas ketiganya masih ngos-ngosan karena terus berlari sejak dari parkiran. Bahkan menunggu lift saja mereka sudah tak sabar, mereka memilih menggunakan tangga darurat untuk sampai di lantai 4 tempat Naya dirawat.


Ken dan Kai mengikuti saran Akbar, ketiganya mulai berjalan pelan mendekati kamar rawat Naya. Perlahan Ken membuka pintu kamar Naya dengan sangat hati-hati. Dan benar saja apa yang Akbar katakan, adiknya tengah tertidur pulas dengan Al yang duduk disamping nya.


Namun yang menjadi perhatian Akbar bukan Naya yang tertidur, melainkan tangan Naya yang memegang lengan Al. Ada rasa tak suka yang menghinggapi hatinya. Namun ia berusaha bersikap biasa, masih beruntung ada Al yang ada disana saat Naya keracunan. Jika tidak entah apa yang akan terjadi pada Naya nya.


Al menoleh ketika mendengar pintu berderit. Ia memberi kode pada ketiga temannya untuk diam. Dengan susah payah ia membujuk gadis cerewet itu tidur. Ia merelakan lengannya pegal karena gadis manis itu tak mengijinkan dirinya beranjak sedikitpun dari sisinya.


Naya memang paling takut dirumah sakit tanpa ada orang disampingnya untuk ia berpegangan. Dengan sangat hati-hati Al melepaskan tangan Naya yang masih memegangi lengannya. Ia bisa melihat tatapan tak bersahabat dari Akbar, dan ia memaklumi itu. Mungkin apa yang Akbar rasakan saat ini adalah perasaan yang sama saat dirinya tengah melihat keduanya berinteraksi.


"Eeuunghh.." Naya kembali memegang lengan Al lebih erat, bahkan kini dengan kedua tangannya. Ken dan Kai memberi kode agar Al tetap berada disana. Keduanya tahu pasti jika adiknya pasti tengah ketakutan. Mereka takut jika Al memaksa melepas tangannya, Naya akan bangun dan kesulitan untuk tidur kembali.


"Gimana kondisinya?". Tanya Ken berbisik


" Udah mendingan..barusan juga udah minta makan". Sahut Al yang juga berbisik.


"Lo berdua ditunggu dokter Ardo diruangannya". Al mengingat pesan dokter Ardo yang memintanya menyampaikan pada si kembar untuk menemuinya jika mereka sampai.


" Mam pus kita Ken". Bisik Kai


Keduanya menghela nafas berat sambil memperhatikan adiknya yang tengah tertidur pulas. Wajahnya sudah lebih merona, tak pucat lagi.


Jantung kedua pemuda tampan itu seolah terjatuh ketika Akbar mengabari mereka jika Naya sakit. Sekembalinya Akbar dari kamar mandi, ia mencari Naya. Namun Naya dan Al sudah tak ada, lalu ada beberapa siswi mendekatinya dan memberitahu jika Naya dibawa oleh Al ke UKS karena seperti orang kesakitan.


Ketiganya langsung menuju ruang UKS, namun disana kosong dan tidak ada siapa-siapa. Makin kalut saja pikiran mereka tak mendapati Naya dimanapun. Hampir satu jam mereka menunggu, membolos pelajaran demi menunggu dokter Siti. Sekembalinya dokter Siti dari rumah sakit, ia menceritakan kondisi Naya. Semakin panik saja Ken dan Kai mengetahui adiknya memakan makanan yang amat pantang ia makan.


"Udah dari tadi tidurnya?". Tanya Akbar dijawab gelengan kepala oleh Al.


" Dari tadi nggak mau tidur, barusan aja mau tidur". Jawab Al yang sudah merasa tangannya sangat pegal karena tidak bisa digerakkan.


"Thanks Al.." Akbar menepuk pundak temannya itu. Al hanya mengangguk sambil tersenyum tipis.


"Tanpa lo minta juga gue bakal jagain Kanaya, Bar". Ingin rasanya Al berkata seperti itu, namun semua itu hanya bisa ia suarakan dalam hatinya saja.


****


Sudah dua hari Naya dirawat dirumah sakit, kondisi tubuhnya pun sudah jauh lebih segar dan baik-baik saja. Namun dokter Ardo masih memintanya beristirahat satu malam lagi untuk memulihkan kondisinya. Walaupun kesal, namun Naya menuruti perintah dokter Ardo.


Selama disana pula kedua kakaknya tak pernah meninggalkannya. Bahkan keduanya bolos sekolah agar bisa menemani sang adik 24jam. Satria pun tak mau kalah, lelaki itu ikut bolos sekolah dan berdiam diri dirumah sakit.


" Abang ngapain nggak sekolah?". Tanya Naya ketika dirinya kembali melihat Satria pagi ini.


"Kan kakak yang baek..jadi nungguin ampe lo sembuh". Ucap Satria penuh percaya diri.


" Heleh..bilang aja kalo mau bolos. Alesan". Cibir Naya membuat Satria nyengir.


