
Tiga bulan kemudian.
Tiada kabar mengenai Arwa Feiyaz. Semua akses tertutup untuk sang gadis. Dia telah meninggalkan pondokan As-shidqu, tangan Nyai Shihab sendirilah yang melepaskan kepergiannya.
Allen bahkan bersitegang dengan sang Bunda, sebab kesal tak dapat membantu sahabatnya sendiri. Dia merasa hutang budi dengan Fayyadh perihal dirinya bertemu jodoh dan mengenal Afra hingga menjadi istri.
"Harusnya umma jujur padaku, kemana Arwa pergi," tegas Allen dalam panggilan selular.
"Gak bisa, karena Arwa adalah amanah. Tugas Umma selesai, tersisa laporan saja pada sang pemberi mandat. Sudah, jangan urusi masalah jodoh orang lain, toh pasti akan sampai juga," ujar Nyai.
Tak banyak yang dapat Allen perbuat, bagai kehilangan muka bila ia bersitatap dengan Fayyadh. Namun, keteguhan hati lelaki Kusuma perlahan menepis semua rasa yang bergejolak di hati, dia tidak menyalahkan Allen.
...***...
Indonesia.
Sosok yang di cari sejatinya tak jauh berpijak dari bumi tempatnya di lahirkan. Dia tengah membangun lagi, harga diri agar tegar dan mempunyai modal saat menghadapi masa lalunya kembali.
Dulu, ketika pergi, Fiora melepaskan semua harta dan embel sosial dari Klan Tusakti. Bantuan seorang sepuh yang kerap dituduh menjadi penyebab dia pindah haluan telah membentuk dirinya untuk tegar dan teguh berjuang melawan nafsu, rindu, dan pengapnya ruang kasih sayang selama menimba ilmu.
"Abah, jazakallah kheir. Aku selalu ingat wejangan bahwa rezeki akan datang dari arah yang tiada di sangka. Bismillah, bermodal hasil penjualan motor ku kini aku akan reborn agar sanggup menopang kepala kala menghadap Papa," tekadnya muncul.
Besok dirinya akan mencoba membuka usaha baru. Seseorang memberikan referensi beberapa rekanan usaha agar dia dapat memasok makanan ringan kesana.
"Akshita."
Bermodal kegemarannya mengkonsumsi kopi, maka Fio bereksperimen dengan itu. Dia memberanikan diri memulai usaha minuman juga cemilan yang ia mampu.
"Tiga menu best seller dulu. Coffe loved iced, strawberry cheese loved and roti bakar coffstraw, semua ready, weekend besok mulai buka gerai," ujarnya mantap.
Ponsel yang lama tak dia gunakan, akhirnya kembali menyala setelah sekian bulan lamanya bersemayam dalam box di lemari.
"Hai Mas. Aku kembali," ujarnya pilu. Satu tetes bulir bening jatuh langsung menyentuh lantai.
Banyak pesan muncul di sana. Dia memberanikan diri membuka akun Floffy yang selama ini dikelola Sindy. Berkat bantuan dialah, dirinya tak kehilangan orang-orang terdekat nan dapat dipercaya.
Sang gadis kemudian membuat sebuah akun baru khusus untuk Akshita, lalu ia memposting sesuatu di sana. Dia memfoto sebagian tasbih milik Fayyadh sebagai doa dan spirit pembuka, tak lupa memberikan caption dibawahnya.
"Jika aku sukses disini, pasti akan pulang. Jangan cari aku, biarkan semesta yang menuntun hingga bersua."
~postingan terkirim~
__ADS_1
Kerinduan pada semua tas buatannya membuat Fiora tak berhati-hati. Dia mengomentari salah satu postingan terakhir di sebuah tas yang Sindy pajang dalam laman medsos Floffy.
"Hai, aku kangen kalian."
Hal kecil yang membuat seseorang mulai diam-diam mengamati.
Fiora berkutat dengan foto produk yang akan dia unggah dalam akun Akshita, jemarinya lincah memfollow akun serupa agar niche postingan Akshita muncul. Berbagai hastag dia coba bertujuan membuat produknya mudah di cari.
Menjelang tengah malam semua selesai. "Oke, besok fight. Promo sudah disebarkan. Saatnya tidur," gumamnya lagi.
