
Tubuh Kirei merosot ke lantai. Pandangan Kirei kosong, menatap hampa ke depan. Tubuhnya seperti kehilangan tenaga, mendengar apa yang disampaikan oleh teman sejawatnya.
Air mata terus mengalir membasahi pipi mulusnya. Lidahnya terasa kelu hanya untuk sekedar menyapa semua orang yang kondisinya tak jauh berbeda darinya.
"Ki.." Entah sudah berapa kali Tama memanggil nama istrinya. Namun tak kunjung mendapat respon.
"Kirei! Sadar Ki!". Tama menepuk pipi Kirei sedikit keras untuk mengembalikan kesadaran Kirei yang entah terbang kemana.
Kirei mendongak, matanya jelas memancarkan kesedihan mendalam. Tama bisa merasakannya. Tama memeluk Kirei yang masih terduduk di lantai.
"Lo harus kuat Ki..lo harus kuat". Tama mengelus punggung Kirei yang bergetar hebat.
Sementara didepan pintu IGD sana, Ara dan Dira sudah tak sadarkan diri dalam pelukan suami masing-masing. Dev hanya bisa menatap putrinya dari jauh, karena saat ini dirinya juga sedang tidak baik-baik saja. Apalagi Ara jatuh pingsan. Ia hanya bisa mempercayakan Kirei pada Tama.
Pemandangan didepan IGD benar-benar menyayat hati. Juna dan Tania yang malam itu kebetulan bertugas hanya bisa menundukkan kepalanya dalam-dalam melihat kesedihan keluarga yang siang tadi baru saja merayakan pesta pernikahan. Tama membantu Kirei bangkit, memapah tubuh ringkih itu mendekat pada ayah dan ibundanya.
"Ayah..." Lirih Kirei dengan suara bergetar hebat. Dev menganggukkan kepalanya, memberi isyarat pada putrinya agar duduk disampingnya. Sebelah tangan Dev yang masih bebas memeluk bahu sang putri dengan erat.
"Kita ikhlaskan sayang..opa dan oma sudah tenang disana". Dev mengeratkan pelukan pada Kirei. Sementara sebelah tangannya berusaha menahan tubuh Ara yang tidak sadarkan diri.
Kabar meninggalnya kedua orang tua Dev yang adalah kakek dan nenek Kirei benar-benar menjadi pukulan berat bagi keluarga besar Dev. Siang tadi kedua orang tuanya masih sangat sehat. Bahkan terlihat tertawa lepas melihat cucu kesayangannya melepas masa lajangnya. Dan malamnya, kabar duka itu datang tiba-tiba. Mengguncang ketenangan jiwa seluruh keluarga yang ditinggalkan.
Tama mendekati Kirei, membawa Kirei sedikit bergeser karena Tama melihat Dev kesusahan memeluk Kirei sekaligus menopang tubuh ibu mertuanya yang tak sadarkan diri.
"Ki.." Tama memegang bahu Kirei hingga membuat gadis itu menoleh. Air mata terus mengalir tanpa bisa dihentikan oleh Kirei. Tama dapat melihat kehancuran dari tatapan Kirei.
"Tam.." Kirei menghambur kedalam pelukan Tama. Menyembunyikan wajahnya yang penuh dengan air mata did*** bidang suaminya itu. Menumpahkan segala kesedihan yang ia alami atas kehilangan dua orang terkasihnya.
Diantara Kirei dan kedua sepupunya, memang Kirei lah yang paling dekat dengan kakek dan neneknya. Wajar jika gadis itulah yang paling terpukul dengan kenyataan pahit ditinggalkan oleh orang terkasihnya itu.
"Om--aa..O--pa Tam". Suara Kirei tersendat, seolah ada batu besar yang menimpa d***nya hingga terasa sulit hanya untuk sekedar mengeluarkan suara.
"Ssttt..Lo harus tenang ya. Ada gue disini". Tama terus mengelus punggung sang istri, sesekali mengecup lembut pucuk kepala Kirei. Tama dapat merasakan anggukan kepala did***nya walaupun lemah.
Belum ada yang tahu pasti kejadian nahas yang menimpa oma Anika dan opa Aryo. Yang mereka ketahui hanyalah kedua orang tua Dev itu mengalami luka berat setelah mobilnya bertabrakan dengan sebuah truk container hingga akhirnya menyebabkan keduanya beserta sang supir meninggal setelah sampai dirumah sakit.
####
__ADS_1
Rumah besar yang biasanya penuh dengan kehangatan itu kini diselimuti duka mendalam atas perginya tuan besar dan nyonya besar keluarga Natakusuma itu. Semalam jenazah oma Anika dan opa Aryo diterbangkan langsung dari Jogja ke ibukota.
