ISTIKHARAH CINTA KUSUMA

ISTIKHARAH CINTA KUSUMA
BAB 100. INCARAN PRIA


__ADS_3

"Niqabnya gak dibuka, tirai bisa di tutup rapat jadi apabila ada visit, suster bisa izin dahulu dan pasien bersiap menutup aurat lagi. Kasihan," saran Aiswa melihat gadis yang terkulai.


"Afwan Bu. Dia belum pernah terlihat melepas niqab meski dengan sesama akhwat. Terlebih di sini ada pria," jawab santri yang menjaga.


"Putraku ba'da subuh pulang. Oh iya, orang tuanya jauh ya?" tanya Aiswa lagi.


Entah mengapa kali ini dirinya kepo, melihat gadis itu tergolek lemas rasa hati tak tega terlebih dia terlihat sangat menjaga diri dari cerita santri satunya.


Sapaan ringan antar kedua keluarga pasien membuat Fayyadh yang baru terjaga, melirik sekilas ke ujung ruangan.


"Umma, ngapain sih?" tegur nya tak suka bila ibunya turut campur urusan orang lain.


Aiswa menoleh, menghampiri sang putra yang baru terjaga sehingga dapat bergantian menunaikan sholat subuh. "Eh, Mas dah bangun. Gak ikut campur kok cuma nanya, gih gantian sholat," ujar Aiswa meminta Fayyadh segera berwudhu.


Beberapa saat kemudian.


Saat suster visit peralihan shift tugas, Fayyadh sekilas melihat ke arah pasien baru. Tiada seseorang disisinya kala itu sehingga suster menanyakan padanya yang sedang lirih murajaah sebab Aiswa tengah keluar ruang.


"Pak, maaf keluarga pasien kemana ya? ada yang harus di ambil di apotek," ujar salah satu suster, menunjuk ke brangkar.


"Hm, maaf aku kurang tahu. Nanti disampaikan jika yang menjaga kembali," jawab Fayyadh singkat.


Suster itu pun memaklumi.


Samar terdengar oleh Fayyadh percakapan kedua tenaga medis. "Beliau santri As-shidqu, walinya Nyai, jadi nanti yang jaga gantian, mungkin sedang oper shift," timpa salah satu suster.


Degh.


"Santri yang di walikan oleh Nyai? dijaga santri bergantian, lah padahal dia santri ... eh, khidmah, apa itu Arwa atau shofie?"


Fayyadh melayangkan pandang ke bilik itu, mencoba memindai wajah yang samar dan sulit terjangkau netra sebab landainya tempat tidur. Dia memilih meraih gawai di atas meja, mencoba menghubungi Allen, namun tak kunjung aktif tersambung. Mode panggilan pun Fayyadh alihkan pada Shan.


"Masih pagi, kali Shan lagi murojaah di jam ini. Aku tulis pesan saja," gumam Fayyadh.


Pria muda Kusuma lalu mengetikkan banyak barisan kalimat untuk sepupu iparnya itu.


Menjelang waktu duha.


Abah datang ke kamar perawatan Athirah dengan Danarhadi. Mereka ternyata membawa semua perlengkapan milik Fayyadh serta, agar pemuda itu dapat langsung pergi tanpa harus kembali ke Joglo Ageng terlebih dahulu.


Tepat jam sembilan.


Fayyadh yang berusaha menunggu kedatangan santri pendamping juga respon balasan dari kedua orang kepercayaan, tak jua ia dapat. Sementara Aiswa mulai getol meminta putranya segera berangkat agar tak tertinggal pesawat.


"Umma, hatiku sedang cemas."


"Banyak istighfar ... lekas pergilah. Nanti buka e-mail dari Abi ya. Ada CV ta'aruf untuk Mas," ujar Aiswa.

__ADS_1


"Lagi?"


"Mas, banyak kawan kita yang mengajukan putrinya. Namun Abi selektif dan jawaban kami sama, terserah pada keputusan Mas. Ini semester akhir kan? janji Mas sama Umma sudah akan berakhir. Jadi wajar jika banyak proposal masuk apalagi setelah joko tingkir menampakkan diri," kekeh Aiswa mengingat kelakuan Fayyadh saat pernikahan Shan.


Pangeran Kusuma mengangguki ucapan ibunya. Dia pun pamit pada semua keluarga untuk kembali menuntaskan pendidikan di negeri Ummul-quro.


...***...


Surabaya.


Sejak kedatangan keduanya di Mansion Qavi, Maira bagai Ratu, diperlakukan sedemikian rupa oleh kakek Shan, Tuan Emery. Ini adalah kali pertama perjumpaan keluarga besar Qavi dengan Maira.


Hari ini syukuran untuk para kolega Emery dan Ezra di Surabaya. Ballroom sebuah hotel telah disewa keluarga Qavi guna menyambut cicit mantu nan ayu.


Sementara Shan masih menyusun puzzle kecurigaan terhadap seseorang. Lelaki tampan itu setia dikamar, mengulang sebuah video yang drone nya dapatkan kala iringan kirab macet di tengah jalan, sebab kuda kereta utama mogok dan berhasil melaju kembali setelah Maira melakukan sesuatu pada si kuda.


Jemarinya lincah memutar kursor, mengambil capture pada detik Arwa melintas lalu mengubah tampilan itu menjadi pola 3D menggunakan sebuah aplikasi.


"Binggo. Ku bilang, sabar Mas. Aku gak tinggal diam, cuma kalau di beberkan sejak awal nanti kamu main trabas," ujar Shan kembali menarik pola dalam bagan yang dia buat.