"Gue tu perhatian ama lo, Nay. Makanya nemenin lo terus". Satria membela diri.

__ADS_1


" Kak Biru sama kak Al juga tiap hari dateng, tapi tetep sekolah. Lagian bang Sat kesini juga cuma ngabisin stok makanan yang dibawain kak Biru buat Nay". Cerocos Naya panjang lebar.


"Wah..adek kita udah beneran sembuh Ken". Celetuk Kai


" Tuh buktinya udah bisa ngomelin bang Sat nya dia". Imbuhnya membuat Satria menatapnya jengah.


"Kaga usah ikut-ikutan panggil gue bang Sat lo, dasar Bang ke". Balas Satria membuat Naya tertawa. Ia selalu senang melihat kedua abangnya ribut mempersoalkan nama panggilan keduanya yang tak ada bagus-bagusnya itu.


" Lagian elo ya dek..ngasih nama panggilan orang ganteng kaya gini kok bang ke ama bang Sat sih. Kaga ada keren-kerennya. Butut amat". Sungut Kai yang justru membuat Naya semakin tertawa keras.


"Aesthetic bang.." Jawab Naya asal-asalan.


"Aesthetic dengkulmu!". Sahut Kai dan Satria kompak.


" Hahahahaha.." Naya hanya bisa tertawa melihat wajah masam keduanya. Sementara Ken hanya menggeleng melihat kelakuan ketiga orang didepannya.


Ia bahagia sekaligus bersyukur melihat kondisi adiknya yang cepat pulih. Ia lebih bersyukur karena kedua orang tuanya belum kembali dari perjalanan luar kotanya. Entah jadi apa dirinya dan Kai jika mommy dan daddy nya tahu Naya masuk ke rumah sakit karena mereka lalai menjaganya. Meskipun begitu, keduanya sudah kena damprat dokter Ardo ketika keduanya menghadap dokter keluarganya itu.


"Hush..anak perempuan Nay. Ketawanya gitu banget". peringat Ken membuat Naya menutup mulutnya dengan tangannya.


" Kelepasan bang..hihihi". Ucap Naya sambil nyengir.


Saat Kai dan Satria masih adu mulut menyoalkan nama panggilan siapa yang paling buruk, pintu kamar Naya terbuka. Menampakkan wajah tampan yang selalu Naya tunggu kedatangannya. Tentu bukan hanya orangnya yang Naya tunggu, namun juga buah tangannya.


"Assalamualaikum.."


"Wa'alaikumsalam.." Sahut semua orang didalam kamar Naya serempak.


"Masih ada yang sakit??". Tanya Akbar yang sudah berdiri disamping Naya. Bahkan tak sedikitpun menyapa ketiga temannya.


Naya menggelengkan kepalanya, senyum tak pernah luntur dari wajah ayunya.


"Apaan sih lo pada. Kaga jelas". Akbar tak menghiraukan pertanyaan konyol temannya. Jelas tak ada yang lebih baik dari kedua kata itu.


" Perkara nama aja kaga kelar-kelar lo berdua". Ken menggeleng tak mengerti jalan pikiran saudara kembarnya itu.


"Ya bagusan juga nama panggilan gue". Satria tetap keukeuh pada pendiriannya.


" Mana ada orang bang sat bagus. Gobl ok juga lu lama-lama". Kai menoyor kepala Satria.


"Bang ke juga kaga ada bagus-bagusnya, ogeb!!". Satria membalas menoyor. kepala Kai.


" Lo sih ngasih nama panggilan ke kita kaga ada bener-benernya". Kini Kai menyemprot adiknya yang sudah terbahak diatas tempat tidurnya.


"Berisik mulu lo berdua. Ayo shalat!! Keburu abis waktunya, mumpung Nay ada yang jagain". Ken menyeret Kai dan Satria keluar dari kamar rawat sang adik.


" Bar titip adek gue dulu". Ucap Ken sebelum menutup pintu. Tentu dengan senang hati Akbar akan menjaga gadis manis itu.


"Mau semangka? Tadi kakak beliin buat kamu.." Akbar membuka kresek yang dibawanya. Mengeluarkan berbagai buah yang sudah dipotong dan siap dimakan. Mata Naya tampak berbinar melihat banyaknya makanan yang dibawakan Akbar. Semua adalah makanan dan buah favoritnya, Akbar memang paling mengerti dirinya.


Ada juga susu dan beberapa camilan lain yang tak pernah absen ia bawa ketika mengunjungi Naya.


"Mauuu...aaaaa.." Ucap Naya semangat sambil membuka mulutnya.


"Enak??". Tanya Akbar seusai menyuapkan sepotong semangka.


" Heem.." Jawab Naya sambil terus mengunyah buah semangka yang didalam mulutnya.

__ADS_1


"Pelan-pelan Nay..kakak nggak akan minta". Akbar mengambil tisu dan mengelap ujung bibir Naya yang basah karena buah semangka yang ia makan.