Kondisi para perempuan keluarga itu pun masih sangat lemah. Masih terus menangis karena rasa kehilangan yang teramat dalam.
"Jangan seperti ini Ra..Aku tahu kamu sangat mencintai mereka, tapi jika kamu terus menangis kasihan papa dan mama". Dev mencoba menangkan sang istri yang bercucuran air mata disamping jenazah kedua mertuanya.
Tama tidak sedikitpun meninggalkan Kirei sejak semalam, bahkan semalam Kirei tertidur dalam pelukan Tama karena terlalu lelah menangis. Dira pun tak kalah histerisnya, bahkan semalam sempat berteriak memanggil nama kedua orang tuanya hingga Kevin sang suami dan Dirga putranya kuwalahan menenangkannya.
Tama beranjak dari duduknya disamping Kirei yang tatapannya terlihat kosong. Matanya terus menatap dua jenazah yang sudah dibungkus dengan kain kafan. Tak sedikitpun ia beranjak dari sisi dua jenazah itu sejak pagi tadi.
"Minum dulu ya.." Suara lembut Tama membuat Kirei menoleh. Tama sudah kembali dengan membawa segelas air yang disodorkan pada sang istri. Kirei masih diam menatap Tama yang menghela nafasnya panjang.
"Gue tahu, oma sama opa berharga buat lo Ki. Tapi bukan buat ditangisin kaya gini, bukannya lo harus doain mereka?". Tama mendekatkan gelas itu ke bibir Kirei yang perlahan sedikit terbuka untuk meneguk air hangat dari sang suami.
"Lo boleh nangis..tapi nggak terus-terusan kaya gini. Boleh sedih asal jangan berlebihan". Tama mengusap lembut pipi Kirei, menghapus air mata yang justru semakin deras mengalir setelah mendengar ucapan Tama.
Tama meletakkan gelas yang isinya tersisa setengahnya itu, duduk kembali disamping Kirei dan membawa kepala gadis itu untuk bersandar pada bahunya.
"Allah punya rencana indah dibalik musibah ini Ki. Allah sayang sama oma sama opa. Bahkan cinta oma sama opa hanya dipisahkan maut. Lo nggak mau kan ngebebanin kepergian oma sama opa dengan tangisan kaya gini?". Gelengan kepala Tama rasakan dipundaknya. Ia mengelus kepala sang istri yang tertutup kerudung berwarna hitam itu dengan lembut.
"Doain supaya oma sama opa dilapangin kuburnya, diterangin kuburnya, dijauhin dari siksa kubur. Diterima iman islamnya". Sejujurnya dalam hati Kirei bertanya pada dirinya sendiri. Benarkah ini Tama yang ia kenal? Benarkah ini Tama yang ia nikahi? Tama si cassanova tengil yang menyebalkan? Kenapa semua ucapannya begitu menenangkan?
"Jangan nangis lagi ya...kasian oma sama opa, Ki". Tama kembali mengelus lembut kepala Kirei yang bersandar pada pundaknya. Perlahan Kirei menganggukkan lagi kepalanya, sedikit mengatur nafasnya yang terasa sesak.
__-----__
Suasana di pemakaman sudah mulai sepi, hanya tinggal keluarga inti yang berada disana. Saat ini Kirei tengah duduk bersimpuh diantara pusara kakek dan neneknya. Tangannya mengelus nisan bertuliskan nama keduanya. Air matanya hampir saja jatuh, namun dengan cepat ia menyekanya.
"Oma sama opa tenang disana ya. Makasih buat kasih sayang yang oma sama opa kasih buat Ki. Ki sayang sama oma sama opa..selamanya". Kirei tersenyum, meski senyumnya menyimpan banyak luka.
Tama membantu Kirei bangkit. Ternyata memang tak semudah mengatakannya. Kirei yang sudah berjanji tidak akan menangis lagi akhirnya kembali meneteskan buliran bening itu didalam pelukan Tama. Rasa kehilangannya terlalu besar.
Tama menatap Dev yang menganggukkan kepalanya. Memberi isyarat agar Tama membawa Kirei keluar dari area pemakaman. Diikuti seluruh keluarga, kecuali Alma yang memang sedang hamil besar.
Kirei kembali menoleh pada gundukan tanah yang baru saja menutup tubuh kedua orang tercintanya untuk selamanya. Ia kembali mengucapkan selamat tinggal pada kakek neneknya walau hanya dalam hati.
Tama mempererat pelukannya pada bahu Kirei dan membawanya keluar dari area pemakaman untuk kembali ke kediaman Dev, orang tuanya.