"Gak sia-sia ngamatin cara kerja uncle Rolex dan colab dengan Ajmi, bocah kecil itu juga keren, bisa menemukan Fio," gumam Shan.


Tok. Tok.


"Masuk saja," ujar suara maskulin dari dalam kamar.


Maira menyembulkan kepalanya. "Zie, udah nemu?"


Tok. Tok.


Ermita dan Devanagari, mengetuk pintu kamar bintang utama hari ini.


"Shan, Maira. Ayo siap-siap fitting. Acara mau dimulai biar jelang maghrib sudah selesai," ujar Ermita meminta keduanya berganti busana dan menyilakan MuA masuk kedalam. kamar.


Persiapan selesai. Rombongan Qavi menuju venue acara.


"Zie, pesan Kak Fayyadh belum dibalas?" bisik Maira saat dalam mobil mewah yang membawa mereka.


"Sudah, masih di draft. Belum aktif, ku minta dia call aku besok pagi atau mungkin tengah malam nanti," balas Shan.


...***...


Jeddah.


Lelaki tampan baru saja mendaratkan kaki di bumi kiblat Ummat Muslim. Ponsel bercasing hitam doff pun telah kehabisan daya. Terakhir kali Fayyadh membuka pesan saat Allen menelponnya. Pria yang baru saja menikah itu ternyata tengah melakukan perjalanan yang sama meski berbeda maskapai.


Keduanya sepakat bertemu di kamar Fayyadh sebab dia membawa Afra serta.

__ADS_1


Satu jam perjalanan menuju flat.


Ternyata penerus As-shidqu tiba lebih dulu dibanding dirinya. Fayyadh merasa lelah namun ia menepis rasa itu, tak sabar rasa ingin mengetahui informasi tentang Arwa.


Tok. Tok.


"Allen, aku tunggu di kamar ya," ujar Fayyadh sekilas mengetuk kamar sang sahabat setelah dia membersihkan diri.


Tak lama, sang pengantin baru menuju kamar penerus Kusuma dan duduk di kursi meja belajar ruangan itu.


"Arwa Feiyaz, kesayangan Umma ku, gadis yang tidak pernah diketahui wajahnya meski dengan sesama akhwat kecuali ibuku. Dia cemerlang baru-baru ini, bisa menguasai cepat bahasa Arab juga skill lain termasuk etika. Kata Umma identitas asli dia rahasia, sebab permintaan seseorang, bukan cuma dirinya," tutur Allen.


"Gadis itu tak pernah menggunakan ponsel. Misinya khatam Qur'an bin nadzor tiga kali dalam sebulan, meski dia cemerlang tapi tetap gak sempurna ya, Fay,," sambung Allen lagi.


Fayyadh tak menjeda semua ucapan sang sahabat. Dia mendengarkan seksama.


"Arwa silih berganti di minta oleh banyak putra Kyai semenjak dia menempel di sisi Umma. Kemarin, dari gresik, dia tolak saat nadzor. Alasannya sebab Arwa tiada kecocokan." Allen menjeda, dia menarik nafas panjang.


"Misterius amat," ujar Fayyadh.


"Begitulah, beredar rumor, bahwa Arwa ini memang disiapkan khusus untuk seseorang namun Umma tak pernah dapat menolak tawaran yang datang. Dia bahkan sakit setelah syukuran, waktu aku kesini, malamnya Arwa, Shofie dan Asma, dilarikan ke rumah sakit. Mereka semua khidmah terloyal dan ibuku langsung menjamin keselamatan mereka," ungkap Allen.


Fayyadh terkejut. "Apa? jangan-jangan benar dugaanku, yang di kamar Zeda, salah satu dari mereka," ujar Fayyadh.


"Coba saja hubungi rumah sakit Kencana Biru," sambut Allen.


"Fix, rumah sakit yang sama dengan adikku. Oke syukron infonya ya Akhi, maaf menganggu malam pengantin baru," ujar Fayyadh tak enak hati menahan terlalu lama, toh ada Shan yang membantunya.


"Lepas dari putra Kyai Gresik. Arwa diminta oleh kerabat Mangkunegaran tepat di malam dia opname. Juga sahabat aku, kabarnya baru mengajukan proposal untuknya ... gadis incaranmu sulit, ya Akhi, jika ingin mencobanya, silakan layangkan CV padaku," Allen menepuk bahu Fayyadh sebelum dia keluar kamar.


Setelah kepergian sang sahabat, Fayyadh merenung semua ucapan Allen. Suara yang dia dengar, kalimat kiasan Shan juga petunjuk lainnya, semua berputar dikepala.


Hingga jelang tengah malam, ponselnya berbunyi. Satu notif muncul disana. Fayyadh yang memang sedang menunggu kabar dari sepupu iparnya itu pun segera menyambar gawai diatas meja dan membuka pesan.


"Apa?"


Jemari dia bergetar halus, menekan tuts susah payah untuk melakukan panggilan dengan Shan.


"Halo, Shan Shan, benar begitu?"


"Ish, kan belum fix Mas, aku sedang mau analisa akhir dengan Ahya, dan butuh sesuatu untuk Mas pastikan, bisa?" tanya Shan.


"Bisa. Apa?"


.


.

__ADS_1


...________________________...


...Mamaciih banyak kesayangan sudah antusias menunggu dengan kesabaran paripurna. ❤🥰...


__ADS_2