...***...
Jeddah.
Hari berat dia lalui dalam pekan ini, banyak yang harus direvisi sebab judul skripsi yang dia usung. Dosen pembimbing yang jarang masuk kampus membuatnya kesulitan untuk berkonsentrasi.
Malam sunyi seperti biasanya, membuat sang pria tampan membuang rasa bosan dengan men scroll media sosial.
Dia rindu, sangat rindu seseorang. Postingan Floffy Craft kerap dia tilik meski hanya sekedar menatap deretan tas hasil karya seseorang yang rasa hatinya dia jaga.
Keesokan pagi.
Sebelum pergi ke kampus, lelaki itu terbiasa membaca laman berita online dilanjutkan membuka medsos sejenak.
Saat melihat gambar terbaru, Fayyadh membuka caption dan membaca setiap komen penghuni dunia maya disana.
"Akshita? kok komennya gak nyambung ya? eh apa ini Fio?"
Jemari maskulin itu lalu mengklik profil Akshita. Dia melihat beberapa postingan baru saja di kirimkan beberapa jam lalu.
"Sebentar, disini ada jam posted nya. Jika perbedaan waktu nya kentara berarti ini di Indo."
Fayyadh membuka setiap postingan yang belum banyak terpajang disana.
"Hm, promosi usaha baru."
"Eh, ini kan, seperti tas-bih a-aku meski cuma difoto separuh tampilan, bandul batu ungu kesayangan Umma." Dia membuka satu foto awal postingan Akshita.
Netranya berembun, hatinya bahagia, dentum jantung mulai berdegup kencang.
"A-akhirnya aku ketemu kamu lagi, F-fio."
__ADS_1
Dengan jemari gemetar dia menulis sesuatu di sana.
"Aridu an ta'idu lil bayt ya habibatie." (Aku ingin kau pulang Sayang, aku merindukanmu)
Booster aku melewati ini, aku tak akan mencarimu. Biarlah kita mendekat satu sama lain atas izin semesta."
"Umma, aku menemukannya, lagi. Entah benar dia Arwa atau bukan, yang penting dia Fio-ku. Apakah nanti dapat bersama ataupun tidak, terpenting aku tahu dia baik saja ... ternyata begini ya Shan, rasanya mencintai tapi dia belum melihatku. Aku kini paham rasa hati mu kala Maira justru memintaku hadir didepan matanya. Allah, inikah balasan ku atas kesalahan menginginkan wanita saudaraku?" Fayyadh tergugu.
Ada hikmah dibalik semua peristiwa. Pagi ini, meski gundah melanda namun dia lebih tegap menjalani hari.
"Kita berjuang sama-sama ya."
...***...
Nyatanya bukan hanya Fayyadh yang tertarik akan komentar Fiora di postingan Floffy. Banyak pasang mata nan mengembun melihat sebaris tulisan dengan empat kata disana.
Senyuman terbit bukan hanya milik Fayyadh seorang. Namun banyak wajah berseri atas kemunculan gadis yang di duga hilang, meski hanya lewat sebuah komentar di ruang publik.
"Kita juga kangen kamu. Pulanglah."
Setelah breakfast, kediaman Tusakti.
Sang asisten Tusakti menunjukkan sesuatu dari tab miliknya, menyodorkan ke atas meja kerja di ruangan tuan besar.
Glenn awalnya tak mengerti maksud Aldo, namun asisten pribadi itu membuka sebuah caption akun yang mengusung promo produk minuman. Dia mengklik layar lalu memperbesar tampilan.
Mata senja pemilik Universitas Tusakti membola. Bagai menemukan benda berharganya yang hilang.
"Do, dia putriku?"
Aldo mengangguk. "Anda ingin melihatnya?"
"Tidak, biarkan dia dengan kekeraskepalaannya. Mungkin akan kembali jika ucapan saat Fio pergi dapat dibuktikan," lirihnya masih menatap layar gawai.
Lain hati begitupula apa yang bibir ucap. Nyatanya Glenn tak dapat memungkiri bahwa dirinya rindu.
"Kamu kembali, Fio? pulang lah, Nak. Tak rindukah engkau pada Papa?"
.
.
__ADS_1
...______________________...