__ADS_1
Cuti yang dia ambil untuk pernikahan dan bulan madunya akan mereka habiskan untuk berada dikota kelahiran Kirei sekedar untuk mengenang kakek dan neneknya.
"Makasih". Lirih Kirei menatap sang suami yang tengah mengemudikan mobilnya menuju kediaman orang tua Kirei.
Tama menoleh sebentar, menjawab ucapan Kirei dengan anggukan kepala dan senyuman tipis. Kirei tidak pernah menyangka, manusia sableng dan menyebalkan seperti Tama bisa berubah menjadi sangat dewasa disaat seperti ini. Bahkan Tama bisa memberikan ketenangan untuk dirinya yang sedang terpukul. Sudut bibirnya sedikit terangkat menatap sang suami yang sedang fokus mengemudi. Terlihat tampan dan penuh pesona.
"Gue tau kalo gue ganteng Ki, gue juga mempesona". Tama menoleh kemudian menaikkan kedua alisnya untuk menggoda Kirei.
Kirei mencebik dan segera mengalihkan pandangannya keluar kaca jendela mobil untuk melihat pemandangan disepanjang jalan yang mereka lewati.
"Dasar narsis". Cebik Kirei membuat Tama terkekeh. Tangan Tama terulur mengacak pucuk kepala sang istri yang semakin mencebik karena rambutnya berantakan.
Sampai dikediaman keluarga besar Natakusuma, Kirei turun bersama Tama. Disana sudah ada seluruh keluarga besar yang nampaknya masih terpukul atas kehilangan orang-orang tercintanya.
"Kalian istirahatlah..pasti kalian lelah karena acara kemarin". Ucap Dev menatap wajah sendu putri semata wayangnya.
"Ki belum ngantuk yah". Sahut Kirei yang duduk disebelah Ara.
"Kamu perlu istirahat sayang. Kasian Tama, dia juga pasti lelah". Ara mengelus surai panjang putrinya. Kirei menoleh, menatap Tama yang ternyata sedang menerima telepon dari entah siapa. Terlihat jelas wajah suaminya itu kelelahan.
Tama kembali duduk disebelah Dev setelah selesai menerima telepon. Ia mengernyitkan alisnya melihat Kirei terus menatap ke arahnya.
"Kalian istirahatlah". Dev menepuk pundak pria yang baru menjadi menantunya satu hari itu. Tama menatap Kirei, kemudian menganggukkan kepalanya dengan senyum tipis.
"Kita istirahat sekarang". Tama mengulurkan tangannya pada Kirei yang akhirnya hanya bisa pasrah mengikuti perintah orang tua dan suaminya.
Tama menggandeng mesra tangan Kirei menuju kamar Kirei di lantai dua. Sesampainya di kamar, Tama mencari baju gantinya dan bergegas membersihkan tubuhnya. Sementara Kirei masih duduk termenung di tepi ranjang.
Tama menghela nafas panjang melihat Kirei terus melamun. Perlahan ia mendekati Kirei yang masih belum sadar bahwa Tama berjalan ke arahnya. Hingga saat Tama menghempaskan tubuhnya disamping Kirei, barulah gadis itu menyadari bahwa Tama sudah selesai dengan ritual mandinya.
"Kapan lo kelar?". Tanya Kirei melirik sang suami.
"Sejak elo ngelamun". Tama menghembuskan nafas berat sebelum kembali berkata.
"Semua nggak akan balik dengan elo nangis Ki. Itu semua cuma bakal ngeberatin orang yang ninggalin kita. Mereka pergi bukan buat kita tangisi, tapi kita doain". Tama menggenggam tangan Kirei yang ada diatas pangkuan gadis itu, hingga Kirei menoleh dan melihat Tama sedang menatapnya lembut.
"Gue bukan orang pinter, apalagi tentang agama. Tapi gue yakin, oma sama opa orang yang baik. Banyak yang sayang sama mereka. Dan pasti banyak yang doain. Lo nggak mau jadi salah satu orang yang doain mereka?". Kirei semakin intens menatap Tama yang menurutnya terlihat berbeda saat ini.
__ADS_1
"Kalo lo sayang mereka, lo harus ikhlasin mereka". Tama mengusap pipi Kirei yang kembali basah. Setelahnya mengecup lembut kening istrinya hingga membuat Kirei memejamkan matanya menikmati kehangatan yang diberikan Tama.
"Makasih.." Kirei memeluk tubuh Tama. Membenamkan wajahnya did*** bidang suaminya. Terasa hangat dan nyaman hingga Kirei enggan melepaskannya.