Jantung Naya kembali berdebar tak beraturan. Berdekatan dengan Akbar, apalagi tersentuh tangan lembut Akbar selalu berhasil membuat jantungnya tak terkontrol.


Al yang hendak masuk ke kamar Naya mengurungkan niatnya begitu melihat adegan yang membuat dadanya terasa terhimpit. Sesak rasanya melihat keduanya semakin dekat.


Ia baru saja membelikan biskuit yang kemarin Naya inginkan, oleh karena nya dirinya datang tidak bersama Akbar. Namun sepertinya apapun yang ia bawa tak akan Naya lirik, karena selalu ada Akbar yang lebih dulu mengerti dan menuruti keinginan Naya.


Al memilih duduk didepan ruang rawat Naya. Mata dan hatinya tak sanggup jika harus kembali melihat adegan-adegan romantis Naya dan Akbar.


" Ngapain lo nyuk?". Suara Satria membuat Al mendongak.


"Iya. Ngapain malah duduk disini?". Kai menimpali


" Tadi ditelpon nyokap. Belom sempet masuk". Al berkilah, namun Ken menyadarinya. Ia menghela nafas panjang. Sebenarnya apa yang dilihat oleh kedua sahabatnya itu. Mengapa bisa keduanya jatuh ke dalam jerat cinta adiknya yang bahkan belum pernah mengenal cinta.


"Hah.." Ken membuang nafas kasar dan menyuruh Al untuk ikut masuk.


"Pantes.." Gumam Satria membuat Ken menoleh.


"Pantes si kunyuk kaga masuk". Bisik Satria disambut anggukan kepala oleh Ken. Mereka disuguhkan pemandangan yang uwuw antara Naya dan Akbar. Pantas saja Al tidak mau masuk.


" Makan mulu sih lu dek. Makan banyak tapi kurus". Satria mulai berkomentar.


"Tau dah..makan aja kaya kuli. Tapi kaga ada yang jadi daging". Imbuh Kai membuat Naya memanyunkan bibirnya.


" Abang!!". Sengit Naya membuat Satria dan Kai tergelak. Menggoda Naya adalah hal menyenangkan bagi mereka.


"Dasar bang Ke sama bang Sat ngeselin!!!". Seru Naya kesal.


" Gapapa..makan aja. Mau kurus mau gemuk yang penting sehat". Ucap Akbar membesarkan hati Naya.


"Kak Biru emang the best". Naya mengacungkan dua jempolnya didepan Akbar yang tersenyum manis.


" Udah, sekarang makan lagi aja ya". Biru kembali menyuapi Naya dengan telaten. Sementara Ken diam-diam memperhatikan wajah Al yang duduk disofa tak jauh dari ranjang Naya.


"Lo jadi bocah kaga ada peka-peka nya sih dek. Ni lagi punya temen dua pada kenapa dah. Apanya yang bikin menarik dari adek gue". Batin Ken yang justru merasa frustasi sendiri melihat kisah cinta adik dan kedua teman baiknya.


" Kak Al..kok diem aja sih. Ngobrol dong.." Celetuk Naya yang melihat Al sibuk dengan ponselnya.


Suara Naya membuat Al menoleh. Namun hanya menoleh saja, kemudian ia kembali fokus pada ponsel yang ada ditangannya.


"Ya Allah dek..dek..bener-bener kaga peka lo". Ken merutuki kelakuan adiknya yang benar-benar polos dan tak peka itu.


" Wiiih..banyak makanan nih. Kebetulan laper juga gue". Satria segera membuka kresek diatas meja yang tadi dibawa Al.


"Wiii..enak nih". Kai ikut nimbrung


" Iiiih..itu biskuit yang Nay pengen.." Rengek Naya ketika melihat biskuit yang sudah beberapa hari ia inginkan.


"Makanan lo udah banyak Nay. Dari tadi juga Akbar kaga brenti nyuapin elo". Kai membuka bungkusan biskuit.


" Tapi Nay mau..abaaaang". Naya semakin merengek.


Al yang melihatnya tak tega. Akhirnya ia mengambil biskuit yang baru saja dibuka oleh Kai dan memberikannya pada Naya yang langsung menerimanya dengan raut wajah bahagia. Ia tak menghiraukan sumpah serapah yang keluar dari mulut kedua sahabatnya yang terus mencibir dirinya. Bagi Al, senyum Naya adalah hal yang utama baginya.


Bukan Al pelit hingga hanya membeli satu, namun yang tersisa hanya satu itu saja.

__ADS_1


"Makasih kak Al..." Ucap Naya tulus. Gadis itu langsung melahap biskuit yang dibawakan Al. Menyisakan Kai dan Satria yang hanya bisa menatap hampa biskuit yang sudah hampir masuk kedalam mulutnya.


"Masih banyak makanan yang lain. Ama yang sakit aja kaga mau ngalah. Kaya bocah". Cibir Al yang sudah kembali duduk diposisi semula. Ia tak melihat tatapan membunuh Kai dan Satria yang kesal padanya.


__ADS_2